Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 115 Ide Gila


__ADS_3

Di sebuah taman tampak Eza sedang bermain bersama putranya, Ednan Afriansyah.


Bocah kecil yang lucu berusia dua tahun, sedang merengek meminta kepada ayahnya untuk bermain kuda-kudaan.


Walaupun di usianya yang masih sangat kecil, Ednan tergolong bocah yang sangat cerdas dan aktif. Ia pun telah mulai bisa berbicara dengan lancar, layaknya orang dewasa, meskipun sedikit cadel.


Mendengar rengekan dari putranya membuat Eza tidak tega untuk menolaknya, meskipun saat ini ia sedang merasa lelah sekali.


Seharian di kantor cukup menyita energi dan daya pikirnya.


" Papa, papa yok kita kecana, hya.....!!" seru Ednan dengan penuh semangat memacu sang kudanya, yang tak lain dan tak bukan adalah Eza.


Ednan terlihat begitu riang dan gembira, duduk di atas punggung ayahnya. Meski Eza merasa sangat kelelahan, namun ia rela melakukan semua itu demi membuat buah hatinya bahagia.


Apalagi impiannya yang selama ini terpendam, yaitu keinginannya yang ingin memiliki anak laki-laki telah menjadi nyata.


" Ayo, kuda kencana maju..maju...!" Lagi-lagi Ednan menghentakkan kakinya untuk melajukan kudanya.


" Siap pangeran, kita maju!" Eza membalas teriakan putranya.


Puri yang sedang duduk di kursi panjang, tersenyum menatap ke arah suami dan putranya.


" Hya....hya....!!" Teriak Ednan dengan bersemangat, hingga tetesan keringat membasahi seluruh tubuhnya.


Eza pun menurut merangkak lebih cepat. Hingga pada akhirnya ia terjatuh.


Ednan langsung saja turun dari punggung ayahnya, lalu menangis memanggil ayahnya.


" Papa...papa...bangun, papa...bangun hiks...hiks...!" tangis Ednan di sisi ayahnya.


Tubuh Eza yang tidak bergerak sama sekali, sontak membuat Puri menghambur ke arahnya.


" Ednan, ada apa?" tanya Puri sangat panik melihat kondisi suaminya yang tak berkutik.


" Ednan gak tahu ma," jawab Ednan sedikit ketakutan. Tubuhnya gemetar.


" Pa, kamu kenapa?" tanya Puri seraya membalik tubuh suaminya.


" DAAARR !!"


Eza mengejutkan Puri dan Ednan, rupanya ia hanya berpura-pura pingsan saja. Sontak Puri memukul tubuh Eza sekenanya, lalu di ikuti oleh Ednan yang langsung memukul tubuh ayahnya.


" Aduh, ampun...ampun...!" teriak Eza mengaduh kesakitan, saat beberapa pukulan bersarang di tubuhnya.

__ADS_1


" Papa kebiasaan." Ednan marah kepada ayahnya. Karena permainan kuda-kudaan yang sangat mengasyikkan baginya harus berakhir begitu saja.


" Suka ya, menjahili kami!" Puri berpura-pura marah.


" Maaf," Eza menangkupkan kedua tangnnya di depan dada.


Ednan pun mengikutinya, ikut menangkupkan kedua tangannya di depan dada . Tentu saja hal itu membuat Puri tidak bisa menahan tawanya.


" Sudah, sudah baiklah aku memaafkan mu!" ucap Puri lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Namun sebelum dirinya benar-benar meninggalkan tempat itu, ia mendengar bahwa ada seseorang yang menghubungi suaminya.


" What's?" Hanya kata itu, yang keluar dari mulut Eza.


" Baiklah, kami pasti datang!" kemudian panggilan pun berakhir.


" Ada apa?" tanya Puri ketika telah berada di samping suaminya kembali.


Eza menghela napas panjang, sebelum menjawab pertanyaan sang istri.


" Arjuna!" jawab Eza dengan singkat.


Puri mengerutkan keningnya mendengar nama itu.


" Dia akan menikah lagi!" jawab Eza.


" Hah, menikah? lagi?" Puri ikut terperanjat mendengar jawaban dari suaminya.


Eza hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya.


" Maksudnya menikah lagi dengan Dhita?" Puri mulai penasaran.


