
Dhita dan arjuna pergi ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan luka arjuna yang terkena infeksi.
Rumah sakit umum Bethesda yogyakarta Jl, jenderal sudirman, no 70.
Dhita dan arjuna memasuki kawasan rumah sakit, suasana di rumah sakit sangat sepi karna masih terlalu pagi, beruntung ada seorang dokter yang bertugas pagi hingga mereka tak perlu menunggu untuk mengantri.
" Bagaimana kondisinya dok?" tanya dhita merasa khawatir. Setelah dokter tersebut selesai memeriksa kekasihnya.
" Tidak terlalu parah, hanya saja pasien harus banyak istirahat dan minum obat secara teratur." dokter menjelaskan.
" Syukurlah..." dhita mengusap dadanya, ia merasa lebih lega.
Arjuna yang duduk di sebelah dhita hanya diam saja menyimak pembicaraan kekasihnya dengan dokter.
" Ini resep obat nya." dokter menyerahkan selembar kertas berisi resep obat yang harus mereka tebus.
" Terimakasih dok, kami permisi ." ucap dhita menjabat tangan dokter, begitu pun arjuna melakukan hal yang sama.
Selesai menebus obat mereka pergi meninggalkan rumah sakit.
Selama perjalanan pulang dari rumah sakit tak henti-hentinya dhita menasehati sang kekasih.
" Tuh kan mas, apa dokter bilang? kamu harus banyak istirahat dan minum obat secara teratur." ucap dhita.
" Gimana mau istirahat orang kerjaan gak ada yang handle kalo bukan aku siapa lagi?" arjuna balas bertanya. Mengingat eza yang baru saja menikah tidak mungkin baginya untuk memberikan tanggung jawab itu padanya, apalagi jauh-jauh hari eza telah mengajukan cuti.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran dhita.
" Kenapa nggak minta bantuan bang andrian aja mas, mungkin dia bisa bantu." dhita.
" Iya kamu benar, hanya dia yang bisa menghandle semua ini." arjuna menyetujui usul kekasihnya.
Arjuna meraih ponselnya lalu menghubungi no ponsel andrian.
" Hallo..." terdengar suara andrian mengangkat panggilannya.
" Ya, hallo.. kamu lagi sibuk hari ini ?" arjuna bertanya.
" Nggak.. gak sibuk, ada apa ?" andrian merasa heran tumben arjuna menelponnya, secara walau mereka adalah rekan bisnis hanya sekali ini saja arjuna menghubunginya secara pribadi, maklum selama ini kan ada eza yang selalu menjadi kaki tangannya.
" Bisa kita bertemu di kantor ? ada beberapa hal yang harus aku bicarakan denganmu !"
" Baik lah.. aku segera kesana."
Arjuna memutuskan sambungan telponnya.
" Kenapa gak langsung ngomong aja mas ?" tanya dhita.
" Nggak enak aku yang, nyuruh-nyuruh andrian gitu aja." ucap arjuna.
" Biasanya kalo sama eza langsung nyerocos aja perintah ini...itu..."
" Ya bedalah... kalo eza kan emang sahabat aku sendiri, udah kayak sodara gitu." arjuna mengingat ke akrabannya dengan eza.
" Sekarang dia pasti udah bahagia mas." gumam dhita.
__ADS_1
" Bukan cuma bahagia pasti udah makan lahap tuh si dia." arjuna tertawa terkekeh.
Dhita hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan kekasihnya.
Tak terasa mereka telah sampai di depan toko buku, tempat dhita bekerja.
" Mas, jangan lupa istirahat dan minum obatnya secara teratur." dhita kembali mengingatkan.
Mereka masih di dalam mobil.
Arjuna mengangguk.
" Iya.. yang...tapi aku pengen obat yang lebih mujarab." ucapnya.
" Obat apa yang kamu maksud mas ?" dhita bertanya tidak mengerti dengan Permintaan kekasihnya.
" Ini ... di sini..." arjuna menunjuk sebelah pipinya, tanda minta di cium.
Barulah dhita mengerti sekarang. Ia mendekatkan wajahnya ke pipi arjuna. Arjuna memejamkan mata, mengira pasti kekasihnya akan memberinya ciuman, ciuman pertama untuknya.
" Nanti kalo udah saatnya terserah kamu mau apa." dhita berbisik di telinga arjuna.
Lalu cepat-cepat membuka pintu mobil sambil tersenyum senang telah berhasil menjahili kekasihnya.
Sementara arjuna hanya bisa diam dengan gigi mengerutup, menatap kesal pada dhita yang sedang tersenyum mengejeknya dari luar mobil.
