Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 145 Oh Dhita


__ADS_3

Operasi berlangsung selama satu jam, para tim dokter masih tetap bekerja keras mengeluarkan bayi-bayi mungil dari dalam perut ibunya.


" Oeekk...oeekkk...oeekkk..!" suara tangis bayi kembar itu menggema memenuhi ruangan.


" Alhamdulillah, terima kasih sayang!" Arjuna tersenyum seraya mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


" Selamat tuan, bayi anda lahir dengan selamet." ucap dokter Eina seraya terus membantu dokter Alya yang saat ini sedang melakukan penjahitan di luka yang menganga lebar akibat goresan operasi.


Arjuna tersenyum bahagia mendengar ucapan dokter Eina.


Namun seketika senyuman itu hilang, ketika ia merasakan kulit istrinya yang dingin.


" Dok apa yang terjadi?" tanya Arjuna ketika melihat para tim dokter sedang panik dan kebingungan.


" Maaf tuan, ada masalah di luar dugaan kami." jawab dokter Alya seraya terus melakukan tugasnya dengan baik.


" Cepat siapkan transfusi darah, pasien mengalami pendarahan!" perintah dokter Alya kepada anggota timnya.


Secepat kilat tim dokter segera melakukan tugasnya, namun sebelum mereka selesai memasang transfusi darah tiba-tiba terdengar bunyi layar monitor.


TIIIT


TIIIT


TIIIT


Tubuh Dhita berguncang hebat, hingga menggetarkan seluruh persendiannya.


" Dok, ada apa ini?" tanya Arjuna mulai panik melihat kondisi istrinya.


Air mata Arjuna terjatuh membasahi pipinya, ia tak kuasa melihat Dhita yang tersiksa di dalam proses persalinannya.


" Ya Allah, selamatkan istriku." bisik Arjuna lirih.


Namun seorang perawat memanggilnya.


" Tuan, silahkan di kumandangkan adzan untuk putra-putri anda!" ucap perawat yang telah selesai membedong kedua bayi kembar itu.


Bayi-bayi itu terlihat lucu sekali, kulitnya yang berwarna merah serta suara tangisannya yang kencang menjadi ciri khas untuk mereka.


Dengan berat hati, Arjuna meninggalkan istrinya untuk mengadzani kedua bayi kembarnya.


Arjuna meraih salah satu dari bayinya secara bergantian untuk di kumandangkan adzan di telinganya.

__ADS_1


Dengan suara berat antara rasa bahagia dan rasa sedih, mengingat kondisi istrinya yang sangat mengkhawatirkan. Arjuna meneteskan air mata menatap wajah-wajah imut kedua bayinya yang hanya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


" Dady sayang kalian!" bisik Arjuna lirih, lalu mengembalikan bayi-bayinya kepada perawat itu.


Dan betapa terkejutnya Arjuna saat ia membalik badan, dan melihat semua tim dokter menundukkan kepala berdiri berjejer di samping istrinya.


" Ada apa ini, dok?" tanya Arjuna heran melihat semua itu.


Namun tak seorang pun yang berani menjawab, para dokter masih menunduk tanpa berani menatap wajah pria itu. Arjuna yang merasa tidak di respon kembali bertanya.


" Cepat jawab ada apa?"


Salah seorang dari para dokter memberanikan diri untuk menjawab.


" Maaf tuan, kami telah berusaha melakukan yang terbaik." ucap dokter Eina mewakili yang lain.


" Tapi...tuhan, berkehendak lain." lanjut dokter Eina, dan itu membuat Arjuna terkejut dan menghambur ke arah istrinya.


" Tidak..! tidak mungkin, tidak mungkin istriku tiada." ratap Arjuna memeluk tubuh Dhita yang terbujur di tempat operasi.


Arjuna mendekap tubuh Dhita dengan erat, tangis yang sedari tadi ia tahan, kini pecah tak terbendung lagi.


" Bangun, sayang... bangun, apa kau tidak ingin melihat putra-putri kita? mereka tampan dan cantik seperti dirimu hiks...hiks...hiks ..," Arjuna masih tetap memeluk erat tubuh istrinya yang telah tiada, seakan tidak ingin melepaskannya.


