Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 106 Sempurna


__ADS_3

Terdengar suara adzan subuh berkumandang.


Dhita membuka kedua matanya ia merasakan ada rasa yang berbeda pada dirinya. Rasa perih yang membuat ia tidak nyaman. Di sebabkan oleh seorang pria yang saat ini masih berbaring di sampingnya.


Ada rasa bahagia saat Dhita menatap wajah tampan pria itu dengan tangan masih memeluknya erat-erat.


Membuat Dhita teringat kembali tentang gambaran bagaimana semalam pria itu menjatuhkan dirinya dengan sangat *******.


" Mas," terdengar suara Dhita yang lembut, tidak seperti waktu kemarin yang terdengar kasar.


Mendengar suara wanitanya membuat Arjuna membuka kedua matanya. Lalu menatap wajah cantik yang telah memberinya kepuasan semalam.


" Telah subuh, yuk kita bangun,!" ajak Dhita kepada suami yang telah membuat seluruh tubuhnya terasa sakit.


Arjuna memandang istrinya dengan keraguan. Apakah wanita itu mampu berjalan ke bathroom, mengingat dirinya yang dengan **** melakukan semua itu ke padanya.


Arjuna bangkit dari ranjangnya lalu mengangkat tubuh sang istri.


" Mas, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Dhita ketika pria itu menyentuh dirinya, karena ia merasa tidak akan sanggup jika harus memberikannya lagi. Mengingat di bawah sana masih sangat terasa ***** akibat ulah pria itu.


" Aku akan membantumu!" jawab Arjuna seraya terus membawa istrinya ke dalam bathroom.


" Mas, lepaskan aku bisa sendiri." Dhita masih saja meronta karena ia merasa malu harus di gotong seperti itu oleh suaminya. Dimana ia yang tidak mengenakan apapun, dan begitu juga dengan suaminya.


" Sudah jangan banyak membantah, aku tahu kau pasti sangat kerepotan jika tidak ku bantu."


Kemudian Arjuna mendudukkan dirinya ke dalam bak mandi, lalu mengisi bak itu dengan air hangat.


" Kenapa memakai air hangat mas?" tanya Dhita sempat kebingungan.


" Ini akan membantumu merasa lebih baik!" jawab Arjuna tanpa menoleh ke arah Dhita.


" Cepat, selesaikan mandi mu!"


Arjuna keluar dari dalam bathroom, meninggalkan istrinya yang kebingungan dengan sikapnya.


" Apa semua pria bersikap seperti dingin, jika mereka telah mendapatkan apa yang mereka inginkan?" seluruh pikiran Dhita di penuhi tanda tanya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Arjuna memilih untuk tidak melihat wanita polos itu, melainkan karena dirinya tidak ingin membuat wanitanya kerepotan lagi.


Arjuna mengambil dua buah bathroob dari lemarinya. Yang satu dikenakannya dan yang satu lagi ia letakkan di pintu bathroom agar mempermudah Dhita untuk memakainya.


Setelah beberapa saat lamanya, Dhita pun telah selesai membersihkan dirinya. Ia keluar dari dalam bathroob dengan langkah **********.


Melihat istrinya berjalan seperti itu membuat Arjuna berniat hendak membantunya, namun Dhita menolak.


" Kenapa?" tanya Arjuna, ia merasa heran padahal ia sendiri hanya berniat membantunya.


" Aku telah mengambil wudhu' mas, jika kau pegang diriku, maka wudhu' ku akan batal." jawab Dhita yang langsung membuat Arjuna tersenyum tersipu malu.


" Maaf, aku lupa," ucap Arjuna sembari terkekeh.


Bisa-bisanya ia lupa dengan hal yang sesederhana itu


" Sudah, sekarang kau bersihkan dulu dirimu, jangan bilang kau juga lupa bacaan niatnya?" ledek Dhita, yang langsung membuat wajah Arjuna berubah masam.


" Jangan keterlaluan, mau aku beri."


Sembari menunggu suaminya membersihkan diri, Dhita duduk di atas sajadah yang sebelumnya telah menggunakan mukena. Dhita mengucapkan kalimat-kalimat pujian seperti yang biasa ia lakukan semasa dulu.


