
"Maafkan saya tuan." bi Murni mengiba dengan kepala tertunduk.
"Ya sudah, lain kali jangan di ulangi lagi, karena aku tidak mau Ansel mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya!" jawab Jason menatap bi Murni lekat, dengan tatapan yang menyeramkan.
"Dan aku tidak ingin Ansel menjadi anak yang pesimis, dia harus bisa lebih berani untuk mengemban tugas yang akan aku berikan kepadanya kelak." lanjut Jason.
Timbul di dalam benaknya, tentang bayang-bayang Ansel ketika dewasa. Dan itu membuat Jason tersenyum sendiri.
"Ya Tuhan, ternyata tuan Jason dan nyonya Fanny sama-sama jahat, sama-sama hanya mementingkan dirinya sendiri, kasihan tuan kecil, entah apa yang akan terjadi kepada dirinya saat dia besar nanti jika seumur hidupnya hanya untuk di peralat oleh tuan Jason dan nyonya Fanny." pikir bi Murni.
"Tunggu apa lagi, ayo cepat bawa Ansel ke kamar VVIP!" perintah Jason lagi ketika mendapati bi Murni yang terlihat bingung.
"Baik tuan." sahut Bi Murni dengan patuh dan segera menggendong Ansel lalu membawanya pergi dari ruangan itu.
Bi Murni memasuki ruang VVIP yang sebelumnya telah di tempati oleh Ansel, hanya saja Fanny yang tidak waras malah menyuruh bi Murni untuk memindahkan Ansel dari ruangan itu.
Jason mengikuti bi Murni dan Fanny dari belakang, rupanya ia ingin memastikan kalau Ansel benar-benar mendapatkan perawatan yang intensif.
"I go first, jaga Ansel baik-baik!" ucap Jason seraya pergi meninggalkan ruangan itu.
"Honey ~ tunggu!" panggil Fanny menghentikan langkah Jason.
"Kau tidak marah kepadaku kan? secara ini bukan kesalahanku, ini semua hanya salah paham!" Fanny mengiba berharap pria tua itu tidak akan marah kepadanya.
"Oh no baby, aku tidak marah padamu!" ucap Jason.
Mendengar perkataan dari Jason membuat Fanny senang bukan main, karena dengan begitu ia tidak akan kehilangan ATM berjalannya.
Ya, Fanny memang mengaggap Jason sebagai ATM berjalan secara pria tua itu sangatlah kaya raya, oleh karena itu Fanny selalu berusaha untuk memikat hati Jason.
Seperti biasanya, sebelum pergi Jason selalu cipika-cipiki dengan Fanny, membuat wanita itu merasa satu-satunya yang paling di cintai oleh Jason.
"Bi makasih telah membantuku tadi!" ucap Fanny dengan suara datar.
"Saya hanya tidak ingin tuan Jason marah pada nyonya," jawab Bi Murni.
"Ya, jika sampai dia marah padaku, maka kalian berdua pasti akan mendapat imbasnya juga, secara aku tidak akan sanggup untuk menggaji mu dan juga biaya hidup Ansel." ucap Fanny, ia sengaja berbohong karena ia tidak ingin uang yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun berkurang begitu saja.
"Hanya satu yang saya harapkan dari nyonya,"
"Apa?"
__ADS_1
"Sayangi dan kasihi tuan kecil nyonya, seperti nyonya menyayangi anak sendiri."
"Duh~ bi Murni, aku belum pernah memiliki seorang anak pun, jadi mana kutahu kasih sayang itu seperti apa, tapi menurutku kau itu lebih berpengalaman dalam hal ini,"
"Maksud nyonya apa?"
"Kau saja yang memberikan dia kasih sayang seperti yang ucapkan tadi, tidak susah bukan?"
Bi Murni terdiam mendengar ucapan majikannya, cara apalagi yang harus ia lakukan untuk menyadarkan majikannya itu.
*
*
*
Di rumah Bastian.
Sesuai waktu yang telah di tetapkan, hari ini adalah hari kebahagiaan bagi Bastian dan Citra.