" Bukan!" Eza menggelengkan kepalanya.


" Lalu?"


" Citra, Arjuna akan menikahi Citra besok pagi!" dan jawaban itu berhasil membuat Puri tercengang dengan mulut menganga.


" Apa? brengsek sekali!" Sontak kata-kata itu, keluar begitu saja dari mulutnya. Puri merasa sangat marah, karena sahabatnya akan di madu.


" Dan yang lebih mengejutkan ini adalah permintaan dari Dhita!" Karena memang itu yang ia dengar dari Arjuna.


" Apa? ya Tuhan sungguh ini ide paling gila yang pernah aku dengar." celoteh Puri dengan kedua mata Yang masih melotot. Puri merasa sulit untuk mempercayai tentang apa yang telah ia dengar.

__ADS_1


Ya, tidak hanya Puri bahkan semua orang yang mendengar kabar ini pasti akan mengira bahwa ini adalah ide yang paling gila yang pernah ada di muka bumi. Bagaimana tidak, seorang istri yang seharusnya menjaga suaminya dari godaan wanita lain, ini malah justru memintanya untuk menikah lagi.


" Sungguh, Dhita selalu menjadi yang berada di garda paling terdepan, orang dengan pemilik ide-ide gila." lanjut Puri dengan kesal yang hanya di balas dengan sebuah anggukan oleh suaminya.


" Sungguh, Arjuna sangat beruntung memiliki istri yang sangat pengertian!" gumam Eza, mengingat betapa beruntungnya seorang suami yang mendapat izin dari istrinya untuk menikah kembali.


Bukan apa-apa ia berkata seperti itu, melainkan ia hanya ingin menggoda istrinya yang terlihat sangat tegang dan kesal.


" Apa? jadi kau merasa tidak beruntung memiliki istri seperti diriku?" emosi Puri mulai naik, dari raut wajahnya menggambarkan suatu kekesalan.


" Oh tidak, bukan seperti itu maksudku," jawab Eza dengan cengar-cengir saja.


" Papa, mama aku mau gendong!" Ednan yang merasa tidak di hiraukan oleh kedua orang tuanya, segera menarik-narik ujung baju milik Eza dan Puri.


Mendengar rengekan putranya, Puri segera menarik napas panjang. Ia mencoba untuk tetap tenang di depan putranya yang hampir saja ia lupakan.


" Oh iya sayang, ayo papa gendong." Eza meraih tubuh kecil di depannya, lalu membawanya ke dalam pelukannya.


" Anak papa yang tampan, kita pulang yuk!" Eza mengajak putranya pulang, karena hari telah semakin sore.


Ednan pun mengangguk. Menyetujui ajakan ayahnya.


" Ok, let's go!" kemudian Eza melangkahkan kakinya menyusul sang istri yang telah jauh di depan.


Karena jarak rumah mereka dan taman tidak terlalu jauh, maka mereka hanya berjalan kaki saja pergi kesana.


Ednan si bocah cerdas yang selalu memiliki kelebihan dan membuat orang kagum padanya. Ednan tidak hanya cerdas melainkan ia juga sangat aktif. Tidak heran jika banyak orang yang ingin bermain bersamanya.


Seperjalanan pulang, tidak henti-hentinya Ednan di sapa oleh para tetangga yang kebetulan lewat di jalan itu. Banyak dari mereka yang menghabiskan waktu senggangnya di area taman itu hanya untuk menyegarkan pikiran.


" Hai, Ednan!" sapa seorang wanita yang sedang berpapasan dengannya.


" Ai, aunty!" Ednan membalas menyapa dengan melambaikan tangannya.


Serta senyum manis yang selalu tampil di wajah imutnya, memperlihatkan beberapa gigi susunya yang mulai tumbuh. Semakin lucu saja kelihatannya.


" Ednan, duh.... gemesnya!" seru wanita itu sambil mencubit pipi tembem Ednan.


Kemudian wanita itu berlalu sambil terus melambaikan tangan kepada Ednan, dan Ednan pun membalasnya dengan lambaian pula.


Di dalam hati Eza bersyukur karena telah dikaruniai putra yang cerdas, aktif dan juga tampan.


Rupanya ketampanan Eza menurun kepada Ednan, ketampanan yang selalu membuat Puri tergila-gila padanya.

__ADS_1


__ADS_2