
Puri masih curiga dengan perubahan wajah rena ketika ia membahas tentang masalah dhita, wajah rena terlihat pucat dan cemas. Namun ia lebih memilih untuk mendiamkannya karna ia tau jika di paksa untuk berterus terang pasti ujung-ujungnya mereka berdua akan bertengkar.
Usai mengaji dhita pergi ke dapur, bukan untuk membantu kedua sahabatnya melainkan berpamitan. Dengan penampilan yang rapi ala kadarnya dhita melangkah ke dapur dengan membawa sebuah map di tangannya.
" Loh mau kemana dhi?" tanya puri ketika melihat sahabat nya sudah rapi, sedangkan hari masih terlalu pagi.
" Mau ngelamar kerja!" jawab puri dengan singkat.
" Tadi aku dapat info di internet kalau ada perusahaan baru yang sedang membutuhkan karyawan." lanjutnya dhita.
" Oh, ya sudah semoga sukses ya..." puri memberi semangat kepada dhita.
" Ya makasih, ren aku berangkat dulu ya." ucap dhita kepada rena yang diam saja. " Tumben tuh anak kalem banget kecape'an kali ya..." pikir dhita, ia teringat kembali insiden semalam. Membuat ia tersenyum sendiri.
" Dhi... gak nunggu sarapan dulu?" tanya rena ketika sahabatnya hendak melangkah.
" Aku nanti sarapan di luar aja, takut telat." jawab dhita mengingat perusahaan yang akan ia datangi cukup jauh di perbatasan kota.
" Ya sudah, hati-hati ya..." puri dan rena hampir bersamaan.
Seperti biasa dhita pergi di antar gojek langganannya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Satu setengah jam dhita pun sampai di sebuah perusahaan baru.
PT. Industri Corp sebuah nama yang tertulis dengan jelas di salah satu sudut bangunan megah yang terlihat masih baru menandakan bahwa perusahaan tersebut masih belum lama beroperasi dalam dunia bisnis.
" Bismillaah," bisik dhita lirih. Ia melangkahkan kakinya memasuki perusahaan tersebut. Dengan bekal ijazah yang hanya tamatan SMA, ia berharap bisa di terima bekerja di sana walau hanya menjadi cleaning servis.
Ya dhita tidak berharap terlalu banyak menjadi cleaning servis sudah cukup baginya mengingat ijazahnya hanya SMA. Sedangkan di kota itu banyak sekali orang-orang yang berpendidikan tinggi.
Dhita melangkah menuju meja resepsionis untuk mengemukakan maksud kedatangannya ke kantor tersebut. Setelah beberapa saat seorang resepsionis mengantar dhita ke ruangan direktur utama setelah menghubungi atasannya terlebih dahulu. Direktur utama yang akan memutuskan diterima atau tidaknya nanti.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Tok..
Seorang resepsionis mengetuk pintu, kemudian mempersilahkan dhita masuk setelah sang direktur utama memerintahkannya untuk masuk ke dalam ruangannya.
" Apa anda mempunyai pengalaman kerja sebelumnya?" tanya sang direktur menatap ke arah dhita yang sedang duduk didepannya setelah sebelumnya di persilahkan untuk duduk. Sang direktur bertanya sambil memeriksa semua dokumen persyaratan lamaran kerja yang di bawa dhita.
" Iya tuan, saya pernah bekerja di sebuah toko buku sebagai karyawan biasa namun setelah setahun saya di angkat menjadi seorang manager." tutur dhita sejujurnya.
Di rektur utama yang bernama Bastian david dmd, tulisan yang terpampang di sebuah papan nama yang terletak di atas meja. Pria bertubuh kekar dengan wajah tampan namun dengan tingkat ketampanan masih di bawah arjuna menatap dhita dari atas hingga bawah sambil memikirkan sesuatu, entah apa.
" Baiklah anda di terima kerja hari ini juga sebagai sekretaris pribadi saya." ucap sang direktur yang bernama bastian david dmd dengan muka datar, sama sekali tidak terlihat senyum di wajahnya.
" Hah, serius tuan saya di terima sebagai sekretaris?" tanya dhita tidak percaya, padahal dirinya hanya tamatan SMA. "Bagaimana mungkin bisa jadi sekretaris?" tanya dhita dalam hati. " Aneh...!" bisiknya lagi. Namun pada akhirnya dhita tidak mau ambil pusing dengan pemikirannya tadi ia menganggap mungkin ini adalah rejekinya.
