
" Kemari kan dia!" pinta Dhita kepada Rena.
" Oh tidak, kau harus beristirahat!" jawab Rena, ia masih ditempatnya.
" Please, aku sangat merindukannya ,," pinta Dhita sekali lagi. Rasanya ia ingin sekali menggendong dan menimang bayi mungil dan cantik itu.
" Berikan padanya Ren!" ucap Puri membela Dhita.
" Tapi...!"
" Sebentar saja," Dhita memotong kata-kata Rena. Ia terlihat begitu mengiba hingga membuat Rena tidak tega untuk menolaknya.
" Baiklah!" Rena menyerahkan putrinya kepada Dhita yang langsung menyambutnya dekapan penuh kasih.
Dhita menimang-nimang bayi kecil mungil itu dengan tertawa riang, sesekali ia menciumi wajah cantik bayi mungil itu.
Rere yang manis sangat tenang berada di dekapan Dhita. Bayi yang sedari tadi terus merengek, kini menjadi anteng kembali.
" Duh, putri cantik Tante sayang, kangen sama Tante ya!" ucap Dhita sambil terus menepuk-nepuk kan tangan mungil Rere di pipinya.
" Mama!" seru seorang bocah yang baru saja tiba di kamar tersebut, lalu di ikuti oleh seorang bocah lagi, namun bocah ini sedikit lebih besar.
" Tante!" seru bocah yang satunya lagi.
" Ednan, Glen! ada apa? mengapa kalian kemari?" Puri merasa heran karena sebelumnya kedua bocah itu sedang asyik bermain, walaupun sebelumnya ia telah mengajak kedua bocah itu untuk ikut bersamanya. Namun mereka sama-sama menolak.
" Ma! dipanggil oma!" seru Ednan kepada ibunya.
" Untuk apa Oma memanggil mama?" Puri bertanya dengan heran kepada Ednan dan Glen.
Namun keduanya sama-sama menjawab.
" Tidak tahu!"
" Tapi mamaku juga menunggu Tante di bawah!" Glen menambahkan.
" Untuk apa?" Puri kembali bertanya kepada kedua bocah itu. Dan untuk kedua kalinya mereka juga menjawab.
" Tidak tahu!"
Sontak membuat Rena dan Dhita tertawa melihat tingkah Puri dan kedua bocah tersebut.
" Memangnya apa yang harus kami katakan Tante, karena kami memang tidak tahu apapun!" tukas Glen kepada Dhita dan Rena yang sedang mentertawakan mereka.
" Ya,ya, kalian benar, ayo cepat kita turun ke bawah!" ajak Puri kepada putranya dan juga Glen. Namun untuk yang kedua kalinya kedua bocah itu menolak.
__ADS_1
" Maaf Tante kami masih ingin bermain disini," ucap Glen, menatap kepada Puri.
" Ya ma, Ednan juga mau main di cini cama lele," ujar Ednan dengan cadelnya.
Mendengar ucapan putranya yang mengucapkan nama Rere dengan Lele, mendadak membuat Puri tertawa terbahak-bahak.
Sedangkan Rena hanya bisa melotot ke arah Ednan, namun ia juga tidak bisa melakukan apapun.
" Sayang jangan panggil Lele, panggil Almira saja!" ucap Dhita, ia merasa kasihan saja kepada Rere jika harus di panggil dengan sebutan Lele, seperti nama ikan lalapan saja.
Sementara itu Puri telah berlalu menemui mommy Rita.
" Tante boleh Ednan lihat adik bayinya ?" Ednan bertanya kepada Dhita yang sedang menggendong Rere namun, juga sering dipanggil Almira.
Mendengar permintaan dari Ednan, Akhirnya Dhita meletakkan bayi cantik itu di atas tempat tidurnya.
Refleks, Ednan segera menaiki tempat tidur itu kemudian duduk di samping Rere. Melihat hal itu, Glen juga tidak ingin mengalah ia juga ikut naik ke atas tempat tidur itu dan duduk bersebelahan dengan Ednan.
" Almila tantik !" puji Ednan sambil tangannya mengelus pipi kecil itu.
" Rere manis nanti kalo udah besar main sama Abang ya," ucap Glen ikut mengelus pipi yang sebelahnya.
