Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 57 Penyesalan


__ADS_3

" Dengan tangan ini aku menamparnya, dengan tangan ini aku menyakitinya hiks..hiks.. tanpa ku tau yang sebenarnya," Dhita menyesali perbuatannya yang telah menampar Arjuna tanpa bertanya apa yang sesungguhnya terjadi.


Arjuna terbelalak, saat melihat Dhita memukul-mukul kan tangannya ke aspal jalan raya, segera ia berlari menyongsong ke arah wanita yang sangat di cintainya.


" Dhita, jangan lakukan itu Dhi, jangan tanganmu bisa terluka," teriak Arjuna sambil terus berlari.


Arjuna duduk bersimpuh di samping Dhita saat dirinya telah tiba di sana. Ia berusaha mencegah Dhita yang masih saja memukulkan tangannya ke aspal jalan raya.


" Jangan Dhi, ku mohon," Arjuna memegang tangan Dhita yang terlihat memerah karena memar.


" Biarkan mas, biar ku lukai tangan ini!" ucap Dhita sambil terisak dalam tangisnya.


" Tangan ini telah menamparmu, tangan ini telah menyakitimu biar ku...."


" Tidak Dhita, jangan lakukan demi diriku, aku tidak akan pernah tega melihat mu terluka."


" Tapi mas,"


" Tamparan mu tak seberapa dengan kesalahan yang ku perbuat, aku telah berkali-kali menyakiti hatimu, bahkan akan ku berikan jika kau menginginkan nyawaku." ucap Arjuna di antara derasnya air hujan yang bergemuruh menyaksikan kedua insan yang sedang berusaha meyakinkan satu sama lain.


Dhita terdiam.


Saat-saat seperti inilah yang sangat ia rindukan, saat berdua namun rasanya kali ini berbeda tidak ada keberanian di dalam dirinya untuk menunjukkan ketulusan cinta seperti hari-hari yang lalu saat mereka masih memadu kasih.


" Jangan sentuh aku mas," sentak Dhita saat Arjuna berusaha untuk memeluknya. Sebenarnya Arjuna hanya ingin menenangkan Dhita, tidak lebih.


" Maaf, aku tidak bermaksud untuk..!"


" Tinggalkan aku sendiri mas," pinta Dhita tanpa melihat ke arah Arjuna yang sedang menatap nya.


" Aku tidak akan pergi sebelum kau kembali ke apartemen, karena aku tidak ingin membiarkanmu dalam bahaya, " Arjuna masih bersikeras ingin menemani Dhita, karena ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada wanita yang di cintainya.


" Ayo kita kembali ke apartemen tidak baik kalau kita terus hujan-hujanan seperti ini, nanti kau bisa sakit." bujuk Arjuna dengan lembut tanpa memperdulikan dirinya yang juga basah kuyup kehujanan.


Mendengar suara lembut Arjuna, hati Dhita terasa sejuk, perlahan emosinya mulai mereda.


Akhirnya Dhita bangkit dari duduknya yang di ikuti oleh Arjuna.

__ADS_1


Entah karena terlalu lama kehujanan atau terlalu banyak beban pikiran, tiba-tiba Dhita merasa lemas pandangannya mulai terasa buram.


BRUUKK.


Tubuh Dhita ambruk, beruntung Arjuna dengan sigap menopang tubuh Dhita sehingga tubuhnya tidak terjatuh ke bawah.


" Dhita, Dhi... bangun Dhi...kamu kenapa?" tanya Arjuna panik melihat Dhita yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


Arjuna menepuk-nepuk pipi Dhita berharap wanita ini akan segera sadar, namun tak ada respon dari Dhita hanya wajahnya yang terlihat pucat.


Tanpa berpikir panjang, Arjuna segera membopong tubuh Dhita yang terkulai tak berdaya. Dengan langkah cepat Arjuna membawa Dhita dalam pelukannya menuju apartemen.


Tap.


Tap.


Tap.


Suara sepatu Arjuna bergemerisik menyentuh jalan, Diantara derasnya hujan Arjuna tetap melangkah hanya satu tujuan yang pasti segera membawanya ke apartemen untuk memeriksa ke adaannya.


Jedderrr.


Jedderrr.


" Dhita, Arjuna kenapa dengan Dhita?" tanya Rena khawatir, sebenarnya ia baru saja kembali dari rumah Reyhan, mereka sibuk mempersiapkan pernikahannya besok pagi.


Tanpa menjawab pertanyaan Rena yang terlihat khawatir dengan kondisi Dhita, Arjuna terus saja berjalan memasuki apartemen menuju ke kamar Dhita.


