
Udah pada siap berangkat kondangan ya...yuk berangkat bareng Author sekarang 💝.
Di malam hari.
Sekitar jam 08:35 para tamu undangan mulai datang menghadiri resepsi pernikahan eza dan puri. Sebagian besar dari mereka adalah rekan bisnis eza dan rekan bisnis orang tuanya.
walaupun keluarga eza memiliki perusahaan sendiri, tapi eza lebih suka bekerja di perusahaan milik sahabatnya. Tentunya dengan alasan tersendiri.
Eza dan puri duduk di atas pelaminan, dengan raut wajah yang berbeda. Jika wajah puri sangat cantik dan menawan dengan seulas senyuman yang ia tebarkan, berbeda dengan eza ia lebih terlihat dingin.
Banyak dari para tamunya yang mengucapkan selamat kepadanya namun eza hanya menanggapinya dengan senyuman sekilas.
Andrian juga datang bersama dengan sang istri, si wanita jerman. Rupanya ia juga mendapatkan surat undangan darinya.
Apa kabar ya... si andrian setelah lama gak ketemu?.
Andrian berjalan dengan menggandeng tangan istrinya, bellinda. Tampak nya mereka telah lebih bahagia dari pada waktu dulu.
" Hai... bang andrian? pa kabar ?" tanya dhita senang melihat kakak angkatnya.
" Iya.. aku baik, kenalin ini bellinda istriku." jawab andrian menunjuk ke arah istrinya. Saat itu sedang mengelus perutnya yang terlihat sedikit membuncit.
Wahhh... rupanya udah gol tuh.... si andrian.
" Kenalin aku dhita...." mengulurkan tangannya kepada sang kakak ipar, istri dari kakak angkatnya.
Tentu kita masih ingat dong dengan kisah andrian hingga ia menjadi kakak angkatnya dhita.
" Bellinda." jawab istri andrian membalas uluran tangan dhita. Sedikit-sedikit ia telah bisa berbicara bahasa indonesia. Walau tidak begitu lancar.
" Cantik nya istri mu bang !" dhita memuji kecantikan bellinda.
Andrian tersenyum.
" Terima kasih .." sahut bellinda. Masih mengelus perutnya.
" Udah berapa bulan kak ?" tanya dhita memandang perut bellinda.
" Baru trismester pertama ." bellinda tersenyum tampak suatu kebahagiaan di wajahnya.
Dhita bersyukur akhirnya andrian telah move on darinya. Dan menjalani hidup baru bersama istrinya.
" Kami kesana dulu ya..." andrian menunjuk ke pelaminan. Rupanya ia ingin mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin secara langsung.
Sebenarnya andrian hanya ingin berjaga-jaga, menjaga hati dan pandangannya agar tidak terus tertuju pada dhita. Bukan apa-apa ia hanya tidak ingin nalurinya sebagai orang yang pernah mencintai dhita bangkit kembali, dan kalau sampai hal itu terjadi pasti sang istri akan merasa kecewa dan tersakiti terlebih lagi saat ini wanita itu sedang mengandung benih darinya.
" Oh, iya bang silahkan " dhita memahami sikap andrian.
Dhita memandang pungggung pasangan suami istri tersebut dari belakang. " Selamat ya bang atas kebahagiaan mu, semoga suatu saat nanti aku juga bisa bahagia sepertimu." dhita membatin.
Arjuna yang sejak tadi asyik mengobrol dengan sesama rekan bisnisnya datang menghampiri kekasih nya, sepertinya ia tau apa yang tengah mengusik pikiran sang kekasih.
" Aku lihat kamu tadi lagi bicara sama andrian ?" tanya arjuna menatap wajah cantik kekasihnya.
" Iya mas, aku lihat... mereka bahagia banget." jawab dhita sembari tersenyum.
" Tadi aku juga lihat istrinya sedang hamil mas ." lanjutnya.
" Syukurlah kalau begitu posisi ku aman." arjuna mengangkat sebelah alisnya.
" Ooo, jadi selama ini kamu ngerasa gak aman mas ?"
