
Bukan tanpa alasan Bastian melakukan semua itu, di karenakan ia tidak ingin Arjuna mengetahui kalau dirinya mengirim mata-mata untuk memantau saudara sepupunya.
Karena jika sampai hal itu terjadi bukan hanya dirinya yang akan mendapat masalah, melainkan pelayan itu pasti akan di pecat olehnya.
" Ini untukmu!" ucap Citra seraya menyodorkan sebuah bingkisan kotak yang di pegang nya.
" Terima kasih!" Dhita meraih bingkisan itu lalu meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
" Siapa dia?" tanya Bastian berpura-pura tidak mengenali wanita yang bernama Citra.
" Dia istri kedua ku!" jawab Arjuna dengan nada tegas.
" Apa? istri kedua? bagaimana bisa?" Bastian masih dalam kepura-puraannya.
Sedangkan Dhita yang melihat itu semua, hanya diam. Di dalam hati ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dan terasa perih,
Mendengar suaminya menyebut wanita lain sebagai istrinya.
Namun apa daya bukankah ini semua adalah permintaannya.
Sesal kemudian tiada guna bukan?.
" Ya benar kak, Citra adalah istri keduanya mas Ar!" Dhita menimpali ucapan suaminya.
" Aku masih belum mengerti dengan jalan pikiran kalian, bagaimana mungkin kalian bisa berbagi kasih dalam satu atap yang sama?" Bastian sengaja menyindir Arjuna, di karenakan rasa kesal yang ia tahan di dalam hatinya.
Ingin rasanya ia mengatakan jika Dhita tidak sanggup untuk menjalani hidupnya bersama Arjuna, maka dengan pintu yang selalu terbuka ia akan bersedia menerima wanita yang sangat di cintainya itu.
Status sebagai saudara sepupu bukanlah masalah baginya.
" Kalau begitu, kau harus sering-sering bergaul dengan kami, agar kau memiliki daya pikir yang sama seperti kami!" Dhita sengaja berseloroh untuk mengurangi kegundahan di hatinya.
" Aku menikahinya atas permintaan istri pertamaku!" Arjuna yang hanya diam saja, kini angkat bicara, karena ia tidak ingin Bastian akan salah paham atas dirinya.
Walaupun telah lama menikahi Citra, Arjuna belum pernah sama sekali menyentuh wanita itu, dikarenakan ia memang tidak memiliki rasa apapun terhadap Citra.
" Bagaimana keadaanmu Dhi?" Citra yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, kini ia pun berbicara untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
Ia merasa tidak enak hati jika di senggol terus menerus.
" Aku baik-baik saja, sekarang badanku rasanya lebih sedikit bugar." Dhita berbohong, agar tidak membuat Bastian semakin khawatir.
Walau kondisi yang sebenarnya ia masih merasa sangat lemah.
__ADS_1
" Apakah paman dan bibi telah di hubungi?" Bastian kembali bertanya ketika teringat orang tua dari sepupunya itu.
" Tidak kak, jangan pernah mengabari mereka dengan kabar buruk, aku hanya tidak ingin mereka merasa khawatir." ucap Dhita menolak untuk memberikan informasi kepada orang tuanya di kampung.
Mendengar ucapan Dhita, Bastian hanya menganggukkan kepala. Berusaha memahami apa yang di pikirkan saudaranya itu.
" Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kantor, jaga kesehatanmu!" ucap Bastian kemudian beranjak pergi setelah berpamitan kepada Arjuna dan Citra.
Citra memandangi punggung Bastian.
" Rupanya Dhita memiliki saudara pria tampan!" bisik hati Citra, entah apa yang ia rasakan yang jelas ia terlihat sedikit tersenyum.
" Citra ada apa?" tanya Dhita ketika ia melihat Citra diam termenung.
" Ah, tidak apa-apa, pria tadi saudaramu?" Citra balik bertanya.
Dhita menganggukkan kepala.
" Tapi, aku tidak pernah melihatnya bermain ke mansion?" Citra yang merasa heran karena Bastian tidak sekalipun datang ke mansion mereka.
