
" Ada apa ....eh...?" pak Setyo merasa bingung harus memanggil Arjuna dan Eza dengan sebutan apa, sebab mereka belum memperkenalkan diri masing-masing.
" Saya Arjuna pak dan ini sahabat saya Eza," jawab Arjuna memperkenalkan diri dan juga Eza, rupanya ia mengerti apa yang sedang di pikirkan oleh pak Setyo.
" Eh ya, nak Arjuna sama nak Eza mari kita ke rumah bapak dulu," ajak pak Setyo mengajak kedua tamunya untuk singgah ke rumahnya.
" Baik pak Setyo, terima kasih." ucap Arjuna yang di ikuti oleh Eza.
Kemudian Arjuna dan Eza mengikuti langkah pak Setyo yang berjalan agak jauh di depan.
Jalanan yang sempit dan berbatu, membuat Arjuna dan Eza tidak bisa mempercepat langkah nya.
Biasa modelan orang kaya kemana-mana pakek mobil, sekali jalan langsung di jalanan yang mulus.
Di rumah sederhana yang tampak mulai tua namun masih terlihat lebih besar dari pada rumah-rumah yang lain.
Di rumah itulah Dhita Pratiwi dilahirkan dan tumbuh menjadi wanita Sholeha yang mengagumkan.
Walau sebenarnya Dhita sering mengirimi kedua orang tuanya itu uang di setiap bulannya, namun uang itu mereka tabung untuk masa depan putrinya. Tak pernah mereka gunakan uang itu untuk keperluan sehari-hari apalagi untuk memperbaiki bangunan rumah. Karena sampai saat ini pak Setyo masih bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
" Ada perlu apa nak Arjuna kemari?" tanya pak Setyo ketika mereka telah duduk diruang tamu. Karena ia sama sekali belum pernah mendapat kabar dari putrinya tentang kedatangan tamunya kali ini.
" Apa benar anda pak Setyo bapaknya Dhita?" tanya Arjuna
Bu Safitri yang mendengar kedatangan tamu, segera bangkit dari tidurnya, walau sebenarnya ia telah terbangun sejak tadi.
" Ya benar nak Arjuna, ada apa?" tanya pak Setyo lagi, lalu ia bertanya lagi dengan wajah yang mengkerut.
" Apa ada masalah dengan Putri bapak?"
Arjuna terlihat bingung ia tidak tau harus memulai dari mana.
Arjuna melirik Eza yang sedang mendongakkan kepala, melihat ke sekeliling ruangan.
Arjuna menyepak kaki Eza, membuat Eza seketika menoleh.
Pak Setyo yang melihat semua itu segera berkata.
" Apa Ada masalah dengan Putri ku?" pak Setyo mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan pak Setyo Eza pun mengerti alasan Arjuna menyepak kakinya.
" Oh, ada tamu rupanya," ucap bu Safitri dari arah dalam rumah, kemudian terlihat ia sedang membawa tiga gelas teh hangat. Ternyata bu Safitri baru selesai membuat teh hangat untuk tamu dan suaminya.
Bu safitri menyuguhkan minuman tersebut sambil tersenyum.
Eza dan Arjuna merasa takjub dengan wajah Bu Safitri yang mirip sekali dengan Dhita, rupanya Dhita mewarisi kecantikan dari ibunya, walau sudah paruh baya namun bu Safitri masih terlihat cantik.
Degh.
Tiba-tiba Arjuna teringat sebuah foto yang pernah ia lihat ketika masih kecil. " Kok agak mirip ya...." pikir Arjuna.
" Silahkan di minum nak...." ucap bu Safitri memecah lamunan Arjuna.
" Arjuna dan ini teman saya Eza," jawab Arjuna memperkenalkan diri, karena Bu Safitri terlihat bingung akan memanggilnya apa.
" Iya nak Arjuna dan nak Eza silahkan di minum." Bu Safitri kemudian duduk di sebelah suaminya.
Arjuna dan Eza menyeruput teh hangat yang di suguhkan, kebetulan sekali mereka berdua sedang merasa kedinginan. Air teh hangat membuat suhu tubuh mereka menjadi lebih nyaman.
Arjuna berdehem mengumpulkan segenap keberanian untuk melamar Dhita, mengingat waktunya yang sangat terbatas.
" Sebenarnya kedatangan saya kemari, ingin melamar putri bapak dan ibu." ucap Arjuna sopan langsung pada topik pembicaraan.
" Saya sudah lama mengenal Dhita bahkan kami pernah menjalin hubungan tapi pada akhirnya..." Arjuna terdiam, tidak mungkin baginya mengatakan bahwa ia pernah mengharamkan cintanya kepada Dhita.
Eza yang mengerti pemikiran Arjuna hanya diam saja.
" Pada akhirnya kenapa nak Arjuna?" tanya Bu Safitri dengan gelisah. Mengingat putrinya yang pernah gagal dalam suatu hubungan.
