
Dua puluh tahun kemudian.
Di negara Amerika Serikat atau bisa di sebut juga A.S. Di negara itulah, Ansel Abraham di besarkan.
Fanny dan Jason sengaja membawa Ans pergi jauh-jauh ke luar negeri, agar keluarganya tidak bisa menemukan dirinya.
Kini usianya yang menginjak dua puluh tahun membuat dirinya tumbuh menjadi pria yang berwajah tampan, berhidung mancung dan memiliki bola mata coklat ke abuan yang di perolehnya dari perpaduan gen kedua orang tuanya.
Dengan perawakan tinggi, besar dan tegap. Namun juga ramping membuat Ans memiliki daya tarik tersendiri. Tidak heran jika di negara itu, Ans tergolong sebagai pria 'Playboy'.
Kurangnya pendidikan pengetahuan agama membuat Ans terjerumus ke dalam pergaulan bebas, dan itu tidak di permasalahkan oleh kedua orang tua angkatnya.
Kesehariannya Ans hanya berlalu di gym, dan malamnya ia gunakan party bersama temannya di bar. Ans sering pulang malam dan mabuk-mabukan.
Ansel hanya di didik secara lahir dengan ilmu pengetahuan sosial dan bela diri saja, hingga membuat ia tidak mengetahui perihal halal dan haram.
"Ans, bangun!!" teriak Fanny dari luar kamar seraya menggedor-gedor pintu.
Wanita itu terlihat lebih tua dengan memakai kacamata, karena penglihatannya mulai mengalami masalah.
Sebenarnya Ans, nama panggilan dari Ansel telah terbangun sejak tadi pagi. Namun, karena semalam ia pulang terlalu malam membuatnya malas untuk bangun pagi.
"Ans, kau dengar mama!" teriak Fanny.
"Aaans!!!!"
Pintu pun terbuka menampilkan seorang pria muda tampan dengan penampilan sangat berantakan.
"What mom, it's still early." jawab Ans dengan mata yang tertutup sebelah, rasa kantuk masih menyerangnya.
Fanny menutup hidungnya mencium bau tak sedap dari mulut Ans.
"Kau minum lagi semalam?" tanya Fanny memandang tubuh Ans yang terlihat sangat berantakan.
"Yes, mom!" jawab Ans dengan sebelah mata terpejam.
Ans memegangi kepalanya yang terasa berat.
Namun bukannya marah mendengar putranya meminum Alkohol, Fanny malah tersenyum.
"Sekarang bersihkan dirimu, mama tunggu di meja makan!" perintah Fanny seraya berlalu tanpa menunggu jawaban dari Ans.
__ADS_1
Sontak membuat Ans segera bergegas ke dalam bathroom.
Ya, Ans memang sangat mematuhi apapun perintah dari Fanny, bagai kerbau di cocok hidungnya saja.
"Di mana Ans?" tanya Jason ketika Fanny telah tiba di meja makan.
"Ans, dia sedang mandi, sebentar lagi dia kemari." jawab Fanny kemudian duduk di sebelah Jason.
Hubungan tanpa menikah semakin erat saja diantara Fanny dan pria tua yang semakin menua dengan garis kerutan yang semakin tegas di area wajahnya, juga di seluruh tubuhnya.
"Besok kita akan kembali ke indo!" seru Jason tiba-tiba hingga membuat Fanny yang sedang minum tersedak.
"UHUUKKK...uhuuuukk...Apa? kau ingin kita kembali besok?" Fanny terbelalak.
"Ya!" jawab Jason datar.
"Lalu bagaimana dengan Ans, bagaimana jika mereka.....,"
"Kau tenang saja, Ans telah dewasa, ini saatnya bagi kita untuk melihat bagaimana Ans menghadapi semuanya disana."
Jason menyeringai, jauh di dalam hatinya ia merasa tidak sabar ingin melihat aksi Ans ketika mengintai keluarganya sendiri.
Bertahun-tahun rasa benci yang mereka tanam di hati Ans semakin mengental hingga mendarah daging.
