Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 72 Pengorbanan


__ADS_3

" Aku tidak akan pernah Sudi menjadi milikmu, selamanya cinta dan kasihku hanya untuk suamiku, Arjuna ." ucap Dhita lagi yang langsung membuat Bastian marah, wajahnya merah padam.


Bastian bangkit lalu berkata:


" Baiklah jika itu jawabanmu, maka akan ku habisi pria ini agar kau bisa menjadi milikku selamanya." ucap Bastian berjalan mendekati Arjuna.


Kini emosinya benar-benar tidak terkontrol lagi, obsesi untuk memiliki Dhita membuat dirinya gelap mata.


Bastian mengambil sebilah pisau dari dalam saku nya, rupanya ia telah merencanakan semuanya dengan matang.


Sementara itu di luar sana tampak Eza dan Reyhan mengendap-endap hendak memasuki gedung tua tersebut.


Sedangkan pak Setyo mengawasi David, khawatir David akan merencanakan sesuatu di luar dugaan.


Eza, Reyhan, mommy Rita dan Bu Safitri berjalan mengendap-endap memasuki gedung tua. mereka berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.


" Za, dimana ya kira-kira Arjuna sama Dhita di sekap?" tanya Mommy Rita berbisik.


" Entahlah Tante, lebih baik kita cari sama-sama!" jawab Eza berbisik pula.


Bu Safitri dan Reyhan berjalan di belakang mereka.


TRAAKKKK.


Suara kaleng yang tidak sengaja terinjak oleh Bu Safitri.


Sontak membuat para anak buah Bastian mendekat ke arah mereka.


Karena tidak sempat untuk bersembunyi, perkelahian tidak dapat di elak lagi.


Pergulatan antara Eza, Reyhan, dan para anak buah Bastian pun berlangsung.


HYAAAA ...


HYAAAAA.....


BRAAKK.


BRUUKK.


BRAAKK.


HYAAAAT ...


DEMMM.


Suara pukulan dan tendangan bergemuruh di dalam gedung tua tersebut.


Belum ada yang kalah ataupun menang semua masih di dalam pergulatan yang tampak seru.


Dua lawan beberapa orang preman.


" Cepat pergi Tante, jangan hiraukan kami!" seru Eza sambil terus berusaha menangkis serangan dari anak buah Bastian.


" Ya, mommy dan Bu Safitri pergilah, cepat cari Arjuna sama Dhita!" teriak Reyhan pula.


Mommy Rita dan Bu Safitri pun menurut, tanpa berpikir panjang lagi mereka berjalan menyusuri lorong gedung tua.


Semakin ke dalam suasana semakin sepi.

__ADS_1


" Mbak yu, kira-kira dimana mereka?" bisik bu Safitri yang memanggil mommy Rita dengan sebutan mbak yu.


" Entahlah, aku juga tidak tau." jawab Mommy Rita.


Tiba-tiba terdengar suara orang bercakap-cakap cukup keras.


Seperti ada kemarahan di dalam nada suaranya.


" Mbak yu dengarlah, sepertinya disana!" Bu Safitri menunjuk asal suara.


" Ya kau benar, ayo kita kesana!" mommy Rita juga mendengar suara tersebut.


Ada kebahagiaan di hati mereka berdua, karena sebentar lagi mereka akan bertemu dengan putra-putri mereka.


Sementara itu.


Arjuna menatap Bastian dengan pandangan tidak percaya bahwa Bastian akan benar-benar melakukan hal sekeji itu.


" Bastian jangan...!" teriak Dhita saat melihat Bastian mengarahkan pisau tersebut ke arah Arjuna yang telah memejamkan kedua matanya, Arjuna pasrah dengan nasib yang akan di terimanya.


Dhita segera bangkit dan berlari ke arah Arjuna.


Bastian telah siap menodongkan pisaunya ke arah Arjuna dan......


CRESSSS.


AAKKKHH.


Suara tusukan pisau bersamaan dengan teriakan Dhita.


Mendengar istrinya berteriak tepat di depannya, Arjuna langsung membuka kedua matanya.


Apa yang di lihatnya sungguh di luar dugaan.


" Dhita.....!!!!!"


Arjuna berteriak saat melihat darah segar bercucuran di tubuh istrinya.


Saat itu Dhita dalam posisi membelakangi Bastian yang juga syok menyadari apa yang telah dirinya lakukan.


" Dhita...!" Suara Bastian terdengar lirih.


" Maafkan aku Dhi, bukan maksudku untuk..."


belum selesai Bastian berkata, tiba'tiba terdengar suara dari luar. Suara itu menuju ke arahnya.


