Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 47 Kagum


__ADS_3

" Ternyata sebulan di bali gak membuat mereka puas," gerutu dhita mengingat sahabatnya, puri dan eza yang baru tadi pagi pulang dari honeymoonnya di bali.


" Rena juga, ngapain dia ikut-ikutan nakal gak tau apa yang di lakukannya itu dosa ." dhita menghela napas panjang memikirkan kelakuan kedua sahabatnya yang membuat kepalanya semakin berdenyut.


Dhita semakin membenamkan kepalanya ke dalam bantal bahkan sebelumnya telah menyumbal telinganya dengan kapas agar tidak bisa mendengarkan suara-suara mengerikan itu lagi yang saling bersahutan dari kamar satu ke kamar yang lain.


Malam semakin larut hawa dingin menusuk tulang membawa mereka semakin dalam terbuai asmara.


Rena menghentikan aksi reyhan yang sedang berusaha untuk menjamah tubuhnya lebih dalam, karna hasrat yang begitu membara menuntut pria itu untuk melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.


" Jangan dulu belum waktunya ," ucap rena di antara ******* yang keluar dari dalam mulutnya karna reyhan terus membuai seluruh tubuhnya dengan bibir tipis pria itu.


" Kenapa ? bukankah sebentar lagi kita akan menikah ?" tanya reyhan agak kesal karna wanitanya terus menahan tangannya hingga membuatnya terpaksa menghentikan aksinya yang bisa dibilang terlalu menggebu-gebu.


" Ya kamu benar, tapi jika kita melakukannya sekarang gak ada yang istimewa di malam pertama kita nanti, karna kita telah melakukannya lebih dulu, ku mohon jangan lakukan itu percayalah setelah kita menikah nanti akan ku serahkan semuanya padamu." ucap rena berharap kekasihnya itu bisa mengerti.


Reyhan bangkit dari posisi yang sedang mengukung wanitanya, jika tidak segera di hentikan sudah pasti ia akan menuntaskannya malam itu juga, karena hasrat yang begitu membara telah menjalar di sekujur tubuhnya.


" Baiklah jika itu keinginanmu," ucap reyhan menatap tubuh indah kekasihnya yang tak tertutup lagi akibat dari ulahnya.


" Sekali saja biarkan aku menikmatinya lagi," pinta reyhan kembali meremas dua gunung kembar milik kekasihnya.


Rena mengangguk.


Reyhan kembali beraksi namun hanya di bagian atas wanitanya, ia berusaha menuntaskan semua hasratnya meskipun bukan di tempat yang ia inginkan. Reyhan menyentuh bibir manis nan kenyal milik wanitanya mereka saling ******* ***** satu sama sama lain dengan gerakan yang sangat menuntut. Kemudian pria itu bergerak ke leher jenjang kekasihnya meninggalkan jejak kepemilikan di sana namun tak hanya itu ia juga tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghisap dua gunung kembar yang di mainkannya sejak tadi begitu kenyal dan menggairahkan. Setiap sentuhan membuat wanitanya mendesah karna sebuah kata kenikmatan.


" Sudah cukup." rena berusaha menghentikan gerakan kekasihnya kalau tidak ia pasti akan kesusahan untuk menghentikannya jika pria itu masuk terlalu dalam.


Dengan sangat terpaksa reyhan menghentikan aksinya yang terbilang nanggung, dengan napas berat karna tidak mendapatkan pelampiasan hasratnya.

__ADS_1


" Oke, kita bersambung sampai di sini dulu." ucap reyhan merapikan kembali pakaiannya yang berantakan walaupun di bawah sana terasa sesuatu yang mengeras sejak tadi namun ia berusaha untuk menahannya agar tidak membuat kekasihnya kecewa, begitupun dengan rena ia melakukan hal yang sama merapikan kembali dirinya yang sudah acak-acakan.


" Oh ya ampun," gumam rena ketika melihat dirinya di cermin, tampak tanda kepemilikan yang tak terhitung jumlahnya di leher dan dadanya hampir seluruh bagian itu tertutup dengan bekas merah ke biruan. " Ternyata dia buas juga." bisik rena dalam hati kemudian tersenyum membayangkan kembali aksi kekasihnya yang membuai dirinya dalam kenikmatan walaupun dalam episode yang bersambung.


