
Keesokan harinya.
Langit tampak cerah tanpa segumpal awan matahari bersinar terang menerangi alam semesta.
Pada hari ini di ruang sidang tampak semua orang sedang duduk menunggu keputusan pengadilan.
Di depan meja kejaksaan tampak dua orang lelaki sedang duduk dengan kepala tertunduk.
Mereka adalah David dan Bastian, ayah dan anak yang terlibat kasus penculikan, penganiayaan dan pencobaan pembunuhan.
Dengan adanya kasus kriminal beruntun, yang di rencanakan sebelumnya membuat mereka terjerat pasal berlapis dan terancam pidana 25 tahun penjara.
" Dengan adanya bukti-bukti dan kesaksian para saksi, kami memutuskan untuk menjatuhkan kepada tersangka yaitu hukuman 25 tahun penjara." Pak hakim hampir mengetuk palu namun sebuah suara Terdengar dari arah luar.
" Keberatan pak hakim!" seru Dhita dari arah pintu.
Membuat semua orang yang hadir menoleh ke arahnya.
Sedangkan Arjuna mendorong kursi roda itu menuju meja kejaksaan sesuai keinginan istrinya.
" Anda siapa?" tanya salah seorang kejaksaan setelah Dhita berada di depan meja kejaksaan.
" Saya adalah korban yang sebenarnya." jawab Dhita setelah berada di depan meja kejaksaan bersama David dan Bastian.
Saat itu Dhita menggunakan kursi roda karena masih belum terlalu kuat untuk berjalan.
Mengingat kondisinya yang masih lemah.
Karena permintaan Dhita yang mengiba, akhirnya Arjuna terpaksa mengantarkannya ke pengadilan untuk menemui David dan Bastian, dengan catatan bahwa Dhita tidak boleh terlalu lelah dan tidak terlalu banyak bergerak.
Semua jaksa mendengarkan pernyataan Dhita yang sulit untuk di nalar.
" Oleh karena itu, saya Dhita Pratiwi menyatakan akan mencabut semua tuntutan itu pak hakim." ucap Dhita di akhir pernyataannya.
Semua orang kebingungan mendengar pernyataan Dhita yang menurut mereka tidak masuk akal.
Bagaimana bisa seorang pelaku kejahatan kriminal di bebaskan begitu saja.
Semua orang bertanya-tanya termasuk juga pengacara yang di sewa oleh mommy Rita.
" Maaf, pak hakim saya keberatan jika kedua tersangka ini di bebaskan, karena tindakan mereka telah di luar batas." ucap pengacara keluarga mommy Rita.
" Usul pak hakim!" seru pengacara Bastian.
" Silahkan."
__ADS_1
" Saya rasa keputusan saat ini berada di pihak korban, jika pihak korban saja telah bersedia mencabut laporannya dan memaafkan tersangka, mengapa kita harus keberatan," ucap pengacara Bastian merasa senang, akhirnya pekerjaannya akan segera selesai dengan sebuah kemenangan.
" Tapi pak hakim!" seru Arjuna yang langsung mendapat tatapan intens dari Dhita.
" SAYA SERIUS AKAN MENCABUT SEMUA TUNTUTAN ITU pak hakim." ucap Dhita dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Mendengar semua itu para jaksa saling berdiskusi.
" Baiklah dengan semua pernyataan ini kami memutuskan tersangka di BEBASKAN!"
TOK
TOK
TOK
Pak hakim mengetuk palu tiga kali pertanda keputusan sudah sah dan tidak bisa di ganggu-gugat.
Bastian dan David bersimpuh di kaki Dhita mengucapkan beribu-ribu terima kasih karena telah bersedia membebaskan dirinya meski kesalahannya sangatlah fatal.
" Bangunlah paman, kakak," ucap Dhita dengan senyum di wajahnya.
Itulah Dhita dia tidak perduli seberapa banyak orang lain berusaha menyakitinya, Dhita tetaplah Dhita, wanita yang senantiasa selalu memaafkan semua kesalahan orang lain sebanyak apapun itu.
Keputusan Dhita membuat semua orang yang hadir merasa kecewa, namun tidak bagi ibu dan ayahnya, mereka merasa sangat beruntung memiliki putri yang sama sekali tidak pernah menyalahkan orang lain apalagi menyimpan dendam.
