
Semua pasang mata menatap ke arah mereka, ada yang berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan. Akan tetapi yang jelas semua mata itu menatap mereka, Dia dan Almira dengan tatapan penuh iri.
"Hai!" sapa Jimmy, berpura-pura tidak saling kenal dengan Ans.
Saat itu mereka telah duduk di kursi.
"Hai Juga!" jawab Ans santai. Namun, mendapatkan tatapan jutek dari Dia, lalu memalingkan mukanya.
"Boleh aku gabung bersama kalian?" tanya Jimmy sambil menyeringai.
"Silahkan!" jawab Ans.
"Tidak!" tukas Dia, rupanya ia masih merasa sangat kesal dengan perlakuan Jimmy kepadanya.
" Oh, ayolah nona, bukankah aku telah meminta maaf kepadamu?" Jimmy kembali mengingatkan ia yang telah meminta maaf di kelas.
"Duduk saja!" jawab Almira.
"Oh, terimakasih nona, kenalkan namaku Jimmy." Jimmy mengulurkan tangannya.
"Almira!" jawabnya seraya menyambut uluran tangan Jimmy.
Melihat hal itu, Ans langsung bertindak. Karena ia merasa tidak suka Jimmy memegang tangan Almira.
"Kau ingin gabung bersama kami kan?" tanya Ans tiba-tiba kepada Jimmy.
"Tentu!" jawab Jimmy hendak duduk di sebelah Almira.
"Tidak semudah itu, kau harus memesankan makanan untuk kami bertiga, baru kau boleh bergabung bersama kami." perintah Ans dengan sengaja, karena ia tidak ingin Jimmy berdekatan dengan Almira.
"Baiklah!" jawab Jimmy menurut.
Ya, apalagi yang bisa di perbuat nya selain menuruti perintah majikannya, karena jika tidak, tentu saja ia yang akan menerima akibatnya jika telah pulang nanti.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" cegah Almira, ia merasa tidak enak hati jika harus menyuruh Jimmy memesankan makanan untuknya.
"Al, biarkan saja dia!" seru Dia, rupanya ia merasa senang jika melihat Jimmy di suruh-suruh oleh Ans.
"Tidak Di, kita tidak boleh berbuat seenaknya kepada siapapun, kita harus bisa melakukan apa yang menjadi kebutuhan kita, kau tenang saja, aku akan membawakan pesanan untukmu!" ucap Almira yang kemudian mendapatkan cibiran dari Dia.
Dan sungguh tidak terduga oleh Ans, Bukannya duduk di tempatnya, Almira justru mengejar Jimmy yang terlebih dahulu pergi ke arah kantin.
Sedangkan Ans, memandangi mereka dengan tatapan kesal, hingga ia mengepalkan tangannya.
"Awas saja berani macam-macam, aku habisi dia!" batin Ans dengan wajah yang di tekuk.
__ADS_1
Dia melirik ke arah Ans. Namun, tidak berkomentar.
Setelah beberapa menit, akhirnya Jimmy dan Almira kembali dari kantin.
Jimmy menyodorkan makanan kesukaan Ans, Chicken rice. Melihat masakan kesukaannya kedua mata Ans terbelalak, senyum tipis terukir di bibirnya.
"Thankyou bro, telah memesan makanan kesukaanku!" seru Ans senang, kedua matanya berbinar.
"Sama-sama!" Jimmy menjawab dengan senang pula.
Dan semua itu menarik perhatian Almira dan juga Dia.
"Dari mana Jimmy tahu makanan kesukaan mu?" tanya Dia seraya mengunyah makanan yang di bawakan Almira untuknya.
Ans dan Jimmy tersentak kaget.
"A..aku mengirim pesan WhatsApp kepadanya." jawab Ans asal saja.
Dia dan juga Almira saling bertatapan karena ada yang mengganjal menurut mereka.
"Kalian telah lama saling kenal?"tanya Almira penasaran.
Mendengar pertanyaan menelisik, Ans segera memutar otaknya, ia berpikir keras mencari jawaban yang tepat.
"Tadi aku meninggalkan nomor ponselku di bangkunya, saat aku mengambil ponsel Dia yang ada padanya." Jawab Ans dengan sangat hati-hati, ia berharap jawaban ini mampu meyakinkan kedua wanita itu agar tidak mencurigainya.
