
"Hallo Ans, apa kau sibuk hari ini?" tanya seorang wanita yang sedang menghubungi Ans lewat ponselnya.
"No, I'm not busy!" jawab Ans dengan suara datar.
"Keluar yuk, hari ini aku merindukanmu,"
"Ok, aku jemput dirimu!"
Ans menekan tombol off, panggilan pun berakhir.
Ans yang baru saja menyudahi makannya, segera beranjak setelah meminta izin kepada Fanny dan Jason.
"Pergilah, dan jaga dirimu baik-baik!" pesan Fanny.
"Ok ma Thanks." Ans pun berlalu setelah tersenyum kepada Jason dan dibalas oleh senyuman pula.
"Lihatlah dirinya, semakin dewasa pergaulannya semakin bebas dan aku yakin itu akan membuat Arjuna akan merasa sangat bersalah dan menyesali dirinya sendiri." ucap Jason dengan senyum tipis di bibirnya.
Fanny membayangkan betapa hancurnya hidup Arjuna dan Dhita ketika mereka mengetahui bahwa putra mereka telah tumbuh menjadi seorang pria tampan namun kejam dan tidak beradab.
Fanny tersenyum.
"Ya, aku juga tidak sabar melihat Ans membalaskan dendam ku kepada orang tuanya sendiri." celetuk Fanny dengan seringai tipis di bibirnya.
"Aku merasa beruntung dengan semua saran darimu, jika saja tidak, maka aku tidak akan mendapatkan kasih sayang dan kepercayaan darinya." tambah Fanny.
Mengingat betapa Ans sangat menyayanginya hingga tidak satupun dari permintaannya yang di abaikan oleh Ans.
Jason mengangguk senang mendengar pujian dari wanita yang tidak pernah di nikahinya. Namun, bertahun-tahun hidup bersama. Dan Ans, tidak pernah mengetahui akan hal itu.
Memang Fanny yang dahulu tidak begitu perduli dan terkesan menyia-nyiakan Ans, berkat saran dari Jason untuk berpura-pura menyayanginya.
Dan rencana itu berhasil membuat Ans mempercayai Fanny dan juga Jason, bahwa mereka sangat menyayangi dirinya.
Di sebuah bar yang terkenal di negri itu, Ans dan Erika mulai memesan minuman kesukaan mereka. Erika dan Ans memang telah terbiasa dengan suasana di bar itu, bahkan mereka tidak tanggung-tanggung meneguk minuman hingga mereka berdua mabuk berat.
"Ada apa, Ans? mengapa wajahmu terlihat muram?" tanya Erika ketika ia memandang wajah pria yang sedang duduk di sampingnya dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Biasanya Ans, jika berada di antara teman-temannya. Ia selalu terlihat paling kharismatik. Namun, kali ini sangat berbeda ia lebih banyak diam, dan tidak terlihat senyum sama sekali.
"Tidak apa-apa, hanya saja banyak pikiran." jawab Ans santai.
"Minumlah seteguk lagi, aku yakin kau akan merasa jauh lebih baik!" Erika menyodorkan gelas yang telah ia tuangi minuman beralkohol.
__ADS_1
Ans pun menurut, telah terbiasa baginya meneguk minuman keras itu, sebanyak apapun yang ia minum, Ans tidak pernah perduli.
"Tambah lagi!" pinta Ans.
Erika pun menuangkan kembali minuman keras dari botolnya.
"Tambah lagi!" pinta Ans kembali menadahkan gelasnya di atas meja bar tender.
Erika pun kembali menuangkan bir, dan itu terjadi hingga berkali-kali.
Sampai pada Akhirnya Ans mabuk. Dengan, kepala yang terasa berputar-putar Ans mencoba untuk bangkit dari duduknya.
Namun, karena kondisinya yang mabuk membuat Ans sedikit terhuyung hampir saja terjatuh.
Erika yang melihat akan hal itu, segera membantu Ans, ia menopang tubuh pria tampan yang di sukainya agar tidak sampai terjatuh.
"Kau mau kemana, Ans?" tanya Erika ketika ia melihat Ans berbicara sedikit ngelantur.
