Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 127 Korban?


__ADS_3

Mommy Rita yang saat itu berniat untuk menemui Bu Devina mengurungkan niatnya ketika ia mendengar suara sayup-sayup dari dalam kamar bu Devina.


Suara itu terlalu pelan hingga membuat mommy Rita tidak bisa mendengarkannya dengan jelas, namun ia yakin itu bukanlah sebuah obrolan yang biasa.


TOK.


TOK.


TOK.


Mommy Rita mengetuk pintu kamar yang di tempati oleh Bu Devina setelah ia yakin obrolan itu telah berakhir, Karena suasana kembali sunyi.


KREEK..


Terdengar suara pintu terbuka.


" Jeng?!" sapa Bu Devina setengah gugup, namun ia tetap berusaha untuk tenang.


Mommy Rita tersenyum sembari berkata.


" Apa kabar jeng?"


" Ah, ya kabar saya baik jeng, kamu sendiri?" Bu Devina berusaha seramah mungkin.


" Saya juga baik jeng, oh ya, boleh saya meminta bantuan kamu jeng?"


Bu Devina terdiam.


" Tumben dia minta bantuan ku, ada apa ya?" pikiir Bu Devina.


" Itu pun kalau jeng tidak keberatan!" lanjut mommy Rita, karena tidak Mendapat jawaban dari Bu Devina, seseorang yang pernah menjadi sahabatnya.


" Oh, tidak jeng sama sekali saya tidak keberatan, kalau boleh saya tahu apa yang bisa saya bantu?" Bu Devina tersenyum sumringah, namun di dalam hati ia berharap apa yang dilakukannya akan memperoleh keuntungan dari keluarga mommy Rita.


" Besok pagi adalah acara tujuh bulanan menantu saya, Dhita. Jadi saya ingin jeng Devina ini membantu saya mempersiapkan segalanya." mommy mengutarakan keinginannya.


" Baiklah, jeng saya bersedia, bukankah kita adalah keluarga?" Bu Devina berusaha sebaik mungkin di depan mommy Rita.


" Baiklah, jeng terimakasih!" ucap mommy Rita.


" Iya, sama-sama jeng!" jawab Bu Devina seraya tersenyum.


Setelah di rasa tidak ada lagi yang harus di bicarakan, mommy Rita pun akhirnya pamit karena masih ada sesuatu yang harus ia lakukan.


Sedangkan Bu Devina hanya mengusap dadanya.


" Untung saja dia tidak mendengar percakapan kami," gumam Bu Devina. Sepertinya ia sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


Setelah itu Bu Devina masuk kembali ke dalam kamarnya.


Ia mencari-cari ponsel yang ia lemparkan entah kemana, karena kaget mendengar ada orang yang mengetuk pintu kamarnya, Sontak membuat Bu Devina melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


TRILILILILIT


TRILILILILIT


TRILILILILIT


Terdengar suara ponselnya berdering, Bu Devina berusaha mencari ke arah datangnya suara.


" Oh, ternyata di balik bantal!" gumam Bu Devina seraya meraih ponselnya yang terselib di balik bantal.


" Hallo!" jawab Bu Devina, mengangkat panggilan di ponselnya.


Dan terdengar suara orang marah-marah di seberang.


" Kenapa tiba-tiba ponselnya di matikan?" suara itu terdengar begitu emosi.


" Iya, tadi ada orang di luar sedang memanggilku, jadi ku pikir ku tutup saja panggilannya, dari pada orang itu bisa mendengar semua pembicaraan Kita?" Bu Devina berusaha menjelaskan alasannya menutup panggilan di ponselnya secara sepihak.


" Ok, aku terima alasannya!" jawab suara yang di seberang.


" Baiklah, ku rasa sampai disini dulu, nanti kita lanjutkan lagi!"


TUUUT


TUUUT


TUUUT


Entah siapa yang menghubunginya, entah apa yang telah mereka rencanakan. Tapi yang jelas saat itu sedang tersenyum. Sebuah senyuman yang mengerikan.


Sementara itu di ruang tamu ketiga sahabat sedang bercengkrama, mereka saling bercerita tentang kisah kehidupan masingmasing.


Rasanya masih sama seperti saat mereka remaja dulu. Namun disini Dhita lah yang lebih banyak berdiam mendengarkan kisah kedua sahabatnya.


