Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 24 di banding- bandingkan


__ADS_3

Lampu lampu kembali di nyalakan menerangi seisi rumah mewah bak istana, pertanda lagu yang di bawakan oleh arjuna telah selesai. Tak jemu-jemu para tamu mengagumi design rumah itu, dengan fasad dan foyer yang megah dilengkapi tata ruang yang cukup luas sehingga membuat tamu-tamu tidak merasa bosan walau mereka telah lebih dari 2 jam berada di sana. Rumah itu juga dilengkapi dengan pilar-pilar yang berdiri kokoh serta pagar yang menjulang tinggi mencakar langit, menambah kemewahan nya.


Para pelayan menyuguhkan makanan dan minuman pada para tamu. Mereka semua menikmatinya dengan penuh suka cita.


Citra mendekati arjuna yang sedang asyik mengobrol dengan dhita dan juga teman-temannya.


" Hai... ar pa kabar...?" tanya citra, ia baru menanyakan kabar arjuna karna sedari tadi ia tidak memiliki kesempatan untuk menyapa arjuna.


" Eh.. citra .. kabar baik, kamu sendiri gimana ?" arjuna balik bertanya, sejak tadi ia tidak menyadari kalau ada citra yang ia anggap sebagai adik ada di sana.


" Ya... udah dari tadi kalee..., mentang-mentang udah punya pacar terus lupa deh sama aku." citra melirik ke arah dhita berpura-pura ramah, padahal di hatinya ingin rasanya ia mencakar-cakar wajah wanita itu.


Devina, mama nya citra ia yang telah mengajarkan pada nya bahwa ia harus bermain dengan halus, " jadilah kawan untuk menghancurkan lawan." Itulah pesan yang dikatakan devina.


Sementara itu dhita dan sahabat-sahabatnya sedang bersenda gurau, sambil menikmati hidangan yang di sajikan. Tanpa mereka sadari citra menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


" Apa yang kamu lihat ?" arjuna bertanya pada citra.


Citra mengisyaratkan dengan kepalanya.


" Tuh, cewek kamu cantik juga, rupanya selera kamu seorang cewek muslimah ya...pantes selama ini kamu gak ada satupun ngelirik wanita-wanita yang suka godain kamu." jawab citra.


" Eh, kayaknga aku pernah lihat dia deh..., tapi di mana ya...?" citra berpura-pura lupa, padahal ia ingat betul kalau dhita adalah karyawan nya sendiri.


" Dia karyawan kamu, kerja di toko buku milikmu." jawab arjuna.


"Ohh.. pantes aku ngerasa kayak kenal gitu."


Citra berbalik menghadap dhita, ia secepat mungkin ingin masuk ke dalam kehidupannya agar bisa memantau perkembangan hubungan mereka sekaligus menghancurkannya dari dalam.


" Dhita ya..." seru citra masih berpura-pura ramah.


" eh... bu citra.. apa kabar ?" dhita dengan polos menanyakan kabar atasannya.


" Baik kok.., jangan panggil ibu.. dong, panggil citra aja ya..." citra menampilkan senyuman palsu.


" Tapi kan.. ibu.. citra atasan saya , gak sopan kalo saya manggil nama ibu gitu aja." dhita merasa kurang enak hati.


Citra mengulurkan tangannya.


" Bagaimana kalo kita berteman dengan begitu kamu gak perlu merasa gak enak hati."


Dhita menyambut uluran tangan citra, mereka pun berteman. Dhita mengira bahwa citra tulus ingin berteman dengannya. Sifatnya yang polos membuat ia tidak merasa curiga sedikitpun.

__ADS_1


kemudian dhita memperkenalkan citra pada kedua bestienya, mereka pun menyambutnya dengan hangat.


Citra yang seorang wanita karier cepat mengakrabkan diri dengan dhita dan kedua sahabatnya.


" Sekarang kita punya bestie baru nih." ucap puri sambil menepuk pundak citra.


" Selamat bergabung bestie. " sambung rena.


" Makasih bes...tie..." jawab citra dengan suara sedikit lebih pelan.sebenarnya ia merasa risih, harus berteman dengan wanita kampung seperti dhita dan kedua bestienya. tanpa di ketahui oleh mereka citra menepis pundaknya yang telah disentuh oleh puri. sepertinya ia tak sudi.


Jarum jam menunjukkan pukul 10:45 para tamu banyak yang undur diri, hari semakin malam. Rena dan puri segera berpamitan pada arjuna dan ibunya.


Mommy rita saat itu sedang berbisik-bisik dengan tante devina, sepertinya ada yang sedang mereka rencanakan. Melihat kedatangan teman-teman dhita, mommy rita segera menghentikan obrolannya.


" Tante.. kami pamit pulang dulu ya..makasih lo tan ... atas jamuannya..." ucap rena sekedar berbasa-basi. kemudian mereka berpelukan, yang di ikuti oleh puri.


" Semoga Sehat selalu dan panjang umur ya tan..." puri.


" Iya... terima kasih ya... gadis-gadis cantik.." ucap mommy rita.


Mereka pun berpamitan, meninggalkan dhita yang masih bersama citra, mereka mengerti pasti dhita ingin mengenal lebih dalam lagi tentang keluarga kekasihnya.


Entah berada dimana arjuna saat ini, sejak tadi dhita melihat sekeliling namun tak tampak batang hidungnya. Mommy rita mengajaknya ke ruang keluarga, disana ruangannya lebih luas. sederet sofa berukuran besar menghiasi ruangan itu.


Dhita duduk dengan menundukkan kepala, untuk beberapa saat mereka saling berdiam diri, tengah asyik dengan pikiran masing-masing.