"Tapi, bagaimana jika mereka berhasil meyakinkan Ans, terlebih lagi Dhita, Wanita itu selalu bisa membolak balikkan fakta, hingga tidak sedikit orang yang simpatik kepadanya." ucap Fanny.
Menurut informasi yang ia dapatkan, Dhita Pratiwi selalu menenangkan hati setiap orang yang ingin berbuat jahat kepadanya, contohnya Andrian, Bastian dan Citra.
Mereka adalah ketiga orang yang berhasil insaf karena nasehat dari Dhita.
"Aku tidak yakin, wanita itu akan mampu menggoyahkan kebencian Ans, karena selama ini kita telah menanamkan kebencian itu sejak dia kecil." jawab Jason penuh keyakinan.
"Semoga saja apa yang kau ucapkan menjadi kenyataan," harap Fanny.
TAP.
TAP.
TAP.
Suara langkah kaki mendekat.
__ADS_1
"Good morning ma, pa!" seru Ans dengan gayanya yang cool.
"Morning Ans, ayo duduklah!" jawab Jason dengan senyum palsu yang ia tampilkan.
"Putra mama semakin keren," Fanny mengacungkan jempolnya ke arah Ans.
"Thankyou ma, pa, I love you guys," ucap Ans merasa senang dengan pujian dari kedua orang tua angkatnya, kemudian Ans mencium pipi Fanny dengan penuh rasa sayang.
Fanny yang dulu sering menyia-nyiakan Ans, kini berubah lebih menyayangi. Dan itu semua karena taktik dari Jason untuk memenangkan hati Ans. Dengan begitu akan dengan mudah bagi mereka untuk memanfaatkan Ans.
Seperti itulah sejak kecil hingga dewasa, Ans hidup didalam kepalsuan. Kasih sayang semu dan penuh kebohongan yang di berikan oleh Jason dan Fanny.
Namun Ans tidak pernah mengetahui akan hal itu. Ia malah mengira kalau Fanny adalah ibu kandungnya.
Fanny menyiapkan makanan di piring Ans.
"Mama harap kau akan selalu sayang dan Hormat kepada kami berdua, walaupun papa Jason bukanlah ayah kandungmu." pinta Fanny dan sontak membuat Ans menatap kepadanya.
Sementara Jason hanya terdiam, ia ingin mendengar jawaban langsung dari mulut Ans.
"Seumur hidupku, aku berjanji akan selalu menghormati kalian berdua, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku demi kalian." jawab Ans meyakinkan kedua orang tuanya.
"Karena hanya kalian berdua, orang yang perduli kepadaku, dan papa Jason adalah ayah terbaik bagiku," Ans melanjutkan ucapannya.
Ya, apalagi yang bisa dipikirkan oleh Ans selain memuja kedua orang itu. Karena memang Fanny telah mencuci otaknya dengan cerita-cerita palsu.
"Ingat Ans, tidak ada yang bisa kita harapkan dari ayah kandung mu, dia telah hidup bahagia dengan keluarga barunya, karena rasa cintanya kepada wanita itu sangat lah besar di bandingkan untuk kita," Fanny memasang wajah sedih dan air mata buaya mulai mengambang di sudut matanya.
Ans memegang tangan Fanny.
"Aku berjanji akan memberikan keadilan untuk mama, akan ku balas perbuatan mereka kepada kita hingga mereka tidak ingin hidup lagi." janji Ans, benih-benih kebencian mulai merasuk di dalam hatinya.
"Sudahlah mari kita makan!" Jason menengahi pembicaraan Fanny dan Ans.
Namun, jauh di dalam hatinya ia merasa begitu senang. Mendengar pernyataan dari Ans, yang akan membalaskan dendam Fanny dan itu berarti rencananya telah berhasil.
Ans menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun, bukan rasa makanan yang ia rasakan di dalam lidahnya. Melainkan rasa benci dan dendam yang mendera di dalam hatinya.
"Kau kenapa Ans?" tanya Jason ketika melihat wajah Ans yang sebelumnya tersenyum, kini terlihat muram.
"No pa, I'm Fine!" sahut Ans berusaha merubah suasana hatinya.
__ADS_1