Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 157 Naluri


__ADS_3

"Penyakit perut pada bayi biasanya karena beberapa faktor Bu,"


"Dan salah satunya adalah karena infeksi bakteri seperti yang di alami oleh bayi ini." dokter Ine menjelaskan.


"Lalu apakah tuan kecil saya bisa sembuh dok?" tanya bi Murni merasa khawatir.


"Bisa Bu, asal kita merawatnya dengan penuh kasih sayang!" jawab dokter Ine dan membuat bi Murni merasa lega.


"Kasih sayang dan cinta dari ibunya sangat mendukung!" lanjut doker Ine.


"Masalahnya ibu dari tuan kecil ini sangat sibuk, hingga membuat tuan kecil sedikit kekurangan kasih sayangnya." bi Murni beralasan.


"Apakah saya bisa menggantikan posisi ibunya?"


Dokter Ine mengangguk.


"Boleh, yang penting dia bisa memperoleh kasih sayang yang tulus, tidak perduli dari ibunya atau bukan!"


"Saya berjanji akan mencurahkan semua kasih sayang dan cinta yang saya miliki kepada tuan kecil." bi Murni bersungguh-sungguh.


"Untuk sementara waktu, dia harus dirawat inap terlebih dahulu agar kondisinya secepatnya membaik." ucap dokter Ine dan langsung di setujui oleh Bu Murni.


Ansel menggeliat-menggeliat di atas Brankar, perutnya yang kembung kini lebih membaik setelah di suntikkan obat oleh dokter Ine.


"Tuan, bibi janji akan selalu menjaga mu, seandainya bibi tahu dari mana asalmu, pasti bibi akan memberitahukan mereka." suara bi Murni terdengar serak, air matanya mulai mengambang di sudut matanya.


"Ooeeekk ~ Ooeekkk ~!" suara Ansel seakan mengerti dengan perkataan dari BI Murni.


Tepat pada hari itu, Dhita pergi untuk kontrol di rumah sakit itu, dan dokter Alya yang menanganinya.


Di ruang pemeriksaan Dhita dan dokter Alya berbincang-bincang.


"Jahitan operasinya telah mulai kering nyonya." ucap dokter Alya seraya menutup kembali pakaian Dhita di bagian perutnya.


"Alhamdulillah, terima kasih dok, ini semua berkat dokter juga!" jawab Dhita seraya bangkit dan duduk di kursi.


Begitupun dengan dokter Alya, ia pun duduk di kursi nya berhadapan dengan Dhita.


"Bagaimana kabar si Baby? apakah dia baik-baik saja?" dokter Alya menanyakan kabar Diana.


"Alhamdulillah dok, keadaannya baik-baik saja!" jawab Dhita sembari tersenyum.


"Ada teman saya, dia memeriksa seorang bayi dan kondisinya sangat memprihatinkan, di tambah lagi ibunya yang selalu sibuk bekerja hingga membuat anaknya kekurangan kasih sayang." tutur dokter Alya.


Ya, memang sebelumnya dokter Alya sempat berbincang dengan dokter Ine setelah ia memeriksa keadaan Ansel.

__ADS_1


"Bagaimana bisa dok? seorang ibu menelantarkan anaknya!"


"Entahlah, saya juga tidak habis pikir nyonya, bagaimana seorang ibu bisa setega itu, dan lebih memprioritaskan kariernya dari pada buah hatinya."


"Mendengar kabar ini membuat saya mengingat kembali putra saya yang hilang, saya hanya takut jika putra saya mengalami hal yang sama seperti anak bayi itu," ucap Dhita dengan raut wajah sedih, air mata pun jatuh berderai membasahi pipinya.


Bayang-bayang akan putranya kembali terbayang memenuhi pikirannya, membuat Dhita terlihat gelisah dan hampir histeris.


"Putraku, Ardhi~!" hanya nama itu yang mampu keluar dari dalam mulutnya.


Setelah beberapa hari ini Dhita merasa lebih tenang, tetapi hari ini ia kembali merasakan kegelisahan dan ketakutan tentang buah hatinya yang hilang.


Dokter Alya yang melihat perubahan pada diri pasiennya, segera mengambil tindakan.


"Minum obat ini nyonya!" seru Dokter Alya seraya menyodorkan beberapa butir obat penenang dan segelas air putih.


"Terima kasih!" Dhita menerima obat itu kemudian meminumnya.


