Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 38 Rasa benci


__ADS_3

" Ayo ku antar pulang." andrian menawarkan kepada dhita.


" Nggak usah bang, aku bisa sendiri lagi pula aku akan kembali ke tempat kerja ku, disana masih banyak tanggung jawab yang harus aku selesaikan." jawab dhita menolak tawaran andrian.


" Kita harus jaga jarak bang, jangan sampai kedekatan kita malah menimbulkan fitnah." lanjutnya lagi.


" Baiklah jika itu mau mu, dan jika kau butuh waktu untuk sendiri datang lah ke villa disana tempat yang aman untukmu." andrian mengingatkan kembali perihal villa yang ia berikan kepada dhita.


Dhita hanya mengangguk, tanpa sedikit pun senyum di bibirnya. Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum sedangkan hati nya telah sangat terluka.


Dhita menghentikan sebuah TAXI yang kebetulan sedang melintas di depannya.


" Duluan bang." ucap dhita kepada andrian sambil berlalu masuk ke dalam TAXI.


Andrian hanya bisa memandangnya hingga TAXI tersebut menghilang di kejauhan.


" Ini semua karna diriku, jika saja waktu itu aku menolak pertunanganku dengan bellinda pasti dhita tidak akan menderita begini, maafkan aku dhita, aku yang telah membuat mu terjebak dalam hubungan ini. Andaikan saja saat itu kita tidak gagal menikah akan ku buat dirimu menjadi wanita yang paling bahagia, sekali lagi maafkan aku dhita." andrian menggumam menyesali dirinya sendiri.


*


*


*


Dhita sampai di toko buku tempat ia bekerja setelah melalui perjalanan hampir satu jam.


Suasana di toko buku tak seperti biasanya, suasana yang begitu sepi dan sunyi hanya terdengar bisikan-bisikan dari para karyawan yang saling berbisik satu sama lain.


" Hei, itukan mbak dhita gak nyangka ya...orang yang begitu baik dan santun ternyata bisa melakukan hal yang sangat memalukan." bisik salah seorang karyawan pada teman seprofesi nya.


" Iya, ternyata orang yang berhijab gak menjaminkan akhlaknya." bisik yang lain membalas temannya.

__ADS_1


Lagi-lagi seorang dhita pratiwi harus menelan pahitnya menjadi bahan sebuah perguncingan. Sungguh mengenaskan nasib dhita setelah sekian lama berusaha melawan rasa traumanya kini harus di hadapkan lagi dengan situasi yang tak jauh berbeda. Untuk yang kedua kalinya ia di paksa mundur oleh kenyataan.


" Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi semua cobaan." dhita berdo'a dalam hati sambil terus melangkah pergi melalui para karyawan yang tengah menghujatnya.


Dhita melangkah memasuki ruangannya, dengan duduk bersandar pada sebuah kursi yang terletak di samping meja kerjanya dhita menangis sejadi-jadinya. Ia meraih ponselnya dilihatnya foto-foto kenangan mereka berdua yang terlihat begitu hangat dan mesra.


Dengan air mata yang terus mengalir dhita menggeser satu -persatu foto yang tersimpan di memory ponselnya. Berbagai pose mereka abadikan, siapa sangka hubungan asmara yang terjalin dengan sangat indah harus berakhir begitu saja.


" Aku akan selalu mencintaimu mas, apapun yang terjadi, aku tidak akan mundur aku akan terus berusaha sampai kau mau menerima diriku kembali." dhita terus memandangi foto arjuna yang sedang tersenyum seakan-akan menatap dirinya.


" Nggak, aku gak boleh lemah aku harus tunjukkan sama mas arjuna kalo aku gak salah." dhita mengusap air matanya, berusaha setegar mungkin menghadapi situasi ini.


" Nggak masalah mas jika aku harus berjuang sendirian di dalam cinta kita, akan aku dapatkan cinta mu kembali serta restu ibumu mas." dhita bertekad akan berjuang seorang diri, dulu saja ketika masih memiliki cinta dan kepercayaan dari arjuna ia sangat sulit untuk mendapatkan restu mommy rita, sedangkan kini ia telah benar-benar sendirian apakah ia akan mampu melewati hari-harinya tanpa cinta dan kepercayaan.


Dhita merasa jenuh pikirannya tak bisa berkonsentrasi, hanya bayangan arjuna yang menari-nari di benaknya. Tak satupun berkas-berkas laporan pekerjaan yang ia fahami, otaknya benar-benar kacau-balau. Suara arjuna yang mengatakan " Aku kembalikan adik mu !" terus terngiang-ngiang di telinganya.


" Ah, lebih baik aku pulang dulu sepertinya otakku tak bisa berfungsi." keluh dhita seraya bangkit dari duduknya. Ia melangkah meninggalkan ruang kerjanya.