" Apes... kapan aku bisa melakukannya, awas, kalo sampai saat itu tiba tak akan ku beri ampun kau dhita." arjuna menggerutu pada dirinya sendiri.
Dhita melambaikan tangannya.
*
*
k
Di dalam toko buku.
" Ada hal penting apa?" tanya dhita saat duduk di sebelah citra yang sedari tadi menunggunya.
" Aku mengikuti tender di salah satu perusahaan besar ." ucap citra.
" Lalu ?" dhita merasa tidak ada hubungan dengan tender citra.
" Aku ingin kamu yang mengelola toko ini, agar aku bisa fokus dengan misi tender ku." jawab citra menjelaskan. Karena manager yang biasanya bertanggung jawab untuk mengelola toko buku tersebut mengundurkan diri karena telah tiba masa pensiunnya. Jadi untuk sementara Citra lah yang mengangani toko tersebut.
" Kenapa harus aku ? kan masih banyak karyawan yang lainnya?" dhita merasa tidak enak hati dengan karyawan yang lain, yang lebih dulu bekerja daripada dirinya.
" Aku hanya percaya sama kamu, aku yakin kamu pasti bisa." citra.
" Tapi... aku nggak punya pengalaman apapun, pendidikan ku cuma lulusan SMA." dhita.
" Aku akan membimbingmu sampai bisa, kapan pun kamu bisa bertanya padaku jika ada hal yang tidak kamu mengerti." citra.
Citra yakin dhita adalah wanita yang sangat cerdas, hanya saja ia lebih pemalu. Citra melancarkan dua aksinya sekaligus, pertama dia ingin mendekati dhita dengan cara itu agar dhita menjadi lebih sibuk dan tidak ada waktu lagi untuk arjuna. Kedua agar ia bisa lebih mudah memfitnah dhita dan membuat arjuna jauh darinya.
__ADS_1
Sungguh sebuah strategi licik yang luar biasa. Dhita yang daya pikirnya polos percaya begitu saja dengan semua omongan citra.
" Baiklah, aku setuju." ucap dhita tanpa ingin mengetahui alasan di balik semua itu.
" Terimakasih, kamu memang teman ku yang paling baik. " citra merangkul dhita seolah ia memang menganggap nya teman terbaiknya." Akhirnya kamu masuk juga dalam perangkap ku." citra membatin.
Setelah selesai mendiskusikan kesepakatan citra pergi dengan rasa senang rencananya berhasil.
Sedangkan dhita kembali bekerja seperti biasa.
" Maaf mbak dhita sekarang pekerjaan ini bukan tugas anda lagi ." ucap salah seorang karyawan.
" Kenapa ?" dhita terlihat kebingungan.
" Mulai sekarang anda adalah Manager di toko ini." ucap karyawan tersebut.
" Ya.. memangnya kenapa ?" dhita masih tidak mengerti.
" Mari ikut dengan ku mbak." karyawan tersebut menunjukkan kepada dhita tempat ruang kerjanya.
" Ini ruangan anda mbak dhita." karyawan itu membuka pintu, tampak lah sebuah ruang kerja yang luas dan lengkap dengan segala fasilitasnya.
Dhita mengucek kedua matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
" Ini ruangan ku ?" dhita bertanya.
" Ya mbak, di sinilah tempat anda bekerja, jika ada yang kurang paham, anda boleh bertanya pada saya." ucap karyawan itu.
" Baiklah, terima kasih."
Karyawan tersebut berlalu kembali ke tempat kerjanya.
" Ya tuhan... mimpi apa aku semalam, terimakasih ya Allah aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." ucapnya penuh rasa syukur.
*
*
*
Di kantor arjuna.
Di dalam ruangannya arjuna sedang membahas bisnisnya dengan andrian, ia menyampaikan ke inginannya agar andrian menghandle semua urusan kantornya sampai ia benar-benar sembuh.
" Bagaimana ?" tanya arjuna.
" Baiklah, aku setuju." andrian menyanggupi permintan rekan bisnisnya.
" Mulai besok aku akan urus semuanya, kamu tenang saja, istirahatlah sampai benar-benar sembuh." pesan andrian.
" Apa perlu aku suruh sopirku untuk mengantarmu pulang ?" tawar andrian.
" Tidak perlu aku bisa sendiri ." arjuna menolak tawaran andrian.
" Baiklah hati-hati."
__ADS_1
Arjuna melangkah pergi dengan menahan rasa sakitnya, ia memang merasa enggan untuk memakai jasa sopir ia lebih suka menjalankan mobilnya sendiri.