" Bukan begitu, aku hanya takut andrian akan menculikmu kembali karna gak bisa move on, dan aku takut kehilangan dirimu."
__ADS_1
" Ala..h mas, gombal amet sih kalau aku di culik anak buah kamu pasti akan menemukan diriku dengan mudah mas ." ucap dhita mengingat betapa sigapnya anak buah kekasihnya mencari keberadaan dirinya waktu itu.
*
*
Di pelaminan.
Puri menatap wajah suaminya yang terlihat dingin. Tidak ada ekspresi di raut wajahnya, seperti hari-hari sebelumnya.
" Beib... kamu kenapa? capek ?" tanya puri penuh perhatian.
" Aku gak apa-apa ." jawab eza dengan muka datar.
" Aneh.. sebelum nikah romantis banget, pas udah nikah kok jadi dingin ya.." puri bergumam dalam hati.
Pikiran eza menjadi kalut karna ia termakan bualan arjuna, sahabatnya. Masih terdengar jelas ditelinganya ucapan arjuna yang membuat ia ragu akan status sang istri.
" Beib...aku mau kekamar." bisik puri tiba-tiba.Ia mengira suaminya sudah tidak sabar ingin bermalam dengannya, karena sejak seharian ini mereka tidak memiliki waktu untuk berduaan. Ada-ada saja yang menjadi bahan obrolan dari keluarga eza yang ingin mengenal dirinya lebih jauh.
Mendengar ucapan istrinya, eza terkejut.
" Masih banyak tamu gak enak kalau kita tinggalkan mereka, nanti mereka berpikir yang macam-macam." Sahut eza tanpa menoleh sedikitpun.
Para tamu sedang menikmati hidangan yang di suguhkan sambil sesekali melirik ke arah kedua mempelai pengantin. Mereka tersenyum seolah ikut merasakan kebahagiaan.
" Mereka seperti sebuah paket yang lengkap ya.." ucap bu saulin, ibu dari eza.
" Iya, yang satu cantik dan yang satu tampan." jawab tante devina yang merupakan adik ipar bu saulin.
" Kakak ipar memang cantik, beruntung sekali eza bisa mempersuntingnya." celetuk citra,diam-diam ia juga mengagumi kecantikan puri. Gadis yang sedikit tomboy namun malam itu terlihat sangat feminim.
" Tante... do'a in aku juga ya... biar bisa menyusul eza." pinta citra.
" Ada tan, cuma masih butuh perjuangan." jawab citra, matanya menatap arjuna yang sedang bersama dengan dhita, namun tak satu orang pun yang menyadari hal itu.
" Iya.. tante do'a in kamu secepatnya menyusul."
" Amiin." citra.
*
*
Sementara itu puri dan eza telah meninggalkan pelaminan, meninggalkan para tamu yang sedang asyik bersenda-gurau seputar obrolan bisnis dan obrolan pribadinya.
Sebenarnya eza tidak enak hati meninggalkan tempat itu, tapi mau bagaimana lagi karna sang istri telah lebih dulu pergi meninggalkan pelaminan maka ia sendiri hanya bisa mengekornya dari belakang. Tidak mungkin baginya duduk sendiri di atas pelaminan. Bisa-bisa jadi bahan tertawaan orang-orang.
" Loh mana pengantinnya mas.? tanya dhita ketika menyadari sahabatnya tidak terlihat lagi di pelaminan.
" Ya... apalagi sih yang akan di lakukan pengantin baru." jawab arjuna menahan senyum mendengar pertanyaan kekasihnya.
" Selain itu.... tuh.." lanjut arjuna melirik bagian bawah tubuh kekasihnya, berniat menggoda.
Dhita memutar bola matanya dengan malas.
" Ih... kamu tuh mas, pikirannya kotor banget, bisa jadi kan mereka itu capek pengen istirahat." dhita merasa jengkel dengan ucapan kekasihnya. Bibirnya mengkerucut.
