Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 187 Rencana Ans


__ADS_3

SRRUUUUTTTT.....


Suara Diana menyeruput minuman Lemon tea pesanannya.


"Ih, apa ini, kecut sekali! " tiba-tiba saja Dia meludahkan minuman Lemon tea yang ia minum.


Diana memicingkan matanya sebelah, karena menahan rasa kecut yang teramat sangat.


Mendengar ucapan Diana dan ekspresinya yang menggemaskan, membuat Almira dan Ednan tertawa. Kecuali Ans, ia hanya tersenyum simpul.


"Ya jelas kecut lah Di, namanya juga Lemon tea, nah kalau espresso baru manis." celetuk Almira masih dengan tawanya.


"Memang tadi aku ada pesan Lemon tea?" Diana tidak menyadari kalau ia sendiri yang telah memesan minuman lemon tea.


"Ya, kau sendiri yang mengatakannya padaku." jawab Almira.


Diana terdiam. Kemudian ia kembali melirik ke arah Ans yang juga sedang menatapnya.


"Aku tidak sadar, telah memesan minuman ini." ucap Diana dengan tatapan menembus ke arah Ans.


Sedangkan Ans hanya terdiam, di dalam hati ia tersenyum karena telah berhasil membuat perasaan Diana terombang-ambing. Namun, disisi lain, ia merasa sangat bersalah karena telah mengatakan Diana sebagai kekasihnya ketika di kampus.


"Sudahlah, minum saja ini," Ednan kembali menyodorkan minumannya yang belum ia sentuh sama sekali.


"Aku akan meminumnya asal dengan satu syarat." ucap Dia.


"Apa, cepat katakan." Ednan merasa tidak sabar dengan persyaratan yang ingin di ucapkan oleh Diana.


Tanpa menjawab Diana menarik ujung straw dari gelas Lemon tea, lalu memasukkannya kedalam gelas espresso milik Ednan.


"Mari kita minum berdua Uda," pinta Diana dengan menggeser gelas yang telah berisi dua straw ke tengah-tengah mereka.


Mendengar permintaan Diana yang tidak biasa, terlebih lagi wanita itu telah terlebih dahulu mendekatkan bibirnya ke arah ujung sedotan miliknya.


Tanpa berpikir panjang membuat Ednan melakukan hal yang sama. Tampaklah sebuah adegan yang romantis, saling menyeruput, saling menatap dan saling tersenyum satu sama lain dalam jarak yang begitu dekat.


Hingga menarik perhatian para pengunjung yang tidak sengaja melihat ke arah mereka.


Namun, tidak dengan Ans, ia hanya tersenyum sinis melihat hal itu. Sedangkan Almira tertawa terkekeh melihat kelakuan calon pasangan tersebut.


Bukan tanpa alasan Diana melakukan hal itu, karena ia ingin memanas-manasi Ans dan membuatnya cemburu sama seperti yang ia rasakan saat ini. Dan Ednan sangat menikmati insiden tersebut.


"Sudah, sudah, ayo kita pulang." suara Almira membubarkan adegan romantis itu.


Diana maupun Ednan menyudahi aksi mereka yang sangat mengasyikkan.


"Ya, kami juga ingin pulang." ucap Diana dengan tersenyum puas karena telah berhasil membuat Ans menyaksikan keromantisan dirinya dan Ednan.


Sesampainya di depan Restoran lebih tepatnya di tempat pemarkiran kendaraan, ke empat anak muda itu menaiki mobil masing-masing.


DERRENNN...

__ADS_1


DERRENNN...


DERRENNN...


Suara deru mobil milik Ednan tidak bisa di hidupkan.


DERRENNN...


DERRENNN....


DERRENNN...


Berkali-kali Ednan mencoba untuk menghidupkan mesin mobil. Namun, tetap saja gagal.


"Kenapa Uda?" tanya Dia memperhatikan Ednan.


"Entahlah, aku juga tidak tahu." jawab Ednan seraya terus menerus mencoba menghidupkan mesin mobil.


"Sepertinya mogok, sebentar aku cek," ucap Ednan lalu turun dari mobilnya, Dia pun ikut turun menemani Ednan.


Terlihat asap mengepul ketika Ednan membuka kap penutup ruang mesin.


UHHUUKKK...


UHHUUKKK...


UHHUUKKK...


"Kenapa ini Uda?" Diana bertanya kembali seraya menutupi hidungnya agar tidak menghirup udara yang bercampur asap.