Dhita kembali berjalan melewati para karyawan yang masih saja sibuk memperguncingkan dirinya. Dhita lebih memilih untuk tidak menghiraukan semua itu, ia terus saja melangkah keluar.


Jantung dhita berdebar ketika melihat sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Sebuah senyuman terukir di bibirnya saat melihat arjuna, kekasih ataukah mantan membuka pintu mobil.


" Mas, ar..." ucap dhita penuh kebahagiaan ia mengira bahwa arjuna telah berubah pikiran dan akan kembali mencintai nya seperti hari-hari sebelumnya.


namun betapa terkejutnya ia saat arjuna melangkah ke arah samping mobil dan membuka pintu yang sebelahnya bahkan tanpa melirik kearah dirinya.


Tampak lah seorang wanita cantik nan sexy menjulurkan kakinya yang putih mulus di pintu mobil. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah citra.


Pandangan dhita langsung tertuju pada citra, kemudian ia teringat akan ucapan arjuna yang ingin mengundang dirinya ke acara pertunangannya.


" Jadi yang akan di lamar mas arjuna adalah citra ?" serasa tak percaya dengan penglihatannya. " Apa mungkin mas ar semudah itu mencintai wanita lain ? tidak ini tidak mungkin." bisik dhita dalam hati.

__ADS_1


Rupanya arjuna memang sengaja untuk membalas sakit hatinya, dengan tanpa ragu arjuna mengecup pipi citra yang membuat wanita itu seperti melayang di atas angin. " Oh my good, kenapa dia jadi romantis begini ?" citra bertanya-tanya dalam hati.


Dengan pandangan yang mengabur karna kedua matanya telah di penuhi dengan linangan air mata yang mulai mengambang dhita memalingkan wajahnya ia tak kuasa menyaksikan sang kekasih tengah bermesraan dengan wanita lain yang tak lain adalah atasannya sendiri.


Tanpa memperdulikan dhita arjuna pergi memasuki mobilnya setelah puas membuat dhita cemburu.


Tanpa sepengetahuan citra, arjuna mengusap bibirnya yang telah ia gunakan untuk mencium pipi citra dengan sapu tangan, sebenarnya ia juga tak sudi melakukan hal itu jika saja bukan karna terpaksa untuk membuat dhita cemburu sekaligus membalaskan rasa sakit hatinya.


Citra melangkah hendak memasuki toko buku namun ia sengaja menghampiri dhita terlebih dahulu, ia penasaran seperti apa ekspresinya dhita.


" Citra." sapa dhita dengan senyum lebar seperti biasanya.Sedikit pun tak terlihat ia sedang marah ataupun cemburu hanya pelupuk matanya membengkak akibat sering menangis.


" Hai.... dhita." citra menjawab sapaan dhita, ia merasa heran mengapa dhita masih biasa saja, tak terlihat sedikitpun kecemburuannya.


" Maaf ya dhi, tadi aku gak bermaksud...."


" Nggak apa-apa kok, aku ngerti kamu juga mencintai mas arjuna kan?" dhita memotong ucapan citra.


" Dari mana kamu tau dhi ?" citra bertanya heran.


" Gak perlu di jelasin kan." dhita tersenyum.


" Emang kamu gak cemburu ? kamu masih cinta gak sih sama arjuna ?" citra semakin heran melihat ekspresi dhita yang biasa saja, mungkin kalau dirinya yang berada di posisi itu pasti tak usah di ragukan lagi, ia akan menjambak rambut perempuan itu atau mungkin akan menamparnya seribu kali karna telah berani menggoda kekasihnya.


" Bagi ku cinta tak perlu di umbar, ataupun di buktikan bukankah cinta itu tak harus memiliki ?" dhita balik bertanya.


" Iya sih, tapi aku tetap aja heran denganmu ."


" Apa yang harus di bingungkan jika Allah berkehendak maka jodoh tak akan kemana."


Seperti di sambar petir citra mendengar ucapan dhita yang bergaya sangat santai. Bagaimana citra tidak akan ketakutan karna dhita mendapatkan cinta kasih arjuna dengan murni, sedangkan dirinya mendapatkan semua dengan segala kelicikannya.

__ADS_1


" Aku pulang dulu ya ." ucap dhita melangkah pergi meninggalkan citra yang sedang kebingungan.


Walau hanya seorang wanita sederhana, dhita bukanlah orang sembarangan yang akan melakukan semuanya tanpa perhitungan, ia telah menduga bahwa semua yang terjadi padanya adalah akibat ulah citra. Tapi dhita diam saja dan berusaha setenang mungkin sambil memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan kedepannya.


__ADS_2