" Iya, mulai hari ini anda bisa bekerja sebagai sekretaris pribadi saya," ucap bastian masih dengan muka datarnya.
" Terima kasih tuan saya janji akan mengabdikan diri saya di perusahaan anda dengan baik, saya tidak akan mengecewakan perusahaan anda." ucap dhita bersemangat.
" Harus, kau harus buktikan kinerja terbaikmu."
" Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi sebelum bekerja."
" Syarat apa itu tuan?" dhita merasa heran persyaratan apa lagi yang kurang karna semuanya telah ia persiapkan dengan matang.
" Buka hijab mu!" seru bastian menatap lekat ke wajah dhita. Sekretaris barunya.
Gerrrrrrrr.....
Bagai tersengat listrik dhita terkesiap mendengar perintah calon bosnya. Sambil bangkit dari duduknya dhita berkata.
" Maaf tuan jika anda bermasalah dengan hijab saya, maka lebih baik saya mengundurkan diri, lebih baik saya tidak memiliki pekerjaan apapun dari pada saya harus melepas hijab, karna hijab adalah suatu kehormatan bagi saya, "
" Tapi gajimu lumayan besar, apa kau yakin akan meninggalkannya." bastian masih tetap bernegoisasi.
__ADS_1
" Apa artinya uang di banding dengan kehormatan, maaf jika tuan menginginkan sekretaris seperti apa yang tuan inginkan, bukan saya orangnya." dhita mengambil kembali map miliknya lalu beranjak dari tempatnya.
Beberapa langkah sebelum dhita benar-benar keluar dari ruangan tersebut terdengar sebuah suara.
" Ok, anda boleh bekerja di sini sesuai dengan keinginan dan kemampuan anda!" seru bastian menghentikan langkah dhita.
" Apakah anda yakin tuan? anda tidak akan menyesal?" kini giliran dhita yang bertanya. Dan ini kali pertama bastian david dmd di tanyai oleh seorang karyawan.
" Ya, karna sebenarnya saya hanya ingin menguji prinsip anda saja." bastian berjalan menghampiri dhita.
" Maaf jika anda merasa tidak nyaman dengan semua ini!" lanjut bastian sambil mengulurkan tangannya.
" Baik kita sepakat, saya akan bekerja sesuai kemampuan saya dan anda tidak akan pernah mengusut tentang hijab saya," Dhita menyambut uluran tangan direkturnya.
" Deal!" seru bastian david dmd.
Sejak hari itu dhita bekerja sebagai sekretaris pribadi ( personal sekretary ) yang di tugaskan untuk membantu pimpinan dan menjadi perantara pimpinan dengan hal lain.
Dhita belajar dari salah satu karyawan kepercayaan direkturnya bagaimana caranya agar ia bisa mengemban tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab.
Semakin hari dhita semakin giat untuk bekerja, semangatnya untuk membuktikan bahwa dirinya bisa bangkit seperti yang lain mendorong dirinya untuk tetap profesional dalam bekerja. Kurang dari waktu sebulan dhita telah menguasai beberapa bidang.
Hari itu dhita memasuki kantor dengan terburu-buru karna takut terlambat mengingat saat itu ia akan ikut meeting penting mengenai tender.
" Bagaimana siap ?" tanya bastian ketika melihat dhita, dengan napas ngosngosan dhita berusaha mengatur pernapasannya.
" Ya saya siap tuan, " jawab dhita, berusaha se priofesional mungkin.
Setelah itu mereka melangkah menuju salah satu ruangan yang akan di jadikan tempat meeting.
Bastian dan dhita berbaur dengan sesama rekan bisnis mereka.
Tak lama kemudian meeting di mulai.
__ADS_1
Dhita sebagai sekretaris pribadi mendapat tugas untuk memimpin berlangsung nya meeting tersebut. Setelah di persilahkan dhita maju ke depan, tepatnya berdiri di samping projection screen, kemudian dengan gaya bicara yang padat , lugas dan jelas dhita berusaha menjelaskan setiap inci dari presentasinya. Dengan mudah semua rekan kerjanya menerima penjelasaanya.
Bastian manggut-manggut menyimak setiap detail pembahasan dhita sekretaris pribadinya. Dalam hati ia sebagai seorang direktur utama memuji keberanian dan kemampuan dhita dalam berkontribusi.