"Tapi, dia sudah minta maaf," terdengar sebuah jawaban tapi bukan dari Jimmy, melainkan dari Ans.
Ya, Ans memang sengaja menjawabnya agar Jimmy tidak asal menjawab, dan membuat kecurigaan mereka semakin bertambah.
"Ya, itu benar, tadi dia meninggalkan nomor ponselnya di bangku ku, dan aku save, siapa tahu kami bisa berteman." Jimmy mencoba meyakinkan Almira dan Dia.
"Oh," hanya jawaban itu yang keluar dari mulut kedua wanita itu.
Mencoba mempercayai penjelasan dari kedua pria itu.
"Chicken rice enak, mau?" Ans menawarkan kepada Almira dan juga Dia,"
"Tidak, untukmu saja." jawab Dia sembari mengunyah makanannya.
"Sepertinya kita butuh save nomor ponsel dari
kita masing-masing, Ans berikan nomor mu!" tiba-tiba saja Almira meminta nomor ponsel dari Ans.
Bukan main senangnya Ans, mendengar wanita yang ia sukai meminta nomor ponselnya. Karena memang itu yang ia inginkan sejak kemarin.
__ADS_1
"Baiklah!" Ans segera memberikan nomor ponselnya yang kemudian di save oleh Almira.
Begitupun sebaliknya Almira mengirim pesan singkat kepada Ans, agar pria itu bisa menghubunginya sewaktu-waktu.
Hal ini di lakukan oleh Almira karena ia merasa yakin bahwa Ans orang yang baik. Selain itu, ia juga bisa bertanya info tentang Sepupunya yang sekelas dengan Ans.
"Aku juga mau di save," celetuk Jimmy seraya tersenyum kepada Ans.
Ingin sekali ia mengatakan, "Rencanamu berhasil bos," Namun, Jimmy hanya mengatakannya di dalam hati.
Almira pun memberikan nomor ponselnya kepada Jimmy, begitupun sebaliknya. Kecuali Dia, ia yang hanya terdiam tanpa ingin mengatakan apapun. Meskipun makanan di depannya telah habis tak bersisa.
"Kau tidak ingin berbagi nomor ponselmu?" tanya Almira kepada Dia yang masih diam saja.
"Haruskah?" Dia menatap Ans dan juga Almira secara bergantian.
"Maksud ku, bukankah sudah ada Almira, nanti dia yang hubungi aku." Dia melanjutkan ucapannya.
"Itu hak dirimu, ingin berbagi ya, silahkan, tidak juga tidak masalah!" Ans memberikan komentar.
Tidak terlalu penting baginya, karena Ans mendekati Dia, di karenakan ingin membalas dendam. Tanpa nomor ponselnya pun, ia pasti akan tetap melaksanakan misinya.
Dia menghela napas panjang, Pikirannya mulai kemana-mana.
"Jika aku tidak memberikan nomor ponselku pada Ans, bisa-bisa Ans selalu menghubungi Almira, dan bisa saja mereka menjadi dekat, tidak boleh, ini tidak boleh terjadi." pikir Dia.
"Ok, aku berikan nomor ponselku!" ucap Dia dengan tegas.
"Al, share." suruh Dia kepada Almira.
Dan tidak sampai setengah menit pun, mereka telah saling berbagi kontak masing-masing.
"Kalau begini kita akan menjadi lebih akrab ke depannya!" celetuk Jimmy dengan tersenyum lebar.
Jimmy merasa sangat senang karena saat ini dirinya telah memiliki teman, Karena selama ini ia tidak pernah memiliki seorang teman pun. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bekerja kepada Jason.
Almira menerima pesan di ponselnya.
"Di, sorry ya, nanti aku pulang lebih awal, mama menyuruhku untuk segera pulang." ujar Almira setelah membaca pesan WhatsApp di ponselnya.
"Ada apa Al?" Dia merasa khawatir.
Biasanya jika sampai ibu Almira menghubungi putrinya pasti ada sesuatu yang penting.
"Entahlah, mama hanya memintaku untuk secepatnya pulang." Jawab Almira.
__ADS_1
"Baiklah, hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik," pesan Dia kepada Almira.