Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 119 Mobil Baru


__ADS_3

" Duppikat!!" Seru Ednan sambil mengibas-ngibaskan kunci mobil yang di pegang nya. Meskipun bicaranya sedikit cadel namun Ednan, sangatlah cerdas.


Ia mengucapkan kata duplikat dengan duppikat.


" Papa melupakan kunci ini di atas meja!" seru Ednan lagi, dengan nada bicara yang lebih pelan.


Eza menepuk jidatnya, baru saja ia teringat kalau sebelumnya ia memegang dua kunci namun karena kemarahan istrinya ia melupakan kunci itu.


Sedangkan Puri hanya bisa menahan senyum, melihat suaminya yang bereaksi absurd.


" Ya Tuhan, ini namanya kejutan di atas kejutan." gumam Eza, karena bocah yang sengaja di hindarinya kini telah berada di depannya.


Bahkan bocah itu telah terlebih dahulu menaiki mobilnya sebelum ia sendiri mencobanya.


Eza dan Puri mendekati putranya dan bertanya.


" Siapa yang telah membantu mu naik ke dalam mobil?"


Puri merasa heran tidak mungkin bocah sekecil itu bisa naik sendiri masuk ke dalam mobil.


" Bi cum!" Ednan menunjuk ke arah asisten yang duduk di belakangnya.


" Masya Allah." ucap Eza dan Puri bersamaan, ketika melihat asistennya cengar-cengir di belakang Ednan.


" Maaf tuan, nyonya tadi den Ednan yang meminta saya duduk di belakang." bi Jum turun dari mobil dengan tubuh yang gemetar, karena takut mendapat marah dari majikannya.


Terlebih lagi, saat Bi Jum melihat Puri, tubuhnya semakin gemetar, ia ketakutan mengingat istri dari majikannya jika marah sampai meledak-ledak.


" Tidak apa-apa bi, tenang saja!" ucap Puri dengan santai, sikapnya yang lembut kini mulai terlihat kembali, seakan ia tidak pernah marah sebelumnya.


" Benar nyonya saya tidak bersalah," Bi jum masih terlihat ketakutan.


" Sekarang duduklah kembali!" perintah Puri yang sempat membuat bi Jum terkejut.


Namun pada akhirnya, bi Jum tersenyum sumringah ketika melihat majikannya tersenyum lebar kepadanya.


" Ayo Ednan, kita keliling kota!" seru Eza yang kemudian duduk di samping kemudi.


Puri bersiap untuk mengemudikan mobilnya, perlahan tapi pasti ia mulai menghidupkan mesin mobil.


DREEENNN.


DREEENNN.


Suara deru mesin mobil terdengar sangat halus, maklumlah mobil baru.


Perlahan Puri mulai menjalankan mobilnya, walaupun itu adalah kali pertama ia memiliki mobil sendiri, namun Puri sering menggunakan mobil Eza untuk sekedar belajar menyetir. Sehingga membuat dirinya begitu lihai membawakan mobilnya.

__ADS_1


" Holee...Holee...!" Ednan bersorak gembira sambil bertepuk tangan di pangkuan ayahnya.


" Mama pintal, tebbec!" Ednan mengacungkan jempolnya. Ia mengatakan tebbec sebagai ganti kata the best.


" Husstt, jangan ganggu mama, nanti tidak konsen!" Eza melarang Ednan yang hendak meraih setir mobil.


Rupanya Ednan juga ingin melakukan seperti apa yang di lakukan oleh ibunya.


Mendapat larangan dari ayahnya, membuat Ednan diam seketika. Ia mengerti jika mengganggu orang yang sedang menyetir maka akan berbahaya.


Puri terus saja melaju dengan konsentrasi yang tinggi.


*


*


Di kediaman Reyhan.


Sama seperti Puri, Rena juga merasa murka, kemarahannya yang seakan meledak-ledak menggema memenuhi semua ruangan. Namun Rena tidak sampai mengamuk, apalagi memecahkan semua perabotan seperti yang dilakukan Puri. Ia lebih banyak mengomel dan *******-***** pakaiannya sendiri.


" Ini tidak adil, mengapa Dhita harus di duakan? apa tidak ada laki-laki lain yang Mau menikahinya?" Rena menggerutu seorang diri, karena Reyhan telah pergi dengan membawa putrinya, Rere Almira Winata.


