Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 122 Di bawakan bekal / Pulang


__ADS_3

" Iya sama-sama sayang!" jawab Citra kembali mengelus perut Dhita dan kembali mendapat jawaban dengan dua kali tendangan dari dalam perut itu.


" Rupanya mereka ingin bermain denganku!" gumam Citra, ia merasa sangat senang sekali. Di dalam hatinya ia pun ingin merasakan seperti apa yang Dhita rasakan.


Tiba-tiba terdengar suara dari depan mansion, sebuah suara yang tak asing bagi mereka.


" Tante!" sapa Dhita yang terlebih dahulu melihat kedatangan Bu Devina.


" Mama!" Citra pun ikut menyapa kedatangan ibunya. Lalu berhambur masuk ke dalam pelukannya.


" Bagaimana kabar kalian, tidak ada masalah kan?" bu Devina menjawab sapaan kedua wanita cantik itu dengan sebuah pertanyaan.


Memang karena kedatangan Bu Devina hanya ingin mengetahui apakah putrinya aman di sana. Namun ia terlihat begitu senang ketika melihat putrinya baik-baik saja.


" Kabar kami baik ma!" jawab Citra meyakinkan ibunya.


Kemudian ia melerai pelukannya.


" Iya, tante tidak usah khawatir Citra akan selalu aman disini!" jawab Dhita, ia juga berusaha meyakinkan bu Devina agar tidak terlalu khawatir.


" Oh, syukurlah kalau begitu, aku jadi tenang mendengarnya." ucap Bu Devina yang kemudian beralih memandang Dhita.


" Bagaimana keadaanmu dan kandungan mu?" Bu Devina bertanya kepada Dhita lalu melangkah mendekatinya.


" Alhamdulillah keadaan kami baik-baik saja tante!" jawab Dhita dengan seulas senyum manis di bibirnya.


Bu Devina menganggukkan kepala dengan senyum di wajahnya. Kemudian Bu Devina meraba perut Dhita dan mengelusnya perlahan.


" Semoga nanti persalinannya lancar!" Bu Devina berdoa, namun hanya dalam kepura-puraannya saja.


Karena pada kenyataan yang sesungguhnya, ia sangat membenci Dhita. Sebab Dhita lah yang menjadi penghalang hubungan antara Citra dan Arjuna.


" Aamiin, terima kasih doanya tante!" ucap Dhita penuh haru.

__ADS_1


Ia merasa kehadiran bu Devina mengingatkan nya terhadap ibunya di kampung.


Cukup lama juga mereka tidak bertemu.


" Mari masuk tante!" ajak Dhita, ia merasa tidak enak hati bila harus mengajak bicara tamunya di ruangan terbuka seperti itu.


" Oh, baiklah!" Bu Devina menurut, ia mengikuti langkah kaki Dhita yang berjalan di depan.


Sementara Citra telah masuk ke dalam mansion itu terlebih dahulu, karena ia ingin meminta kepada pelayan untuk membuatkan minuman untuk ibunya, kebetulan saat itu para pelayannya sedang berada di dapur.


" Kok sepi? kemana jeng Rita?" tanya Bu Devina seraya melemparkan pandangan ke seluruh sudut ruangan mansion yang terlihat sangat sepi.


" Mommy sedang pergi ke rumah Reyhan, dan mungkin akan tinggal di sana selama beberapa hari!" jawab Dhita setelah mereka duduk di sofa.


" Jadi, kalian hanya berdua saat ini?" Bu Devina terkejut ketika mendengar kalau wanita yang menjadi besannya itu, sedang tidak ada di mansion, terlebih lagi ia akan menginap di rumah anak tirinya dalam beberapa hari kedepan. Meninggalkan Dhita dan Citra hanya berdua saja di tempat itu, yang jelas-jelas keduanya sama-sama membutuhkan pengawasan.


" Kalau begitu, apa boleh malam ini saya menginap di sini, saya hanya khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan." ucap Bu Devina.


" Wah, kalau Tante ingin menginap di sini, aku sangat senang sekali." jawab Dhita dengan senyum sumringah.


" Jadi, mama ingin menginap di sini ma?" tiba -tiba Citra bertanya ketika memasuki ruang tamu.


