Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 118 Kejutan


__ADS_3

" Maukah kau berjanji padaku mas?" Dhita yang sedang berada di dalam dekapan Arjuna, tiba-tiba saja memberikan pertanyaan.


Arjuna melirik istrinya, menatap wajah yang terlihat sendu.


" Janji apa yang kau inginkan?" Arjuna berbalik bertanya.


" Cintailah Citra sama seperti kau mencintai diriku mas!" pinta Dhita dengan tetap memandang wajah suaminya, ia berharap jawaban yang di berikan oleh suaminya adalah jawaban yang ia inginkan.


Sontak membuat Arjuna melerai pelukannya, wajahnya pun terlihat di tekuk.


" Apa kau tidak lagi mencintaiku?" Arjuna bertanya balik, karena ia merasa istrinya tidak mencintainya lagi.


Dhita mengerutkan kening, mendengar pertanyaan dari suaminya.


" Berapa kali aku harus mengatakan kalau diriku sangat mencintai dirimu mas, bahkan aku rela mati untukmu!" jawab Dhita dengan penuh keyakinan.


" Lalu mengapa kau ingin aku mencintai wanita lain, bukankah sudah ku katakan hanya sekedar menikahinya, bukan mencintainya!" Arjuna mengeraskan rahangnya, jika saja yang bertanya bukankah wanita yang sangat berharga baginya, pastilah saat ini juga ia telah memarahinya habis-habisan.


" Apa salahnya mas, mencoba untuk mencintainya bukankah, dulu Citra pernah menjadi tunanganmu? jika kau tidak memiliki sedikit perasaan kepadanya, tidak mungkin kau akan memilihnya untuk menjadi tunanganmu." Dhita kembali berusaha mengingatkan masa-masa itu, walau di hati kecilnya ia kembali merasakan kesedihan yang pernah ia rasakan ketika itu.


Arjuna menghela napas panjang mendengar ucapan istrinya.


" Kau tidak tahu saja, saat itu aku hanya berpura-pura, karena cinta ku hanyalah untukmu!" batin Arjuna.


Melihat suaminya terdiam, Dhita pun ikut terdiam. Sesekali ia melayangkan pandangannya keluar jendela mobil, menatap indahnya pemandangan di tepi jalan.


Mobil pun terus melaju, membawa sepasang suami istri yang seolah sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


*


*


Dirumah Eza.


Puri menghempaskan apa saja yang berada di dekatnya.


PRAAANG.


PRAAANG.


Suara barang-barang berhamburan kemana-mana, karena Puri melemparnya ke sembarang arah. Puri terlihat begitu marah hingga membuatnya tidak bisa menahan emosi.


" Hah!! bagaimana mungkin ini bisa terjadi? seharusnya dia tidak melakukan semua itu!!" Puri berteriak masih dengan melemparkan semua barang yang di jangkau nya.


" Hentikan Puri, hentikan!" suara Eza terdengar menggelegar di dalam rumah itu, tentu saja ia harus mengeraskan suaranya, jika tidak maka suaranya tidak akan pernah di dengar oleh istrinya.

__ADS_1


" Diam kau!!" tanpa sadar Puri membentak Eza dengan mata yang melotot.


" Oh, ok!" kali ini suaranya terdengar lebih pelan, Karena hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.


Eza hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar, melihat barang-barang berserakan di mana-mana. Puri yang biasanya terlihat lemah lembut dan ke ibuan, kini menjadi lebih beringas dan menakutkan.


Memang sejak dari dalam mobil Puri menahan amarah ketika menyaksikan ijab kabul yang di ucapkan Arjuna terdengar begitu lancar dan tegas.


Puri mengira pasti Arjuna yang telah mendesak Dhita untuk mengijinkan dirinya menikah lagi.


" Sayang, tahan amarahmu!" ucap Eza dengan sedikit lembut, karena jika dibiarkan maka seluruh perabotan yang ada di dalam rumahnya akan musnah tak bersisa.


" Aku benci mereka, aku benci sepupumu itu!" amarah Puri masih meledak-ledak.


" Ya, aku tahu mereka salah, tapi tak seharusnya kau menghancurkan semua barang di rumah ini,"


Ucapan Eza membuat Puri menahan tangannya yang hampir saja menghempaskan sebuah Gucci.