Dari awal mereka lebih menyukai menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Karena dengan begitu keputusan yang di ambil tidak akan merugikan salah satu pihak.
" Terimakasih nak, kau baik sekali kebaikanmu mengingatkan aku kepada kakak ku." ucap Bastian yang teringat sifat Calvin Dharmendra, pria yang begitu baik dan Sholeh.
Sangat berbeda jauh dengan dirinya, yang tergolong sombong dan arogan.
" Tidak paman, bukankah kita saudara, lalu untuk apa kita saling menyalahkan?" ucap Dhita dengan air mata berlinang.
" Paman pantas untuk menerima semua hukuman ini nak!" ucap David, ia semakin menyesal karena perbuatan putranya hampir merenggut nyawa keponakannya sendiri.
" Tidak paman, mari kita hidup rukun agar selalu merasakan kedamaian, paman," ucap Dhita dengan air mata berderai.
Sementara Bastian merasa malu sendiri dengan kebaikan Dhita. Apalagi setelah mengetahui bahwa wanita yang telah ia paksa untuk menikah dengannya ternyata adik sepupu nya sendiri.
Bastian merasa tidak pantas untuk menjadi kakak sepupu dari Dhita.
" Maafkan aku Dhi, maafkan semua kesalahanku selama ini," tutur Bastian dengan bersungguh-sungguh meminta maaf atas semua kesalahan yang ia lakukan dengan sengaja.
__ADS_1
" Kenapa kakimu kak?" tanya Dhita ketika melihat Bastian berjalan dengan pincang.
" Dia di tembak polisi!" seru Andrian yang ternyata juga berada di sana.
" Dia berusaha melarikan diri dari tanggung jawabnya." lanjut Andrian.
Mendengar pernyataan dari Andrian membuat Bastian semakin merasa malu.
" Sudahlah lupakan semuanya, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, lukamu harus segera di obati." tiba-tiba saja bu Safitri ikut bicara.
Ia merasa tidak tega melihat keponakannya kesakitan, selain luka tembak Bastian juga mengalami luka bekas pukulan dari pihak polisi karena terus berusaha memberontak.
Setelah selesai saling maaf memaafkan, akhirnya mereka pergi kerumah sakit, selain untuk memeriksakan Bastian mereka juga ingin mengantarkan Dhita kembali ke rumah sakit tempat ia dirawat.
Karena terlalu banyak menguras tenaga, kondisi Dhita kembali melemah.
Terlihat wajahnya sangat pucat dan begitu lesu.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Arjuna khawatir kondisi istrinya drop kembali.
" Aku baik-baik saja, hanya merasa sangat lelah sekali," jawab Dhita dengan suara yang mulai melemah.
Tanpa berpikir panjang, Arjuna langsung membawa istrinya ke rumah sakit karena ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Sedangkan David, Bastian, serta ayah dan ibu mertuanya mengikuti dari belakang.
Kemudian mereka duduk di dalam mobil yang sama,sebenarnya Arjuna masih sangat marah kepada Bastian, namun ia tidak bisa melakukan apapun lagi mengingat keputusan istrinya telah bulat.
Arjuna sendiri yang melajukan mobilnya, sambil sesekali melirik ke arah Dhita yang duduk di sebelahnya.
Pak Setyo dan Bu Safitri duduk di belakang, sementara David dan Bastian duduk di kursi paling belakang.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit.
" Tolong periksa istri ku dok!" perintah Arjuna kepada dokter Eina yang kebetulan lewat di depan kamar Dhita.
" Oh ya, mari tuan." ucap dokter Eina lalu memasuki kamar Dhita di rawat.
Tampak lah Dhita yang sedang berbaring di Stretcher rumah sakit, wajahnya tampak pucat.
Namun wajah pucat itu selalu di hiasi dengan senyuman yang seakan tidak pernah lepas.
" Apa yang anda rasakan Bu Dhita?" tanya Dokter Eina sambil memeriksa sekujur badan Dhita.
" Nyeri dok," jawab Dhita sambil meringis menahan rasa nyeri Yang ia rasakan dari bekas operasinya.
__ADS_1