" Iya...iya..deh..ustadzah mohon maaf, keceplosan." arjuna berusaha mengambil hati kekasihnya kembali agar tidak cemberut.
" Ok, aku maafin tapi jangan ulangi lagi ya..." dhita menunjuk tepat pada wajah arjuna.
Arjuna mengangguk.
__ADS_1
" Siap."
*
*
Di dalam kamar.
Tampak sepasang pengantin baru sedang bercakap-cakap.
" Beib... tolong bantu aku dong?" pinta puri pada suaminya. Hijab nya telah selesai ia buka, hanya saja untuk melepaskan resleting gaunnya ia merasa sangat susah.
Mendengar istrinya meminta bantuan eza yang sedang duduk segera menghampiri istri nya.
" Ada apa ?" eza bertanya balik.
" Ini, aku gak bisa bukainnya." puri menunjukkan resleting gaun pengantinnya yang berada di belakang.
" Oh, ini ada kancingnya pantes kamu gak bisa buka sendiri." ucap eza. Tangannya melakukan gerakan membuka kancing. Lalu berakhir dengan membuka resleting nya.
Sroooottt.
Gaun pengantin itu terjatuh begitu saja, puri memang tidak ingin menahan gaunnya. Hingga menampilkan tubuhnya yang polos tanpa pakaian, yang tersisa hanyalah bra dan segitiganya saja.
Woowwww.
Eza terbelalak kedua matanya hampir tak berkedip. Tanpa sengaja ia mengatakan sesuatu dengan suara lirih namun masih bisa di dengar oleh istrinya.
" Wow ternyata istriku seorang wanita sejati, dia perempuan tulen."
Mendengar ucapan suaminya puri terkejut.
" Apa maksudmu?" puri menatap intens pada suaminya dengan tatapan yang menghunus.
" Tidak." eza menjawab dengan gugup. Kedua matanya masih saja menatap pada tubuh seksi sang istri.
" Aku dengar kamu mengucapkan wanita tulen? kenapa? apa kamu pikir aku ini...." puri tidak meneruskan perkataannya karna saat ini dirinya maupun eza tidak ada jarak apapun.
Puri yang tadinya ingin marah karna telah tersulut emosi, kini benar-benar jinak. Ia terus mengikuti irama yang di mainkan oleh suaminya tanpa ingin memberontak sedikit pun.
Eza tak ingin menunda-nunda waktu, dengan cepat ia beraksi. Berinteraksi yang seharusnya. Telah lama ia menantikan malam ini tiba.
Hasrat ingin bercumbu-rayu pun tak dapat di bendung lagi, dengan tangan gemetar puri membuka kancing baju suaminya.
Dalam sekejap mereka telah bercumbu di atas ranjang saling kecup-mengecup satu sama lain.
Puri pasrah dengan keadaan serta kenikmatan yang telah membuainya. Membawanya terbuai dalam surga dunia.
Malam itu puri merasakan sesuatu pada dirinya, rasa perih namun penuh nikmat.
Rembulan di langit tampak tersenyum menyaksikan kedua insan yang sedang terbuai asmara. Meskipun cahaya sang rembulan terlihat suram, namun tak sesuram cahaya di kamar sang pengantin. Dan tak sesakit seperti yang di rasakan puri.
Malam ini eza telah merenggut kegadisannya, mahkota yang selama ini di jaga olehnya.
" Gimana beib... puas ?" tanya puri pada suaminya yang di jawab hanya dengan anggukan kepala.
Rupanya eza telah benar-benar merasa letih, seakan seluruh tenaganya terkuras.
" Perasaan waktu kerja lembur di kantor rasanya nggak seperti ini." ucap eza namun dalam hati.
Eza merasakan perbedaan antara lelah karna kerja lembur dan kerja malamnya saat ini, sungguh benar-benar melelahkan.
" Setidak nya aku telah membuktikan kalau kita bukan jeruk makan jeruk." celetuk puri.
__ADS_1
Sebenarnya ia sendiri juga merasakan hal yang sama atau mungkin lebih ya lebih sakit tapi penuh nikmat.