
"Baiklah, sebaiknya memang seperti itu," Puri bergumam membenarkan ucapan Dhita.
"Ya sudah, sekarang aku titip Diana ya, tolong jaga dia baik-baik!" pinta Dhita sebelum Puri memutuskan panggilannya.
"Tenang saja, bukankah Dia juga putriku, tanpa kau memintanya pun, pasti akan aku jaga baik-baik." Puri meyakinkan sahabatnya.
Setelah itu panggilan pun berakhir.
"Beres!" Puri tersenyum ke arah Dia, yang memang sedang menanti info darinya.
"Apa yang di katakan mom, Aunty?" Dia penasaran.
Puri tersenyum mendengar pertanyaan dari Diana, lalu dengan lembut ia berkata.
"Mom Dhita merasa senang kau berada di sini, dia juga meminta ku untuk menjagamu, karena Daddy mu, sedang di luar negri saat ini."
"Daddy diluar negeri?" Dia terperanjat.
"Tapi, Daddy tidak mengatakan apapun tadi pagi." Dia melanjutkan ucapannya seraya melirik kearah Ednan.
Mendapat lirikan intens dari wanita yang sangat dicintainya, membuat Ednan tersenyum.
"Sorry, aku lupa mengatakannya kepadamu, dan juga mama." ucap Ednan Dengan santai.
"Cepat katakan apa yang ingin Uda katakan." Diana tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Ednan.
Ednan tersenyum mendengar ucapan Dia, terlihat sekali wanita itu sedang tidak sabar saat ini.
"Ednan cepat katakan, jangan membuat mama penasaran."
"Begini, jam sepuluh tadi siang, tiba-tiba Om Arjuna mendapat kabar dari salah satu anak buahnya, dan meminta om Arjuna juga papa untuk datang ke luar negeri," papar Ednan dan mengejutkan dua wanita yang sedang duduk di samping nya.
"Tapi, mengapa papa mu tidak menghubungiku sama sekali?" Puri mulai merasa khawatir.
"Tenang ma, mungkin papa sedang sibuk," Ednan berusaha menenangkan ibunya.
__ADS_1
"Kalau begitu mom sendirian, aku harus segera pulang." Dia segera beranjak dari tempat duduknya.
Namun, langkahnya terhenti ketika Puri memanggilnya.
"Ibumu, tidak masalah kau berada di sini, bahkan ibumu justru merasa sangat senang." Puri mencegah Dia untuk pergi.
"Ingat, kedua matamu masih sedikit bengkak, apa kau ingin tante Dhita khawatir dan bertanya-tanya?" Ednan mengingatkan.
Diana terdiam, memang tidak ada cara lain baginya selain diam di sana, seraya menunggu bengkak di matanya benar-benar hilang.
"Makanan telah siap nyonya," ucap seorang pelayan, yang bertugas khusus menyiapkan menu makanan.
"Ya, terimakasih." jawab Puri.
Memang setelah bekerja selama bertahun-tahun di perusahaan milik Arjuna, Eza memiliki kehidupan yang tidak jauh berbeda dari Arjuna.
Hidup mewah dan bergelimang harta, merubah gaya hidup mereka sebelumnya. Bahkan, Eza sebenarnya mampu untuk mendirikan sebuah perusahaan sendiri, tentunya dengan bantuan Ednan.
Akan tetapi, ia lebih memilih untuk tetap bekerja di perusahaan milik sahabatnya itu. Dengan alasan ingin mengabdikan seluruh hidupnya di perusahaan itu. Dan, pemikiran yang sama terjadi pada Ednan.
*
*
*
"Pi," panggil Almira dengan lembut.
Ya, wanita itu memang Almira. Dan, pria buta itu adalah ayahnya, yaitu Reyhan.
Rena memang sengaja meminta putrinya untuk pulang secepatnya, Karena suaminya sedang merasa gelisah tak menentu. Hingga membuat nya tidak memiliki nafsu makan dan itu tidak baik untuk kesehatannya.
"Ya," jawab Reyhan dengan lirih.
"Papi kenapa, apa yang sedang papi pikirkan?" Almira memberanikan diri untuk bertanya, karena selama ini ia jarang berkomunikasi dengan ayahnya.
__ADS_1
Ya, sejak peristiwa sadis itu, Reyhan tidak bisa lagi melihat wajah cantik putrinya tercinta, bahkan bayang-bayang nya sekalipun nyaris hilang dari ingatannya.
"Tidak nak, papi tidak memikirkan apa-apa," Reyhan berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, karena ia tidak ingin melihat putrinya khawatir karena dirinya.
"Pi, Almira bukan anak kecil lagi, Almira telah dewasa, dan aku tahu papi tidak sedang baik-baik saja, ada sesuatu yang mengusik ketenangan di dalam hati papi." Almira berusaha untuk membuat ayahnya berterus-terang.
Reyhan menundukkan kepalanya, air mata telah jatuh menetes dari kelopak matanya yang berwarna hitam.
"Maafkan papi nak, sejak kau masih kecil hingga dewasa papi tidak bisa memberikan mu kasih sayang seperti yang dilakukan oleh seorang ayah pada umumnya." keluh Reyhan dengan perasaan bersalah.
"Tidak Pi, semua itu adalah takdir dan papi tidak pernah bersalah."
"Kau dengar sendiri kan, apa yang telah di katakan oleh putrimu," tiba-tiba saja terdengar suara dari arah belakang.
"Mami!" seru Almira ketika menoleh ke belakang.
Tampaklah seorang wanita sedang berdiri di belakangnya, Rena. Ya, Rena yang telah dengan setia menemani suami yang sama sekali tidak berguna. Namun, karena rasa cinta yang begitu kuat, membuat dirinya mampu bertahan hingga sampai saat ini.
"Ya, aku beruntung memiliki istri dan putri seperti kalian berdua." Reyhan mengangkat kepalanya ketika ia merasakan suatu gerakan yang mendekat kepadanya.
Ingin rasanya ia menatap wajah istri dan putrinya seperti dulu, sebelum ia mendapatkan musibah naas itu.
Namun, sekarang semua gelap, gelap dan hanya gelap yang ia dapatkan.
"Papi makan dulu ya," Almira menyodorkan sesendok nasi dan lauknya hingga menempel di bibir sang ayah.
Awalnya Reyhan tidak ingin membuka mulutnya. Namun, berkat kegigihan Almira yang tidak pernah lelah untuk membujuknya, akhirnya Reyhan bersedia membuka mulutnya perlahan.
"Papi harus makan yang banyak, agar papi selalu sehat." bujuk Almira lagi.
"Percuma papi sehat Almira, papi ini hanya manusia yang tidak berguna, lebih baik papi tiada!" gumam Reyhan dengan raut wajah yang memancarkan kesedihan.
"Kau ingin meninggalkan kami, kau tidak ingin mendengarkan kami saat berkeluh kesah?" Rena dengan suara yang parau.
"Pi, papi harus bisa melewati semua ini demi kami, walau papi tidak bisa melihat apapun, tetapi papi adalah orang tua yang selalu memotivasi diriku dan mami." gumam Almira sembari kembali menyuapkan makanan kesukaannya sampai kedalam mulut Ayahnya.
__ADS_1
"Aku dan Almira, bisa bertahan karena kami melihat cinta dan kasihmu yang cukup besar." gumam Rena pelan dengan tatapan mata hanya tertuju kepada Reyhan.
"Dan, bagiku kalian berdua adalah penyemangat jauh di dalam hatiku." ucap Reyhan dengan sedikit senyum yang mulai terlihat setelah sekian lama.