
Glen menunduk mendengarkan penjelasan dari ayahnya, di dalam hati ia merasa menyesal telah menganggap ibunya tidak perhatian lagi kepadanya.
Perlahan Glen menghampiri Bellinda dan memeluk wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
" Maafkan Glen ma, Glen sudah salah mengira mama," ucap Glen penuh sesal.
Ya, walaupun masih kecil Glen memiliki hati yang lembut sama seperti Bellinda dan itu membuat dirinya sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain.
" Sudah, sudah, tidak apa-apa ini juga bukan salahmu, andai saja mama mengatakan nya padamu sebelumnya, ini pasti tidak akan terjadi." ucap Bellinda seraya membelai rambut ikal putranya dengan penuh kasih sayang.
Dan Glen semakin erat memeluk ibunya.
" Jadi sekarang papa di kacangin?!" Andrian berseloroh menggoda anak dan ibu tersebut.
" Papa!" Glen berbalik memeluk papanya, pria yang telah menjadi alasan ia terlahir ke dunia.
" Anak papa harus bisa menjadi orang yang bersikap bijak, Jangan mengedepankan emosi sebelum kau berpikir menggunakan hatimu," ucap Andrian menasehati putranya.
Walaupun dirinya masih sering lebih mengedepankan emosi, akan tetapi ia ingin agar putranya menjadi orang yang lebih baik dari dirinya.
" Iya pa, Glen janji gak akan mengulanginya lagi," jawab Glen dengan sungguh-sungguh.
" Alhamdulillah, semoga hidupmu selalu di berkati!" Andrian berdoa untuk putranya.
"Aamiin!" jawab Bellinda mengaminkan.
Andrian hanya tersenyum seraya menatap ke arah pintu yang telah rusak karena di dobrak olehnya.
" Sekarang papa akan memanggil tukang untuk memperbaiki pintunya," ucap Andrian yang langsung mendapat senyuman geli dari anak dan istrinya.
" Mengapa papa dobrak kan jadi rusak !" sahut Glen seraya ikut menatap pintu kamarnya yabg telah rusak akibat ulah ayahnya.
" CK, kalau tidak papa dobrak, maka mama mu akan terus menangis mengkhawatirkan mu!" jawab Andrian sembari tersenyum.
" Ya, Karna ulah mu membuat kami takut, kau berbuat yang aneh-aneh!" sahut Bellinda dengan melirik kan matanya ke arah Glen.
Sementara bocah itu hanya mengulum senyum.
" Sebenarnya tadi Glen hanya ingin ngasih tahu mama, kalau Glen dapat nilai seratus." ucap Glen memandang kepada kedua orang tuanya.
Mendengar putranya mendapat nilai angka seratus, Bellinda dan Arjuna saling berpandangan.
" What's kau mendapatkan nilai seratus?" tanya Andrian dan Bellinda serempak.
Glen mengangguk senang.
" Ya Tuhan, kau hebat sekali nak!" gumam Bellinda, kedua matanya tampak berkaca-kaca.
" Ini baru anak papa yang hebat!"
Andrian meraih tubuh Glen lalu mengayunkannya ke udara berkali-kali, membuat Glen tertawa kesenangan.
" Lagi dong pa !" pinta Glen ketika Andrian menghentikan gerakannya.
__ADS_1
" Nanti pusing?!"
" Gak!" Glen menggelengkan kepalanya.
Kemudian sesuai permintaan putranya, Andrian kembali mengayunkan tubuh Glen ke udara.
Maka bocah itu pun tertawa cekikikan.
" Sudah, sudah! hentikan! nanti bisa benar-benar pusing!" Bellinda mencegah tangan suaminya ketika akan kembali mengayunkan putranya.
Andrian pun menurut menghentikan gerakannya, namun tidak dengan Glen.
Bocah itu tampak murung ketika ibunya menyuruh untuk turun.
" Lebih baik sekarag kita makan!" ajak Bellinda karena telah masuk jam makan siang.
" Glen kita ganti bajumu ya, setelah itu nanti kita makan." ucap Bellinda yang langsung di angguki oleh Glen.
" Kalau begitu aku tunggu kalian di bawah !" ucap Andrian sembari melanjutkan langkahnya keluar dari kamar putranya.