" Itu karena dia sangat sibuk!" jawab Dhita sekenanya saja, tidak mungkin baginya jika harus mengatakan kalau semua itu terjadi dikarenakan Sikap suaminya yang terlalu pencemburu.
" Oh, pantas saja!"
Dhita mengerutkan keningnya mendengar Citra bergumam, ia merasa ada sesuatu hal yang di sembunyikan oleh Citra.
Sehingga ia akan memiliki alasan untuk menceraikannya.
*
*
*
Sementara itu, Bellinda yang telah terlanjur terbakar api cemburu langsung pergi ke mansion Arjuna.
Namun setelah ia mengantarkan Glen kesekolah.
Setelah tiba di mansion yang ia maksud, Bellinda segera bergegas turun dari mobilnya,
lalu berjalan memasuki ruangan mansion dengan langkah yang tergesa-gesa.
" Dhita! dimana kau!" teriak Bellinda dengan suara lantang.
__ADS_1
Seluruh pelayan yang berada di dalam mansion itu pun terkejut, mendengar suara wanita dengan keras memanggil nama nyonya mereka.
" Ada apa nona?" tanya kepala pelayan yang dengan langkah tergopoh-gopoh menghampiri Bellinda.
" Dimana Dhita?" sergah Bellinda dengan suara menyentak.
" Maksud anda, nyonya Dhita?"
" Ya, nyonya Dhita yang terhormat! dimana dia?" ucap Bellinda dengan kedua mata yang membulat memberikan tatapan menakutkan.
" Nyonya Dhita sedang di rumah sakit, nona!" jawab pelayan itu masih dengan tetap sopan walau Bellinda telah membentaknya.
" Jangan bohong, suruh dia keluar aku ada urusan dengannya!" Bellinda tetap tidak percaya kalau Dhita sedang berada di rumah sakit saat ini.
" Ada urusan apa?" tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.
Bellinda menoleh ternyata mommy Rita yang baru saja pulang dari rumah sakit.
" Tante!" Bellinda sedikit menjaga sikap. Karena ia tahu wanita itu masih menduduki jabatan penting di kantor perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan suaminya.
" Ada apa kau membuat keributan di sinj?" tanya mommy Rita lagi, karena pertanyaan yang sebelumnya ia masih belum mendapatkan jawaban dari wanita itu.
" Aku ingin bertemu dengan Dhita, tante!" jawab Bellinda to the poin.
" Ada apa kau ingin bertemu dengannya"? Mommy Rita kembali bertanya dengan lebih menelisik.
" Ada urusan Tante,"
" Urusan apa?" mommy Rita terus bertanya.
" Tante tidak tahu, menantu kesayangan Tante ternyata masih suka menggoda suami orang lain?" Bellinda berkata dengan penuh penekanan, menandakan ia sedang dalam kemarahan.
" Apa? itu tidak mungkin!" sergah mommy Rita, ia tidak terima menantu kesayangannya di fitnah yang tidak-tidak.
" Memang sulit dipercaya Tante, tapi di dengan bukti ini, kita tidak bisa menyangkalnya lagi." Bellinda memperlihatkan ponsel Andrian yang sengaja di bawanya. Beruntung ia masih mengingat untuk mengambil kembali ponsel suaminya yang telah ia lemparkan di atas kasur.
Mommy Rita meraih ponsel itu dari tangan Bellinda, kemudian mommy Rita pun membaca isi pesan yang tertulis mesra dan penuh ungkapan rasa rindu.
Sekilas mommy Rita juga merasa panas di hatinya, sama seperti Bellinda yang saat ini sedang menahan tangis.
Namun tak lama kemudian bibir mommy Rita tampak tersenyum, ketika ia melihat waktu yang tertera di dalam panel kolom chat itu.
" Rupanya ada yang sengaja memanipulasi tentang menantu ku," gumam mommy Rita, dari nada suaranya terdengar ia sangat yakin.
__ADS_1
" Manipulasi?" Bellinda tersentak mendengar ucapan wanita paruh baya di depannya.
" Lihat lah, pada waktu ini menantuku sedang berjuang melawan rasa sakit di rumah sakit, jadi bagaimana bisa dia menulis pesan semesra ini?" Mommy Rita menatap Bellinda dengan tatapan intens.