Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 96 Rasa kecewa


__ADS_3

" Bohong!!" hardik Arjuna dengan keras, hingga membuat Dhita tersentak.


" Siapa yang telah menghamili mu, dan anak siapa yang sedang kau kandung?" pertanyaan itu seperti sebuah Sambaran petir bagi Dhita.


JEDDERRR.....


Mendengar pertanyaan dari suaminya, tubuh Dhita sedikit bergetar.


Bukan karena takut, melainkan karena rasa kecewa sebab suaminya yang sangat ia cintai, telah tega menuduhnya yang bukan-bukan.


Sedangkan Arjuna juga tidak kalah kecewanya, bahkan hatinya jauh merasa lebih sakit, karena ia mengira istri tercintanya telah mengkhianati dirinya.


" Apa, ha~hamil?" suara Dhita tersendat, seluruh tubuhnya terasa bergetar.


" Tega kau menuduhku seperti itu mas, aku tidak pernah melakukan apapun dan dengan siapapun!" tegas Dhita, matanya mulai memerah, karena sakit hati dan kecewa berbaur menjadi satu.


" Lalu mengapa kau bisa sampai hamil?" Arjuna mengetatkan rahangnya, menatap Dhita dengan intens.


Ada rasa jijik di hati Arjuna membayangkan apa yang telah dilakukan oleh istrinya.


" Aku tidak hamil!" Dhita tak kalah tegasnya, bagaimana mungkin ia hamil jika belum pernah melakukan apapun, bahkan dengan suaminya sendiri.


Melihat istrinya yang bersikeras mengatakan dirinya tidak sedang hamil, Arjuna mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya.


" Lihatlah!" Arjuna melempar sebuah kertas yang di berikan dokter Alya kepadanya.


Tentu saja kertas selain resep obat yang di berikan dokter Alya kepadanya.


Dhita segera mengambil selembar kertas yang dilemparkan Arjuna kepadanya.


Kemudian ia pun membacanya.


" Tidak mungkin, ini pasti salah, ini salah!" gumam Dhita setelah membaca kertas tersebut.


" Mas, aku tidak hamil mas, percayalah!" Dhita mengiba kepada Arjuna, berharap pria itu akan mempercayainya.


" CK, kau bilang hanya mencintai diriku, ternyata, kau berani berkhianat di belakang ku!" Arjuna semakin mengeratkan rahangnya, giginya bergemerutup menahan rasa amarah.


" Mas~, percayalah, aku belum pernah tersentuh oleh siapapun, aku masih Dhita yang dulu mas." Dhita merentangkan tangannya, berusaha menggapai suaminya.


Namun apa yang ia dapatkan?.


Arjuna menghempaskan tangannya dengan begitu keras, hingga membuat istrinya sedikit terjungkal ke belakang.


" AW!" pekik Dhita ketika punggungnya mengendus dinding.


Namun Arjuna tidak memperdulikannya, tidak perduli dengan Dhita yang merintih kesakitan.

__ADS_1


" Kau, tidak percaya padaku mas?" lirih Dhita menatap suaminya dengan rasa kecewa.


Bukannya pertemuan penuh kasih yang ia rasakan, melainkan sebuah hinaan yang ia dapatkan dan itu dari suaminya sendiri.


Air mata mulai berlinang di sudut mata Dhita, ia tidak pernah mengira pria yang ia cintai selama ini akan menuduh dirinya yang bukan-bukan.


Dengan menahan rasa sakit, Dhita menghampiri Arjuna.


" Mas, percayalah, aku tidak hamil, bisa saja pemeriksaan ini salah mas." Dhita masih berusaha meyakinkan suaminya tentang kebenaran dirinya.


" Dokter Alya dan dokter Eina bukanlah orang bodoh yang bisa salah memeriksa pasien, hasil pemeriksaan itu sangat akurat." Arjuna mencengkeram lengan Dhita dengan erat, tanpa memperdulikan Dhita yang merintih kesakitan.


" Aku kecewa, aku benar-benar kecewa!" Arjuna mendorong Dhita tepat ke atas ranjang, lalu pergi meninggalkan wanita itu yang sedang menangis meratapi nasibnya, mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.


Kini di kamar itu hanya tinggallah Dhita seorang diri.


Mommy Rita yang telah selesai membuat teh hangat untuk menantunya, masuk ke dalam kamar Dhita untuk memberikan teh itu kepada menantunya.


Namun mommy Rita sangat terkejut ketika melihat menantunya itu sedang menangis sesenggukan.


