Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 09 Permintaan hati


__ADS_3

Sesuai perjanjian Reyhan harus rela menjadi asisten seorang gadis galak yang tukang jahil, alias Rena.


Reyhan melakukan semua itu karna ia tulus untuk meminta maaf, entah mungkin karna terlalu sering bersama, Reyhan pun mulai menyukai Rena.


Di pandang nya seluruh tubuh indah nan molek putih bersih tanpa ada noda sedikitpun, Kecantikan yang benar-benar alami.


Reyhan memandang nya dari ujung kepala hingga ujung kaki, matanya hampir tak berkedip.


" Cantik juga gadis ini !" gumam Reyhan dalam hati.


" Heei bengong aja kenapa sich" ucap Rena.


Rena mengejutkan kan reyhan. Tampak di kedua belah tangannya sedang menjinjing sesuatu. Rupanya ia telah selesai berbelanja.


" Udah belanjanya? " tanya Reyhan dengan sebuah senyuman.


" Iya nich, bayarin ya " jawab Rena dengan sedikit centil.


" Jangankan cuma bayarin belanjaan ini, di suruh borong semua isi toko ini aku pasti mau" ucap Reyhan setengah berbisik. Hampir tak terdengar.


" Tuh kan bengong lagi.. apa sih yang kamu pikirin" ucap Rena yang mengira bahwa pria di depannya sedang termenung.


" Gak kok, yuk kita kekasir". ajak Reyhan.


Setelah selesai membayar belanjaannya di kasir, mereka berdua berjalan beriringan keluar dari tempat tersebut.


Cuaca terasa cukup panas, begitu menggerahkan. Namun hal itu tidak mempengaruhi perasaan Reyhan terhadap gadisnya.


" Ren apa selama ini kamu pernah merasakan jatuh cinta? " Reyhan bertanya begitu mereka duduk berdua di dalam mobil.


" Boro-boro jatuh cinta deket sama cowok aja gak pernah ." jawab Rena sejujurnya, memang selama ini ia tidak pernah sekalipun mengenal lelaki apalagi berpacaran.


" Kalau seumpama ada cowok naksir kamu gimana? " tanya Reyhan sambil perlahan menjalankan mobilnya.


" Emang nya siapa, mana ada cowok yang mau sama aku" tiba-tiba Rena tertunduk sedih.


" Kalo ternyata ada? " ucap Reyhan lagi.


" Siapa sih.. jangan buat aku penasaran deh."


" Orang nya lagi duduk di sebelah kamu saat ini" ucap Reyhan serius.


" Apa? kamu? " Rena tertawa geli, karna menurutnya lucu sekali melihat tingkah Reyhan. Orang yang selama ini selalu ber ulah padanya, kini menyatakan CINTA.


" Aku serius" Reyhan menatap Rena dengan intens.


Reyhan menghentikan mobilnya.


" Sekarang kamu lihat mataku apa aku kelihatan bercanda ," Reyhan menatap mata Rena lebih dalam.


Rena menatap mata indah milik reyhan, lalu ia menunduk tak kuasa ia memandangnya jantungnya berdegup begitu kencang.


" Kamu mengertikan maksudku? " ucap Reyhan kemudian.


Reyhan memegang tangan Rena yang mulai dingin, tangan itu terasa bergetar bahkan saat Reyhan mulai meremas jemarinya.


Jantung Rena semakin berdegup kencang.


" A... aku... " Rena kebingungan hatinya terasa bimbang.


" Kau jawab iya atau tidak ! " Reyhan mulai tak sabar ucapannya terkesan sedikit memaksa.


" I... iya.. aku juga cinta sama kamu... " jawab Rena terbata-bata.


Suara Rena terdengar sedikit bergetar, namun bagi Reyhan itulah suara paling merdu yang pernah ia dengar.


" Makasih.. sayang.. kamu udah mau membuka hati mu untukku" Reyhan mengecup jemari lentik milik Rena.


" Maukah kamu janji sama aku ?" pinta Rena


Reyhan mengangguk..


Rena memandang Reyhan tampak kedua matanya mulai berkaca-kaca.


" Jangan pernah berpikir untuk menyakitiku ." ucapnya lagi.

__ADS_1


" Pasti sayang.. apa pun akan ku lakukan untukmu, akan ku jadikan kau satu-satunya ratuku akan ku buat kau bahagia ." janji Reyhan pada Rena.


Reyhan mengecup kening Rena. Tak terasa bulir-bulir bening mengalir di mata Rena, ia tak mampu lagi membendung rasa bahagianya. Ya air mata penuh kebahagiaan.