Arjuna dan Dhita telah siap untuk mengikuti acara lamaran atau pertunangan, mereka telah berada di mansion Bastian yang tidak kalah mewah dari mansion mereka.
Mommy Rita pun berada di sana, dengan menggendong Diana yang sedang tertidur pulas di dalam dekapannya.
"Mari kita berangkat!" ajak pak Setyo ketika Bastian telah siap untuk pergi ke acara pertunangannya.
"Mari!" sahut Arjuna.
Kemudian mereka pun pergi dengan menggunakan mobil masing-masing.
Sesampainya di rumah Citra, mereka semua di sambut dengan bahagia. Senyum sumringah terpancar di wajah masing-masing.
Hanya Citra, dia yang terlihat malu-malu walaupun sebenarnya pertunangan ini bukanlah yang pertama baginya.
"Ayo sambut calon tunangan mu!" ucap Bu Devina karena melihat putrinya yang hanya diam saja.
"Iya ma!" jawab Citra lalu menyalami tangan Bastian dan mencium tangan itu dengan penuh hormat.
Dan hal itu membuat Bastian merasa sangat di hormati, jujur baru pertama kalinya ia di perlakukan seperti itu oleh seorang wanita.
"Ternyata paman dan bibi tidak salah memilih mu untuk ku." bisik Bastian kepada Citra, dan membuat pipi Citra merona seketika.
__ADS_1
Namun tak hanya Citra yang mendengar bisikan Bastian, Karena Dhita juga mendengarnya dan berkata.
"Citra adalah wanita pilihan yang di kirim tuhan untukmu, jadi ku mohon bahagiakan dia, jadikan dia sebagai satu-satunya ratu di hatimu."
"Pasti!" jawab Bastian.
"Semua ini tidak luput dari dirimu, aku selalu belajar dari sikap dan sifatmu, dan hal itu membuat diriku menjadi wanita yang lebih berharga dari sebelumnya." sahut Citra.
Masih teringat lekat tentang dirinya yang dulu,
Citra yang egois dan menghalalkan segala cara demi meraih impiannya. Namun, sekarang tidak lagi, karena ia telah benar-benar berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik.
"Apapun masa lalu mu, aku akan selalu menerima dirimu apa adanya." sahut Bastian memantapkan dirinya.
"Sudah sudah, mari kita mulai dulu acaranya!" seru pak Aditya.
Karena sejak tadi pak Aditya melihat putrinya yang sedang berbincang dengan Dhita dan calon tunangannya.
Jujur pak Aditya sangat merasa bahagia saat ini, dari pada pernikahan putrinya yang sebelumnya.
Pak Aditya merasa sangat bersyukur akhirnya Citra bisa mendapatkan status yang jelas di dalam bermasyarakat.
Acara pertunangan pun dimulai, Tampak Citra malu-malu ketika Bastian meminta jari tangannya untuk di sematkan sebuah cincin pertunangan.
"Ayo, berikan jarimu!" seru bu Devina kepada Citra yang terlihat begitu kaku.
"Ayo!" seru Bu Devina lagi karena melihat putrinya tidak bergeming.
Dengan Malu-malu Citra mengulurkan tangannya, yang langsung di sambut oleh Bastian dengan senyum sumringah.
Tangan Bastian menyentuh tangan Citra dan itu membuat Citra maupun Bastian merasakan sesuatu hal yang aneh, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Alhamdulillah ~ !" seru semua orang penuh rasa syukur, saat Bastian telah menyematkan sebuah cincin di jari Citra.
"Selamat ya, untuk kalian berdua!" seru Dhita.
Dia orang yang pertama kali mengucapkan selamat kepada Bastian dan Citra. Kemudian yang lain juga mengikuti mengucapkan selamat.
"Terima kasih !" ucap Bastian dan Citra hampir bersamaan.
Tampak wajah Citra merona bersemu merah karena rasa bahagia yang mulai menjalar di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku berjanji akan menjadikan dirimu satu-satunya wanita yang berada di dalam hidupku." ucap Bastian sungguh-sungguh.