Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 186 Diam-Diam Cemburu


__ADS_3

Diana yang merasa jenuh di rumah Ednan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam dengan sesekali menjawab pertanyaan dari Puri.


"Apa kau tidak keberatan dengan perjodohan ini nak Diana?" tanya Puri karena akhir-akhir ini ia merasa Dia tidak seperti biasanya.


Sebelum rencana perjodohan itu di ucapkan kepada Dia, wanita ini selalu bermanja-manja bila bersama dengannya. Namun, sejak Dia mengetahui tentang perjodohan itu, ia lebih sering diam dan terlihat sangat kaku seakan menjaga jarak dengan Puri dan keluarganya.


"Jika itu sudah menjadi keputusan kedua orang tua ku, maka aku akan menerimanya dengan senang hati." jawab Diana berbohong.


Hanya karena tidak ingin mengecewakan kedua orang tua nya, dan juga Puri yang selama ini sangat baik kepada dirinya. Hingga membuat Dia terpaksa berbohong, meski jauh di dalam hatinya, ia sangat ingin berkata.


"Aku tidak mau di jodohkan, hentikan semua ini!" Dia tidak akan pernah bisa mengucapkannya dengan Kata-kata.


Mendengar jawaban dari Dia, membuat Puri merasa lega, dan itu berarti perjodohan bisa di lanjutkan. Dikarenakan memang Ednan telah tidak sabar ingin secepatnya bertunangan dengan Diana.


Seorang wanita cantik yang menjadi pujaan hatinya selama ini.


"Bagaimana kalau kita jalan malam ini, sudah lama kan kita tidak dinner?" Ednan mengajak Dia keluar malam itu.


"Tapi kan kita sudah makan Uda, mengapa harus dinner?" Dia berusaha menolak, di samping ia telah makan bersama Ednan dan ibunya, Dia juga tidak ingin pergi kemanapun dengan Ednan. Karena Diana hanya menganggap Ednan hanya sebagai kakak, tidak lebih.


"Memangnya dinner itu harus selalu makan, tidak kan?" Ednan masih tetap dengan keinginannya.


"Terserah Uda sajalah," ucap Dia pasrah.


"Ayo kita berangkat!" dengan penuh kebahagiaan, Ednan mengajak Diana untuk pergi.


"Hati-hati Ednan!" seru Puri ketika putranya telah menarik tangan Dia di depannya.


"Baik ma, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam."


Ednan menggandeng tangan Dia melangkah menuju mobil. Seperti biasa, Ednan selalu memperlakukan Dia layaknya seorang putri. Dari membuka pintu mobil hingga memasangkan sabuk pengaman.


"Sudah siap tuan putri?" Ednan berseloroh, kemudian tersenyum menampilkan sederet giginya yang putih bersih.


"Ya!" jawab Diana dengan malas, namun ia paksakan untuk tersenyum.


Ednan Mengendarai mobil dengan baik, hingga tak terasa mereka telah sampai di depan sebuah restoran.


"Kok kita kesini Uda?" tanya Diana merasa heran, karena seingatnya mereka dalam keadaan sedang kenyang saat ini.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Ednan balik bertanya.


"Kan, sudah ku bilang, aku kenyang Uda,"


"Tidak semua orang yang datang kesini harus makan, Di restoran ini selain menyediakan menu makanan juga ada tempat hiburan seperti cafe di atas sana." Ednan menunjuk ke arah Rooftop resto.


Diana mengarahkan pandangannya ke arah atap restoran, benar saja di atas sana tampak lampu berwarna-warni berkilauan menerangi Rooftop resto.


Ednan Kembali menggandeng tangan Dia, lalu membawanya memasuki restoran. Dan Diana hanya mengikuti langkah Ednan yang berjalan di sampingnya.


Di saat Diana sedang berjalan dengan memperhatikan para pengunjung restoran. Tiba-tiba saja pandangan matanya menangkap dua sosok manusia yang sangat ia kenali yaitu, Almira dan Ans. Namun, Dia tidak mengetahui kalau pria yang sedang bersama dengan Almira itu adalah Ans. Di karenakan saat itu Ans sedang duduk dengan posisi membelakangi Dia.


"Uda, kita kesana yuk!" ajak Dia kepada Ednan.


