
Dalam keadaan tidak sadarkan diri, Dhita dan Arjuna di bawa oleh para preman tersebut ke suatu tempat.
Dimana di tempat itu tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya.
" Hallo bos, taktik kita berhasil, target telah berhasil kami amankan." si ketua preman itu menghubungi seseorang melalui ponselnya.
" Good, kalian memang bisa diandalkan, baiklah tetap jaga mereka jangan sampai lolos, dan yang terpenting kalian harus jaga wanita itu jangan sampai terjadi sesuatu kepadanya apalagi sampai terluka, kalian mengerti!" suara dari seberang memberi perintah kepada ketua preman tersebut.
" Baik bos kami akan laksanakan perintah bos sebaik mungkin."
Tuutt...Tuutt..Tuutt...
Sambungan telepon ditutup dari seberang.
Benny nama dari si ketua preman tersebut, watak nya kasar dan pemarah.
Beberapa menit kemudian Dhita mulai tersadar, ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
" Oh, aku dimana, kenapa kepalaku pusing sekali?" Dhita memegangi kepalanya yang terasa berkunang-kunang.
Dhita melemparkan pandangannya ke seluruh ruangan, dilihatnya ruangan tersebut agak kotor dan berdebu.
" Mas, mas Ar....!" panggil Dhita lirih, saat ia mengetahui bahwa suaminya tidak ada di sampingnya.
Dhita berusaha berdiri dari tempat ia pingsan yang hanya beralaskan sebuah tikar yang telah usang.
Dhita menyingsing gaun pengantinnya agar mempermudah dirinya untuk melangkah.
" Mas....mas Ar!" panggil Dhita lagi, namun tidak ada jawaban.
Dengan masih memegangi kepalanya yang terasa berat, Dhita terus melangkah sampai akhirnya ia berhenti ketika melihat pintu yang terkunci.
Kreeekkk
Kreeekkk
Suara pintu tidak bisa di buka karena terkunci dari luar.
" Jangan-jangan preman-preman itu yang membawaku ke sini, mas Ar.....kamu di mana mas....mas....!!!" pekik Dhita berharap suaminya akan datang untuk menolong dirinya. Namun Arjuna tidak kunjung datang walaupun telah berkali-kali di panggil karena saat ini Arjuna sedang pingsan dengan seluruh tubuh babak belur akibat dari bekas cambukan yang mendera tubuhnya.
Tampak seorang pria sedang memandang Arjuna dengan tatapan penuh kebencian.
Swaaaarrrr
Pria tersebut menyiramkan se ember air kepada Arjuna hingga membuat Arjuna sadar.
" Uhukkkk....uhukkkk!"
Arjuna terbatuk.
Saat ini Arjuna sedang didudukkan di sebuah kursi dalam keadaan tidak mengenakan baju dan tangan di ikat ke belakang.
__ADS_1
Seperti seorang tawanan.
" Bastian !" seru Arjuna dengan penuh amarah.
" Berani-beraninya kau melakukan ini semua padaku, katakan di mana istriku, kau apakan dia?" Arjuna melupakan rasa sakit di tubuhnya saat ia teringat akan istrinya.
" Ha...ha..ha....ha....!!" Suara Bastian tertawa keras.
" Tenang saja tuan Arjuna, istrimu sangat baik saat ini hanya saja waktu yang mentakdirkan kalian untuk berpisah!" lanjut Bastian setelah tertawanya mereda.
" Siapa kau sebenarnya, apa tujuanmu memasuki kehidupan kami hingga kau mengusik ketenangan kami?" pertanyaan Arjuna bertubi-tubi.
" Baiklah perkenalkan namaku BASTIAN DAVID DHARMENDRA!!!" seru Bastian dengan penuh penekanan di setiap kalimat namanya.
Mendengar nama akhir Bastian yang sama persis dengan namanya cukup membuat Arjuna terkejut.
" Dharmendra, jadi kau...." Arjuna teringat akan cerita ayahnya, Calvin Dharmendra saat masih hidup. Beliau pernah bercerita bahwa memiliki adik yang bernama David Dharmendra.
" Ya, akulah keturunan keluarga Dharmendra yang asli, Darah biru mengalir di setiap urat nadiku bukan seperti dirimu yang hanya mengaku-ngaku sebagai keturunan Dharmendra karena kau bukanlah anak kandung dari mendiang pamanku, kau dan ibumu hanya seperti benalu yang menumpang hidup di keluargaku!" ucap Bastian panjang lebar.
" Jangan pernah kau mencaci ibuku!" teriak Arjuna marah saat Bastian menyebut mommy Rita sebagai benalu.
Bastian hanya tersenyum sinis.
" Lalu kau mau apa,?" tanya Arjuna kemudian.
" Mudah saja aku hanya ingin seluruh kekayaan Dharmendra jatuh ketanganku!"
Ia tidak merasa keberatan dengan semua harta bendanya, saat ini yang terpenting adalah ia dan istrinya selamat.