Akhirnya salah satu dari anggota dokter berjalan keluar hendak menemui pihak keluarga yang telah menunggu di luar sedari tadi. Mereka datang sesaat setelah Arjuna dan Dhita masuk ke dalam ruangan itu.


Mereka hendak meminta bantuan pihak keluarga untuk menenangkan Arjuna.


Mommy Rita dan Rena segera berhambur memasuki ruang operasi, dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Arjuna senang memeluk erat tubuh istrinya yang terbujur tak bernyawa.


Mommy Rita maupun Rena tidak kuasa menahan air mata yang seakan mengalir begitu saja, melihat tubuh orang yang mereka sayangi telah terbujur tak bernyawa.


" Arjuna, tabahkan hatimu nak, biarkan dia pergi dengan tenang!" ucap mommy Rita di antara tangisnya.


" Ar, kau harus tabah menghadapi semua ini, demi anak-anak mu!" ucap Rena, meskipun jauh di dalam relung hatinya ia merasakan hak yang sama.


Rasa kehilangan orang yang mereka sayangi memang sangat menyakitkan.


Arjuna hanya menangis terisak tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia tidak tahu apakah ia harus bahagia karena kelahiran kedua bayi kembarnya ataukah merasa sedih karena kehilangan.


" Ar, lepaskan dia nak, biarlah istrimu pergi dengan tenang !" ucap mommy Rita berusaha menstabilkan emosi putranya.


" Dhita baik-baik saja, dia tidak akan pergi kemanapun, dia akan tetap bersamaku membesarkan putra putri kami dengan bahagia!" Sergah Arjuna, ia tidak suka jika ada yang mengatakan Dhita telah tiada.

__ADS_1


Arjuna menangis memandangi wajah cantik sang istri.


" Ooeeekk...ooeekkk...oeekkk!" suara tangis si kembar yang seolah mengerti jika ibu mereka telah tiada.


Mendengar suara tangisan kedua bayi mungil itu, membuat Rena dan mommy Rita ingin segera ia menggendong mereka.


Bayi-bayi mungil yang malang!


" Dhita putriku!" teriak Bu Safitri ketika memasuki ruangan itu. Melihat tubuh putrinya yang telah terbujur tak bernyawa.


Sebelumnya Rena yang menghubungi mereka yang sedang menginap di rumah Bastian.


Tanpa memperdulikan ucapan dokter yang meminta mereka untuk pergi meninggalkan jenazah Dhita.


" Putriku, putriku sayang!" lirih mommy Rita.


Kemudian ia hendak meraih putrinya, berniat memeluk walaupun hanya ada sebentar.


" Jangan sentuh istriku! dia sedang tidur!" ! ucap Arjuna yang langsung membuat semua orang saling berpandangan.


Mereka merasa ada yang berubah dari diri Arjuna. Dan ini mungkin disebabkan karena ia terlampau merasa kehilangan.


" Nak Ar, ibu hanya ingin memeluknya untuk yang terakhir kalinya." ucap Bu Safitri.


" Istriku tidak akan kemana-mana dia akan bersamaku!" Arjuna masih tidak terima mendengar istrinya di anggap telah tiada, apalagi oleh ibunya sendiri.


Kemudian Arjuna kembali menatap istrinya.


" Maafkan aku sayang, karena diriku kau harus menerima semua penderitaan ini, jika saja aku datang tepat waktu, kau pasti tidak akan mengalami semua ini." Lirih Arjuna penuh sesal.


Kembali teringat oleh dirinya tentang Dhita yang telah berkali-kali menghubunginya namun tetap tidak bisa terhubung.


" Sekali lagi maafkan aku sayang." Arjuna menangis kembali penuh derai air mata.


Tiba-tiba Arjuna beranjak dari tempatnya berjalan menuju ke arah kedua bayinya.


Arjuna meraih seorang bayinya lalu di bawa ke arah ibunya,


Arjuna meletakkan bayi itu tepat di dada Dhita, kemudian ia kembali meraih bayi perempuannya dan membawanya ke arah ibunya nya.


" Ar yang kau lakukan ?" tanya Bu Safitri ketika melihat apa yang di lakukan oleh Arjuna.


Sungguh membuat dirinya merasa aneh.

__ADS_1


__ADS_2