Namun itu lebih baik baginya karna setidaknya ia masih memiliki satu kado istimewa untuk malam pengantinnya nanti.


Sedangkan reyhan lebih memilih beranjak dari kamar itu menuju ruang tamu. Kalau tidak ia pasti akan menginginkannya lagi.


" Oh god." bisiknya hampir tak terdengar ketika melihat pintu yang sedikit terbuka.


" Bagaimana kalau ada yang lihat." bisik nya lagi. namun setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu dan memilih tidur di sana.


Reyhan beruntung karna ia tidak perlu mendengar suara ranjang yang berderak seperti yang di alami dhita, gadis paling merana malam itu. Rupanya pasangan suami-istri itu telah selesai bertempur di medan perang kelas hawa.


Di detik berikutnya reyhan tertidur pulas di atas sofa. Rena keluar dari kamar bermaksud ingin menemani kekasihnya namun karna melihat pria itu sedang tidur ia memutuskan untuk mengambil selimut.


*


*


*


Suara ayam jantan berkokok menyambut datangnya pagi, desir angin berhembus sepoi-sepoi menyapu alam semesta dengan irama alam yang merdu.


Tepat jam 04:25 WIB.


Semua terbangun untuk menunaikan shalat subuh, beberapa menit yang lalu adzan berkumandang. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji, suara itu berasal dari dalam sebuah kamar dimana seorang wanita tidak bisa tidur semalaman.


Dhita bukan hanya sekedar sholeha tapi ia juga memiliki kemampuan dalam mengaji, suaranya yang merdu membuat orang-orang yang mendengarnya tidak ingin berpaling walau hanya sekedar satu kalimat pun.

__ADS_1


Duduk di atas sajadah sembari melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an itu adalah kebiasaan yang di ajarkan ibunya sejak kecil. Ia berharap bisa memberikan ketenangan di hatinya yang sedang di landa derita karna sebuah hal yang namanya cinta.


" Sungguh paket yang sempurna, bukan hanya cantik dan baik tapi juga pandai mengaji," ucap reyhan setengah berbisik sembari merebahkan tubuhnya di sofa, mengagumi sosok seorang dhita.


" Kak, aku yakin kamu pasti menyesal telah membuang berlian berharga hanya demi seonggok pasir." gumam reyhan nyaris tak terdengar.


Hal yang sama juga terjadi pada eza yang sedang berbaring di kamar nya setelah selesai shalat subuh. Ia menikmati lantunan ayat suci AL-Qur'an yang di baca dhita sambil menatap langit-langit kamarnya. Kekagumannya terhadap dhita sedari dulu kian bertambah setelah mendengar suara merdu wanita itu.


" Sungguh kau bodoh ar, kau sia-siakan wanita sholeha seperti dhita yang jelas-jelas sangat tulus mencintaimu demi citra, hah.." eza membuang napasnya dengan kasar memikirkan kebodohan sahabatnya. Entah mengapa mengingat nama sepupunya itu membuat dirinya kesal, sepupu yang sangat menyebalkan baginya tak hanya itu citra juga sering mengatainya.


Eza termenung seorang diri karna istrinya sedang sibuk di dapur. memasak bersama dengan rena.


" Dhita kok ngajinya lama banget ya?" tanya puri kepada rena yang sedang mengiris jagung muda.


" Mungkin pikirannya kalut kali." sahut rena tanpa menghentikan pekerjaannya.


" Kenapa arjuna setega itu ya sama dhita, padahal sebelumnya mereka pasangan yang romantis," ucap puri merasa kasihan pada sahabatnya.


Degh.


Rena terkejut mendengar ucapan sahabatnya, tak mungkin baginya mengatakan bahwa dirinyalah dalang dari semua ini walau ia lakukan tanpa sengaja.


" Aku....aku juga bingung," ucap rena setengah gugup, membuat puri langsung menatapnya dengan tajam.


" Kok kamu gugup? ada yang kamu sembunyiin dari aku ? atau kamu tau sesuatu?" tanya puri dengan tatapan mengintimidasi.


Rena terdiam, kembali tersirat suatu penyesalan di hatinya mengingat apa yang telah ia lakukan kepada dhita tapi baginya cukup dhita dan dirinya saja yang tau, bukan puri.


Puri semakin yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh rena.

__ADS_1


__ADS_2