" Andai saja bisa ku lepaskan istrimu, tapi... setelah ku pikir-pikir istrimu lebih menarik dari pada Harta kekayaanmu." ucap Bastian hendak berlalu, namun terhenti saat Arjuna memanggilnya.
" Brengsek, keparat, sialan, berani kau menyentuh istriku, akan ku buat kau menyesal seumur hidup!" teriak Arjuna dengan penuh emosi.
Mendapat perkataan seperti itu dari Arjuna, Bastian menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan.
" Dari pada kau buang energimu dengan percuma lebih baik kau diam saja, terima saja kenyataan bahwa kau telah kalah."
" Cih !" Arjuna meludahi wajah Bastian, andai saja dirinya tidak sedang terikat pasti telah ia buat Bastian hancur lebur di tangannya.
Mendapat penghinaan dari Arjuna membuat Bastian marah dan gelap mata.
Tanpa berpikir panjang lagi, Bastian langsung mencambuk Arjuna tanpa ampun.
Pyarrr
Pyarrr
Suara cambukan membahana memenuhi ruangan tersebut.
" Akh.....!" teriak Arjuna ketika cambukan demi cambukan bersarang di tubuhnya, meninggalkan jejak memar merah ke biruan.
__ADS_1
Namun bukannya merintih kesakitan Arjuna justru tertawa menerima cambukan dari Bastian.
" CK kau kira telah berhasil menyakitiku, dengan menyiksaku kau tidak akan mendapatkan apa-apa!" ucap Arjuna dengan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
" Kau menantangku?" Bastian menatap Arjuna dengan tatapan yang menyeramkan.
Bukannya Menjawab Arjuna malah tertawa mengejek Bastian.
" Tuan, nona telah sadar," ucap salah seorang preman yang ternyata adalah anak buah dari Bastian.
Mendengar perkataan dari anak buahnya, Bastian mengurungkan niatnya untuk mencambuk Arjuna yang ke sekian kalinya.
" Kali ini kau beruntung, kalau tidak ku habisi kau." Bastian beranjak dari tempat itu.
" Nona siapa kah yang di maksud oleh anak buah mu, jangan bilang itu Dhita istriku, kau apakan dia, bajingan kalau sampai istriku terluka seujung kuku pun tidak akan ku biarkan kau hidup," teriak Arjuna dengan geraham yang bergemerutup. Tangannya yang terikat mengepal dengan keras, wajahnya merah padam menahan amarah.
Sedangkan di hatinya Arjuna merasa sangat khawatir dengan keselamatan Dhita.
Namun Bastian tidak memperdulikan teriakan Arjuna, ia terus saja berjalan menuju tempat dimana si nona berada.
" Mas, Ar....!" teriak Dhita saat pintu terbuka, namun senyum nya kembali hilang saat bukan Arjuna yang ia lihat melainkan Bastian, bosnya saat bekerja di kantor.
" Tuan....!" ucap Dhita lirih. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat.
" Dhita, kau sudah sadar," gumam Bastian tersenyum senang.
" Jelaskan padaku tuan, mengapa kau lakukan semua ini padaku?" tanya Dhita dengan tatapan yang menghunus.
" Dhita aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku hanya tidak rela jika kau menjadi milik orang lain." jawab Bastian.
" Dan pada kenyataanya aku memang istri orang, tuan." ucap Dhita menatap Bastian dengan intens.
" Tidak masalah aku akan urus surat perceraian kalian, dan menikahlah denganku," pinta Bastian.
Mendengar kata cerai emosi Dhita memuncak.
" Kau kira dirimu siapa Bastian, lepaskan aku atau kalau tidak.."
" Kalau tidak aku akan menghabisi suamimu," ucap Bastian memotong ucapan Dhita.
" Apa yang kau lakukan padanya, ayo jawab!" teriak Dhita semakin emosi.
Bastian meraih ponsel di sakunya, dinyalakan nya ponsel tersebut.
" Lihatlah!" Bastian memperlihatkan rekaman video Arjuna yang sedang di cambuk. Teriakan serta rintihan pria itu membuat hati kecil Dhita menjerit.
" Lepaskan suamiku, Bastian lepaskan dia," Dhita menyerang Bastian dengan pukulan bertubi-tubi.
Bastian hanya tertawa mendapatkan pukulan dari tangan lembut Dhita yang bagaikan sebuah buaian baginya. Dengan cepat Bastian segera menangkap tangan Dhita yang sedang memukulnya, lalu membawa Dhita ke dalam dekapannya. Bastian tidak memperdulikan Dhita yang sedang meronta-ronta ingin di lepaskan.
" Lepaskan Bastian, lepaskan kau bajingan kau jahat!" teriak Dhita sambil terus meronta-ronta.
__ADS_1
Tidak pernah terpikirkan olehnya pria yang begitu baik selama ini, mampu melakukan hal yang hina seperti itu.