
Di rumah Andrian.
Suasana di rumah mewah tempat kediaman Andrian yang biasanya sepi, kini di sulap menjadi ramai dan menakjubkan.
Dinding-dinding di hias dengan lampu kerlap-kerlip berwarna-warni.
Malam ini di adakan acara tasyakuran aqiqah dan pemberian nama untuk putra Andrian.
Di dalam fittingroom yang di gunakan untuk menggelar acara tasyakuran tampak meriah, banyak orang berlalu lalang di tempat itu.
Sedangkan untuk jamuan Andrian telah memesan Catering sesuai porsinya.
Andrian dan Bellinda tampak sibuk menyambut para tamu yang mulai berdatangan.
" Silahkan masuk, tuan nyonya!" sapa Andrian yang berdiri di depan pintu menyambut kehadiran para tamunya.
Para tamu tersebut adalah rekan-rekan bisnis Andrian yang bekerja sama di perusahaan milik Arjuna.
Sebuah mobil berhenti di tempat parkir kemudian di susul dua buah mobil lagi di belakangnya.
" Reyhan!" panggil Andrian ketika melihat seorang pria tampan mirip Arjuna turun dari mobil hitam.
" Assalamualaikum." sapa Reyhan yang datang bersama Rena dengan membawa sebuah bingkisan kado di tangannya.
Kemudian di susul oleh Mommy Rita, Eza dan Puri yang juga sama-sama membawa buah tangan.
Wa'alaikum salam." jawab Andrian lalu mempersilahkan para tamunya masuk.
" Dimana Bellinda dan putramu?" tanya Rena, ia menebar pandangan ke seluruh ruangan namun tidak melihat wanita itu.
" Tadi ada, mungkin sekarang sedang di dalam, biasa BUSUI." jawab Andrian mengerlingkan matanya.
Seketika membuat yang lain tertawa.
" Mari masuk Tante, Za, Puri." sapa Andrian lagi saat melihat mommy Rita, Eza dan Puri mendekat ke arahnya.
Setelah semua tamu duduk di tempat masing-masing dan saling bercengkrama satu sama lain.
Seorang ustadz yang di undang oleh Andrian hadir ditempat itu untuk mengisi acara aqiqah dan pemberian nama.
Mengingat pemberian nama adalah suatu adat yang sangat penting bagi kehidupan putranya kelak, oleh karena itu Andrian ingin seorang ustadz yang mengisi acara tersebut.
Dengan harapan do'a dari seorang mu'allim akan membawa keberkahan untuk masa depan putranya.
Bellinda yang baru saja keluar dari kamar, rupanya ia baru saja selesai meneteki putranya, duduk bersebelahan dengan Andrian.
Bayi itu tertidur pulas di pangkuan ibunya, setelah puas *******.
Pak Ustadz memulai acara tersebut dengan bacaan basmalah dan pencerahan- pencerahan agama.
Kemudian di lanjutkan dengan pemberian nama.
" Tolong sebutkan nama putra anda!" ucap pak ustadz kepada Andrian.
__ADS_1
" Glen Alvaro." jawab Andrian tegas.
Nama itu telah ia siapkan jauh-jauh hari sebelum kelahiran putranya.
Sebuah nama yang digabungkan dari nama Bellinda dan Andrian Alvaro.
Pak ustadz membaca do'a sebelum resmi memberikan nama kepada bayi tersebut, agar nama itu memberi keberkahan di dalam hidupnya.
Setelah pemberian nama dan pembacaan do'a acara pun selesai.
Semua para tamu menikmati hidangan yang di suguhkan.
Beberapa saat kemudian di tempat itu hanya terdapat beberapa orang terdekat saja, karena yang lain telah kembali ke rumah masing-masing.
" Uh, lucunya ih, ih gemes," ucap Rena yang sedang duduk di samping Puri sambil mengelus pipi bayi mungil yang sedang di gendong oleh Puri.
" Beberapa bulan lagi kamu akan ada temannya." kata Puri kepada Glen Alvaro, nama bayi mungil tersebut, sambil memegang perutnya yang masih rata.
" Iya Tante, aku seneng banget dengarnya, semoga dedek sehat ya di dalam perut Tante, nanti kalau dedek lahir kita main ya...!" ucap Rena berbicara seolah anak kecil.
Rena pun ikut mengelus perut Puri, terlihat keakraban sebuah persahabatan di antara keduanya.