Arjuna segera merebahkan tubuh Dhita di atas ranjangnya, dipandanginya wajah Dhita yang terlihat pucat, seluruh tubuhnya pun terkulai lemah tak berdaya.


" Apa yang terjadi, mengapa dia sampai pingsan, dan mengapa pula kalian basah-basahan kayak gini?" tanya Rena lagi.


" Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik, semuanya karena diriku!" jawab Arjuna penuh penyesalan.


Bagaimana Arjuna tidak akan menyesal jika kesalahan nya selama ini dengan mudah di maafkan oleh Dhita dengan segala kebesaran hatinya yang berkali-kali tersakiti oleh Arjuna. Sedangkan Dhita hanya sekali saja melakukan kesalahan, tetapi ia malah sengaja menghukum dirinya sendiri.


Rena menyodorkan minyak angin ke arah hidung Dhita, satu menit kemudian ia pun sadar karena menghirup aroma minyak angin yang menyengat.

__ADS_1


Dhita mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Kepalanya terasa pusing.


Melihat sekeliling Dhita pun terkejut, hingga membuat ia yang sedang terbaring secara spontan duduk dan membuat tubuhnya hampir jatuh untuk yang kedua kalinya.


" Hati-hati Dhi!" seru Rena sambil menyangga tubuh sahabatnya.


" Kok aku bisa ada disini?" tanya Dhita, seingatnya ia tadi berada di tengah jalan.


" Iya, tadi kamu pingsan dan Arjuna yang membawamu kemari." jawab Rena, karena itulah yang ia ketahui.


" Dimana mas Ar?" tanya Dhita lagi ketika ia tak melihat batang hidung pria itu.


" Di ruang tamu," jawab Rena. Memang setelah menjawab pertanyaan dari Rena, Arjuna memutuskan untuk pergi dari kamar itu karena ia tidak ingin Dhita merasa risih atas kehadirannya, mengingat wanita itu sangat tidak ingin di sentuh olehnya.


" Sekarang mending kamu ganti baju aja dulu." ucap Rena menyarankan.


" Sebelum tekanan darah rendah mu semakin parah." lanjut Rena.


Dhita memang memiliki tekanan darah rendah dari ia kecil, jika terlalu lelah atau terlalu banyak beban pikiran maka penyakitnya itu akan kambuh seperti saat ini. Dan Rena sangat tau tentang hal itu Karena mereka bersahabat sejak kecil.


Sementara itu Arjuna yang sedang duduk di ruang tamu, tengah menggigil kedinginan mungkin karena terlalu lama memakai pakaian yang basah. Namun ia tidak ingin pergi dari tempat itu sebelum melihat keadaan Dhita baik-baik saja.


Tiba-tiba ada seseorang yang memberinya pakaian kering. Orang itu adalah Rena, ia sengaja memberikan pakaian milik Reyhan agar Arjuna bisa mengganti pakaiannya yang basah. Kasihan juga melihatnya.


" Pakailah, kamu bisa menggantinya di sana." Rena menunjuk salah satu kamar yang dulunya di tempati oleh Puri. Walau bagaimanapun Arjuna adalah kakak kandung


dari calon suaminya.


" Terima kasih, bagaimana keadaan Dhita, apa dia baik-baik saja?" tanya Arjuna yang masih terlihat khawatir.


" Kamu gak usah Khawatir, keadaan Dhita baik-baik saja, dia memang memiliki riwayat tekanan darah rendah dari kecil tapi secepatnya dia pasti akan sembuh kembali." jawab Rena menjelaskan.


Mendengar jawaban Rena, akhirnya Arjuna merasa lega, kemudian ia melangkah ke kamar yang di tunjukkan Rena untuk mengganti pakaiannya.


Dhita yang telah selesai mengganti bajunya segera menghubungi Puri, meminta Eza untuk menjemput Arjuna, mengingat pria itu tidak membawa mobil sendiri, karena ia datang bersama dengan Eza.


Eza yang hampir lupa akan bosnya yang ia tinggalkan di apartemen Rena, segera pergi setelah mendapat kabar dari istrinya, tentu saja melalui ponsel, karena saat ini Eza sedang berada di rumah Citra. Menghakimi wanita itu bersama dengan seluruh keluarganya.

__ADS_1


Ayah Citra rupanya sangat kecewa mengetahui fakta tentang putrinya yang menghalalkan segala cara demi memuaskan hawa nafsunya. Tidak seperti Devina yang justru mendukung semua kesalahan Citra


__ADS_2