"Sepertinya kehabisan bensin." jawab Ednan lalu menutup kembali kap penutup mobil.


"Lalu kita harus bagaimana?" Diana mulai terlihat khawatir. Mengingat hari telah malam.


Ednan tidak menjawab, ia hanya menghela napas dalam-dalam.


Ans yang hendak mengeluarkan mobilnya dari parkiran, berhenti ketika melihat Ednan dan Diana sedang berdiri di luar mobil dengan menatap kesal kearah mobilnya. Ednan menendang mobilnya berkali-kali.


"Kalian kenapa, ada masalah?" tanya Ans kepada Ednan dan juga Diana.


"Ya, mobilnya mogok." jawab Ednan dengan nada suara agak berat.


Karena Ednan merasa gengsi di pertanyakan oleh Ans.


"Ya sudah, nanti kita hubungi montir untuk membawa mobilmu ke bengkel, dan kalian berdua naik saja ke mobilku." ucap Ans memberikan ide.


Ednan maupun Diana tidak ada yang menanggapi ide dari Ans, di karenakan mereka sama-sama merasa gengsi.


"Aku antarkan kalian pulang." lanjut Ans seraya memasuki mobilnya tanpa menunggu persetujuan dari Ednan maupun Diana.


Ans segera menghidupkan mobilnya.

__ADS_1


"Ayo cepat!" teriak Almira.


Mendengar deru suara mesin mobil, Ednan dan Diana segera bergegas masuk kedalam mobil milik Ans, meskipun mereka masih merasa risih. Karena mereka tidak ingin kemalaman di tempat itu.


Dengan senyum puas, Ans menggerakkan mobilnya keluar dari pemarkiran.


FLASHBACK OFF.


Ans menatap kesal kepada Ednan dan Diana yang sedang meminum espresso segelas berdua.


"Beraninya kalian bermesraan di depanku, awas saja akan ku beri pelajaran kau Ednan!" pikir Ans.


Kemudian tangan Ans meraih ponsel yang ia simpan di saku jaketnya. Tanpa di ketahui oleh siapapun, Ans mengirim pesan singkat kepada Jimmy.


Dan tanpa sepengetahuan siapapun Jimmy melakukan perintah tuannya dengan secepat kilat. Dan jadilah mobil Ednan mogok karena kekurangan bahan bakar.


FLASHBACK ON.


Ans fokus menyetir mobil, tanpa menghiraukan ketiga penumpang yang saling mengobrol, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Tentunya tidak ada hubungan dengan dirinya.


"Siapa rumahnya yang paling dekat?" tanya Ans menghentikan obrolan kedua orang di belakangnya, karena Almira duduk tepat di sampingnya.


"Rumahku sebentar lagi sampai," jawab Ednan.


Tepat di tikungan kanan jalan, Ednan meminta Ans untuk menghentikan mobilnya.


"Terimakasih Ans," Ednan memanggil nama Ans untuk yang pertama kalinya, meskipun mereka belum sempat berkenalan. Namun, mereka telah mengetahui nama Masing-masing.


"Sama-sama." jawab Ans kemudian berlalu dengan membawa mobilnya dalam kecepatan sedang.


Tak selang berapa lama Almira berseru.


"Stop, stop Ans!"


"Sudah sampai?" Ans bertanya.


"Ya." jawab Almira seraya turun dari mobil.


"Thankyou Ans." ucap Almira seraya menutup pintu mobil.


"Yok i, sampai ketemu besok!" sahut Ans sambil membalas lambaian tangan Almira.


Kini hanya tinggallah Ans dan Diana berada di dalam mobil tersebut. Diana melemparkan pandangannya ke luar jendela, ia sengaja Melakukan hal itu agar pandangannya tidak bertemu dengan tatapan mata Ans yang memperhatikan Diana dari kaca spion tengah.


"Rumahmu masih jauh?" tanya Ans kepada Diana, Ans sengaja bertanya karena ia tidak ingin alamat rumah Diana terlewat.


"Ya, masih jauh." jawab Diana tanpa menoleh ke arah Ans.


Pria yang telah membuat dirinya merasa sakit hati untuk yang pertama kalinya.


Ans menghentikan mobilnya tepat di jalan yang sepi, membuat Diana terpaksa menatapnya dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Mengapa berhenti, mansion ku masih jauh didepan!" teriak Diana dari dalam mobil.


__ADS_2