Karena ia tidak ingin menyinggung tentang Citra yang selalu hadir di dalam kisah cintanya.


Ya, diam itu lebih baik bukan?.


" Hei Dhi, cerita dong?" pinta Rena setelah ia selesai menceritakan tentang dirinya dan Reyhan.


" Sudahlah tidak perlu," jawab Dhita yang langsung mendapat cibiran dari kedua bestie nya.


" Eeaak...Eeaaak..!" Rere yang sedang tidur menggeliat, bayi mungil itu menggerakkan kepalanya kekiri dan ke kanan. Rupanya ia sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


" Dia pasti haus," ucap Dhita kepada Citra yang seakan tidak pernah bosan menimang dan memanjakan bayi itu.


Rena yang mendengar suara putrinya, langsung berdiri dan meraih bayinya.


" Sayang kau sudah bangun? kau haus ya, mau minum susu?" Rena menyodorkan dot yang berisi susu formula kepada putrinya.


" Kenapa tidak kau kasih ASI saja putrimu?" tanya Puri, memang Puri tidak memiliki waktu untuk menjenguk Rena saat melahirkan. Di karenakan Puri sangat sibuk mengurus Ednan yang lumayan aktifnya, hingga membuat ia sering kewalahan.


Jangankan untuk menjenguk Rena, untuk makan saja ia harus menunggu sampai ada yang menggantikannya menjaga putranya itu.


" Ada masalah dengan ASI ku, dokter menyarankan lebih baik di berikan susu formula saja!" jawab Rena.


" Masalah?" Kali ini Dhita yang bertanya.


" Mengapa aku tidak pernah tahu, kau ada masalah dengan ASI mu?" lanjut Dhita.


" Itu karena mu terlalu sibuk


dengan kehidupan orang lain, jadi Bestie sendiri tidak kau hiraukan." Jawab Rena sembari mengerlingkan sebelah matanya ke arah Citra.


Beruntung saat itu Citra sedang tidak memperhatikan dirinya. Jika saja, pastilah suasana akan berubah.


" Oh, ayolah jangan bertingkah seperti anak kecil, ku kira usia mu sudah dewasa!" ucap Dhita berusaha untuk membuat suasana tetap tenang.


Rena hanya diam, sembari memberikan susu formula kepada putrinya.


Mendengar penuturan Rena, Dhita merasa khawatir dengan dirinya sendiri.


" Bagaimana dengan ku? apa aku akan mengalami hal yang sama seperti mu?" tanya Dhita, wajahnya menampakkan kecemasan.


" Tidak selalu, contohnya aku!" tukas Puri, ia tidak ingin sahabatnya terlalu banyak pikiran.


" Aku tidak memiliki masalah apapun, jadi kau tenang saja, serahkan saja semuanya kepada yang maha kuasa!" lanjut Puri.


" Aamiin!" Dhita menengadahkan kedua tangannya, berharap tidak akan terjadi sesuatu apapun terhadap dirinya dan juga kedua bayinya.


" Dan semoga saja yang maha kuasa membebaskan dirimu dari belenggu wanita benalu itu!" Rena yang masih merasa tidak suka kepada Citra tetap menyindirnya.


Namun Citra telah tidak ada lagi di tempat itu, karena sebelumnya bu Devina telah memanggilnya.


" Hust, jangan bicara seperti itu, dia menikah dengan mas Ar juga karena permintaanku!" Dhita merasa tidak enak hati jika kedua bestie nya terus menyinggung tentang Citra.


" Kau ini jadi orang terlalu baik, hanya karena merasa berhutang Budi kepada wanita itu, kau rela mengorbankan suamimu." Puri yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, kini angkat bicara.


" Korban?" Dhita mengerutkan keningnya.


" Ya, apalagi selain kau jadikan suamimu itu sebagai korban, dipaksa menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintainya, bukankah itu sebuah penyiksaan?" semprot Puri yang selama ini memendam rasa kesalnya dengan Tingkah sahabatnya yang menurutnya bodoh.

__ADS_1


Dhita terdiam merenungi semua ucapan sahabatnya.


" Apa mungkin aku telah bersikap egois? apa mungkin aku telah mengorbankan mas Ar dengan semua permintaan ku? Ya Allah ampunilah aku!" Dhita membatin.


__ADS_2