Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 130 Hidup Rukun


__ADS_3

Bastian yang menerima informasi tentang kondisi saudara sepupunya, segera bergegas ke rumah sakit.


Ia sengaja meninggalkan meeting di kantornya demi untuk menjenguk saudara sepupunya.


*


*


Bastian yang baru saja tiba di rumah sakit, segera menghambur ke dalam ruangan saudaranya di rawat.


Suasana di ruangan itu sangat sunyi, Dhita sedang terbaring sendirian di atas Brankar.


" Dhita!" sapa Bastian pelan, karena ia khawatir akan mengejutkan sepupunya.


Mendapat sapaan dari seseorang yang berada di sampingnya, Dhita menoleh ke arah Bastian.


" Kakak!" suara Dhita terdengar lirih dan lemah.


Andrian berjalan mendekati Dhita, ia merasa iba dengan kondisi adik sepupunya. Tubuhnya yang lemah dengan perut membuncit, semakin membuat Bastian merasa iba padanya.


" Bagaimana keadaanmu?" tanya Bastian, tangannya meraba kening Dhita.


" Sudah lebih baik kak, dari mana kau tahu kalau aku berada di sini?" Dhita merasa heran, karena ia sendiri ataupun Arjuna sama sekali tidak menghubunginya.


" Sebenarnya aku menugaskan seseorang di mansion suamimu!" jawab Bastian dengan suara pelan.


" Apa? siapa maksud kakak?" Dhita terperanjat mendengar penuturan kakak sepupunya.


Bastian sengaja mempekerjakan seorang anak buahnya untuk memantau Dhita, ia memerintahkan seseorang untuk menjadi pelayan di mansion Arjuna.


" Apakah ada seorang pelayan yang selalu stand by di sekitar mu?" tanya Bastian menatap wajah sepupunya.


Dhita mengingat-ingat kesehariannya di dalam mansion, tiba-tiba ia teringat dengan seorang pelayan yang menjabat sebagai kepala pelayan di sana.


Ya, kepala pelayan itulah yang selalu menemaninya dan menyiapkan seluruh kebutuhannya.


" Ya, ada kak, kepala pelayan yang selalu setia menemaniku, bahkan ia selalu mendengarkan keluh kesah ku." jawab Dhita.


" Ya, itu dia!"


" Tapi, bagaimana kau bisa melakukan semua itu kak?" Dhita penasaran dengan rencana sepupunya yang berjalan mulus tanpa sepengetahuan dirinya.


" Sudahlah itu urusanku, sekarang kau harus lebih fokus dengan kesehatanmu!" Bastian mengelus perut Dhita dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bastian merasa bahagia sekaligus sedih. Ia merasa bahagia karena bisa sedekat itu dengan wanita yang di cintainya, walaupun hanya sebatas saudara sepupu. Dan ia juga merasa sedih, mengingat bayi yang berada di dalam kandungan wanita itu,bukanlah miliknya.


Di saat Bastian sedang mengelus perut Dhita, dan Sepupunya itu juga menikmati kebersamaan mereka. Tiba-tiba ada seseorang yang menghempaskan tangan Bastian.


" Jangan pernah kau sentuh istriku!" suara itu terdengar begitu berat, menandakan sedang menahan amarah.


Arjuna yang tidak pernah rela istrinya di sentuh orang lain, apalagi orang itu adalah Bastian, pria yang jelas-jelas mengakui perasaannya terhadap Dhita di depan Arjuna.


" Maaf Ar, aku tidak bermaksud untuk...." kata-kata Bastian terpotong.


" Berapa kali harus aku peringatkan agar kau menjauhi istriku!" geraham Arjuna bergemerutup dengan rahang yang mengeras.


" Sudah mas, Jangan ribut-ribut," pinta Dhita yang langsung membuat Arjuna terdiam.


Begitupun dengan Bastian, yang sebenarnya ia juga merasa marah karena Arjuna karena telah menduakan cinta sepupunya.


Namun ia lebih memilih untuk diam, walau di hatinya ia merasa sangat murka. Tentu saja semua informasi itu ia dapatkan dari si kepala pelayan yang bekerja ganda. Sebagai pelayan Arjuna sekaligus sebagai mata-mata yang di kirim Bastian.