Dan Ednan yang tidak ingin membuat calon tunangannya itu kecewa, segera mengangguk dan dengan senyum yang mengembang ia berkata.


"Ayo, sepertinya itu Almira, tapi... siapa yang sedang bersamanya?"


Ednan mengernyitkan dahi, ia merasa seperti pernah melihat pria itu sebelumnya.


"Entahlah," jawab Diana seraya melangkah menuju ke arah Almira.


Namun, sebelum Diana sampai ke meja Almira, ia telah lebih dulu melihat Ans memegang tangan wanita itu.


"Almira," panggil Ans dengan suara lembut.


"Ya," jawab Almira seraya melirik ke arah tangan Ans yang sedang menyentuh tangannya.


"Apa kau tidak keberatan jika aku anggap sebagai teman spesial?" Ans menatap wajah Almira dalam-dalam.


Almira terdiam, jujur di hatinya ia juga merasa menyukai pria itu. Oleh karena itu, Almira berkata.


"Tidak apa-apa, hanya teman kan?" sebenarnya Almira ingin berharap lebih.


Ans mengangguk, ingin rasanya ia menyatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Almira, akan tetapi, ia masih berusaha menahan dirinya sampai semua misinya terlaksana.


"Ya," Almira pun diam saat Ans semakin mempererat genggaman tangannya yang terekspos jelas di atas meja.


Diana yang melihat semua itu, hanya berdiri mematung di tempat nya. Hatinya terasa hancur berkeping-keping. Hampir saja Air matanya mengalir deras. Untung saja ada Ednan yang menyusul di belakangnya.


"Kenapa diam disini, ayo kita kesana!" ajak Ednan seraya menarik tangan Dia. Namun, Dia malah kembali menarik tangannya.

__ADS_1


"Tidak jadi Uda, ayo kita pulang saja," jawab Dia.


"Tapi... "


"Ayo Uda!" Diana terlebih dahulu membalikkan tubuhnya. Namun, terdengar suara Almira memanggilnya.


"Dia!!" Almira setengah berteriak, hingga bersedia atau tidak Diana terpaksa membalikkan tubuhnya kembali.


Tampaklah oleh Dia, sepupunya itu sedang melambaikan tangan memanggil dirinya.


Dengan sebuah senyum yang di paksakan, Dia mencoba melangkahkan kakinya ke arah Almira dan Ans, walau tubuhnya serasa bergetar. Sedangkan Ednan, menyusul di belakangnya.


Ans yang tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Diana, terlihat agak rikuh.


"Hei, lama kalian disini?" Dia Pura-pura ramah untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.


Ya, sebuah perasaan yang telah hancur sebelum bertuan.


"Ya, lumayanlah." jawab Almira lalu mempersilahkan Diana dan Ednan duduk di sebelah mereka.


Diana pun menurut seraya melirik ke arah Ans yang terlihat mulai merasa tidak nyaman. Bukan tanpa alasan Ans merasa seperti itu, di karenakan ia tidak ingin rencananya untuk mendekati Diana sebelum menghancurkan keluarga Arjuna akan gagal begitu saja.


"Mau pesan apa?" tanya Almira sebelum memanggil seorang waitress yang sedang bekerja melayani para pengunjung.


"Lemon tea," jawab Dia asal bicara saja.


"Baiklah, kau Kak Ednan mau pesan apa?"


"Espresso." jawab Ednan santai.


Namun, menatap tajam kepada Ans, seraya berpikir.


"Apa tujuan pria asing ini, tadi siang dia berusaha mendekati Diana, dan sekarang dia juga mendekati Almira,"


Sementara Almira melambaikan tangannya memanggil seorang waitress.


Tak lama kemudian waitress itu datang menemui Almira yang memanggilnya.


"Lemon tea satu dan Espresso satu." Almira memesankan minuman yang di ucapkan oleh Diana dan Ednan.


Selang beberapa menit, waitress itu pun kembali dengan membawa pesanan Almira.

__ADS_1


"Silahkan," ucap waitress itu dengan ramah dan sopan.


"Ya, terimakasih," sahut Almira lalu menyodorkan masing-masing minuman kepada pemiliknya.


__ADS_2