Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 103 Kabar Bahagia Setelah Duka


__ADS_3

" Silahkan di cicipi," ujar Rena mempersilahkan Andrian dan Bellinda menikmati hidangan yang di bawakan oleh pembantunya.


" Terima kasih!" jawab Andrian.


" Mengapa repot-repot," ucap Bellinda sekedar berbasa-basi.


" Tidak repot, hanya seadanya saja!" Rena menyahuti.


" Mari silahkan!" Reyhan ikut menimpali mempersilahkan kedua tamunya untuk mencicipi makanan itu.


Mereka menikmati hidangan itu, seraya bersenda gurau.


Terdengar suara penyemangat dan saling menguatkan di antara mereka.


Tiba-tiba saja, Rena merasakan perutnya bergejolak, ia berusaha untuk menahannya namun, pada akhirnya ia tidak kuat juga membuat dirinya segera berlari ke dalam bathroom.


" Uweeekkk, uwekk, " Rena memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berisi cairan air putih karena ia sama sekali belum memakan apapun.


Reyhan yang mendengar suara istrinya sedang mual segera menyongsong Rena kedalam bathroom.


" Kau kenapa?" tanya Reyhan yang merasa kalau ada yang aneh pada istrinya.


" Entahlah, perutku rasanya mual sekali, tubuhku juga lemas," jawab Rena sambil terus memuntahkan segala yang ada di dalam perutnya.


" Mungkin kau masuk angin." ucap Reyhan sambil membantu istrinya merapikan kembali pakaiannya.


" Kau sakit?" tanya Reyhan ketika melihat wajah istrinya sangat pucat seperti tak berdarah.


Bellinda yang merasa aneh dengan keadaan Rena memutuskan untuk menyusulnya.


" Aku rasa kau sedang hamil," ucap Bellinda tiba-tiba, membuat Reyhan dan Rena terkejut.


Rena dan Reyhan memandang Bellinda dengan tatapan membingungkan.


" Apa maksudmu?" Reyhan bertanya karena ia memang tidak mengerti dengan tujuan ucapan Bellinda.


" Ya, istrimu hamil, setidaknya itu yang dulu sering aku alami, ketika aku sedang hamil muda." jawab Bellinda mengingat gejala itu yang sering ia rasakan saat dirinya sedang mengandung Glen.


" Alhamdulillaah, jika memang itu benar, aku senang sekali." ucap Reyhan.


Bagaimana ia tidak akan senang, sebab saat ini hidupnya begitu sepi. Beruntung ia memiliki seorang istri yang selalu menemaninya.


Tanpa memperdulikan Bellinda yang masih berada di sana, Reyhan mengecup kening Rena.


Bellinda hanya tersenyum kecil menyaksikan adegan mesra di depannya. Kemudian ia memutuskan untuk pergi saja. Karena ia tidak ingin mengganggu kemesraan mereka berdua.


" Bagaimana keadaan Rena, apa yang terjadi padanya?" tanya Andrian ketika istrinya telah duduk di sampingnya.

__ADS_1


" CK, biasa hamil muda." jawab Bellinda, ia begitu yakin kalau Rena memang telah hamil.


Karena ia pun pernah mengalami hal yang sama beberapa bulan yang lalu.


Sebelum ia melahirkan Glen.


" Bagaimana kau bisa seyakin itu?" Andrian merasa heran, mengapa istrinya begitu yakin dengan pendapatnya.


" Biasalah, Feeling!" jawab Bellinda dengan penuh keyakinan.


" Maaf, karena kami kalian lama menunggu," ucap Reyhan saat mereka telah berada di ruang tamu.


Namun Rena tidak bersamanya lagi, dikarenakan ia telah berada di kamarnya untuk beristirahat, ia merasakan kepalanya sedikit berdenyut.


" Tidak apa-apa, oh ya, Rena mana? apakah keadaannya telah membaik?" tanya Andrian, karena ia tidak melihat istri dari Reyhan.


" Dia merasa pusing, aku menyuruhnya untuk beristirahat." jawab Reyhan.


Ya, karena istrinya merasa pusing dan wajahnya terlihat pucat, oleh karena itu Reyhan menyuruhnya untuk beristirahat.


" Mungkin dia kelelahan," lanjut Reyhan.


" Menurutku, dia bukan hanya sekedar kelelahan tapi dia hamil." Bellinda bersikokoh dengan pendapatnya.


" Lebih baik sekarang kau panggil dokter saja." lanjut Bellinda menyarankan.


Reyhan mengangguk, lalu meraih ponsel yang terletak di atas meja dan menghubungi seorang dokter.