Citra sengaja duduk di samping mommy Rita, ia duduk berhadapan dengan dhita.Tujuannya agar mommy Rita bisa leluasa membandingkan dirinya dengan dhita.


" Kamu berasal dari mana ?" Tanya mommy Rita, ia rasa dirinya harus tau asal usul gadis yang telah menjerat putranya dengan nama cinta. Begitulah pemikiran mommy Rita saat itu.


" Aku... aku berasal dari desa xxxx." jawab dhita ragu-ragu.


" Apa? dari desa? ." ucap mommy Rita, ia terperanjat. " bagaimana bisa putraku mendapatkan seorang gadis desa." pikir mommy Rita.


Dhita masih menunduk, ia tau walaupun tak melihat langsung wajah ibu dari kekasihnya, bahwa wanita ini tidak menyukainya. namun ia tetap berusaha untuk tenang.


" Apa kamu benar-benar mencintai Arjuna ?" Mommy Rita menatap lekat kepada dhita.


" Atau.... kamu cuma ingin memanfaatkannya saja kan, kamu jerat anakku dengan cintamu dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan ?" lanjut mommy Rita.


Merasa dirinya di rendahkan dhita angkat bicara.


" Maaf tante... aku benar-benar cinta sama mas Ar, dan aku gak pernah mau memanfaatkannya ataupun meminta sesuatu padanya." dhita membela diri.

__ADS_1


" Memang nya apa yang bisa kamu berikan pada anakku, nama baik ? ketenaran ? atau..." mommy Rita tidak meneruskan kata-katanya , hanya saja netranya melirik ke arah dhita dengan pandangan sinis.


" Maaf sebelumnya tante.. jika dalam sebuah hubungan hanya untuk mencari ketenaran, maka Robot lebih layak untuk di nikahi dari pada manusia, karna robot akan memberikan apapun yang kalian inginkan." ucap dhita dengan suara yang lebih tegas.


" Robot akan menuruti apa yang tante inginkan, tapi ketahuilah tante cinta pada dasarnya hanya mengharapkan Ridho ilahi, karena hanya dengan ridhonya, maka hidup kita akan terasa lebih tenang dan damai bukan karena popularitas ataupun ketenaran." ucap dhita lagi.


Mendengar ucapan dhita, telinga mommy Rita seakan-akan terasa panas. Jujur selama ini tidak ada yang berani menegurnya apalagi menasehatinya. Dhita yang hanyalah gadis kampung telah berani menegurnya, itupun dhita lakukan karena ia merasa bahwa wanita di depannya ini telah salah mengartikan cinta yang sebenarnya.


Sebenarnya mommy Rita hanya tidak ingin putranya salah dalam memilih pasangan hidup, karena ia teringat akan masa lalunya walaupun menikah dengan orang yang dicintainya itu tidak menjamin kebahagiaan baginya, karna ia harus rela melepaskan cintanya demi keselamatan mereka berdua.


" Berani sekali kamu menasehatiku, memangnya siapa dirimu, hanya gadis desa yang tidak tau malu." mommy Rita mulai tersulut emosi, rencananya ia yang ingin membuat dhita marah, eh malah dirinya yang kena perangkapnya sendiri. Sungguh senjata makan tuan namanya.


" Coba kamu lihat Citra ini, dia wanita karier yang hebat, anak orang kaya kurasa... dia lebih cocok untuk putraku arjuna." lanjut mommy Rita, membanding-bandingkan antara dhita dan citra yang sudah jelas-jelas berbeda.


Dengan senyum tenang citra menjawab.


" Tante... manusia di ciptakan dengan berbagai perbedaan bukan untuk di banding-bandingkan, tetapi agar mereka bisa saling menghormati dan saling menyayangi, dari kondisi perbedaan itulah kita hidup saling melengkapi."


" Jika kita kaya sebagian dari harta kita adalah milik mereka yang kurang mampu, hanya saja Allah menitipkannya pada kita agar kita bisa mengamalkannya pada mereka. bukannya malah membanggakan diri sendiri dan menghina orang lain." Dhita dengan segenap keberanian yang ia kumpulkan mulai mendebat mommy Rita.


" Ya.. aku memang hanya seorang gadis desa yang miskin tante.... tapi aku memiliki harga diri dan kehormatan yang selalu aku jaga tante..." dhita menahan air mata yang mulai mengambang di sudut netranya.


" Sudah lah tante... mungkin dhita adalah jodoh yang dikirim tuhan untuk arjuna, ku sarankan tante bisa menerimanya demi kebahagiaan arjuna." citra ikut bicara yang sedari tadi hanya menyimak.


Ia lakukan semua itu hanya demi mendapat kepercayaan dari dhita, sebelum ia menghancurkannya.


Mommy Rita memicingkan netranya, menerka -nerka apa yang ada di dalam pikiran citra yang sebenarnya. Karna setau dirinya citra menyukai arjuna, bagaimana bisa ia mengatakan hal itu menurutnya.


Tapp...


Tappp


Terdengar suara langkah kaki dari luar, ternyata arjuna entah sedang dari mana dia.


" Rupanya kalian disini, ?" ucap arjuna. ia memandang pada kekasihnya.


" Apa yang sedang kalian bicarakan.?"


" Mommy hanya...." mommy Rita tidak bisa meneruskan ucapannya karna ia khawatir arjuna akan marah akan dirinya yang telah mengintrogasi kekasihnya.


" Kami hanya mengobrol seputar kepribadian masing-masing agar bisa lebih saling mengenal mas." ucap dhita dengan senyum lebarnya, seolah semuanya baik-baik saja.


Mommy Rita merasa lega atas ucapan dhita, karna arjuna tak akan curiga bahwa dirinya tidak menyukai gadis yang telah menjadi kekasih putranya.

__ADS_1


__ADS_2