Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 159 Tak Ingin Berpisah


__ADS_3

"Ooeekk ~ ooeekk ~!" tangis Ansel ketika bi Murni meraih tubuhnya.


Mendapati tangisan seperti itu dari Ansel, membuat bi Murni menyerahkan kembali tuan kecilnya kepada Dhita.


Dan pada detik berikutnya, Ansel kembali terdiam. Tampak ia sedang memandang wajah wanita cantik yang ternyata adalah ibunya.


"Sepertinya tuan kecil tidak ingin jauh dari Anda nyonya!" ucap bi Murni setelah melihat Ansel yang anteng di dalam dekapan Dhita.


"Ya, sepertinya dia merasa nyaman denganku!" jawab Dhita.


Andaikan saja Ansel adalah Ardhi, dan pemikiran itulah yang menyelimuti kepalanya.


Walaupun sejak pertama kali Dhita melihat Ansel yang mirip Ardhi, ingin rasanya ia mengatakan bahwa bayi laki-laki itu adalah baby boy Ardhi, putra kandungnya.


Namun semua itu, ia urungkan, ia tahan sekuat-kuatnya, agar tidak menimbulkan keributan seperti beberapa hari yang lalu.


"Tidurlah sayang, jadilah orang yang berguna kelak kau dewasa!" gumam Dhita, air matanya kembali menetes, ingin rasanya ia membawa pergi Ansel dari rumah sakit itu.


Akan tetapi akal waras nya masih berfungsi hingga ia mampu menahan dirinya.


Karena tidak ada respon dari Dhita untuk segera pulang, akhirnya membuat Arjuna terpaksa menghampiri Dhita.


Bi Murni yang tidak menyadari akan kehadiran Arjuna si pria rich man, langsung membelalakkan kedua matanya membulat seketika.


"Tuan Arjuna!" seru Bu Murni ketika bertatapan langsung dengan Arjuna.


Ya, bi Murni mengenal Arjuna dari beberapa sumber berita termasuk sosmed yang selalu menginfokan tentang jati diri sang pengusaha itu.


"Ya benar, Anda mengenal saya?" Arjuna merasa heran, karena baru pertama kalinya ini ia melihat Bi Murni, dan wanita itu sangat mengenali dirinya.


"Ya tuan, saya sering melihat anda di berita!" jawab Bi Murni.


"Saya senang mengikuti berita tentang anda tuan." lanjut bi Murni.


"Terima kasih!" ucap Arjuna tersenyum sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya kepada Dhita.


"Ayo kita pulang, Diana pasti sedang membutuhkanmu saat ini!" Arjuna mengingatkan istrinya yang telah lupa waktu.


Karena wajah bayi yang sering berubah-ubah membuat Arjuna tidak mengenal Ansel sebagai putranya, walaupun saat ini ia sedang memandangi wajah Ansel yang tak lain adalah Ardhi.


Tak terasa telah lebih satu jam mereka berada di sana.

__ADS_1


"Baiklah~!" dengan berat hati Dhita terpaksa mengikuti keinginan suaminya.


Ingin rasanya ia menolak.


Namun, Dhita juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada Diana, karena telah lama ia meninggalkan putrinya tercinta.


"Titip Ansel bi." ucap Dhita seraya menyerahkan kembali bayi itu kepada bi Murni, namun setelah sebelumnya ia mengecup kening Ansel terlebih dahulu.


"Ya nyonya, saya berjanji akan menjaga dan melindungi tuan kecil."


"Terima kasih bi Murni!"


Dhita merasa amat sangat berat meninggalkan Ansel di tempat itu. Namun dengan segenap keberanian ia tekad kan dirinya untuk pergi dari ruangan itu.


Namun hanya beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara Ansel menangis.


"Ooeeekk ~ ooeekk ~!" tangis Ansel menghentikan langkah Dhita.


Dhita berlari berhambur ke arah Ansel, lalu diciuminya seluruh tubuh bayi itu, setelah ia berhasil mengambil Ansel dari bi Murni.


"Berhentilah sayang, berhentilah menangis," bisik Dhita di telinga Ansel dan langsung membuat bayi itu seketika berhenti menangis.


