Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 162 Kesalahan Fanny 2


__ADS_3

"Tega sekali kau nyonya, semoga saja kau tidak akan menyesal dengan semua perbuatan mu," gumam bi Murni seraya menggendong Ansel.


Saat itu juga Ansel akan di pindahkan ke kamar kelas tiga, dimana di ruangan itu banyak sekali pasien yang berdesak-desakan memenuhi ruangan.


Dengan membawa Ansel dalam gendongannya, bi Murni berjalan melalui orang-orang yang berada di sana. Di sudut paling pojok, Ansel di tempatkan.


Air mata bi Murni mulai menetes saat ia melihat keadaan tuan kecilnya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, malah harus berhadapan dengan orang keji seperti Fanny.


"Maafkan bibi den, maafkan bibi karena tidak bisa memberikan keadilan kepada Aden." bisik bi Murni seraya menyeka air matanya.


Ansel yang sedang tertidur hanya menggeliatkan badannya ke kiri dan ke kanan.


"Semoga Aden, cepat sembuh!" do'a bi Murni.


Tak lama kemudian dokter Ine datang, menghampiri bi Murni.


"Mengapa Ansel di pindahkan kemari bu?" tanya dokter Ine merasa heran.


"Iya dok, ini perintah dari majikan saya." jawab bi Murni dengan jujur.


"Maksud nya ibu dari Ansel?"


"Iya dok, boleh saya meminta tolong kepada dokter?"


"Boleh Bu, apa yang bisa saya bantu?"


"Kalau nanti majikan saya bertanya tentang siapa yang memberi ASI kepada tuan kecil, tolong dokter bilang itu dari dokter ya," mohon bi Murni.


"Memangnya siapa yang telah memberikan ASI kepada Ansel bu?"


"Seorang wanita yang baru saja kehilangan bayinya, dia merasa kasihan melihat tuan kecil menangis terus, oleh karena itu, dia memberikan tuan kecil ASI."


"Apa namanya nyonya Dhita?"


"Ya, benar sekali dok? apa dokter mengenalnya?"


"Ya, dia wanita yang sangat baik Bu, beruntung Ansel bisa bertemu dengan orang sepertinya."

__ADS_1


"Ya, dokter benar."


Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang dokter Ine.


"Apakah anda yang memberikan ASI kepada putra saya?" tanya Fanny.


Ya, rupanya suara itu adalah suara Fanny.


Mendengar suara di belakangnya membuat dokter Ine membalikkan tubuhnya, menghadap Fanny.


"Ya, apakah anda adalah ibu dari Ansel?" tanya dokter Ine.


"Ya, saya ibunya, mengapa dokter berani memberikan ASI dari orang lain kepada putra saya sebelum menginformasikan kepada saya?" Fanny bertanya kembali dengan lebih beringas.


"Apa anda ada di saat putra anda membutuhkan anda? apa anda tahu bagaimana menderita nya putra anda? ibu macam apa anda ini, lebih mementingkan karier dari pada putra anda sendiri!" papar dokter Ine menyudutkan Fanny.


"Saya lihat anda adalah orang berada, apa anda tidak merasa malu, putra anda di rawat inap di ruangan seperti inilah?" Dokter Ine semakin membuat Fanny merasa marah.


"Dia putra saya, dia urusan saya, jadi dokter jalankan saja tugas dokter dengan baik, tidak usah terlalu banyak ikut campur dalam urusan pribadi saya!" ucap Fanny di tengah kemarahannya.


Dokter Ine berpaling dari Fanny yang mulai tersulut emosi. kemudian ia mulai memeriksa Ansel dengan teliti.


"Bagaimana keadaannya sekarang Dok?" tanya bi Murni ketika dokter Ine telah selesai memeriksa Ansel dengan menggunakan stetoskop.


"Alhamdulillah, keadaannya semakin membaik, jika besok kondisinya tetap bertahan seperti ini, maka lusa dia boleh pulang." jelas dokter Ine dan membuat bi Murni tersenyum.


"Alhamdulillah!" seru bi Murni penuh rasa syukur.