Matanya nanar menatap sekeliling, benar saja apa yang di katakan suaminya di sana-sini, di sudut ruangan banyak barang-barang berserakan dan hancur berkeping-keping.


" Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan!" Puri menutup mulutnya sambil melotot.


Rupanya ia yang emosinya tidak terkendali, membuatnya lupa dengan apa yang telah dilakukannya.


" Kau marah atau kesurupan?" Eza berani bertanya ketika ia melihat emosi istrinya sedikit mereda.


Kemudian ia berjongkok memunguti barang-barang yang telah terpecah belah.


" Sudah jangan lakukan itu, biarkan bi Jum yang membersihkannya." Eza tidak tega jika membiarkan istrinya melakukan pekerjaan yang biasa di lakukan oleh seorang pembantu.


" Tapi..." Puri masih tidak ingin beranjak dari tempatnya.


" Sudah biarkan saja, ada tugas yang lebih penting yang harus kau lakukan." Eza memotong perkataan istrinya karena ia tidak ingin istrinya itu menolak keinginannya.


Eza membimbing Puri bangun dari duduknya, kemudian membawanya ke halaman belakang rumah.


Mengapa Eza memilih untuk membawa Puri ke halaman belakang?.


Karena hanya di tempat itulah mereka bisa berduaan tanpa adanya gangguan.


Ya, gangguan dari bocah yang bernama Ednan. Entah dimana ia sekarang yang jelas Eza tidak menginginkan putranya itu hadir dan mengganggu semua rencana yang telah ia siapkan.


" Untuk apa kita kesini?" tanya Puri dengan heran, karena di sana ia tidak melihat apapun.


Hanya lahan kosong yang biasa di jadikan tempat parkir kalau halaman depan penuh.

__ADS_1


" Ikut saja!" jawab Eza sambil terus menggandeng tangan istrinya.


Tiba-tiba Eza bergerak ke arah belakang istrinya, kemudian dengan menggunakan kedua telapak tangan, ia menutupi kedua mata sang istri.


" Apa ini Za?" tanya Puri terkejut ketika mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.


" Sudah, ikuti saja, pelan-pelan ya maju sedikit lagi!" Eza mengarahkan langkah kaki yang harus di ikuti oleh istrinya.


Puri pun mengikuti arahan dari suaminya, agar ia tidak terjatuh.


" Masih jauh?" tanya Puri yang berjalan dengan kaki gemetar.


" Sebentar lagi, stop!" Eza menghentikan langkah istrinya.


" Jangan buka mata sebelum aku menyuruh mu!" pesan Eza sebelum melepas kedua tangannya yang menutupi kedua mata istrinya.


Puri pun mengangguk tanpa bertanya walau di benaknya telah timbul berbagai macam pertanyaan.


" 1, 2, 3. Sekarang buka matamu!" Eza memberikan aba-aba.


JLEBB.


Kedua mata Puri terbelalak ketika melihat benda besar, berwarna putih, beroda empat berada persis di depannya.


" Oh, my good!" gumam Puri hampir tak percaya dengan penglihatannya.


Berkali-kali ia mengucek kedua matanya, namun tetap saja tidak berubah.


" Bagaimana? suka?" Eza bertanya seraya mengangkat kedua alisnya secara bergantian.


" Bukan suka lagi, tapi sangat SUKA!!" Puri hampir saja berteriak karena mendapat kejutan yang tak terduga.


" Ini untukmu!" Eza menyodorkan sebuah kunci mobil, yang tampak berkilat di terpa sinar matahari.


" Terimakasih sayang!" ucap Puri Seraya memeluk suaminya.


" KECUTAN!!"


Terdengar suara bocah kecil dari kaca mobil yang tiba-tiba saja terbuka.


" HAH?!" Eza dan Puri melotot sambil menganga mendapati seorang bocah kecil yang sedang duduk di kursi depan mobil.


Mereka tidak pernah mengira bocah itu akan berada di dalam mobil.


" Ednan!!" teriak Eza dan Puri kepada bocah itu yang sedang tertawa menatap kearah kedua orang tuanya.

__ADS_1


" Ba-bagaimana bisa kau berada di dalam sana?" Eza tak percaya putranya berada di dalam mobil itu.


__ADS_2