
Satu tahun kemudian.
Bu Devina semakin khawatir melihat kondisi putrinya, Citra Ayana Keisha yang semakin hari semakin memburuk.
Sejak mendonorkan sebagian dari hatinya, Citra lebih sering berdiam diri di rumah. Tidak seperti biasanya ia yang merupakan wanita karier yang aktif dalam segala bidang.
Hati Bu Devina terenyuh melihat kondisi putrinya yang seperti orang linglung. Berkali-kali ia membawa putrinya berobat ke Psikiater, bahkan sampai ke psikolog
namun tidak juga membuahkan hasil.
" Maaf Bu Devina, saya rasa putri anda tidak membutuhkan pengobatan apapun, Karena yang ia butuhkan hanya CINTA." saran seorang psikolog.
" Lalu apa yang harus saya lakukan?" Bu Devina mulai putus asa.
" Saya sarankan, agar putri ibu di pertemukan dengan seseorang yang membuat dirinya menyerah."
" Saya tahu, sebenarnya putri ibu sedang menyimpan perasaan kepada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, mungkin karena suatu hal membuat putri ibu menyerah dan putus asa." psikolog itu menjelaskan.
Mendengar ucapan seorang psikolog itu, bu Devina teringat dengan Arjuna, pria yang sangat di cintai oleh putrinya.
" Baiklah, saya akan coba mempertemukan mereka," gumam Bu Devina lirih.
Siang itu juga Bu Devina sepulang dari tempat psikolog, setelah menyuruh putrinya untuk diam di rumah. Ia langsung menuju ke rumah Arjuna. Ketika itu Arjuna tidak sedang di rumah, ia masih sibuk bekerja di kantor.
" Tidak ada Arjuna, istrinya pun tidak masalah, bukankah gara-gara dia putrimu menjadi seperti ini!" gumam Bu Devina, ia masih belum bisa merelakan separuh dari hati putrinya di donorkan kepada Dhita.
" Permisi!" sapa bu Devina yang secara kebetulan melihat Dhita sedang duduk santai di halaman mansion, dengan di temani beberapa orang pelayannya.
" Tante!" sapa Dhita pula. Ia tersenyum sumringah ketika melihat ibu dari Citra berkunjung ke rumahnya.
" Maaf nak Dhita, Tante mengganggu!" ucap Bu Devina dengan raut wajah merasa tidak enak, namun di dalam hatinya ia mengumpat Dhita.
" Kau malah enak-enakan di sini sementara putriku, apa yang ia dapatkan, hanyalah sebuah rasa tersiksa." batin Bu Devina.
Di tambah lagi dengan melihat perut Dhita yang sedang membuncit, pertanda wanita itu sedang mengandung benih dari Arjuna yang berarti ahli waris dari semua kekayaannya, ia semakin geram.
__ADS_1
" Rupanya kau bahagia di atas penderitaan putriku." batinnya lagi.
" Tante!" Dhita lebih mengeraskan suaranya, karena sejak tadi Bu Devina yang dipanggilnya berkali-kali tetap melamun.
Ia tidak tahu saja apa yang sedang di pikirkan oleh wanita itu.
" Ah, ya nak Dhita, maaf Tante sedang banyak pikiran!" jawab Bu Devina terperanjat setelah mendengar sentakan suara Dhita.
" Mari masuk dulu Tante." ajak Dhita seraya hendak beranjak dari duduknya. Namun Bu Devina menolak.
" Tidak usah nak Dhita, di sini saja, lagi pula saya hanya sebentar,"
" Baiklah silahkan duduk," Dhita kembali duduk di tempatnya.
Begitu pula dengan Bu Devina yang langsung duduk di depan Dhita.
" Sebenarnya kedatangan Tante kemari, ingin bertemu dengan nak Arjuna, tapi kata pak satpam dia sedang tidak di rumah." Bu Devina memulai pembicaraan mereka.
" Ya, Tante mas Ar sedang ke kantor, memangnya ada apa tante?" Dhita merasa aneh, sebab wanita itu tidak pernah datang lagi ke mansion nya sejak pertunangan putrinya di batalkan.
" Sebenarnya saya tidak enak hati membicarakan hal ini, tapi mau bagaimana lagi, karena hanya nak Arjuna yang bisa mengatasi semua masalah ini." Bu Devina sedikit berbasa-basi, ia ingin membuat Dhita penasaran.
