Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 133 Glen Kecewa


__ADS_3

Terdengar suara langkah kaki kecil mungil berlari menapaki jalan. Ia terus berlari-lari menyusuri jalanan yang beraspal.


Glen Alvaro seorang bocah kecil yang pandai dan juga cerdik.


" Mama mana bi?" tanya Glen kepada asistennya.


Saat itu mereka sedang berada di depan sekolah. Glen yang baru saja keluar dari area sekolah, merasa heran mengapa ibunya tidak menjemput dirinya, mengapa harus menyuruh si asisten untuk menjemput dirinya.


" Nyonya sedang ada urusan Den, Nyonya menyuruh bibi untuk menjemput Aden." jawab Asistren itu.


" Memangnya mama kemana bi?" Glen yang cerdas tidak langsung mempercayai ucapan asistennya, namun masih saja bertanya mencari tahu apapun tentang alasan dirinya sampai ditinggalkan oleh ibunya.


" Penting sekali ya bi sampai mama meninggalkan aku di sini," Glen terlihat sangat kecewa karena ibunya tidak berada di sana.


Si asisten tidak menyahut, ia khawatir akan salah bicara. Karena tidak mendapat respon dari asistennya, Glen akhirnya memutuskan untuk berjalan menuju mobil.


Sebuah mobil parkir tidak jauh darinya, di tepi jalan di bawah naungan pohon akasia.


Glen berlari-lari kecil menuju mobil. seorang sopir dengan sigap membukakan pintu untuknya.


" Terimakasih mang!" ucap Glen lalu duduk di kursi belakang bersama bibi Asisten.


Sepanjang perjalanan pulang Glen hanya terdiam, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya.


" Den, mau beli coklat dulu?" tanya bibi asisten membuka pembicaraan, karena sejak masuk ke dalam mobil Glen tidak berbicara sedikitpun.


Mendengar tawaran dari bibi asisten, Glen hanya menggelengkan kepalanya. Dari raut wajahnya jelas terlihat kalau dia sedang kesal dan kecewa.


" Aden kenapa?" tanya bibi asisten lagi.


" Gak apa-apa bi, Glen capek mau tidur!" jawab Glen dengan tatapan lurus ke depan.


Mendengar jawaban putra dari majikannya yang terkesan datar, membuat bibi asisten tidak ingin bertanya-tanya lagi. Karena ia khawatir akan membuat tuan mudanya marah.


Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam saling membisu.


Sedangkan di dalam hati Glen ia merasa sangat kesal kepada ibunya, hal apa yang lebih di utamakan oleh ibunya dari pada dirinya sendiri.


" Aku kecewa sama mama," pikir Glen.


Tak lama kemudian, mobil yang ditumpanginya berbelok memasuki halaman rumah yang selalu terlihat indah dan nyaman di pandang mata.


Setelah turun dari dalam mobil, Glen langsung berhambur memasuki ruangan rumah dan berlari ke dalam kamarnya. Tanpa memperdulikan si bibi asisten dan mang sopir yang memanggilnya.


GRABAAKKK.


Glen membanting daun pintu dengan keras.


" Mama! mama jahat! mama gak perduli sama Glen lagi!" teriak Glen dengan penuh rasa kesalnya.


Sontak membuat Air matanya mengalir. Glen merasa kalau ibunya tidak perduli lagi ke padanya.


Melihat tingkah laku tuan kecilnya, membuat bibi asisten terpaksa menghubungi Bellinda, nyonya besarnya.


" Hallo nyonya," ucap bibi asisten.

__ADS_1


" Ya hallo, ada apa bi?" sahut suara dari seberang.


" Aden ngambek nyonya!" jawab bibi asisten sejujurnya.


" Loh, kenapa ?" Belinda merasa heran.


" Karena nyonya tidak menjemput nya ke sekolah"


" Ooh, ya biarlah nanti aku yang akan berusaha bicara kepadanya." jawab Bellinda lalu menutup panggilan ponselnya.


Mendapat jawaban yabg sesuai dengan apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya membuat bibi asisten sedikit merasa lega.


" Syukurlah!" bisik bibi asisten dengan santai.


Ia merasa lega, akhirnya mendapatkan jawaban yang sesuai dengan apa yang sedang ia khawatirkan.


Glen mengurung diri di dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian.


