
Namun di urungkannya ketika melihat Citra yang menangis di pelukan istrinya. Citra menangis terisak seakan ia ingin melepas semua rasa yang selama ini mengganjal di hatinya.
" Menangis lah, jika itu mampu membuatmu merasa lega," bisik Dhita lalu membelai rambut Citra dengan lembut.
Citra melerai pelukannya ketika ia merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Dhita saat ia memeluknya. Citra memperhatikan seluruh tubuh Dhita dari atas hingga bawah.
" Kau.... !" kata-kata nya terputus.
" Aku hamil." ucap Dhita dengan senyum walau di dalam hatinya ia merasa khawatir, citra akan melakukan sesuatu kepadanya saat mengetahui dirinya sedang hamil.
Perlahan tangan Citra menyentuh perut Dhita lalu mengelusnya dengan lembut. Kemudian Citra tersenyum.
Bu Devina merasa senang sekali melihat putrinya yang tersenyum. karena hampir setahun ini, Citra tidak pernah menampakkan senyum nya.
Dan senyum itu berkembang saat terasa tendangan dari dalam.
" Baby, kau menendang, kau bisa merasakan kehadiranku?" tanya Citra pelan, baru kali ini ia berbicara layaknya orang normal pada umumnya.
Biasanya ia selalu berteriak-teriak tidak menentu.
" Dhita, lihatlah dia menendang tanganku," lalu Citra berbalik ke arah Arjuna.
" Ar, lihat dia menendang tanganku!" Citra memperlihatkan telapak tangan kanannya. Lalu sontak memeluk Arjuna.
Mendapat pelukan secara mendadak, membuat Arjuna tidak mampu menghindar.
Dhita yang melihat semua itu, meletakkan jari telunjuknya di depan mulut. mengisyaratkan agar Arjuna tetap diam. Arjuna pun mengangguk, memberikan ruang kepada Citra untuk memeluknya.
Bu Devina yang melihat semua itu, tersenyum puas. Ia merasa rencananya berhasil untuk meningkatkan kesadaran Citra.
" Aku merindukanmu Ar," bisik Citra yang langsung membuat Arjuna mendorong tubuh Citra kebelakang.
Dhita yang tidak mendengar ucapan Citra, hanya terlihat heran, mengapa suaminya tiba-tiba mendorong Citra.
" Mas, ada apa?" tanya Dhita.
Mendengar pertanyaan itu dari istrinya, berarti wanita itu tidak mendengar ucapan Citra, menurut Arjuna.
__ADS_1
" Ah tidak, hanya saja aku merasa risih," Arjuna sengaja berbohong agar istrinya tidak terlalu memikirkan hal itu.
Bu Devina yang mendengar walau hanya sayup-sayup, menduga kalau Arjuna memiliki perasaan yang sama dengan putrinya, kalau tidak untuk apa ia berbohong.
Citra tiba-tiba saja pingsan, tubuhnya ambruk beruntung Arjuna segera menopangnya, hingga tubuh itu tidak terjatuh ke lantai.
" Citra!" seru Arjuna dan Dhita bersamaan, dikarenakan mereka merasa sangat terkejut.
Bu Devina segera menghampiri putrinya dan berusaha menjelaskan tentang kondisi putrinya saat ini.
" Ini sudah biasa terjadi, dia selalu saja pingsan ketika mendapat tekanan batin."
" Tekanan batin? padahal saya tidak melakukan apapun?" Arjuna merasa bingung.
" Inilah yang sering kali terjadi selama hampir setahun ini, sejak pengambilan sebagian dari hatinya, sejak saat itu putriku tidak mampu menerima tekanan batin." Ucap Bu Devina di saat Citra telah di pindahkan ke atas tempat tidurnya, tentu saja Arjuna yang melakukan atas pemintaan bu Devina.
" Kasihan sekali dia," Dhita menatap Citra dengan perasaan iba.
" Apakah ada cara untuk menyembuhkannya?" lanjut Dhita, ia pun duduk di samping Citra.
" Ada! dan ini hanya satu-satunya cara untuk menyembuhkannya!" ucap bu Devina, menatap Arjuna dan Dhita bergantian.
" Hadirnya seseorang yang di cintainya."
Degh.
Perkataan Bu Devina membuat Arjuna terperangah, masih lekat di dalam pikirannya ketika Citra yang dulu sangat menginginkan dirinya, bahkan sampai menghalalkan segala cara untuk mencapai impiannya.
