
" Papa, semoga papa tenang di alam sana, papa orang yang baik semoga saja papa di tempatkan di sisinya." doa Dhita di antara Isak tangisnya.
" Aamiin!" terdengar suara seseorang mengaminkan do'a nya.
" Puri!" Dhita terperangah ketika melihat sahabatnya berdiri di belakangnya.
Eza yang tidak bisa mengikuti pemakaman almarhum pak Setyo, segera mendatangi TPU tempat ayah dari sahabatnya di makamkan, setelah semua urusannya selesai.
" Dhita!" Puri yang dengan susah payah duduk di samping Dhita, segera memeluk erat sahabatnya.
" Aku tahu semuanya Dhi, mengapa kau tidak bercerita kepadaku?" ucap Puri menitikkan air mata.
Tidak pernah terbayangkan olehnya, kisah cinta pernikahan sahabatnya ternyata mengalami begitu banyak masalah.
" Aku mungkin tidak banyak mengerti tentang masalahmu, tapi setidaknya kau bisa menjadikan diriku, sebagai tempat sandaran bagimu." lanjut Puri dengan air mata berderai.
Ya, memang semenjak Rena menikah dengan Reyhan, Dhita tidak pernah berkeluh kesah dengannya.
Di karenakan ia tidak ingin membuat masalah di dalam pernikahan sahabatnya.
Mengingat Arjuna dan Reyhan adalah saudara kandung.
" Maaf, aku hanya tidak ingin menambah beban kalian," gumam Dhita lirih.
" Aku akan berusaha untuk menyelesaikan masalahku sendiri." lanjutnya.
Eza yang melihat persahabatan yang begitu erat, tanpa terasa ia menitikkan air mata.
Ia tidak pernah menyangka, bahwa pernikahan sahabatnya serumit itu.
Kemudian, mereka pun pergi meninggalkan TPU. Setelah sebelumnya membaca doa untuk almarhum pak Setyo.
Eza dan Puri memutuskan untuk mengantarkan Dhita pulang ke rumahnya, selain itu, Eza juga memiliki keperluan dengan Arjuna. Karena ia yakin Arjuna ada di rumah Reyhan.
Di rumah Reyhan tampak banyak sekali orang berdatangan, di antara mereka tidak hanya kerabat keluarga saja.
Melainkan banyak para rekan bisnis almarhum pak Teddy dulu sebelum ia mengalihkan perusahaannya ke pada Reyhan.
Jika Eza dan Puri langsung memasuki rumah Reyhan, namun tidak dengan Dhita.
Ia lebih memilih untuk duduk di halaman rumah itu, karena ia tidak ingin merusak ketenangan di rumah itu, yang pastinya akan berantakan jika Arjuna melihat dirinya di sana.
Dhita menghela napas panjang merenungi nasibnya sendiri.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak nya.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan disini?" tanya orang itu yang ternyata adalah Arjuna.
" Mas!" panggil Dhita lirih seraya berdiri menghadap pria yang selalu memporak-poranda kan hatinya.
" Apa yang kau lakukan disini?" Arjuna mengulangi pertanyaannya kembali.
" Aku... aku hanya, aku hanya kebetulan lewat mas, aku pergi!" Dhita berpaling karena ia tidak ingin membuat keributan di rumah itu.
Di dalam hati sebenarnya Dhita ingin Arjuna menghentikan langkahnya, memeluknya dari belakang seperti saat-saat indah dulu.
Namun harapan itu hilang saat Dhita sampai di depan pintu gerbang, tak ada suara teriakan yang menghentikannya, tak ada pelukan hangat yang di rindukannya.
Hidup ini terasa hambar baginya, bagai sayur tak bergaram.
Sedangkan jauh di belakang, Arjuna tengah menatapnya dengan rasa yang ia pun bingung untuk mengatakannya. Rasa sedih, rasa iba, rasa rindu serta rasa marah berbaur menjadi satu membuat dirinya tidak bisa bertindak dengan tegas.
Arjuna hanya bisa memandangi tubuh mungil sang istri yang perlahan menjauh darinya, hingga pada akhirnya wanita itu tak terlihat karena telah naik ke dalam taxi.
" Maafkan Aku istriku, tapi hati ini, rasanya belum bisa menerima dirimu dan bayi dalam kandungan mu."