Arjuna yang telah keluar dari bathroom, merasa bahagia mendengar suara merdu sang istri. Ia bersyukur telah di kirimkan jodoh seorang wanita Sholehah.


Setelah berpakaian rapi dengan menggunakan kopyah hitam, semakin menambah poin ketampanannya. Dhita yang melihat suaminya telah berubah mirip seorang ustadz, tersenyum manis menatap wajah tampan suaminya.


Kemudian mereka shalat subuh bersama-sama. Arjuna sebagai imam dan Dhita sebagai ma'mumnya.


Setelah berdoa Dhita meraih tangan suaminya, lalu menciumnya. Sungguh suasana yang harmonis bukan.


" Terimakasih sayang, kau telah membuat hidup ku benar-benar sempurna." bisik Arjuna sembari mengecup kening istrinya.


" Aku juga bersyukur memiliki suami yang baik sepertimu mas," jawab Dhita lalu bersandar di dada bidang suaminya.


Rasa bahagia yang tidak terhingga tengah meraka rasakan bersama. Hilang sudah semua rasa kecewa yang pernah mereka rasakan sebelumnya.


Kini mereka benar-benar ingin menempuh hidup yang baru, hidup yang penuh cinta dan rajutan kasih.

__ADS_1


Tiba-tiba Arjuna bertanya.


" Apakah ini masih sakit?" Arjuna menunjuk ketempat di mana ia telah meneguk kenikmatan semalam.


" Ya, mas masih terasa sekali." jawab Dhita sambil menganggukkan kepala berkali-kali.


" Hari ini kau tidak akan kemana-mana, tetaplah di dalam kamar sampai kau merasa lebih baik!" Arjuna memberikan keputusan itu bukan tanpa alasan melainkan karena ia tidak ingin para pelayannya atau orang lain melihat cara berjalan istrinya yang tidak biasa.


" Oh, iya mas aku pikir juga begitu," Dhita langsung menyetujui keputusan suaminya.


Arjuna tersenyum bahagia mendengar jawaban dari istrinya, namun di dalam hati ia berkata.


" Ternyata wanita ini lebih jinak ketika telah bertraveling."


" Mas, apa yang kau pikirkan?" tanya Dhita saat ia melihat suaminya termenung sambil tersenyum.


" Jangan bilang kau sedang membayangkan kembali hal semalam!" Dhita menduga-duga.


" Ah, tidak kau jangan sok tahu, aku sedang berpikir bagaimana kalau aku ambil cuti saja, kita akan honeymoon ke Paris." jelas Arjuna.


Ya, memang itu yang sedang ia pikirkan saat ini, pergi honeymoon ke Paris merupakan suatu ide yang cemerlang. Di mana di tempat itu banyak sekali tempat-tempat romantis yang bisa di jadikan tempat untuk mengabadikan momen indah mereka.


" Tidak mas, aku tidak apa-apa kita disini saja, asal bersamamu walaupun kita hanya duduk di sudut itu, aku sudah cukup bahagia kok mas," Dhita menolak rencana suaminya yang ingin pergi honeymoon.


Dhita memang wanita sederhana, hingga kesederhanaan itu menjadi ciri khas kepribadian dirinya.


" Dari pada harus bersusah-payah ke Paris, lebih baik kita pergi ke rumah Reyhan mas, kasihan Rena di sana, apalagi dia sedang hamil." putus Dhita.


Mendengar Rena yang sedang hamil, membuat Arjuna juga menginginkan hal yang sama. Ia juga menginginkan istrinya segera hamil.


" Tunggu dulu mas, masak baru semalem menanam telah ingin panen saja." ucap Dhita ketika mendengar suaminya mengutarakan keinginannya.


" Bukan begitu, aku hanya ingin memastikan kalau kau tidak akan pergi dariku lagi." Arjuna memeluk istrinya dengan mesra.


" Selagi kau bisa menerima diriku apa adanya, maka aku tidak akan pergi kemanapun." jawab Dhita sembari membalas pelukan suaminya.


Sepasang suami istri itu terlihat begitu bahagia, kehangatan rasa cinta mengelilingi di antara mereka. Dalam dekapan saling menghangatkan membuat siapa saja akan merasa iri jika melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2