Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 149 Ratapan Seorang Ibu


__ADS_3

Arjuna yang melihat anak buah nya berjalan seraya mendorong kereta bayi segera berlari menghampiri.


Sebuah senyum terukir di wajah Arjuna, ia merasa lega akhirnya pencariannya tidak sia-sia. Namun seketika senyum itu menghilang saat ia melihat hanya seorang baby girl yang berada di dalam kereta dorong tersebut.


" Di mana baby boy?" tanya Arjuna dengan beringas kepada anak buahnya itu.


" Ti~tidak tahu tuan, saya hanya menemukan nona kecil di dalam kamar mandi tuan!" jawab anak buahnya itu dengan sedikit ketakutan, suaranya pun terbata-bata.


Mendengar suara ayahnya, membuat baby girl kembali menangis. Seolah ia ingin mengadukan bahwa dirinya telah di pisahkan dari saudara kembarnya.


Arjuna merasa tidak tega mendengar suara tangis pilu dari putrinya, seketika membuatnya langsung meraih tubuh mungil yang sedang bergetar karena suara tangisnya.


" Sayang~diam lah Dady janji akan segera menemukan saudara mu!" ucap Arjuna seraya mencium baby girl berkali-kali, tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya.


"Ooeeekk... ooeeekk...!!" suara baby girl menggema seolah menjawab perkataan ayahnya.


" Sayang~tenanglah, mari kita temui mommy kalian." Arjuna membawa baby girl di dalam pelukannya.


Dengan langkah gontai Arjuna memasuki salah satu kamar yang di tempati oleh istrinya. Dan tampaklah olehnya seorang wanita yang tengah menangis di antara kedua sahabatnya.


" Sayang~~!" seru Arjuna dengan suara yang terdengar berat.


Mendengar suara suaminya memanggil, membuat Dhita mengangkat kepalanya yang ia benamkan di antara kedua telapak tangannya.


" Mas~mas Ar, kau menemukan mereka?" Wajah Dhita terlihat berseri-seri ketika melihat suaminya membawa seorang bayi di pelukannya. Karena ia mengira bayi yang satunya lagi sedang di gendong oleh seseorang yang mungkin saat ini sedang menuju ke arahnya.


" Kemarilah mas!" Dhita merentangkan kedua tangannya, untuk menggendong baby girl.


Arjuna menyerahkan bayi mungil yang di gendongnya kepada Dhita, yang langsung di sambut oleh istrinya itu dengan sebuah senyuman indah yang mengembang di sudut bibirnya.

__ADS_1


" Sayang~kemana saja kau nak? mom khawatir dengan kalian!" bisik Dhita lirih, air matanya pin bercucuran menyaksikan kebahagiaannya.


Lama Dhita menunggu memandang ke arah pintu, berharap kalau putranya juga akan datang menemui dirinya.


" Mas~mas Ar, dimana Ardhi kita mas?" tanya Dhita mulai merasa gelisah karena telah cukup lama ia menunggu, namun baby boy belum datang juga.


Arjuna menundukkan kepala, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sedangkan dirinya juga tidak mengetahui dimana keberadaan putranya.


Melihat suaminya yang hanya diam saja, Dhita merasa curiga. Jika suaminya tidak menjawab itu berarti ia sedang menyembunyikan sesuatu atau sedang merasa dirinya gagal.


" Mas~ayo jawab mas, dimana Ardhi kita berada?" tanya Dhita.


Perasaannya mulai tak karuan, pikirannya telah mulai menduga-duga apa sebenarnya yang telah terjadi.


" Maaf, !" bisik Arjuna pelan.


" Maafkan aku, yang telah gagal membawa kembali putra kita." ucap Arjuna lirih, tergambar di wajahnya suatu raut kesedihan.


Mendengar pernyataan dari suaminya, membuat Dhita kembali histeris. Seraya memeluk baby girl, ia menangis sejadi-jadinya.


" Baru tadi pagi mom merasakan kebahagiaan bersama kalian, dan mengapa sekarang kita di pisahkan?" rintih Dhita dengan berurai air mata.