Dengan bersatunya cinta kasih mereka maka berakhirlah sudah segala perselisihan yang pernah mereka alami selama ini. Mereka mencoba membuka lembaran - lembaran baru, lembaran yang penuh cinta.


...****************...


Setelah mengantar Rena terlebih dahulu, akhirnya Reyhan memutuskan untuk kembali ke kantor, menemui sang ayah.


Mendengar penuturan putranya pak Teddy panduwinata turut berbahagia karna Reyhan tak salah memilih calon pendamping. Baginya Rena adalah gadis yang baik, tipe gadis setia.


" Papa bangga padamu, Reyhan" ucap pak Teddy.


" Makasih pa ." ucap Reyhan.


" Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? " tanya pak Teddy.


" Pa kami masih ingin menata diri kami masing-masing, beri kami waktu karna Reyhan gak mau salah ngambil keputusan" ucap Reyhan.


Sang ayah mengangguk mencoba mencerna kembali ucapan putranya.


" memang benar jika seseorang sangat bijaksana dalam mengambil keputusan maka ia akan memperoleh kebahagiaan, akan tetapi jika ia salah bisa-bisa menyesal seumur hidupnya. " pak teddy membatin.


...****************...


Di apartement Rena.


Angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan setiap insan di muka bumi. Tampak seorang gadis cantik jelita berlari-lari kecil mengikuti irama suasana alam semesta. Sepatunya yang gemerisik menyentuh lantai,ia menari-nari dengan gayanya yang anggun.


Ke dua sahabatnya menatap dengan heran.


" Kesambet dimana kamu !" seru Dhita.


" Iya nih senyum-senyum gak jelas " timpal Puri.


" Apapun yang kalian katakan terserah, yang penting hari ini aku seneng... banget.." Rena tetap senyum-senyum sendiri.


Puri dan Dhita berpandangan dengan heran,


" gak biasanya si rena seceria itu pasti ada yang gak beres" pikir keduanya.


" Kamu ingat cowok yang sering antar jemput aku? " Rena balik bertanya.


ia meletakkan bingkisan belanjaannya di meja.


" Iya ingat emang kenapa" ucap Puri.


" To the point aja deh Ren mau ngomong apa ?" Dhita yang merasa penasaran mulai tak sabar.


" Tadi dia nembak aku, dia nyatain cinta ke aku ." ucap Rena bahagia.


" What? benar -benar dewi keberuntungan berpihak padamu Ren " Puri merasa kagum.


" Selamat ya Ren aku ikut senang, kirain tadi dah mulai konslet tuh otak " Dhita berseloroh karna merasa gembira.


" Ta, sebentar lagi orang-orang akan manggil aku dengan sebutan nyonya Rena panduwinata, istri dari pewaris tunggal orang ternama di kota ini" Rena mulai menghayal.


" Aduh Ren jangan tinggi-tinggi ya kalo ngehayal, ntar kalo jatuh sakit baru tau rasa" Puri mulai gemes dengan tingkah Rena.


" Sirik nih ye... " Rena mencibir ke arah Puri.


" Ge er banget sih lo" semprot Dhita.


" Biarin " ucap Rena lalu pergi dengan langkah yang sengaja di buat-buat, meliuk-liuk ke kanan ke kiri layak nya seorang nyonya besar.


" Dhi, apa setiap orang yang jatuh cinta akan bersikap sama seperti Rena? " Puri bertanya, maklumlah ia belum pernah sekalipun merasakan hal itu se umur hidupnya.


" Entahlah... tapi setau aku gak sih ." jawab Dhita, ia pernah mengalami yang namanya jatuh cinta namun ia tak pernah mengalami seperti apa yang di alami Rena.


" Dia kenapa ya..? " tanya Puri dalam kebingungannya.


" Eh dari pada penasaran kita susul aja yuk ke kamarnya. " ajak Dhita.


Diam-diam Puri dan Dhita membuka pintu kamar Rena yang tidak terkunci. Mereka melihat Rena tengah berada diantara tumpukan baju. Rupanya ia sedang sibuk mencoba baju barunya, satu persatu ia menempelkan baju barunya dan di lihat dirinya di cermin, berputar-putar seraya berkhayal.

__ADS_1


" Bagus-bagus bajunya Ren !" Dhita terlihat kagum melihat dress warna warni di depannya, " harganya pasti mahal " pikirnya.


" Oh iya dong inikan pemberian dari Reyhan" jawab Rena senang mendengar pujian dari sahabatnya.


" Pemberian apa pemberian nih ." tukas Puri.


" Ya... pemberian lah, ih sirik aja deh gak bisa apa liat orang seneng ." ucap Rena sedikit mendongkol.