" Hanya seseorang yang membalas cintanya yang mampu menyembuhkan putriku." lanjut Bu Devina dengan raut wajah yang lebih menyedihkan.
Arjuna dan Dhita terdiam, mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing. Namun di dalam pikiran mereka sama-sama mengingat kalau Citra memiliki cinta yang begitu besar kepada Arjuna.
Melihat kedua tamunya yang sedang melamun, Bu Devina yakin mereka pasti masih mengingat bagaimana putrinya yang sangat mencintai pria itu.
" Seorang psikolog mengatakan kalau dia tidak segera mendapatkan cinta yang ia inginkan, maka hidupnya akan terus berlangsung seperti ini." Bu Devina menambah-nambahi ucapan psikolog itu dengan tujuan agar Arjuna segera menikahi putrinya.
" Lalu apa yang harus kita lakukan agar dia cepat sembuh?" tanya Dhita, pikirannya mulai terprovokasi.
__ADS_1
" Menikahkan nya dengan seseorang yang di cintainya!" jawab Bu Devina dengan tegas.
" Masalahnya siapa yang akan mau menikahi putriku, dia kondisinya saja seperti itu, ditambah lagi dengan hatinya yang hanya tersisa sebelah." Bu Devina mulai melancarkan aktingnya, pura-pura menangis.
Degh.
Mendengar ucapan Bu Devina, hati Dhita menjadi tidak tega, ia justru merasa sangat bersalah. Apalagi karena dirinya kondisi Citra menjadi seperti itu.
Tiba-tiba saja terlintas di dalam pikirannya, tentang pernikahan Citra dan Arjuna. Mungkin dengan seperti itu, Citra bisa segera sembuh dan kembali seperti sediakala.
Dhita tetap saja Dhita, hatinya terlalu lembut dan pikirannya sangat mudah untuk di provokasi. Hingga membuat ia mengambil keputusan di mana tidak ada seorang wanita pun di dunia ini, yang berani mengambil keputusan seperti dirinya.
Dhita melirik ke arah Arjuna seolah ingin meminta pertimbangan. Dan ini membuat Arjuna merasa tidak nyaman.
" Jangan katakan kau akan...." belum selesai Arjuna berkata, Dhita telah terlebih dahulu memotongnya.
" Harus mas, kau harus menikahinya, aku tahu dia cinta mati kepadamu mas, hingga membuat kondisinya seperti ini." sergah Dhita tanpa mempertimbangkan ucapannya terlebih dahulu.
" Tidak Dhi, ini tidak mungkin." Arjuna bangkit dari duduknya kemudian berbalik membelakangi istrinya.
Ia merasa istrinya telah kehilangan akal warasnya, kalau tidak mana mungkin ia akan memintanya seperti itu.
" Ku mohon mas, jika bukan karena pengorbanannya mungkin saat ini aku telah lama tiada, tidak bisakah kita juga berkorban untuknya? demi keselamatannya?" Dhita mengiba, berdiri menghadap Arjuna.
" Setidaknya lakukan semua ini demi aku, agar aku tidak selalu merasa bersalah." lanjutnya lagi.
Arjuna terdiam seribu bahasa, bagaimana mungkin ia menikahi wanita lain, sedangkan ia sendiri telah memiliki seorang istri.
Bu Devina segera angkat bicara agar tidak terlalu terlihat kalau ia juga menginginkan nya.
" Nak Dhita jangan berkata seperti itu, Tante tahu tidak mudah menerima wanita yang sakit mental seperti putri Tante, biarlah ia hidup seperti ini seumur hidupnya." Bu Devina berkata dengan nada suara yang memelas.
" Tidak Tante, aku tidak mungkin bahagia diatas penderitaan orang lain, jika suamiku tidak ingin memenuhi keinginan ku, maka baiklah, aku berjanji tidak akan pernah menerima hati ini." ucap Dhita seraya menunjuk ke arah ulu hatinya.
JEDDER....
Arjuna terperangah dengan ucapan istrinya, bukan apa-apa, melainkan ia tahu pasti jika istrinya telah merasa keberatan dengan sesuatu maka pasti akan terjadi sesuatu yang buruk.
__ADS_1
Dan jika sampai itu terjadi, maka Arjuna akan sangat menyesal.
" Ok, baiklah, hanya sebatas menikahinya saja, tidak lebih, karena aku tidak bisa memberikan yang lainnya." Arjuna berkata tegas.