" Dimana kau nak? mengapa kau tinggalkan mom? apakah kau tidak sayang kepada mom?" dan rintihan itu semakin membuat baby girl menjerit dalam tangisnya.


Memang benar apa kata orang, jika seorang ibu yang baru saja melahirkan merasa gelisah atau mengalami tekanan batin, maka bayinya pun akan sering menangis bahkan terkesan rewel. Itu di karenakan sebuah ikatan batin yang tidak akan pernah siapa pun dapat memahaminya.


" Dhi, sabar semua masalah pasti ada jalan keluarnya!" seru Puri yang masih berdiri di samping sahabatnya.


" Iya Dhi, tenangkan dirimu, jika tidak Diana akan menangis terus, kasihan dia," Rena pun ikut membujuk sahabatnya agar berhenti menangis.

__ADS_1


" Kalian bisa mengatakan itu semua karena bukan kalian yang mengalaminya sendiri, kalian tidak pernah akan mengerti perasaan ku, perasaan seorang ibu yang baru saja kehilangan satu dari bayinya!!"


Dhita menatap tajam kepada Rena dan Puri, seolah ia meminta jawaban dengan apa yang di alaminya saat ini.


Rena dan Puri akhirnya terdiam, mereka berdua juga tidak tahu harus berkata apa. Jika saja semua itu menimpa kepada diri mereka sendiri, maka dapat di pastikan meraka akan melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Dhita saat ini, merintih, meratap bahkan menangis, karena memang hanya itu yang bisa di lakukan nya.


Dhita memeluk erat baby girl seolah ia takut terpisah darinya.


" Diana sayang, hanya kau satu-satunya yang mom miliki saat ini, jangan pernah tinggalkan mom, aku tidak bisa hidup tanpa mu!" bisik Dhita kepada baby girls.


Tak lama kemudian, mommy Rita, Bu Safitri dan pak Setyo tiba di ruangan tersebut. Mereka tidak kalah syok mendengar kabar hilangnya cucu lelaki mereka.


" Mommy tahu siapa dalang di balik semua ini!" gumam mommy Rita dengan geram.


" Apa maksud anda?" tanya Bu Safitri tidak mengerti dengan ucapan besannya.


" Biarlah, ini menjadi urusan saya, titip menantu saya jaga dia baik-baik!" ucap mommy Rita, lalu pergi ke arah luar.


Yang ada di dalam pikiran mommy Rita saat ini adalah tak lain dan tak bukan, tentang Bu Devina yang sikapnya selama ini selalu mencurigakan.


Jika sebelumnya bu Devina telah berhasil membuat Bellinda merasa cemburu dengan Dhita karena menurut Bellinda ia yang telah mengirimkan pesan mesra terhadap Andrian.


Namun yang terjadi sebenarnya adalah Bu Devina lah yang sengaja mengirim pesan itu, dengan maksud agar Belinda merasa cemburu kepada Dhita, dan begitupun sebaliknya, Arjuna pasti tidak akan kalah cemburunya, mengingat pria ini sangat mencintai Istrinya melebihi dari apapun. Dan bukan tidak mungkin Arjuna akan merasa cemburu jika istrinya bermesraan dengan pria lain, walau hanya sekedar mengirim pesan.


Bu Safitri yang sedang menggendong baby girl hanya bisa terdiam memikirkan langkah apa yang akan dilakukan oleh besannya itu.


" Sudah kau cari sampai di mana saja putramu?" tanya pak Setyo kepada Arjuna yang sedang berdiri seraya mengotak-atik ponselnya. Rupanya ingin menghubungi salah satu dari anak buahnya.


" Sudah di mana-mana yah, tapi masih belum mendapat informasi dari anak buah ku." jawab Arjuna menundukkan kepala, ia merasa malu kepada ayah dan ibu mertuanya.

__ADS_1


Namun Arjuna tidak berhenti sampai di situ, ia tetap memerintahkan kepada seluruh anak buahnya untuk mencarinya hingga ke seluruh pelosok bahkan sampai perbatasan kota.


__ADS_2