" Ya, mama khawatir kalian akan mengalami suatu kesulitan, jadi adanya mama disini hanya ingin membantu kalian saja, jika memang kalian tidak keberatan!"


" Oh, tentu saja tidak ma, malah kami sangat senang mama ada bersama kami di sini, bukankah begitu Dhi?" Citra menatap Dhita yang sedang mengelus perutnya. Senang saja rasanya ketika ia mengelus perut nya yang membuatnya merasa berinteraksi dengan buah hatinya.


" Ya, aku juga berpikir begitu." Dhita merasa pikirannya dan Citra searah.


Sambil berbincang-bincang ketiga wanita itu menikmati teh hangat yang di bawa oleh Citra sebelumnya.


" Orang tuamu tidak pernah kesini untuk menjenguk mu?" Tiba-tiba Bu Devina bertanya tentang kedua orang tua Dhita.


Dan membuat raut wajah Dhita berubah karena teringat akan kasih sayang dari kedua orang tuanya, yang memang telah lama tidak ia rasakan.

__ADS_1


" Terakhir saat papa meninggal, tante!" jawab Dhita dengan suara agak serak.


" Ayah dan ibu menginap seminggu di sini." lanjutnya lagi.


" Oh, cukup lama ya?!" Bu Devina seakan bergumam.


" Lalu, apa mereka tahu kalau sebentar lagi mereka akan memiliki cucu, maksudnya dua orang cucu?" Bu Devina bertanya menelisik lebih privat.


" Ya, tentu saja Tante, bukankah ini memang hak mereka untuk mendengar kabar baik ini?!" Dhita menjawab sambil menatap wajah Bu Devina, sebab ia merasa pertanyaan Bu Devina terlalu sensitif.


Dan pertanyaan itu tidak masuk akal baginya, bagaimana mungkin seorang anak tidak akan berbagi kabar bahagia dengan orangtuanya meskipun jarak mereka terlalu jauh sekalipun.


Mendapat tatapan yang agak berbeda dari sebelumnya, bu Devina segera mengalihkan topik pertanyaan dan kali ini, ia lebih banyak bertanya kepada Citra.


" Ya ma, tadi pagi Arjuna membawa bekal makanan untuk makan siangnya di kantor." jawab Citra ketika ibunya melayangkan beberapa pertanyaan.


" Bagus, setidaknya jangan biarkan suami mu, eh... maksudku suami kalian berdua jajan di luar, Karena masakan dari rumah itu lebih sehat!" pesan bu Devina, dan sebenarnya ini pesan untuk Citra, putrinya tercinta.


" Tapi selama ini, aku tidak pernah membawakan mas Ar bekal, dan dia tidak pernah mempermasalahkan itu!" Dhita yang juga mendengar percakapan antara ibu dan anak itu, ikut berkomentar.


" Dan mas Ar, tidak pernah makan di luar karena dia selalu pulang saat makan siang!" lanjut Dhita lagi dan ini membuat Bu Devina sedikit jengkel.


Ya, menurut Dhita pulang saat Jam makan siang itu bisa menghilangkan rasa rindunya kepada sang suami. Selain itu ia juga bisa bermesraan sebagai asupan mood booster.


" Ya, tapi kan tidak ada salahnya membawakan bekal makanan untuk suami, dari pada suami kalian harus wara-wiri pulang pergi, kan lebih baik di bawakan bekal saja!" Bu Devina menyanggah pendapat Dhita.


Dan pada detik berikutnya mereka mendengar suara langkah kaki datang mendekat. Bu Devina dan Citra terperanjat ketika melihat siapa yang datang.


Arjuna.


Pria tampan dengan langkah yang tegap, datang menghampiri mereka bertiga.


" Sudah lama tante?" tanya Arjuna dengan senyum ramah yang mematikan untuk siapa saja yang melihatnya.

__ADS_1


" Ya Ar, sudah sejak tadi." jawab Bu Devina walau sedikit kecewa melihat pria yang baru kemarin menjadi menantunya.


"Sudah pulang mas?" Dhita berpura-pura tidak tahu, meski hal itu telah menjadi kebiasaannya sehari-hari.


__ADS_2