*
*
*
Sementara itu mommy Rita masih memikirkan siapa yang telah berani memanipulasi ponsel menantunya. Untung saja ia mengetahuinya tepat waktu, jika tidak maka pertempuran dunia ketiga tidak akan bisa terelak lagi.
Jika saja sampai Arjuna lebih dulu mengetahui semua itu, maka akan dapat di pastikan kalau putranya itu akan cemburu berat.
Tiba-tiba mommy Rita teringat sesuatu.
" Oh iya, dimana ponsel Dhita ?" mommy Rita teringat tentang ponsel itu.
Mommy Rita berusaha mencari ponsel itu, namun tidak di temukan juga. Ia mencari mulai dari tempat Dhita mengerang kesakitan yaitu, ruang tamu. Hingga sampai ke kamar menantunya itu.
Namun mommy Rita tetap tidak dapat menemukan keberadaan ponsel tersebut.
Kemudian mommy Rita menghubungi kepala pelayan dan memberikan perintah untuk menemuinya, saat ini di kamar menantunya.
TOK.
TOK
TOK
" Masuk!" seru mommy Rita ketika ia mendengar suara pintu diketuk.
Tampaklah seorang pelayan yang menjabat sebagai ketua para pelayan di mansion itu, sedang berjalan menghampiri mommy Rita.
" Nyonya besar memanggil saya?" tanya si pelayan itu.
" Ya, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu," jawab Mommy Rita yang membuat si kepala pelayan menjadi bingung.
__ADS_1
" Bertanya tentang apa Nyonya?" pelayan itu memberanikan diri untuk bertanya.
" Apa kau mengetahui keberadaan ponsel menantuku?" tanya mommy Rita.
" Tidak nyonya, mungkin pelayan yang lain." ucap kepala pelayan itu.
Memang bukan dirinya yang membereskan ruangan itu.
" Baiklah, tolong kumpulkan mereka semua di ruang tengah!" perintah mommy Rita.
" Baik nyonya!" kemudian kepala pelayan itu bergegas memanggil kawan-kawan nya untuk berkumpul di ruang tengah.
Beberapa menit kemudian, semua pelayan telah berjejer rapi menghadap mommy Rita yang sedang duduk di sofa.
Mommy Rita menatap para pelayannya satu persatu. Membuat para pelayannya menunduk karena merasa INSECURE di tatap seperti itu.
" Sekarang katakan siapa yang telah membersihkan ruang tamu kemarin?" tanya mommy Rita kepada para pelayannya.
Semua pelayan terdiam, tidak ada satupun di antara mereka yang berani menjawab.
Sedangkan di dalam pikiran mereka masing-masing timbul berbagai macam pertanyaan, namun tak satupun yang berhasil menjawabnya.
" Tidak usah takut, katakan saja siapa yang telah membersihkan ruang tamu kemarin?" ulang mommy Rita.
Tiba-tiba salah seorang pelayan mengangkat satu tangannya.
" Saya yang membersihkannya nyonya!" jawab pelayan itu dengan suara gemetar karena takut.
Mommy Rita bangkit dari tempat duduknya, menghampiri pelayan itu.
" Apa kau melihat ponsel menantuku?" tanya mommy Rita.
Pelayan itu menggelengkan kepalanya.
Mommy Rita menghela napas panjang dan menghembuskan nya perlahan.
" Apa kau melihat seseorang setelah kami pergi?" tanya mommy Rita lagi.
" Ya, nyonya!" jawab pelayan itu sembari mengangguk.
" Siapa?" mommy Rita memicingkan matanya.
" Nyonya Devina, ibu dari nyonya Citra!" Jawab pelayan itu, kini suaranya tidak terlalu bergetar.
DEGH.
Jantung Mommy Rita Serasa berhenti berdetak.
Ia seakan tidak percaya dengan pernyataan pelayan itu, namun ketika ia teringat tentang sikap bu Devina yang tidak begitu menyukai menantunya. Maka ia pun berusaha untuk percaya dengan ucapan pelayannya.
Mommy Rita pun duduk kembali di sofa, perasaannya mulai tidak menentu.
" Kalian boleh kembali ke tempat masing-masing!" ucap mommy Rita kepada para pelayannya, yang langsung berhambur menuju ke belakang.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu, melainkan karena mereka takut salah bicara dan di marahi.