Sedangkan Fanny diam saja tanpa reaksi apapun mendengar perkataan dokter Ine, dan itu membuat dokter Ine semakin heran.


"Seharusnya anda adalah orang yang paling bahagia mendengar kondisi putra anda," ucap dokter Ine kepada Fanny.


"Tentu saja, tentu saja saya merasa sangat bahagia mendengar kondisi putra saya, tapi maaf, mungkin ekspresi saya tidak memuaskan." ucap Fanny menatap tajam kepada dokter Ine.


"Kalau begitu saya ucapkan banyak terima kasih kepada dokter, karena telah memberikan perawatan terbaik kepada tuan kecil." bi Murni yang telah memahami akan sikap dari majikannya, sengaja mengatakan hal itu, selain untuk mewakili ia juga tidak ingin percakapan antara majikan dan dokter Ine berakhir dengan sebuah perselisihan.


Dokter Ine pun mengerti dengan tindakan yang di ambil oleh bi Murni, oleh karena itu, ia lebih memilih untuk undur diri.

__ADS_1


"Baiklah, saya harus memeriksa pasien yang lainnya, sekarang tolong jaga dan rawat Ansel dengan baik, oh ya satu lagi, berikan banyak cinta dan kasih sayang untuknya." dokter Ine membalas tatapan Fanny dengan lebih intens, kemudian ia pun beranjak pergi.


"Dasar dokter tidak tahu diri, berani-beraninya dia mencela diriku seperti itu, dia pikir dia siapa, kalau perlu ku beli rumah sakit ini beserta dokternya sekalipun!" Fanny menggerutu dengan mengepalkan tangannya erat-erat.


Jason.


Pria tua yang merasa curiga dengan sikap Fanny, mengikuti Fanny dari belakang. Jason sengaja mengawasi Fanny dari kejauhan agar ia tahu siapa Fanny yang sebenarnya.


"Rupanya ini yang kau sembunyikan dariku?" suara Jason yang menggelegar mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan itu, terutama Fanny dan bi Murni.


"Sayang ~ honey ~!" seru Fanny di tengah rasa terkejut dan paniknya.


"Apa maksud dari semua ini? mengapa kau tidak menceritakan semuanya kepadaku?" tanya Jason dengan tegas.


"Maaf, aku hanya tidak ingin kau merasa khawatir, karena kau sendiri sedang banyak urusan!" jawab Fanny beralasan.


"Mengapa Ansel ditempatkan di ruangan rendahan seperti ini? bukankah telah aku transfer Lima ratus juta untuk semua kebutuhan Ansel?" Jason tidak terima melihat Ansel di perlakukan tidak adil oleh Fanny.


Namun itu semua bukan karena Jason menyayangi Ansel, melainkan karena ia yang memiliki misi tersendiri untuk memanfaatkan Ansel kelak saat ia telah dewasa.


Bi Murni terkejut dengan kedua mata yang membulat sempurna mendengar ucapan


Jason, pria tua yang menjadi penopang segala kebutuhan dalam hidup majikannya.


"Apa uang itu masih kurang? hingga kau memperlakukan dia seperti itu?" amarah Jason mulai memuncak.


"Tidak, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk ~!"


"Saya tuan, semua karena kesalahan saya.


Saya yang telah menempatkan tuan kecil di ruangan ini, tapi semua itu saya lakukan karena saya panik dan saya tidak bisa berpikir sampai ke sana." bi Murni memotong perkataan majikannya.


Bukan tanpa alasan bi Murni melakukan semua itu, dikarenakan ia sendiri tidak ingin majikannya mendapat kemarahan dari Jason.


Dan bukan tidak mungkin Fanny akan melampiaskan semua kemarahannya kepada dirinya dan juga Ansel. Karena itulah yang sering di lakukan oleh Fanny ketika ia sedang marah kepada seseorang.


Mendengar pernyataan dari bi Murni membuat Jason yang tadinya mengepalkan tangannya dengan erat, dengan menahan gerahamnya yang mengerutup, sedikit berubah lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2