Arjuna tetaplah Arjuna, seberapa pun Dhita berusaha meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak hamil. Akan tetapi Arjuna yang lebih memilih mempercayai hasil pemeriksaan di rumah sakit tetap saja menyangkalnya.
Dhita menumpahkan semua rasa sedihnya di dalam taxi itu. Ia menangis tergugu memikirkan masa depan pernikahannya, jika terus seperti ini, akankah ia mampu bertahan.
Pak sopir yang sedari tadi melihatnya dari kaca spion, bertanya kepada Dhita.
" Tidak pak!" jawab Dhita berbohong, Karena pantang baginya untuk berkeluh kesah kepada orang yang tidak di kenalnya.
" Saran saya neng, jika ada masalah segera di selesaikan, jangan di diamkan nanti bisa bertambah rumit." ucap pak sopir yang hanya di balas dengan anggukan oleh Dhita.
Sementara itu, Puri yang baru menyadari kalau sahabatnya tidak lagi bersama dengan mereka, mencari-cari ke seluruh ruangan.
Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Arjuna yang baru saja kembali dari luar.
" Ar, kau melihat Dhita?" tanya Puri saat Arjuna hampir melewatinya.
" Dia sudah pulang!" jawab Arjuna datar.
" Kau membiarkannya pulang sendirian?" Puri tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabat dari suaminya itu.
Arjuna tidak menjawab melainkan ia beranjak dari tempat itu, pergi memasuki rumah yang penuh duka cita.
Arjuna duduk di sofa, sambil memijat kepalanya yang tidak terasa sakit sebenarnya.
Namun sangat membuat dirinya merasa pusing.
__ADS_1
Suasana rumah perlahan mulai sepi, banyak para tamu yang pulang ke rumah masing-masing.
Arjuna dan mommy Rita segera undur diri, di karenakan mereka masih ada urusan di luar sana.
Tepat pada saat Arjuna sedang mengendarai mobilnya, terdengar suara ponselnya berdering.
" Dokter Eina " tulisan yang tertulis di beranda ponselnya.
Sembari menyetir mobil, Arjuna mengangkat panggilan di ponselnya.
STREET....
Arjuna menginjak rem secara mendadak, membuat mobil yang di tumpangi nya berhenti seketika.
" Ada apa Ar, mengapa kau berhenti mendadak?" tanya mommy Rita terkejut.
" Kita harus ke rumah sakit mom, dokter Eina mengatakan ada kesalahan dengan pemeriksaan Dhita saat itu." jawab Arjuna sambil membanting setirnya menuju kerumah sakit.
Dengan kecepatan tinggi Arjuna menjalankan mobilnya yang melaju kencang.
Sesampainya di rumah sakit, Arjuna dan mommy Rita langsung pergi menemui dokter Eina.
" Apa?" Arjuna terkejut ketika mendengar penjelasan dari dokter Eina.
" Benar tuan, ibu Dhita tidak hamil." ucap dokter Eina.
Kemudian dokter Eina menceritakan semua tentang ke salah pahaman itu.
" Sekali lagi saya mohon maaf tuan." ucap dokter Eina dengan penuh rasa bersalah.
Setelah berbincang-bincang dengan dokter Eina, akhirnya Arjuna memutuskan untuk pulang.
" Kenapa kau Ar, seharusnya kau sedih mendengar istrimu tidak hamil." celetuk Mommy Rita yang saat itu sedang merasa kecewa.
Harapannya untuk memiliki seorang cucu telah sirna.
Namun lain halnya dengan Arjuna, ia yang saat itu merasa bahagia hingga membuat dirinya senyum-senyum sendiri.
Namun ia juga merasa bersalah, ketika mengingat perbuatannya kepada Dhita.
" Tidak apa-apa mom, aku hanya ingin segera sampai di mansion." jawab Arjuna.
Sebenarnya ia bukan hanya ingin segera sampai di mansion melainkan karena ingin segera berjumpa dengan istri tercinta.
Dengan penuh semangat, Arjuna mengendarai mobilnya lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
Khayalan akan bersama dengan istrinya tercinta menari-nari di benak Arjuna.
Ia merasa sangat bersyukur memiliki wanita yang jujur dan setia kepadanya.