Beberapa saat kemudian, Dhita merasa lebih baik, namun pikirannya masih melayang memikirkan sang buah hati yang hanya sekali saja ia menimangnya.


"Saya sarankan agar nyonya beristirahat dahulu di sini!"


Dokter Alya menggandeng Dhita menuju Brankar.


"Saya tinggal dulu nyonya!"


"Ya, sekali lagi terima kasih ya!"


"Ya, sama-sama nyonya!"


Dhita memejamkan kedua matanya, sedangkan dokter Alya pergi keluar dari ruangan itu.


"Maaf tuan Arjuna!" sapa dokter Alya kepada Arjuna yang sedang duduk di kursi di depan ruangan itu.


Rupanya Arjuna sedang menunggu istrinya yang sedang kontrol diri di sana.


"Dimana istri saya dok?" tanya Arjuna karena semenjak masuk ke ruangan itu, ia tidak melihat istrinya keluar dari ruangan tempat istrinya memeriksakan diri.


"Nyonya Dhita sedang beristirahat di dalam tuan." jawab dokter Alya.


"Kenapa? apa yang terjadi pada istri saya dok?" tanya Arjuna terkejut, karena setahunya Dhita dalam keadaan baik-baik saja saat hendak memasuki ruangan itu.


"Nyonya Dhita tiba-tiba teringat kembali akan putranya yang hilang tuan, dan itu membuat dirinya menjadi gelisah, namun tuan tidak usah khawatir, saya telah memberikan obat penenang untuk nyonya Dhita."


"Silahkan temani nyonya di dalam tuan, saya masih ada pasien lagi." ucap dokter Alya.

__ADS_1


Setelah berpamitan ia pun pergi.


Arjuna segera memasuki ruangan tempat istrinya beristirahat.


Tampak Dhita sedang memejamkan mata, namun ia tidak tidur melainkan ia hanya sekedar terpejam saja.


Arjuna duduk di sebuah kursi kecil di samping istrinya, ia membelai kepala Dhita dengan lembut.


"Mas!" panggil Dhita lirih.


"Ya!"


"Aku merasa, putra kita ada di sekitar rumah sakit ini mas!" naluri Dhita sebagai seorang ibu, mampu merasakan kehadiran baby boy, walau sebenarnya mereka berada di tempat yang berbeda.


"Tidak mungkin, tidak mungkin putra kita berada di sini, sekarang kau istirahat nanti kita pulang setelah kau merasa lebih baik!"


"Mas, ku mohon percayalah padaku sekali ini saja mas, ku mohon," Dhita mengiba, bulir-bulir bening mulai menetas bergulir di pipinya.


Arjuna menghela napas, lalu berkata.


"Baiklah, aku percaya kepadamu!"


Seketika senyum Dhita mengembang di bibirnya.


"Kau mau kan mas, mencari putra kita bersamaku?"


Arjuna mengangguk.


"Iya!" jawabnya singkat.


"Tapi, bagaimana dengan Diana? aku hanya khawatir putri kita akan kehausan kalau terlalu lama kita tinggal."


Arjuna teringat akan putrinya di mansion, karena sebelum di tinggalkan putrinya itu sedang tertidur pulas.


"Kau tenang saja mas, tadi pagi telah aku sediakan ASI di kulkas, jadi kalau Diana haus Babysitter kita hanya tinggal menghangatkannya lagi!" jawab Dhita merasa tenang walau ia akan meninggalkan putrinya agak lama, karena sebelumnya ia telah menyediakan ASI eksklusif sebelum ia pergi.


"Baiklah jika memang seperti itu, aku juga merasa tentang," ucap Arjuna.


"Tapi dirumah sakit seluas ini, kita akan mencarinya di mana?" Arjuna merasa mereka akan mengalami kesulitan mencari keberadaan putranya, mengingat rumah sakit itu sangatlah luas.


"Tentu saja kita akan mencarinya di seluruh rumah sakit ini mas, kita akan memeriksa setiap ruangan di rumah sakit ini!" ucap Dhita dengan senyum yang masih mengembang di sudut bibirnya.


"Apa? ini tidak mungkin aku lakukan," Arjuna terkejut mendengar ucapan istrinya.


"Ya, mas kita akan mencari keberadaan putra kita di seluruh ruangan rumah sakit ini!" Dhita memantapkan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2