" Dhita meminta saya agar melamarnya kepada bapak dan ibu untuk membuktikan keseriusan saya!" ucap Arjuna dengan hati-hati karena ia takut akan salah bicara.
" Jadi, jika putri saya tidak menyuruhmu untuk melamar, apa kamu tidak akan melamarnya?" tanya pak Setyo agak sinis.
" Bukan, bukan begitu pak, maksud saya...." Arjuna terlihat kebingugan.
" Begini pak Setyo, sahabat saya ini sangat mencintai putri bapak, tapi putri bapak selalu menghindar darinya hingga pada akhirnya dia berkata jika teman saya ini memang serius maka dia meminta Arjuna untuk melamarnya, karena putri bapak tidak ingin menjalin hubungan tanpa ikatan yang jelas." Eza yang lebih berpengalaman menjelaskan kepada orang tua Dhita.
Pak Setyo manggut-manggut tanda mengerti dengan penjelasan Eza.
__ADS_1
" Sebagai seorang wanita memang seperti itu seharusnya!" ucap pak Setyo lalu bertanya kepada istrinya.
" Bukankah begitu bu?"
" Iya pak, yang Dhita lakukan memang benar!" jawab bu Safitri.
" Kami sangat bangga kepada putri kami, jika seandainya dia memilih untuk berpacaran dengan nak Arjuna, maka sama saja dia telah terjerumus dalam perkara yang di haramkan oleh agama, jadi sebenarnya putri kami bukan menolak nak Arjuna melainkan dia ingin nak Arjuna dan juga dirinya terjaga dari hal-hal yang melanggar syari'at agama Islam." Tutur pak Setyo panjang lebar.
Arjuna dan Eza manggut-manggut mencoba memahami ucapan pak Setyo, di dalam hati mereka kagum melihat pria paruh baya yang sangat berwibawa duduk di depannya.
" Jadi, bapak dan ibu menerima lamaran saya?" tanya Arjuna penuh ragu
" Ya, tidak ada alasan bagi kami untuk menolak lamaran nak Arjuna, jika putri kami sendiri yang meminta itu tandanya dia telah siap, kami sebagai orang tua hanya berpesan kepada nak Arjuna untuk selalu menjaga putri kami dengan baik, buat dia selalu bahagia dan jangan pernah membuatnya menderita." ucap pak Setyo penuh penekanan di setiap kata-katanya, menandakan dirinya sedang serius.
Degh.
Arjuna terkejut.
" Apa kalau seandainya orang tua Dhita mengetahui apa yang telah aku lakukan kepada putrinya, apa mungkin mereka mau menerima lamaran ku?" batin Arjuna bertanya-tanya.
" Nak Arjuna apa mungkin kamu bisa menerima putri kami dengan segala kekurangannya?" Bu Safitri bertanya, keraguan mulai menyelubungi relung hatinya.
" Apa keluarga mu sudah mengetahui semua ini?" tanya Bu Safitri lagi. Mengingat dulu putrinya yang menjalani hubungan asmara tanpa ijin dari orang tua Andrian, membuat putrinya harus merasakan kepahitan hidup yang amat dalam, Bu Safitri hanya tidak ingin itu semua terjadi lagi.
Arjuna tersentak seperti mendengar badai petir, bagaimana mungkin ia melakukan semua itu tanpa sepengetahuan mommy Rita.
Ya, memang Arjuna belum sempat untuk mengatakannya kepada mommy Rita karena keadaan yang begitu mendesak. Tapi Arjuna bertekad untuk menceritakan semuanya tanpa terkecuali setelah ia pulang nanti.
" Iya Bu, sudah," jawab Arjuna berbohong karena ia tidak ingin lamarannya di tolak.
" Oh, syukurlah," ucap bu Safitri merasa lega, kini tidak ada lagi yang harus di khawatirkan.
Setelah cukup berbincang-bincang, akhirnya Arjuna mengajak pak Setyo dan Bu Safitri untuk ikut bersamanya ke kota, bukan hanya untuk menghadiri acara pernikahan Rena dan Reyhan, melainkan Arjuna sedang merencanakan sesuatu untuk melangsungkan acara pertunangannya dengan Dhita pada hari itu juga.
Pak Setyo berpikir cukup lama mempertimbangkan permintaan calon menantunya. Lalu kemudian ia pun berkata.
" Baiklah kami akan ikut denganmu anak muda," ucap pak Setyo dengan senyum sumringah.
Tak terbayangkan betapa bahagia putrinya ketika melihat kehadirannya bersama Arjuna orang yang akan menjadi calon suami dari putrinya.
__ADS_1
" Terima kasih pak, Bu." ucap Arjuna sembari mencium tangan kedua orang tua dari calon istrinya.
Melihat sikap Arjuna yang begitu sopan dan santun membuat pak Setyo dan Bu Safitri semakin yakin bahwa Arjuna adalah pria yang tepat untuk mendampingi hidup putrinya.