Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 142 Satu Ratu


__ADS_3

" Takdir?" Citra mengulang ucapan Dhita.


Dhita pun mengangguk.


" Mengapa takdir sekejam ini padaku?" tanya Citra tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Dhita.


" Bukan kejam, tapi hanya saja takdir sedang menguji kesabaran mu!" Dhita menasehati.


" Apa namanya kalau bukan kejam, di nikahi tapi tidak pernah di sentuh!!" Citra berkata seraya lebih menekan kalimat terakhirnya, menandakan kalau dirinya sedang amat sangat kecewa.


Sesabar-sabarnya wanita jika tidak pernah di anggap pasti akan berusaha mencari tempat lain yang mampu membuatnya lebih nyaman, dan itu yang sedang di rasakan Citra saat ini.


Setelah sekian lama terlalu berharap pada Arjuna, akhirnya ia memutuskan untuk berpindah ke lain hati. Hanya saja ia masih mencari waktu yang pas untuk mengutarakan keinginannya, dan ia juga masih ingin tahu apakah pria yang membuatnya nyaman pada pandangan pertama, akan menerima dirinya.


Mendengar pernyataan Citra, hati Dhita terenyuh juga. Memang sulit dan rumit, pernikahan yang di huni dua wanita dalam satu atap.


Dan saat itu Dhita benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin baginya untuk turun tangan dalam hal se intim itu.


Dhita hanya bisa diam dan diam.


Sedangkan di ruang tamu, Arjuna telah berhasil meyakinkan kepada kedua mertuanya, kalau dirinya tidak pernah menginginkan pernikahan ini, hingga membuat pak Setyo dan Bu Safitri tersenyum bahagia saat mengetahui yang sebenarnya, bahwa Arjuna tidak pernah mencintai apalagi menyentuh wanita itu.


" Kalau memang seperti itu, ibu punya rencana!" ucap bu Safitri sembari tersenyum menatap Besan dan menantunya.


" Maksud Bu Safitri?" Mommy Rita terlihat bingung mendengar ucapan dari besannya.


" Saya ingin menjodohkan Citra dengan keponakan saya," jelas Bu Safitri.


" Maksud nya, Bastian?" mommy Rita ingin memastikan.


" Ya, saya lihat Citra benar-benar berubah, selain baik dia juga cantik, saya rasa cocok dengan Bastian." lanjut Bu Safitri penuh keyakinan.


Dan betapa senangnya Arjuna, ketika mendengar rencana ibu mertuanya. Dengan begitu ia tidak perlu lagi berpura-pura menyukai Citra, karena memang tidak ada rasa untuknya.


" Akhirnya aku bisa terbebas dari belenggu pernikahan ini." bisik Arjuna dalam hati.

__ADS_1


" Tapi, apa mungkin Bastian akan menerima Citra karena jelas-jelas ia telah mengetahui kalau Citra telah dinikahi oleh Arjuna." mommy Rita meragukan rencana besannya.


" Ya, selagi Citra tidak tersentuh bagi saya itu aman-aman saja!" jawab Bu Safitri.


" Pasti Bu, seribu persen!" Arjuna meyakinkan.


" Sekarang yang menjadi pertanyaan nya, apakah Citra bersedia di jodohkan dengan Bastian?" Bu Safitri sedikit ragu, ketika teringat olehnya betapa cinta matinya Citra terhadap Arjuna.


" Apakah sebaiknya kita tanyakan saja kepadanya? agar semua lebih jelas!" pak Setyo yang sedari tadi hanya diam saja menyimak percakapan antara istrinya dan Mommy Rita.


Mendengar gagasan dari pak Setyo, semua saling berpandangan, tidak seorang pun di antara mereka yang berani bertanya tentang hal itu.


" Dan lebih baik kita panggil nak Citra sekarang!" lanjut pak Setyo.


Dan bersedia atau tidak, mommy Rita lah yang harus pergi menemui Citra.


Dan setelah beberapa menit kemudian, mommy Rita kembali dengan bersama Citra dan juga Dhita.


" Ada apa ayah dan ibu memanggil kami?" tanya Dhita kepada kedua orang tuanya.


Ya, karena mommy Rita hanya mengatakan kalau mereka berdua di panggil oleh pak Setyo dan Bu Safitri, tanpa menjelaskan sebab dan alasannya.