" Tidak bisakah kalian bersikap akur dan saling mengasihi?" punya Dhita kepada dua orang pria itu.


Mendengar permintaan dari wanita yang sama-sama mereka cintai, membuat keduanya terdiam.


" Apakah anak-anak kita kelak harus menyaksikan semua ini, Uncle dan Daddy nya yang selalu saja ingin bertengkar!" lanjut Dhita dengan penuh rasa kesal.


" Baiklah, aku akan berusaha untuk memulai semua dari awal, akan ku coba melupakan semua hal yang pernah terjadi di antara aku dan dia!" Arjuna berbicara ketika ia melihat sebuah harapan yang begitu besar di wajah istrinya.


Harapan yang ingin merasakan hidup lebih tenang dan damai.


" Aku pun begitu, akan berusaha menjadi kakak ipar yang baik untuk adik ipar ku." Bastian berkata dengan penuh kesungguhan.


Namun ucapan itu tidak membuat Arjuna luluh, ia merasa harus siap siaga jikalau ada sesuatu yang mendesak.


" Sekarang aku ingin kalian berdua berpelukan!" pinta Dhita dengan senyum kemenangan.


Bersedia atau tidak, Akhirnya Arjuna dan Bastian harus menyetujui keinginan nya.


Dengan ragu-ragu dan penuh kecanggungan, Arjuna dan Bastian saling merentangkan kedua tangannya, lalu berhambur saling memeluk satu sama lain.


Awalnya mereka merasa risih, namun ketika di rasakan kembali pelukan itu terasa hangat dan saling menguatkan.


" Terima kasih Ar!" ucap Bastian sembari menepuk pundak adik iparnya.


" Ya, aku juga mengucapkan terima kasih banyak, sekaligus aku meminta maaf atas semua kekesalan ku selama ini!" Arjuna pun membalas menepuk pundak Bastian.

__ADS_1


Dhita yang melihat semua itu, merasa terharu. Air mata kebahagiaan mengalir di pelupuk matanya.


" Mas, kakak!" panggil Dhita seraya berusaha untuk duduk dengan susah payah.


Mendengar panggilan dari wanita yang sangat mereka sayangi, membuat Arjuna dan Bastian segera berhambur ke arah Dhita.


" Peluk aku mas, Kakak!" pinta Dhita seraya merentangkan kedua tangannya.


Seketika Arjuna memeluk istrinya, namun tidak dengan Bastian. Ia lebih memilih untuk diam. Melihat hal itu, Arjuna paham dengan sikap Bastian.


" Bas!" panggil Arjuna kepada Bastian, yang langsung membalikkan badannya yang saat itu sedang membelakangi ponselnya.


" Ya!" Jawa Bastian.


" Kemarilah!" tangan Arjuna Lagi-lagi melambai.


Bastian pun menurut, ia kemudian melangkah menuju Arjuna dan Dhita.


Dengan sedikit ragu, Bastian merentangkan kedua tangannya lalu memeluk sepupunya dengan penuh rasa bahagia.


Arjuna yang tidak bisa melihat istrinya memeluk pria lain, tetap berusaha untuk tetap diam dan menerima semua perbedaan.


Tepat pada saat itu juga, Citra datang untuk memberikan sesuatu kepada dhita.


" Oh maaf!" ucap Citra sembari berbalik membelakangi Arjuna dan Bastian.


" Tidak apa-apa, kemarilah!" ucap Arjuna.


Namun Citra yang masih bingung dengan semua insiden yang berlaku di sana, hanya bisa termangu. Namun Sesekali ia melirik ke arah Bastian, dalam hati ia bertanya-tanya siapa pria itu.


Karena tidak ada respon dari Citra, sekali lagi Arjuna melambaikan tangannya.


Kemudian dengan rasa ragu, Citra menghampiri ketiga orang yang berada tidak jauh darinya.


" Maaf!" ucap Citra sekali lagi.


" Tidak apa-apa, oh ya, kenalkan ini sepupuku, Bastian." Dhita memperkenalkan Bastian kepada Citra.


" Bastian!" ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


" Citra!" Jawab Citra menjabat tangan Bastian.


Walaupun Bastian telah mengetahui semua yang terjadi di dalam kehidupan mereka, namun ia tetap berpura-pura tidak mengetahuinya.

__ADS_1


__ADS_2