Mendengar nama bayi itu dipanggil Rere, membuat Ednan tidak terima.
Glen pun membalas tidak ingin kalah.
" Namanya Rere, kau tidak tahu bilang Rere makanya disuruh panggil Almira!" Glen tidak kalah keras berteriak.
Mendengar dirinya di anggap tidak tahu, Ednan pun tidak terima.
" Almila, bukan Lele!!" Ednan berteriak lebih keras dari sebelumnya.
" Rere! kau tidak tahu!!" Glen kembali membalas.
Mendengar kedua bocah itu sedang bertengkar hanya karena memperebutkan sebuah nama, membuat Rena angkat bicara.
" Sayang, Glen... Ednan! sekarang kalian panggil Dedek saja, menurut Tante panggilan itu lebih imut." ucap Rena menengahi kedua bocah itu.
Sedangkan Dhita hanya tersenyum geli melihat tingkah kedua bocah itu. Ia justru sedang membayangkan jika kedua bayinya lahir, pasti akan lebih seru lagi.
" Dedek..!" panggil Glen dengan lembut.
" Dedek..!" Ednan juga tidak ingin kalah.
" Sekarang kalian bermain di bawah ya, dedek nya mau tidur." Dhita mencari alasan agar kedua bocah itu segera pergi meninggalkan Rere.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Dhita melakukan semua itu, dikarenakan ia tidak ingin Almira tersayang menjadi lecet gara-gara kedua bocah itu.
Glen dan Ednan pun menurut, mereka langsung keluar dari ruangan itu untuk bermain di bawah kembali.
Sedangkan Rena hanya tersenyum melihat semua itu.
" Ternyata kau sayang pada Rere," ucap Rena seraya ikut merebahkan diri di samping putrinya.
" Tentu, karena kelak dia yang akan menjaga kedua adiknya." jawab Dhita.
" Tentu saja Tante, aku akan selalu menjaga mereka dengan aman!" ucap Rena.
Kemudian keduanya sama-sama tertawa.
Sementara itu, Puri dan Bellinda tengah sibuk di dapur. Dengan di bantu para pelayan, mereka mempersiapkan segala keperluan untuk acara tujuh bulanan itu. Mereka hanya mempersiapkan gelas dan piring saja, sedangkan untuk makanan, mommy telah melakukan order delivery.
Citra pun ikut berbaur dengan yang lainnya, ia sendiri sedang mempersiapkan untuk ritual khusus tujuh bulanan. Dan semuanya berjumlah tujuh.
Yang terdiri dari bubur tujuh warna, jadah atau ketan tujuh rupa, tujuh kain, tumpeng Bonceng berukuran kecil, procotan atau makanan yang di tutup dengan menggunakan daun pisang. Beragam jajanan pasar dan perlengkapan lainnya.
Dengan di bantu oleh kepala pelayan, Citra melakukannya dengan senang hati.
Ya, kepala pelayan yang bekerja sama dengan Bastian untuk mengawasi dan menjaga Dhita.
" Sudah selesai?" tanya Bellinda kepada Citra.
" Sebentar lagi ." jawab Citra, tangannya sibuk menata semua perlengkapan ritual mandi tujuh bulanan.
" Aku bantu ya!" Bellinda menawarkan.
" Boleh !" jawab Citra.
" Tante Devina tidak datang?" tanya Bellinda, ia hanya ingin memastikan apakah wanita itu akan datang atau tidak. Karena jika wanita itu datang, maka ia harus bermain ganda.
" Datang, mungkin sebentar lagi!" jawab Citra ramah, karena memang ia tidak tahu apapun tentang rencana ibunya.
Mendengar wanita itu akan datang ke mansion itu, membuat Bellinda menghela napas berkali-kali untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia masih teringat dengan pesan mommy Rita untuk tetap bermain cantik.
" Memangnya kenapa?" Citra bertanya balik. Dengan masih sibuk dengan pekerjaannya yang hampir selesai.
" Tidak, hanya sekedar bertanya." jawab Bellinda sembari tersenyum manis agar tidak membuat Citra merasa curiga.
" Oh..!" gumam Citra.
Tak lama kemudian, terdengar suara mommy Rita sedang memanggil sebuah nama Devina. Rupanya wanita itu telah sampai.
__ADS_1