Bi Murni yang menyaksikan semua itu ikut terharu, seandainya saja Ansel bukan anak angkat dari majikannya sudah pasti ia akan memberikan Ansel kepada Dhita.


"Nyonya bisa menemuinya setiap hari, saya tidak akan mengatakan semua ini kepada majikan saya." ucap bi Murni.


"Sekarang nyonya harus pulang, bukankah nyonya juga memiliki seorang bayi perempuan?" lanjut bi Murni.


Mendengar ucapan bi Murni, Dhita yang sedang menciumi Ansel segera berkata.


"Besok aku akan kembali bersama putriku, sekarang kau baik-baik dulu di sini, jika aku tidak pulang kasihan putriku, dia juga membutuhkan diriku!" ucap Dhita.


Dan seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Dhita, Ansel pun berhenti menangis. Bahkan ketika Dhita kembali menyerahkan Ansel kepada bi Murni, Ansel tetap saja diam. Hanya matanya saja yang tidak pernah lepas memandang Dhita.


"Aku janji Ansel, besok aku akan kesini, kau baik-baik ya," ucap Dhita lalu berlari menjauh dari bayi itu.


Arjuna pun segera pamit, dan ikut berlari mengejar Dhita yang telah jauh di depan.


Sesampainya di parkiran, Dhita langsung menghamburkan diri masuk ke dalam mobil.


"Hiks ~ hiks ~ hiks ~!" Dhita terisak didalam tangisnya.

__ADS_1


Hatinya sungguh terasa pilu, baru pertama kalinya ia merasakan kesedihan yang luar biasa.


Arjuna yang telah tiba disana, langsung duduk di samping istrinya.


"Aku mengerti perasaanmu, bayi itu memang merasa nyaman bersama denganmu, tapi kau juga harus ingat, dia memiliki orang tua yang mungkin tidak akan pernah suka jika anaknya dekat dengan orang lain." Arjuna memberi nasehat kepada Dhita.


"Hatiku hancur mas, hatiku pilu meninggalkan dia sendirian di sana." ucap Dhita diantara Isak tangisnya.


"Ya, mungkin karena dia merasa menemukan kasih sayang dari mu sebagai orang tua, sedangkan kedua orangtuanya sendiri selalu sibuk dengan kariernya." sahut Arjuna.


Kemudian Arjuna menjalankan mobil Seraya berusaha menenangkan istrinya.


Sedangkan Dhita menangis terisak sepanjang perjalanan.


Di dalam mansion.


"Cup ~ sayang, cup ~ jangan nangis ya," Bu Safitri yang hari itu berniat untuk menjenguk cucunya, justru dia mendapatkan pemandangan yang tidak enak di lihat oleh mata.


Sejak pertama kali bu Safitri memasuki mansion itu, ia telah di suguhi dengan tangisan Diana.


"Kemana Dhita? mengapa sampai se siang ini dia belum pulang?" Bu Safitri bertanya kepada Babysitter yang bertugas menjaga Diana.


"Nyonya Dhita hanya pamit untuk kontrol di rumah sakit," jawab Babysitter itu.


"Assalamualaikum!" seru Dhita dari dalam ruangan yang sama.


"Dari mana saja, kelayaban sampai tidak ingat waktu, Lupa ada anak di rumah?" Bu Safitri menyambut kedatangan putrinya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Ibu sudah dari tadi? mari kita masuk!" ajak Dhita lalu meraih Diana dari dekapan Bu Safitri kemudian berusaha mendiamkan Diana yang sedang menangis.


"Ya, lebih baik sekarang kau diamkan saja dulu putrimu," ucap Bu Safitri.


"Baik bu!" jawab Dhita dengan segera.


Kemudian tanpa berpikir panjang lagi, Dhita segera membawa Diana kedalam kamarnya.


Sama seperti apa yang terjadi kepada Ansel, Diana pun ikut merasakan hal di mana saat itu ia telah lama tidak menikmati ASI secara langsung.


"Tidurlah sayang, baby kau pasti merasa sangat mengantuk bukan," ucap Dhita seraya terus memberikan kasih sayangnya kepada Diana.


Diana tampak begitu anteng berada di pelukan Dhita, bayi itu mulai merasa mengantuk, sesekali ia mulai mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.

__ADS_1


Dhita mengusap kepala Diana dengan penuh kasih.


__ADS_2