Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 43 Kenangan yang tersimpan


__ADS_3

Citra hanya bisa berdecak kesal membaca balasan chat dari dhita keinginannya membuat wanita itu cemburu ternyata gagal total, itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini. Citra tidak tau saja kalau dhita sedang menangis semalaman sampai-sampai ia tertidur di dalam tangisnya.


*


*


*


Di ufuk timur sang fajar mulai menyingsing, pelahan-lahan merangkak menjemput pagi. Desir angin perlahan berhembus menyapa alam semesta.


Pagi itu dhita sedang berkemas untuk pergi bekerja, tiba-tiba saja ia teringat dengan andrian. Ia menduga bahwa issue yang telah beredar di seluruh jagad raya pasti telah sampai pada bellinda, istri dari andrian. " Bagaimana dengan hubungan mereka ? apa bellinda akan salah paham sama seperti mas arjuna ?" pikir dhita.


Karna dhita merasa terus kepikiran dengan andrian dan bellinda, ia takut kalau-kalau mereka bertengkar karenanya.


" Ini gak bisa di biarin, aku harus menemui mereka ." gumam dhita pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat gelisah.


Dhita mengambil ponselnya yang sedang di chas di atas meja yang terletak di dalam kamarnya.


Dhita mengirim pesan meminta alamat rumah andrian, cukup lama ia menunggu namun pada akhirnya ia tersenyum ketika mendapat jawaban dari abang nya.


" Ren !" panggil dhita pada sahabatnya. Saat ini ia sedang di ruang tamu bersiap hendak pergi ke rumah andrian.


Rena menghampiri dhita dengan membawa sebuah piring berisi sepotong roti tawar yang di olesi slai blueberry di tangannya. Ia berniat mengantarkan makanan itu untuk sarapan pagi sahabatnya.


" Ya dhi... mau kemana ?" tanya rena merasa aneh dengan penampilan sahabatnya itu.


" Kok tumben pakai kacamata segala ." rena benar-benar heran dengan penampilan dhita, berhijab abu-abu dan memakai kacamata hitam lebar pula. Style yang belum pernah di tampilkan oleh dhita sebelumnya.


" Masa' iya sih ren, aku keluar dengan mataku yang membengkak ini ." dhita melepas kacamata hitamnya tampak lah sepasang mata yang telah membengkak karna semalaman menangis dan berhenti saat dirinya telah tertidur.


" Ya ampun dhi.... mata mu kok..." dhita berniat menyentuh kedua kelopak mata sahabatnya yang membengkak hingga terdapat lingkaran hitam di sekitarnya.


" Ah, kamu ini lebay deh ." ucap dhita sembari menepis tangan rena. Kemudian memakai kembali kacamata lebarnya yang berwarna hitam.


" Aku pergi dulu ren !" dhita berbalik badan.


" Eh... gak sarapan dulu ?" tanya rena menghentikan langkah sahabatnya.


Dhita kembali menghampiri rena dan meraih sepotong roti tawar tadi lalu mengunyahnya.

__ADS_1


" Thankyou my friend !" seru dhita sambil berlalu dengan terus mengunyah roti di dalam mulutnya.


" Hati-hati dhi..." seru rena saat sahabatnya telah berada di luar pintu.


Dhita tidak menjawab ia terus saja melangkah pergi meninggalkan area apartement, tubuhnya menghilang di balik pintu lift yang tertutup.


*


*


*


Dengan menggunakan jasa taxi online langganannya dhita pergi ke rumah andrian, selang beberapa menit kemudian ia pun tiba di depan rumah mewah yang cantik. dhita masuk melalui pintu gerbang yang telah terbuka, rupanya andrian telah memerintah security untuk menyambut kedatangannya.


" Selamat pagi nona ." sapa security sambil menganggukkan kepala dengan sopan.


" Pagi, pak andrian ada ?" tanya dhita berbasa-basi walau ia tau andrian sedang berada di rumahnya.


" Ada nona, silahkan masuk ." security.


Dhita hanya menganggukkan kepala dengan senyum manis di bibirnya.


