
" Hiks...hiks...hiks...apa yang terjadi padaku mas?" kembali Dhita bertanya.
" Dokter Eina mengatakan padaku, ini karena dampak pasca operasi transplantasi liver," jawab Arjuna.
" Orang yang baru selesai menerima pencangkokan hati akan mengalami kesulitan mengekspresikan rasanya." papar Arjuna mengingat penjelasan dari dokter Eina.
" Apakah aku bisa sembuh mas?" tanya Dhita penuh harap.
" Pasti, aku akan selalu mendukungmu untuk itu." jawab Arjuna dengan penuh kasih.
" Jika kau menginginkannya mas, maka aku tidak akan menolaknya," ucap Dhita namun ucapan itu membuat tubuh nya semakin bergetar, layaknya seseorang yang sedang ketakutan.
" Tidak istriku, aku akan menunggu hingga kau benar-benar sembuh dan siap untuk melakukannya." ucap Arjuna, ia tidak akan pernah tega melakukan hal itu kepada istrinya sebelum Dhita di nyatakan benar-benar sembuh.
" Terimakasih mas, terimakasih atas segala pengertian mu padaku," papar Dhita penuh rasa syukur.
Memiliki seorang suami yang sangat mengerti akan kondisinya membuat Dhita merasa lega.
" Aku mencintaimu," bisik Arjuna dengan penuh cinta kasih.
" Aku juga mas," jawab Dhita.
" Sekarang kau istirahatlah karena besok kita akan pergi ke rumah orangtuamu." Ucap Arjuna sambil mengusap air mata istrinya yang masih mengalir.
" Hey, berhentilah menangis, nanti aku juga ikut menangis." Arjuna bercanda untuk menenangkan hati istrinya.
Mendengar ucapan suaminya membuat Dhita tersenyum.
" Nah, begitu lebih baik, kau terlihat semakin cantik!" goda Arjuna lagi.
" Ah, kau bisa saja mas," ucap Dhita tersipu malu. Tangannya mendorong tubuh Arjuna agar menjauh darinya.
" Kalau kau tidak ingin memakai pakaian mu, ya sudah akan ku kembalikan lagi ke tempatnya." Dhita berpura-pura akan meletakkan kembali pakaian yang di pegang nya, namun di hentikan oleh Arjuna.
" Kau tega membuat suamimu ini kedinginan," Arjuna mengambil pakaian yang di pegang Dhita lalu memakainya.
Sedangkan Dhita hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
Mommy Rita yang baru saja tiba dari kantor, berniat menemui menantunya.
Tok
Tok
Tok
Mommy Rita mengetuk pintu.
" Masuk!" teriak dhita dari dalam.
" Eh mommy, aku kira siapa," ucap Dhita merasa malu karena ia mengira pelayannya yang datang.
" Bagaimana keadaanmu?" tanya mommy Rita.
" Baik mom," jawab Dhita bersemangat.
__ADS_1
" Syukurlah!" gumam mommy Rita merasa lega.
Semenjak Dhita menyelamatkan putranya dengan mempertaruhkan nyawanya, mommy Rita sangat menyayanginya.
Bahkan mommy Rita menganggap Dhita sebagai Dewi Penolong, jika tidak ada Dhita mungkin saat ini putranya telah tiada.
" Mommy baru pulang?" tanya Dhita, karena ia melihat ibu mertuanya masih memakai pakaian kantor.
" Ya, mommy baru saja pulang, karena kepikiran kamu makanya mommy kesini." jawab Mommy Rita.
Sedangkan Arjuna telah terlelap di samping istrinya, mungkin karena terlalu lelah bekerja.
Bahkan ia tidak meminum kopi yang di siapkan untuknya.
" Sekarang istirahatlah agar kau cepat pulih," ucap mommy Rita seraya mengelus kepala menantunya, bukan apa-apa ia berkata seperti itu, melainkan ia ingin agar menantunya segera sembuh.
Mommy Rita tidak mengetahui dampak dari operasi transplantasi liver yang sedang di alami oleh Dhita, hingga membuatnya kehilangan kepekaannya.
Karena Arjuna sengaja merahasiakan hal itu dari ibunya.
Mommy Rita segera keluar dari kamar itu, ia tidak ingin mengganggu mereka , begitulah pikiran nya.
" Maafkan aku mas, aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu." bisik Dhita sambil memandangi wajah tampan suaminya yang sedang tertidur pulas.
Cup.
Dhita mengecup kening Arjuna dengan penuh cinta.