Suara mommy Rita dan Bu Safitri.


Bastian mengenali suara tersebut dan itu bukanlah suara anak buahnya.


" Maafkan aku Dhi, aku harus pergi." Bastian berlari menuju pintu belakang. Hanya satu tekadnya berlari sejauh mungkin agar tidak tertangkap basah oleh mereka.


BRUUKKK.


Tubuh Dhita ambruk tepat di pangkuan Arjuna.


Namun Arjuna yang masih terikat tangan dan kakinya tidak dapat melakukan apa-apa selain berteriak meminta pertolongan.


" Dhita!!!!" seru Bu Safitri ketika melihat putrinya sedang berlumuran darah.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Bu Safitri langsung berlari ke arah putrinya.


" Dhita, Arjuna!!!!" teriak mommy Rita yang juga ikut berlari di belakang Bu Safitri.


" Mom, cepat lepaskan ikatannya mom," pinta Arjuna, ia ingin segera memeluk istrinya tercinta.


Mommy Rita melepaskan tali pengikat tangan dan kaki Arjuna.


Sementara Bu Safitri telah merangkul putrinya yang tak berdaya, bu Safitri menangis sejadi-jadinya.


Setelah tangan dan kakinya terlepas Arjuna pun bersimpuh di dekat istrinya, Arjuna meraih tubuh Dhita dari pelukan Bu Safitri.


Dibawanya tubuh yang tak berdaya itu di dalam pelukannya.


" Dhita sayang bangunlah buka matamu sayang," pinta Arjuna.


Tess.


Tess.


Tess.


Tak terasa air matanya menetes tepat mengenai wajah Dhita, membuat Dhita perlahan membuka matanya.


" Mas, mas Ar kamu tidak apa-apa mas?" tanya Dhita tersenyum antara menahan rasa sakit di punggungnya ia masih mengkhawatirkan Arjuna.


Tangannya meraih wajah tampan Arjuna.


Air mata keduanya pun mengalir.


" Aku mencintaimu mas, aku rela mati untukmu." ucap Dhita dengan lirih.


" Peluk aku mas," pinta Dhita semakin membuat Arjuna menangis.


Arjuna memeluk istrinya erat-erat, belum sempat ia membahagiakan wanita yang sangat di cintainya.


Ucapan Dhita semakin membuat hati Arjuna remuk, ia kembali menyesali semua perbuatannya yang pernah ia lakukan dulu kepada Dhita.


Arjuna menyesal pernah menyia-nyiakan cinta yang teramat tulus dan suci.


Tangan Dhita terkulai tak berdaya, ia pun kembali memejamkan matanya.


Sungguh sebuah insiden yang tidak akan pernah ada seorang pun mampu membayangkan hal itu, sebuah insiden Paling menyedihkan dan menguras air mata.


Melihat itu semua mommy Rita juga ikut meneteskan air mata, terlebih lagi ia melihat separuh tubuh putranya mengalami luka-luka akibat bekas cambukan.


Sedangkan Reyhan dan Eza yang sedang bergulat melawan anak buah Bastian mulai terdesak.


Untung saja Andrian dan beberapa anggota polisi datang tepat waktu, kini pergulatan menjadi seimbang.


Bahkan para anak buah Bastian mulai kewalahan menghadapi serangan yang tiba-tiba datang dari Anggota polisi dan Andrian.


Hanya dalam hitungan detik polisi berhasil meringkus anak buah Bastian kemudian sebagian dari mereka mengamankan para preman tersebut ke kantor polisi, dan yang lain menuju ke tempat dimana Dhita sedang tak sadarkan diri.


" Cepat bawa Dhita ke rumah sakit!" seru Andrian ketika sampai di sana, ia tidak ingin Dhita terlambat mendapatkan pertolongan.


Andrian hendak membantu mengangkat tubuh Dhita yang terkulai tak berdaya namun tidak jadi karena Arjuna telah lebih dulu mengangkat tubuh istrinya. Walau tubuhnya mengalami luka-luka, entah dari mana kekuatan yang ia dapatkan yang jelas ia seperti tidak merasakan sakit pada lukanya itu.


Dengan sigap Arjuna membawa Dhita didalam dekapannya keluar dari gedung tua tersebut.

__ADS_1


Dengan menggunakan mobil yang di kendarai David sebelumnya, mereka membawa Dhita kerumah sakit terdekat.


Tentunya setelah memindahkan David ke mobil polisi karena ia juga terlibat dalam kasus tersebut.


__ADS_2