TOK.


TOK.


TOK.


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


" Glen! buka pintunya sayang!" panggil Bellinda dengan lembut, namun tidak mendapat jawaban dari dalam.


Namun, masih saja sama tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar.


Karena tidak mendapat respon dari putranya, membuat Belinda, khawatir. Karena baru kali ini putranya itu bertingkah seperti ini.


" Glen buka pintunya sayaaang, hiks...hiks ...hiks...!" suara Bellinda terdengar berat, karena ia tidak kuasa untuk menahan tangis.


Sikap Glen yang tidak merespon membuatnya semakin khawatir dan ketakutan, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada putranya itu.


" Bagaimana ini An, dia tidak mau membuka pintunya, aku takut dia macam-macam di dalam sana." Tangis Bellinda pecah di dalam pelukan suaminya.


" Sabar, tenangkan dirimu," jawab Andrian berusaha menenangkan istrinya.


" Hiks...hiks....hiks ....!" Isak tangis Bellinda.


" Glen! buka pintunya Glen!" seru Andrian dengan suara tegas.


Masih belum ada jawaban.


" Kita bicarakan semua baik-baik Glen, atau..kau ingin kami kirim ke asrama!" tegas Andrian mengancam putranya agar membuka pintunya.


Namun masih tetap sama, tidak ada pergerakan pintu akan di buka.


" Kan, dia tidak menjawab, bagaimana kalau...!" Bellinda bertambah khawatir.


" Biar ku dobrak!"

__ADS_1


Andrian mengambil ancang-ancang bersiap mendobrak pintu.


" 1 2 3 hyaaaat!!"


BRAAAKK.


Pintu masih belum bisa terbuka, dorongan tubuh Andrian hanya menggetarkan sedikit daun pintu.


" 1 2 3 HYAAAAT...." kali ini lebih keras dari sebelumnya.


GUUBBRRAAAAAKKKK.


Akhirnya pintu terbuka.


Dan apa yang mereka lihat ketika pintu itu terbuka?.


Sungguh Andrian dan Bellinda membulatkan kedua matanya dengan sempurna.


Ketika melihat putra mereka sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan menggunakan headset di telinga kanan kirinya.


Kepalanya tampak manggut-manggut mengiringi alunan irama lagu.


" GLEN!!" seru Andrian dan Bellinda serempak.


Bukan main kesalnya mereka, putra yang sangat mereka khawatirkan ternyata sedang asyik menikmati irama lagu.


Andrian dan Bellinda menepuk jidat masing-masing.


Sementara Glen yang sedang memejamkan kedua matanya dalam menikmati irama musik, tidak merasakan kalau kedua orang tua mereka berada di sana seraya menatapnya dengan tatapan kesal sekaligus bahagia.


Ya, mereka kesal karena tingkah absurd Glen mereka menjadi khawatir tidak karuan. Namun mereka juga merasa bahagia karena mereka mendapatkan putra mereka dalam keadaan yang baik-baik saja.


Andrian bergegas menghampiri putranya, lalu menyentak headset yang menutupi telinga putranya.


" Papa!" seru Glen dengan sangat terkejut.


" Kau kami panggil dari luar berkali-kali, tidak menjawab karena kau sedang asyik menikmati musik!" ucap Andrian seraya duduk di samping putranya.


Mendapatkan ayahnya di sana, Glen pun duduk menghadap sang ayah.


Sedangkan Bellinda duduk di samping sebelah Glen.


" Ada apa? mengapa kau melakukan semua ini?" tanya Andrian dengan lembut namun terdengar tegas.


" Glen kesal sama mama pa!" jawab Glen melirik ibunya.


" Kenapa?" Andrian berpura-pura tidak tahu.


" Mama meninggalkan Glen di sekolah!"


" Kau tahu? alasan mama mu meninggalkan dirimu di sekolah?" Andrian bertanya menelisik.


Mendapatkan pertanyaan itu, Glen menggelengkan kepalanya dengan cepat.


" Mama terpaksa melakukan semua itu karena ada sesuatu yang penting yang harus segera ia lakukan." Andrian berhenti sejenak.

__ADS_1


" Tante Dhita sakit dan dirawat di rumah sakit, jadi mama kamu pergi ke sana untuk menjenguknya !" jelas Andrian.


__ADS_2