" Anu... putri saya Citra dia sedang sakit, berkali-kali saya berusaha untuk mengobatinya namun tidak satupun yang berhasil." Bu Devina semakin menunjukkan raut wajah kesedihan.
" Salah seorang psikiater mengatakan kalau putri saya akan sembuh jika dia di pertemukan dengan orang yang di cintainya." air mata Bu Devina mulai menetes, entah itu air mata ketulusan ataukah hanya sebagai tameng saja.
" Dan saya rasa nak Dhita mengerti apa maksud saya." lanjut bu Devina seraya mengusap air matanya.
Dhita tidak mengatakan apapun, ia hanya terdiam dengan pikiran melayang entah kemana. Namun dari raut wajahnya sangat terlihat dengan jelas kalau ia sedang berpikir keras.
" Saya mengerti maksud Tante," Dhita menghela napas dengan berat.
Wajah Bu Devina berbinar, namun ia sembunyikan di balik raut wajah sedihnya.
" Tante ingin suamiku, mas Arjuna datang menemui Citra?"
__ADS_1
Bu Devina cepat-cepat mengangguk, karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan.
" Baiklah, sore ini juga kami akan datang berkunjung ke rumah tante!" jelas Dhita memberikan keputusan.
" Benarkah?" Bu Devina hampir tak percaya dengan keputusan wanita muda yang sedang duduk di depannya.
" Aku janji Tante, aku akan membawa mas Ar kerumah tante!" sekali lagi Dhita menegaskan keputusannya.
Dan langssung membuat Bu Devina beranjak dari tempatnya, memeluk Dhita.
" Terima kasih nak Dhita, kau baik sekali, semoga tuhan memberkati hidupmu!" Bu Devina merasa sangat senang, akhirnya kedatangannya tidak sia-sia.
" Iya Tante, Citra telah banyak membantuku, jadi tidak ada salahnya bukan jika aku membalas Budi baiknya." Dhita melerai pelukan Bu Devina.
" Sekarang minumlah kopinya Tante."
Memang sejak tadi Bu Devina tidak menyentuh apapun yang di hidangkan oleh pelayan. Meskipun Dhita telah berkali-kali mempersilahkan.
" Baiklah nak Dhita, Tante akan minum kopinya." Bu Devina menyeruput secangkir kopi yang tidak panas lagi.
" Sekali lagi Tante ucapkan terima kasih nak Dhita, sekarang Tante pamit dulu, Tante khawatir dengan keadaan Citra jika terlalu lama Tante tinggalkan." ucap Bu Devina sambil undur diri lalu beranjak dari tempatnya setelah mendapat jawaban dari Dhita.
Dhita hanya mampu memandangi punggung wanita itu dari belakang, berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya.
Baru setahun ia menjalani kehidupan indah tanpa adanya cobaan, akankah setelah ini cobaan akan datang kembali menghiasi hidupnya?.
Namun Dhita hanya memasrahkan semuanya kepada yang maha kuasa.
" Maaf nyonya, kalau memang itu tidak baik untuk masa depan pernikahan nyonya, lebih baik jangan di hiraukan." ucap kepala pelayan yang saat itu sedang duduk bersamanya.
Kepala pelayan itu memahami akan kebimbangan perasaan istri dari majikannya itu, terlihat dengan jelas raut wajah Dhita yang menunjukkan kegelisahan.
Mendengar ucapan dari pelayannya, Dhita menghela napas panjang.
" Citra telah banyak membantuku, bahkan dia rela memberikan sebagian hatinya untukku, jika bukan karena dia dapat di pastikan aku telah lama tiada."
__ADS_1
Dhita bukanlah orang yang tidak tahu terimakasih dan melupakan semuanya begitu saja, namun ia adalah orang yang sangat menghargai sekecil apapun pengorbanan orang itu, bahkan ia tidak segan-segan membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik kepadanya dengan berbagai kebaikan pula.
" Semuanya kembali lagi padamu nyonya, kau yang bisa memutuskan segalanya!" ucap pelayan tersebut, bukan tanpa alasan ia mencoba untuk memperingatkan majikannya, melainkan karena ia tahu betapa liciknya Bu Devina.