Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 75 Kelahiran putra Andrian


__ADS_3

Hospital Bethesda Husada.


Di rumah sakit itulah Andrian membawa istrinya yang sedang ingin melahirkan.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh perawat yang sedang bertugas, kemudian membawa Bellinda ke ruang persalinan.


Andrian tidak pernah mengetahui bahwa di rumah sakit itulah Dhita sedang di rawat.


" Ya Tuhan, selamatkan lah istri dan anakku," ucap Andrian berdoa untuk keselamatan istri dan calon buah hatinya.


Di saat Andrian sedang panik tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya.


" Pak Setyo!" seru Andrian terkejut, melihat ayah dari Dhita berada di rumah sakit itu.


" Ya, sedang apa kamu di sini?" tanya pak Setyo merasa heran karena sejak tadi Andrian berdiri di depan ruang persalinan.


" Istri ku sedang melahirkan pak," ucap Andrian berterus terang.


" Semoga persalinan istrimu lancar dan selamat keduanya." do'a pak Setyo.


Kini rasa kesal dan kecewa yang selama ini melanda hatinya hilang sirna, bahkan pak Setyo telah menganggap Andrian sebagai keluarganya sendiri.


Kebetulan saat ini Andrian dan Bellinda hanya tinggal berdua, setelah beberapa bulan yang lalu kedua orang tua Andrian kembali ke Jerman.


Karena dari sanalah ayah Andrian berasal dan memiliki bidang usaha di sana, namun Andrian menolak untuk meneruskan mengelola usaha tersebut.


Dengan alasan ia ingin mandiri.


" Terimakasih pak!" ucap Andrian.


" Bapak sedang apa di sini?" tanya Andrian.


" Apa Dhita di rawat disini?" tanya nya lagi.


Tiba-tiba Andrian teringat Dhita yang sedang terluka dan membutuhkan pertolongan.


" Ya benar, putri saya sedang di rawat di ruang ICU." jawab pak Setyo.


Tiba-tiba terdengar suara bayi.


OOEEEKKKK


OOEEEKKKK


" Alhamdulillaah anak ku telah lahir pak," ucap Andrian penuh syukur. Sebuah senyum terbit di bibirnya


" Selamat ya nak Andrian," pak Setyo memeluk Andrian, rupanya juga ikut merasakan kebahagiaan yang sedang di rasakan oleh Andrian.


" Terimakasih pak, ini semua berkat do'a dari bapak." ucap Andrian penuh haru bercampur bahagia.


Kemudian pintu terbuka, menampilkan seorang perawat yang sedang menggendong seorang bayi.

__ADS_1


" Selamat ya tuan, bayi anda laki-laki." ucap perawat tersebut.


Semakin bertambah kebahagiaan Andrian ketika mengetahui bahwa istrinya melahirkan seorang putra.


Andrian meraih bayi itu lalu mengadzaninya.


Sungguh terdengar merdu suara Andrian saat mengadzani buah hatinya, yang diam seakan mendengarkan alunan suara Adzan yang di kumandangkan oleh ayahnya.


Bayi itu berkedip-kedip sambil menggeliat, lucu sekali.


Tangan kecil mungil itu menggapai wajah Andrian seolah ingin memeluknya.


Pak Setyo yang melihat semua itu tidak bisa menahan rasa terharunya, perlahan air mata mulai menetes di pelupuk netranya.


" Maaf tuan bayi ini harus segera di berikan kepada ibunya untuk pemberian ASI Eksklusive." ucap perawat tersebut saat Andrian selesai mengadzani putranya.


Tanpa berkata apapun lagi Andrian segera menyerahkan putranya kepada perawat tersebut.


Beberapa menit kemudian Bellinda di pindahkan ke ruang perawatan.


" Thankyou my wife," ucap Andrian memeluk istrinya yang baru saja di pindahkan dari ruang bersalin.


" You are welcome!" jawab Bellinda membalas pelukan Andrian.


Lengkap sudah kebahagiaan mereka berdua, hidup dengan penuh cinta serta memiliki momongan pula.


*


*


*


Rupanya Reyhan telah mengatakan semuanya tentang kondisi Dhita yang sangat memprihatinkan.


" Antarkan aku ke rumah sakit sekarang." pinta Rena sambil menangis.


Ia merasa sangat khawatir membayangkan kondisi sahabatnya saat ini.