" Jadi kamu jatuh hati sama cowok yang kamu bilang Belagu itu ." Puri memperjelas ucapannya.


" Iya itukan dulu, sekarang dia udah berubah, Romantiss ." ucap Rena senyum-senyunlm sendiri, mengingat kembali insiden pernyataan cinta Reyhan kepadanya.


Puri tertarik melihat gaun merah jambu yang tengah di pegang Rena.


" Eh, boleh dong aku nyobain bajunya.. " Puri mengambil gaun di tangan Rena.


" Jangan dong inikan punya aku, jadi aku dulu yang nyobain". Rena merampas kembali bajunya.


" Aku dulu ." Puri kembali menarik baju itu.


" Aku dulu ." Rena tak mau kalah.


Terjadilah peristiwa tarik - tarikan baju, Dhita hanya melihat ke duanya dengan tatapan bingung.


Terdengar suara berderak.


Kraaaakk


Mereka berhenti saat melihat gaun merah jambu itu robek, tepat di bagian pinggul. Puri panik, Rena membelalakkan matanya menatap gaunnya yang telah robek.


" Gaun ku.... " ucap Rena lirih, matanya memerah menahan rasa marah.


" Maafin aku Ren. " Puri merasa bersalah.


" Sekarang kamu puas kan... asal kau tau gaun ini mau aku pakai pas acara dinner" Rena benar-benar marah.


" Tapi aku kan gak sengaja.. " ucap Puri penuh penyesalan.


" Kamu keterlaluan kamu egois kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri tanpa memperdulikan orang lain ." Kata-kata caci maki terlontar begitu saja dari mulut Rena. Matanya menatap tajam ke arah Puri.


" Ren cukup Ren, aku tau aku salah aku minta maaf ," bulir -bulir bening menetes dari sudut mata Puri.


" Semudah itu kamu minta maaf, dasar kamu tidak berbudi pergi kamu dari sini ." Rena berteriak ia telah kalap, ia tak lagi mengingat tentang kebaikan Puri, se akan -akan ia lupa segalanya.


" Cukup Ren, aku tau aku numpang disini tapi bukan berarti kamu boleh memaki aku seenaknya, baiklah mulai sekarang aku gak akan lagi tinggal disini, aku pergi.. " ucap Puri yang telah terlanjur sakit hati.


" Pergi kamu sana dan jangan pernah injak kan kaki mu lagi di sini ." Teriak Rena dengan emosi tak terkontrol.


" Ren sudah, kan masih banyak baju kamu yang baru, mengapa hanya satu baju yang diributkan" Dhita berusaha menengahi pertengkaran di antara kedua sahabatnya.


" Udah dhi, sekarang kamu keluar jangan ganggu aku ." Rena tak lagi mau mendengarkan ucapan siapapun karena dirinya benar-benar telah di butakan oleh amarah.


Dengan perasaan sedih Dhita meninggalkan Rena sendiri di kamarnya. Ia berniat menyusul Puri yang telah sejak tadi meninggalkannya.


Sesampai di kamar Puri ia melihat sahabatnya tengah mengemasi semua barang-barangnya.


" Puri... " panggil Dhita lirih, air mata nya menetes membasahi pipinya.


" Maafin aku dhi, aku harus pergi ." ucap Puri yang telah sejak tadi menumpahkan air matanya.


" Tak bisakah kamu tetap disini? se nggak nya demi aku.. " pinta Dhita berharap sahabatnya tidak akan pergi dari apartemen itu.


" Rena mengusirku, jadi untuk apa aku disini lagi pula aku udah gak tahan dengan sikap keras kepalanya si Rena. " ujar Puri.


" Terus kamu akan tinggal dimana? " tanya Dhita khawatir.


" Di kontrakan kita yang dulu lebih baik aku tinggal di sana. " jawab Puri.


Mereka saling berpelukan untuk beberapa lama. Penuh derai air mata dari keduanya.


" Aku yakin Dhi, kamu bisa menghadapi Rena dengan kesabaranmu" ucap Puri di antara isak tangisnya.


" Kamu hati-hati ya... kalau ada apa-apa calling aku" pesan Dhita sambil melepaskan pelukannya.


Puri mengangguk di paksanya untuk tersenyum sekedar menghibur sahabatnya. Berat rasanya mereka untuk berpisah namun apalah daya semua telah terlanjur.

__ADS_1


Mereka hanya berharap dengan peristiwa ini Rena bisa merubah sikapnya. Kini ketiga sahabat telah tercerai berai, benar kata pepatah tak ada gading yang tak retak.


" Mengapa harus berakhir seperti ini.. " gumam Dhita pada dirinya sendiri, kemudian ia pergi ke kamarnya.


__ADS_2