" Duduklah!" ucap pak Setyo, karena Dhita maupun Citra masih sama-sama berdiri mematung.


Mendengar perkataan ayahnya, Dhita pun duduk yang langsung di bantu oleh Citra, rupanya ia tidak tega melihat Dhita yang sedikit kesusahan. Sedangkan mommy Rita telah duduk terlebih dahulu.


" Nak Citra, dengarkan saya baik-baik!" perintah pak Setyo yang langsung menarik perhatian Citra dan juga Dhita.


" Apakah nak Citra masih sangat mencintai Menantu saya, walau dia telah beristri bahkan sebentar lagi mereka akan memiliki momongan!" ucap Pak Setyo tanpa basa basi.


Mendengar ucapan pak Setyo yang merupakan pertanyaan khusus untuknya, membuat Citra sangat terkejut, sekaligus menahan malu.


" A... anu... pak..saya...!" kata-kata Citra tersendat-sendat, Karena ia tidak tahu harus mengatakan apa.


" Saran saya, sebaiknya nak Citra mencari lelaki yang tidak berstatus suami orang, nak Citra ini cantik pasti tidak akan susah jika mencari pasangan hidup." pak Setyo menyarankan.

__ADS_1


Citra hanya terdiam, sulit baginya untuk memberikan jawaban dari pertanyaan pak Setyo.


" Apa nak Citra tidak memiliki keinginan untuk menjadi satu-satunya ratu dalam sebuah istana?" kini giliran bu Safitri yang bertanya.


" Apa maksud anda Bu?" tanya Citra seraya mengernyitkan dahi, ia merasa heran mengapa Bu Safitri berkata seperti itu.


" Jika seandainya ada seorang pangeran ingin menjadikan nak Citra sebagai satu-satunya ratu di istananya, apa nak Citra bersedia? dan itu artinya nak Citra harus berpisah dengan menantu saya?" tanpa ada yang ditutup-tutupi Bu Safitri bertanya tentang semuanya.


Dan membuat Dhita sangat menantikan jawaban dari Citra. Ia hanya ingin tahu apakah Citra bersedia berpisah dari suaminya atau tidak. Dan Dhita mengerti siapa pangeran yang di maksud ibunya.


" Entahlah!" jawab Citra, di dalam hatinya sedang berkecamuk. Jika ia harus berpisah dengan Arjuna, maka jika ditakdirkan ia ingin meminta untuk di jodohkan dengan pria itu. Pria yang telah berhasil mencuri separuh hatinya.


" Itu berarti kau masih memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik!" ucap Bu Safitri mengartikan jawaban Citra, yang seolah pasrah.


Mendengar dugaan dari Bu Safitri, Citra hanya diam saja. Tidak ada tanda-tanda ia ingin menolak. Dan itu membuat Bu Safitri semakin mantap dengan rencananya.


" Baiklah, tunggu saja, tidak akan lama lagi hidupmu akan berubah!" lanjut bu Safitri.


Degh.


Denyut jantung Citra serasa berhenti, jujur ia masih sangat bingung dengan ucapan Bu Safitri itu, mengapa wanita itu begitu yakin kalau ia dan pria itu akan berjodoh.


" Tapi jika kau masih ingin tetap di sini bersama kami tidak apa-apa, kami akan selalu menerima mu!" ucap Dhita, ia merasa tidak enak hati, takut terkesan mereka mengusir Citra dengan mencarikan jodoh untuknya.


" Ah tidak Dhi, mungkin benar apa yang dikatakan oleh ibumu." Jawab Citra yang langsung membuat Bu Safitri tersenyum lebar.


Keinginannya untuk menjauhkan Citra dari kehidupan putrinya, akhirnya hampir terlaksana.


" Berubahlah untuk menjadi wanita yang lebih baik, dan ambillah keputusan yang akan mampu membuat hidupmu lebih bersinar!" pak Setyo berusaha menasehati Citra.


Sedangkan Citra dan Dhita terlihat menyimak ucapan nasehat dari pak Setyo.


Lalu bagaimana ekspresi wajah Arjuna?.


Arjuna terlihat sangat bahagia, ia tidak sabar ingin waktu itu segera tiba.

__ADS_1


__ADS_2