Lalu ia merebahkan dirinya di samping Arjuna.
*
*
*
Glen Alvaro terus saja menangis, walau Bellinda telah menggendongnya.
" OOEEEKKKK, OOEEEKKKK." tangisan Glen semakin kencang.
Bellinda semakin kebingungan karena putranya tidak juga berhenti menangis.
" Glen, kamu kenapa nak?" tanya Bellinda sambil berusaha memberikan ASI kepada Glen. Namun bayi itu menolaknya.
" OOEEEKKKK, OOEEEKKKK." Glen masih saja menangis.
Hingga membuat Bellinda ikut menangis.
" Kau kenapa nak?" tanya Bellinda dengan deraian air mata yang semakin deras.
" Nyonya!" panggil asisten nya.
" Kenapa dengan si Aden nya?" tanya asisten itu lagi.
" Aku tidak tau bi," jawab Bellinda menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Sini saya lihat nya!" si asisten meraih bayi itu dan memeriksanya jika saja ada tanda-tanda yang membuat bayi itu tidak nyaman.
" Oh, pantes nya, si Aden nangis terus, ini perutnya kembung nya." ucap si asisten setelah memeriksa bagian tubuh Glen Alvaro.
Tampak ia menepuk-nepuk perut Glen yang kembung.
Glen Alvaro menangis sambil melengkungkan tubuhnya, pertanda ia merasa tidak nyaman.
" Apa yang harus aku lakukan bi?" tanya Bellinda semakin panik.
" Cukup di olesi minyak telon aja nya, di bagian perutnya nanti juga sembuh sendiri." jawab Si asisten.
Mungkin karena terlalu sering menangis membuat Glen menelan terlalu banyak udara hingga membuatnya kolik.
Tanpa berpikir panjang lagi, Bellinda segera mengambil minyak telon di kamarnya.
Lalu mengoleskan minyak telon itu pada perut putranya.
Dan benar saja kini Glen lebih tenang, hanya saja mulutnya yang menoleh ke kanan ke kiri mencari sesuatu.
" Sepertinya dia haus," gumam Bellinda seraya membuka kancing bajunya sebelah atas hendak memberikan ASI-nya kepada Glen.
Ya, walaupun Bellinda dan Andrian tergolong orang berada namun pemberian Asi eksklusif lebih baik baginya dari pada susu formula.
" Syukurlah nya, si Aden anteng lagi," ucap si asisten merasa senang melihat putra dari majikannya tenang kembali.
" Ya bi, makasih ya untung ada bibi, kalau tidak aku tidak tahu harus bagaimana?" ucap Bellinda kepada asistennya.
" Sudah menjadi kewajiban saya membantumu nya, kalau begitu saya permisi dulu ke belakang."
" Ya, sekali lagi makasih ya bi,"
"Sama-sama nya!" jawab si asisten lalu beranjak pergi kebelakang meneruskan pekerjaannya.
Sementara Bellinda meneteki putranya sambil sesekali membelai kepala Glen dengan penuh kasih sayang.
" Anak mama, jangan nangis lagi ya, mama takut jadinya," ucap Bellinda kepada Glen seolah bayi itu mengerti akan ucapannya.
" Ya, mama ku sayang aku janji tidak akan nangis lagi." tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.
Rupanya Andrian yang baru saja pulang dari kantor.
Bellinda tidak menyadari kedatangan suaminya di karenakan sedang asyik bermain bersama Glen.
" An, sejak kapan kau pulang?" tanya Bellinda yang terkejut dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba.
" Baru saja," jawab Andrian sambil mengecup kening istri dan putra nya secara bergantian.
Kini mereka terlihat begitu bahagia dengan keluarga kecil mereka, walaupun awalnya mereka menikah tanpa rasa cinta akan tetapi seiring berjalannya waktu kini mereka telah bisa menerima satu sama lain.
" Bagaimana harimu di kantor?" tanya Bellinda.
" Seperti biasa, sangat sibuk." jawab Andrian.
Dan ia pun bercerita hari-harinya di kantor yang bergelut dengan tumpukan berkas-berkas yang menggunung.
__ADS_1
Namun Hal itu tidak membuat Andrian menyerah, dengan semangat Andrian segera menyelesaikan pekerjaannya demi bisa pulang secepatnya karena ia terus saja merindukan istri dan putranya.
Dan Andrian juga berharap agar Dhita yang telah ia anggap sebagai adiknya juga merasakan kebahagiaan yang sama.