Kisah persahabatan yang kurang satu karena Dhita tidak sedang disana bersama mereka.
" Tante Rena nyusul ya, bikin adek biar nanti kita makin rame," celetuk Bellinda ikut nimbrung dengan kedua sahabat itu.
Mendengar selorohan Bellinda sontak membuat keduanya tertawa, terlebih Rena ia tersenyum malu dirinya di jadikan topik selorohan.
Serempak ketiga pria yang juga berbincang-bincang di antara mereka, seketika menoleh ke arah wanitanya.
" Kalian enak sudah melakukan itu, lah aku," tukas Reyhan memonyongkan bibirnya.
" Memangnya kau tidak pernah melakukannya Rey?" Eza bertanya keheranan.
Reyhan menggelengkan kepalanya.
" Gara-gara tamu bulanan." celetuk Reyhan tersenyum tipis mengingat dirinya yang telah lebih seminggu menikah namun belum bisa melakukan apapun.
" Wah, nasib kalau begitu." ucap Eza sambil menepuk jidatnya sendiri.
" Sudah tenang Rey, nanti kalau ada kesempatan langsung gasken...!" celetuk Andrian yang di susul oleh tawa semua orang termasuk mommy Rita yang hanya tersenyum mendengar obrolan para anak muda itu.
Mommy Rita teringat Arjuna dan Dhita.
" Seandainya saja mereka ada di sini." gumam mommy Rita sambil menyeka air mata yang mulai mengambang.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
" Arjuna!" seru mommy Rita lirih, melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Hallo," sapa mommy Rita sambil melambaikan tangannya, karena mereka sedang VC saat ini.
Tanpa menunggu lagi, mommy Rita segera meletakkan ponselnya di atas meja, agar semua orang bisa berkomunikasi dengan Arjuna dan Dhita.
__ADS_1
" Hai....!" Sapa semua orang yang berada di ruangan tersebut.
Tampak Arjuna dan Dhita sedang duduk berdampingan, saat ini Arjuna menopang tubuh istrinya yang belum mampu untuk duduk sendiri.
" Hai, apa kabar kalian?" suara Dhita terdengar jelas walau masih sedikit lemah.
Dhita melambaikan tangannya dengan gerakan yang sangat lamban.
Terlihat seulas senyum dari bibirnya yang pucat.
" Dhi, cepat sembuh ya, kita semua merindukanmu," kata Rena, terlihat air matanya mulai mengambang melihat kondisi sahabatnya.
" Insya Allah, terimakasih ya....!" jawab Dhita dengan suara pelan.
" Bellinda, selamat ya atas kelahiran putra kalian, maaf aku tidak ada bersama kalian." ucap Dhita hampir menitikkan air mata.
" Tidak apa-apa Dhi, kau secepatnya sembuh, agar nanti kita bisa berkumpul lagi." jawab Bellinda.
Setelah selesai berbicara kepada Bellinda, Dhita beralih mengobrol dengan kedua sahabatnya.
Lama ketiga sahabat itu mengobrol saling melepas rindu, sedangkan yang lain hanya mendengarkan.
Setelah agak lama berbincang akhirnya ponsel itu di matikan.
Panggilan pun berakhir.
" Aww!" Dhita masih merasakan sakit yang hebat setiap kali ia bergerak.
" Hati-hati." ucap Arjuna.
" Makasih ya mas, sudah setia menemaniku," ucap Dhita menatap Arjuna yang tidak pernah meninggalkan dirinya walau hanya sedetikpun.
Mendengar ucapan terima kasih dari istrinya membuat Arjuna tersenyum.
" Sudah kewajiban ku untuk menjaga dirimu." jawab Arjuna sambil membantu istrinya untuk berbaring kembali.
Saat itu mereka hanya tinggal berdua di rumah sakit, di karenakan kedua orang tua Dhita pulang ke rumah Arjuna untuk beristirahat.
*
*
*
Sementara itu, Reyhan yang telah pulang dari rumah Andrian duduk di tepi ranjangnya.
Ia menunggu Rena yang masih berada di dalam bathroom.
Reyhan berharap agar malam ini bisa menyalurkan libidonya.
Rupanya keinginan Reyhan yang berharap bisa segera menyalurkan libidonya akan segera menjadi kenyataan.
Rena yang baru saja keluar dari bathroom berhasil membuat Reyhan menganga.
__ADS_1
Bagaimana tidak jika saat Rena keluar dari dalam bathroom ia hanya mengenakan lingerie.