" Sekarang terlalu malam, besok pagi saja lagi pula Dhita masih belum boleh di jenguk." jawab Reyhan mencoba memberi pengertian kepada istrinya.


" Kasihan mereka yang, seharusnya malam ini menjadi malam yang bahagia untuk mereka," ucap Rena sambil menghapus air mata yang terus menetes.


" Ya, kau benar Sayang, tapi kalau di pikir- pikir bukan cuma mereka yang merana, di sini aku pun jauh lebih merana," Reyhan berseloroh demi menenangkan hati istrinya, yang langsung mendapat cubitan dari Rena.


" AW, sakit yang," pekik Reyhan kesakitan.


" Biar, biar tau rasa kamu," ucap Rena.


Melihat suaminya tersenyum, Rena pun ikut tersenyum.


" Nah begitu, senyum itu lebih baik dari pada menangis," ucap Reyhan.

__ADS_1


" Kamu bisa saja ."


" Papa sudah tidur?" tanya Reyhan, ia teringat akan pak Teddy karena sebelum pergi Reyhan tidak sempat berpamitan.


" Sudah sejak tadi." jawab Rena, ia sengaja memberikan alasan lain tentang kepergian suaminya agar tidak membuat pak Teddy khawatir.


Mendengar penjelasan dari istrinya, Reyhan merasa lega karena ia khawatir kalau penyakit jantung ayah nya akan kambuh ketika mengetahui yang sebenarnya.


" Terimakasih ya sayang, kau telah membantuku mengurus Papa." ucap Reyhan bersyukur karena memiliki istri yang cukup pengertian.


" Ya, honey, aku akan mengurus Papa selayak nya aku mengurus orangtuaku sendiri." jawab Rena meyakinkan suaminya, bahwa ia telah memilih wanita yang tepat untuk di jadikan istri.


Karena malam semakin larut, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidur.


Malam ini terasa begitu panjang dan melelahkan.


*


*


*


Sementara itu di kediaman Eza sama seperti yang dilakukan oleh Rena, Puri pun menangis sesenggukan mendengar kabar berita yang di bawa oleh Eza, suaminya.


Ia tidak sanggup membayangkan jika sampai sahabatnya itu tidak mendapat kan donor hati untuk menyelamatkan nyawanya.


" Bagaimana jika dia tidak sembuh?" tanya Puri kepada Eza yang saat itu baru saja tiba dari rumah sakit.


Sepulang dari kantor polisi, Eza mengantar Arjuna terlebih dahulu ke rumah sakit. Setelah itu ia langsung pulang untuk melihat keadaan istrinya yang sedang hamil muda.


" Jangan terlalu di pikirkan, do'a kan saja semoga Dhita segera mendapat transplantasi liver, ingat di dalam rahimmu ada buah hati kita yang juga membutuhkan ketenangan dan kesehatan dari dirimu," ucap Eza berusaha menenangkan istrinya agar berhenti menangis.


Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu, melainkan karena memikirkan kesehatan istri dan bayinya agar tidak terkena stress.


Ibu hamil harus selalu bahagia.


Itu saran dari dokter kandungan tadi sore, sebelum Puri pulang dari rumah sakit.


" Ya, aku tau itu, tapi Dhita itu orang baik, mengapa dia di beri cobaan seberat ini, apa salahnya?" ucap Puri di antara Isak tangisannya.


" Tenanglah, kasihan anak kita nanti." Eza mengelus perut Puri yang saat itu sedang duduk di sisinya.


Walaupun perut itu masih rata akan tetapi Eza bisa merasakan keberadaan buah hatinya di dalam sana.


Mendengar bujukan dari suaminya yang penuh perhatian, akhirnya berangsur-angsur Puri merasa tenang.


" Ayo kita tidur, ibu hamil harus banyak istirahat dan jangan tidur terlalu malam." Eza mencoba mengingatkan istrinya, namun tetap dengan lemah lembut karena ia khawatir akan menyinggung perasaan Puri yang sangat sensitif.


Puri yang juga merasa lelah, menyetujui ajakan suaminya.


Entah kenapa sejak kehamilannya Puri sering merasa kelelahan walaupun ia tidak melakukan aktifitas yang berat.

__ADS_1


Malam pun semakin larut, semua manusia terbuai ke dalam alam mimpi masing-masing.


__ADS_2