Ans menatap wajah cantik Erika dengan intens, kemudian, ia tersenyum.
"Bagaimana kalau kita bermain dulu, pasti sangat mengasyikkan." pinta Ans di tengah mabuknya.
Bermain dalam arti kata sebuah permainan yang saling memuaskan satu sama lain, dan itu telah terbiasa Ans lakukan dengan para wanita yang sedang dekat dengannya.
Di negara itu, hubungan tanpa pernikahan bukanlah masalah. Seakan itu telah menjadi terbiasa di sana.
Walaupun usianya masih terbilang muda, Ans telah terbiasa melakukan hal itu. Disebabkan karena tidak ada pendidikan norma-norma adab kehidupan di dalam hidupnya. Membuat Ans seakan buta. Ya, buta dalam arti kata tidak memiliki pengetahuan tentang agama.
"Oke, siapa takut!" jawaban Erika membuat Ans sedikit tersenyum.
Dengan langkah terhuyung-huyung, Ans yang di bantu oleh Erika berjalan menuju deretan kamar yang berada di dalam bar tersebut.
Dengan setengah sadar, Ans memasuki salah satu kamar itu bersama Erika yang juga tidak ingin menolak keinginan pria itu.
Erika adalah type wanita yang terbiasa dengan pergaulan bebas, berhubungan langsung dengan pria bukanlah masalah baginya.
"You are beautiful," Ans membelai wajah Erika, dan wanita itu menikmati sentuhan Ans.
"You Are handsome too," bisik Erika saat Ans telah mendekatkan bibirnya ke bibir Erika.
Tak dapat dielakkan lagi, kedua bibir saling bertautan. Saling mengecup dan saling menyesap satu sama lain.
Suasana semakin panas, membuat kedua manusia yang sedang menikmati indahnya bara kemesraan semakin memperdalam setiap sentuhannya.
__ADS_1
Telah terbiasa bagi mereka tanpa rasa cinta ataupun ikatan melakukan hubungan selayaknya suami istri.
"Oh, Erika!"erang Ans di tengah kenikmatan yang ia berikan kepada wanita itu.
"Ans," desah Erika terbuai dalam setiap sentuhan pria tampan yang sedang mengukung tubuhnya.
Kenikmatan demi kenikmatan mereka nikmati bersama, suara ******* dan erangan memenuhi setiap sudut ruangan.
Tak ada yang mampu mereka ucapkan selain saling mendesah, saling mengerang menyebutkan nama masing-masing.
"Akkh," desah Erika saat pria tampan itu menyudahi pergulatannya.
Dengan napas memburu, Ans merobohkan tubuhnya di samping Erika.
"Thankyou baby," bisik Ans di telinga Erika.
"You're welcome." balas Erika berbisik pula.
Kemudian Ans maupun Erika mengusap keringat di tubuh masing-masing.
"Maaf, aku harus pergi!" ucap Ans seraya memungut kembali pakaiannya yang telah berhamburan di sembarang tempat.
Namun, tidak dengan Erika. Wanita itu terlihat santai di atas ranjang tanpa menggunakan busana sehelai benangpun.
Melihat Ans yang hendak memakai kembali pakaiannya, Erika segera bangkit dari ranjangnya dengan tubuh polos alami.
"Kau yakin, akan meninggalkan diriku secepat ini?" bisik Erika seolah mendesah di telinga Ans.
Membuat Ans menatap kepada wanita itu.
"Ayolah, masih ada banyak waktu untuk kita bersenang-senang!" Erika mengalungkan kedua lengannya di leher Ans.
"Mungkin ini terakhir kali kita bertemu," ucap Ans, lalu ******* bibir manis nan kenyal milik wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Erika ketika Ans melepaskan tautan bibirnya.
Erika menatap wajah tampan milik Ans dengan tatapan sempurna.
"Besok aku dan keluargaku, akan kembali ke Indonesia!" jawab Ans tegas.
"Oh, Really?" bisik Erika lemah.
Ans hanya mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun.
__ADS_1
Lama mereka saling menatap satu sama lain, di antara tubuh yang sama-sama polos.
Dan tidak dapat di hindari lagi, mereka melakukannya sekali lagi.