Dhita melangkah memasuki halaman rumah andrian, ia merasa kagum dengan segala kemewahan serta hijaunya pemandangan. Dengan langkah perlahan ia memasuki halaman, namun tiba-tiba saja ia tertegun membuat langkahnya terhenti. Kedua matanya terpana dengan sekelompok bunga lavender yang tumbuh subur di halaman rumah.


" Bang, jadi kamu masih setia merawat bunga ini ." gumam dhita pada dirinya sendiri.


Dhita teringat tentang bunga lavender yang pernah ia berikan dulu kepada andrian, sesaat sebelum mereka berpisah dan sebelum terjadinya tragedi pernikahannya yang gagal sebelum di mulai.


Tanpa ia sadari ada seseorang yang melangkah dan menepuk pundaknya.


" Hei, dhi....ta..." sapa bellinda, dari jendela ia melihat dhita yang sedang termenung di halaman rumah, lalu segera bergegas menghampirinya.


" Hai... bellinda... apa kabar ?" dhita bertanya dengan seulas senyuman manis di bibirnya.


" Mir geht es gut, wie geht es dir ?" ucap bellinda dengan gaya bahasa negaranya. Bahasa jerman, reflek dhita mengernyitkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Ngomong apa ya.. dia.." pikir dhita tidak mengerti dengan ucapan wanita jerman yang berdiri di depannya.


Bellinda menahan senyum dengan reaksi dhita, apalagi wajahnya yang seketika berubah merah padam, bukan karna emosi melainkan karna sedang bingung memikirkan apa yang di katakan bellinda.


__ADS_1


Bellinda wanita berdarah jerman - indonesia.



Andrian alvaro.


" Kabar aku baik, bagaimana kabarmu ?" bellinda mengulangi ucapannya dalam bahasa indonesia.


Seketika mimik wajah dhita berubah. " Oh, itu rupanya arti dari ucapannya tadi ." bisik dhita dalam hati sambil senyum-senyum malu.


" Aku baik kok, bang andrian mana ?" dhita bertanya lagi karna tidak melihat sosok pria itu di sana.


" Ada, ayo masuk ngapain kamu bengong disini ?"


" Aku suka aja lihat bunga-bunga itu ." dhita menunjuk ke arah bunga lavender yang sedang bergoyang di terpa angin. Dhita sengaja berbohong karna ia tidak ingin menyakiti hati bellinda bahwa suaminya masih menyimpan satu kenangan bersama nya waktu dulu, baginya cukup ia saja yang tau.


" Oh, itu andrian sendiri yang merawat, setiap hari selalu di siram katanya bunga ini sangat berharga ." tutur bellinda sejujurnya. Sebab andrian pernah mengatakan hal itu padanya.


Degh.


Dhita merasa terkejut dengan pernyataan bellinda ternyata andrian masih menyimpan pemberiannya di tempat yang aman. " Seberarti itukah diriku baginya ?" dhita kembali termenung hanyut dalam lamunannya. Ia tersadar ketika tubuhnya terguncang karna tangannya di tarik oleh bellinda. " Ternyata wanita ini sangat halu ." pikir bellinda terus menuntun tangan dhita hingga sampai di dalam rumah.


" Kamu sama siapa dek ?" tanya andrian saat ia keluar dari kamarnya dan melihat kedatangan dhita.


" Sendiri bang ." jawab dhita cepat.


Setelah dipersilahkan duduk oleh bellinda, dhita menjelaskan maksud kedatangannya.


" Aku takut terjadi sesuatu pada kalian, karna salah paham ." ucap dhita di akhir ceritanya.


Bellinda memandang andrian yang juga melakukan hal yang sama.


" Oh tentu saja tidak, bukankah hubungan kalian hanya sebatas kakak-adik ?" tanya bellinda.


" Ya itu benar ." jawab dhita singkat.


" Aku rasa tidak ada alasan untuk merasa cemburu kepada kalian ." ucap bellinda. Sebenarnya ia masih teringat dengan jelas kemarin bagaimana dirinya yang sangat cemburu dengan hubungan suaminya dan dhita.


" Syukurlah ." ucap dhita merasa lega.

__ADS_1


" Sering-sering ya main kemari, aku bosan sendirian di rumah ." ucap bellinda mengusap perutnya yang membuncit.


Sementara andrian merasa lebih tenang menyaksikan kedekatan dua wanita yang sangat di sayanginya.


__ADS_2