" Kau kenapa Dhi, perut mu masih sakit?" tanya mommy Rita seraya menyodorkan segelas teh hangat buatannya.


Dhita tidak tahu harus menjawab apa, oleh karena itu, ia hanya mengangguk saja.


" Bagaimana, sudah lebih baik?" kembali mommy Rita bertanya.


Untuk yang kedua kalinya, Dhita mengangguk.


Mommy Rita meraih kertas itu dan membacanya.


Sebuah senyuman terbit di bibir mommy Rita, memancarkan aura kebahagiaan di wajahnya.


" Dhi, ini~ benar, kau hamil?" mommy Rita menatap menantunya dengan penuh kebahagiaan.


Ya, selama ini memang berita ini yang ia nantikan. Telah lama ia ingin menimang seorang cucu.


Tak terbayang betapa bahagia perasaan mommy Rita saat itu.


Impiannya untuk menjadi seorang nenek, akan segera terwujud.


Mendapat pertanyaan seperti itu dari ibu mertuanya, membuat Dhita semakin sedih.


Namun ia tidak bisa melakukan apapun, oleh karena itu, Dhita memutuskan untuk diam saja tanpa memberikan jawaban apapun.


Mommy Rita tersenyum sambil mengelus perut menantunya.


" Pantes, kau merasa sakit pada perutmu, rupanya ada si jabang bayi."

__ADS_1


" Apa yang harus aku lakukan, mom, aku tidak hamil."


Gumam Dhita namun, hanya dalam hati.


Dhita tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya kepada mommy Rita, ia bisa melihat betapa bahagianya wanita paruh baya itu ketika mengetahui akan mendapatkan seorang cucu.


Akhirnya, Dhita memutuskan untuk diam saja, biarlah waktu yang akan menjawabnya.


" Sekarang kau istirahat lah, ibu hamil tidak boleh terlalu lelah," ucap mommy Rita.


" Aku akan memberitahu yang lain." lanjut nya seraya pergi meninggalkan menantunya bersama dilemanya.


" Mom, jangan mom!" Dhita berusaha melarang ibu mertuanya, namun sia-sia saja, karena saat itu mommy Rita telah menghilang di balik pintu.


" Ya Tuhan, bagaimana ini, bagaimana jika kesalahpahaman ini semakin berlarut-larut."


lirih Dhita.


Benar saja yang di khawatirkan Dhita, karena saat ini, mommy Rita sedang berada di ruang keluarga, memanggil seluruh pelayan untuk segera berkumpul.


Mendapat perintah dari majikannya, tanpa membuang banyak waktu para pelayan tersebut segera datang menemui majikan mereka di ruang tamu.


" Aku punya kabar bahagia untuk kita semua." Tutur mommy Rita ketika semua pelayan telah berkumpul.


" Menantu ku hamil, jadi mulai sekarang kalian harus lebih memperhatikan dia, kalian mengerti?" papar mommy Rita kepada para pelayannya.


" Selamat nyonya, kami ikut senang mendengarnya." ucap kepala pelayan mewakili yang lainnya.


" Sebagai rasa syukur, saya akan memberikan amplop ini kepada kalian semua." ucap mommy Rita.


" Bagikan kepada teman-teman mu!" lanjut mommy Rita memberi perintah kepada kepala pelayan tersebut.


" Terimakasih nyonya, semoga kebahagiaan selalu bersamamu," ucap kepala pelayan, seraya mengambil beberapa amplop yang di berikan mommy Rita.


Kemudian membagikannya kepada pelayan yang lain.


Setelah masing-masing pelayan mendapatkan amplop dan mengucapkan terima kasih, lalu mereka kembali ke tempat masing-masing.


Kebetulan saat itu Arjuna yang sedang berusaha meredam rasa kecewanya berjalan melewati ibunya.


" Hei Ar, kemarilah, ada yang ingin mommy bicarakan denganmu!" seru mommy Rita memanggil Arjuna.


" Ya, ada apa mom?" tanya Arjuna seraya duduk di samping ibunya.


" Mengapa kau tidak memberi tahu mommy, kalau istrimu sedang hamil?" tanya mommy Rita dengan senyum sumringah.


Arjuna menatap wajah ibunya, wajah yang memancarkan kebahagiaan.

__ADS_1


Haruskah Arjuna mengatakan yang sebenarnya, haruskah ia mengatakan bahwa bayi yang sedang di kandung istrinya bukanlah darah dagingnya?.


Melihat kebahagiaan yang tersirat di wajah ibunya, membuat Arjuna memutuskan untuk diam saja. Karena ia tidak ingin membuat ibunya kecewa.


__ADS_2