Kini tinggallah Rena sendirian di ruangan itu, atau lebih tepatnya di dalam kamar.


Rena hanya membayangkan apa yang akan di alami oleh sahabatnya di kemudian hari. Ia takut jika sampai hati Arjuna luluh dan mencintai wanita lain.


" Ah, sudahlah mungkin memang takdir mereka!" gumam Rena, ia yang bertanya sendiri dan di jawab pun sendiri.


Kemudian ia mencari keberadaan suami dan putrinya. Ternyata mereka berdua telah berada di teras depan.


" Selesai ngomelnya?" tanya Reyhan kepada istrinya yang saat itu sedang tersenyum menatap ke arahnya.


" Eeaaakk, OOEEEKKKK OOEEEKKKK!" suara Rere menggema. Rupanya ia mengerti jika ibunya telah bersama nya.


" Ada apa? HM, hauskah?" tanya Rena sembari meraih bayi itu di dekapan suaminya.


Tangisan Rere mereda setelah mulutnya di sumbal dengan dot susu.


" Minumlah sepuas mu!" bisik Rena sembari mencium bayi Rere.


Tak lama kemudian Rere berhasil tidur membuat Rena merasa lega.


" Yuk kita makan!" ajak Reyhan kepada Istrinya, memang sejak tadi pagi perut mereka belum di isi apapun.


" Sebentar ya, aku ingin mengantar Rere ke kamarnya." ucap Rena sambil bangkit dari tempatnya.


Ya, walaupun masih kecil Rere telah di biasakan tidur di kamarnya sendiri. Rena dan Reyhan telah mempersiapkan kamar baby sebelum Rere di lahirkan.

__ADS_1


Setelah menidurkan putrinya ke dalam box baby, Rena menghampiri suaminya kembali yang masih duduk di teras rumah.


" Ayo kita makan!" ajak Rena yang telah merasakan perutnya keroncongan


" Yuk!" Reyhan bangkit dari duduknya melangkah bersama istrinya menuju ruang makan.


Di meja makan makanan telah tersedia, tertata dengan rapi. Pembantu mereka telah menyiapkan segalanya.


Rena mengambil nasi dan lauk-pauknya untuk suami tercinta, setelah itu ia mengambil untuk dirinya sendiri lalu keduanya makan bersama.


" Besok aku ada acara diluar kota, mungkin akan menginap beberapa hari!" Reyhan tiba-tiba berbicara membuat Rena tersedak.


Bukan karena kebanyakan makan ia tersedak, melainkan karena ia tidak ingin ditinggal berdua dengan putrinya saja.


" Mengapa mendadak?" Rena balik bertanya.


" Sebenarnya ini telah lama, hanya saja aku yang tidak memiliki banyak waktu untuk mengatakannya kepadamu!" jelas Arjuna.


Ya, akhir-akhir ini Reyhan memang sangat sibuk, semenjak perusahaannya bekerjasama dengan peusahaan Arjuna ia menjadi sangat sibuk. Sebab klien membanjirinya di mana-mana.


" Berapa hari?" Rena bertanya dengan penuh khawatir, jujur ia merasa tidak akan sanggup jika hanya tinggal berdua di rumah itu.


" Bisa tiga hari, bisa juga seminggu," jawab Reyhan yang langsung membuat kedua mata Rena membulat.


" Apa aku tidak salah dengar?"


" lalu bagaimana dengan ku dan putri kita?" lanjut Rena.


" Aku akan meminta mommy untuk menemani kalian di rumah ini!" jawab Reyhan.


Rena mengangguk.


" Baiklah, jika itu yang terbaik, aku setuju!" ucap Rena sedikit lega karena akan di temani oleh ibu mertuanya


Ya, walaupun mommy Rita bukanlah ibu kandung dari Reyhan, namun kebaikan mommy Rita seolah ia benar-benar ibu kandung dari Reyhan.


" Kok melamun?" tanya Reyhan ketika melihat istrinya diam saja.


" Aku pasti akan merindukanmu!" jawab Rena sambil menyeka mulutnya dengan sebuah tisu.


" Ya, aku juga pasti akan merindukan kalian." Reyhan yang duduk di samping Rena, bergeser sedikit untuk mendekati istrinya.


Lalu keduanya saling berpelukan.


Setelah sekian lama mereka selalu bersama, dan baru pertama kalinya mereka akan berpisah.


Sungguh terasa berat rasanya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2