Setelah beberapa menit kemudian.


Tak lama kemudian, seorang dokter bernama Aisyah pun datang. Setelah berbasa-basi sebentar Reyhan mengajak dokter itu masuk ke dalam kamarnya, dimana Rena sedang beristirahat.


Rena terkejut ketika terdengar suara orang asing memasuki kamarnya. kemudian ia pun bangkit dari tidurnya, duduk di tepi ranjang.


" Rey!" Rena menatap Reyhan dengan kebingungan.


" Perkenalkan, ini dokter Aisyah, dia yang akan memeriksa keadaanmu!" ucap Reyhan menjawab kebingungan istrinya.


" Mari nyonya, saya periksa dulu keadaan anda." ucap dokter Aisyah dengan ramah.


Rena yang sedang duduk, segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kemudian dokter Aisyah memeriksa kondisinya.


Dokter Aisyah memberikan sebuah alat tes kehamilan kepada Rena. Ia meminta Rena untuk mengetes air seni, untuk mendeteksi kehamilannya.


Setelah beberapa saat, alat tes itu menunjukkan dua garis merah.


Dua garis harapan untuk Reyhan dan Rena.

__ADS_1


" Selamat tuan, anda akan menjadi seorang ayah!" ucap dokter Aisyah dengan senyum gembira.


" Oh, benarkah dok? benarkah aku akan menjadi seorang ayah?" Reyhan seolah tak percaya mendengar kabar bahagia itu.


" Ya, benar tuan, anda akan menjadi seorang ayah," dokter Aisyah meyakinkan.


" Alhamdulillaah, terima kasih ya Allah, engkau gantikan rasa duka kami dengan kabar bahagia ini." Reyhan berdoa dengan penuh rasa syukur.


" Kan benar apa kataku!" tukas Bellinda dari balik pintu, yang langsung membuat Rena dan Reyhan tersipu malu.


" Iya, terimakasih atas sarannya." ucap Reyhan.


Setelah beberapa saat kemudian, Dokter Aisyah pun pamit. Yang langsung di ikuti oleh Andrian dan Bellinda.


*


*


" Dhi, kami membawa kabar baik untukmu." ucap Bellinda ketika mereka telah berada di rumah nya kembali. Kemudian ia duduk


" Kabar baik apa?" tanya Dhita heran.


" Rena, dia hamil!" Bellinda tersenyum sumringah, yang langsung di sambut oleh Dhita dengan senyuman pula.


" Hamil?" Dhita terperanjat bukan karena apa-apa, melainkan karena ia merasa sangat bahagia.


" Semua sahabatmu telah bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing, apa kau masih ingin tetap stand by di posisi saat ini?" Bellinda berusaha membangkitkan rasa di dalam diri Dhita, sebab ia sendiri merasa kasihan dengan nasib pernikahan yang di alami oleh adik ipar angkatnya.


" Entahlah!" Dhita menunduk, dari raut wajahnya tersirat suatu kesedihan.


" Dhi!"Bellinda meraih dagu Dhita, hingga membuat wajah mereka saling bertatapan.


" Lihat aku, aku tahu kau sangat mencintai Arjuna kan? Dhi, jawab aku!" Bellinda berusaha menelisik.


Mendengar pertanyaan dari Bellinda, Dhita terdiam, hanya saja air matanya yang kian menetes membasahi pipinya.


" Dhi, jawab!" Bellinda mulai memaksa, ia ingin segera mengetahui sebesar apa rasa cinta Dhita terhadap Arjuna, ataukah secara diam-diam Dhita masih mencintai Andrian?.


Berbagai pertanyaan beradu di dalam pikirannya. Namun pada akhirnya ia merasa lega setelah mendengar jawaban dari Dhita.


" Ya, aku sangat mencintainya, bahkan aku rela mati hanya demi untuknya," jawab Dhita berhenti sejenak.


" Namun sekarang tidak lagi, sebelum aku melihat kesungguhan di dalam dirinya." lanjut nya.


" Aku mengerti perasaan mu, tapi akankah lebih baik jika kau memberikan kesempatan untuknya!" Bellinda mulai memberikan saran.


" Dengan bertindak seperti ini, hanya akan membuat kalian sama-sama menderita." lanjut Bellinda.

__ADS_1


" Kesempatan itu akan selalu ada untuknya, hanya saja aku sengaja membiarkan dia mencarinya sendiri, di mana letak kesempatan itu." jawab Dhita, mengingat kembali perkataan Arjuna yang telah membuat hatinya hancur, bahkan terang-terangan pria itu menuduhnya telah berselingkuh.


__ADS_2