
Di area pelataran rumah sakit bethesda husada, seorang wanita cantik sedang berjalan dengan langkah elegan. Wanita itu tengah menggendong seorang bayi merah yang sedang tidur di dalam dekapannya.
Wanita itu dengan mudah melewati para anak buah Arjuna, karena tidak satupun dari mereka yang mencurigai wanita tersebut.
Fanny, ya wanita itu bernama Fanny karisma.
Fanny adalah mantan istri pertama Arjuna yang diceraikan karena di temukan berselingkuh dengan om-om genit. Pria tua yang selalu haus akan gairah darah muda.
Fanny memasuki mobilnya dan berhasil membawa baby boy bersamanya.
" Thankyou honey, kau telah banyak membantuku !" seru Fanny, lalu meletakkan baby boy di kursi sebelahnya.
Kemudian Fanny melajukan mobilnya dengan tersenyum puas, mengingat betapa mudahnya ia mengelabui para anak buah Arjuna yang berjumlah tidak sedikit.
" Ha ha ha ha !" Fanny tertawa puas.
" Arjuna, tunggulah pembalasanku! selagi aku masih hidup tidak akan ku biarkan kau hidup tenang!!" Fanny tertawa lebar hingga memperlihatkan seluruh rongga mulutnya.
Fanny melirik baby boy yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
" Sekarang tugasku, hanyalah menjadikanmu sebagai perisai ku, membuatmu membenci keluargamu sendiri dan kau juga yang akan menuntaskan dendam ku!" ucap Fanny dengan geram.
Menatap baby boy dengan nada kebencian, namun ia harus merawatnya agar kelak bayi ini bisa berguna untuknya.
Kira-kira sekitar 45 menit, Fanny tiba di sebuah rumah besar dan mewah. Ia memarkirkan mobilnya dan langsung keluar begitu saja dari dalam mobil tanpa memperdulikan baby boy yang menangis.
" Cepat bawa masuk bayi itu di mobil!" perintah Fanny kepada asisten nya.
" Bayi? nyonya adopsi bayi?" tanya asisten itu yang bernama Bi murni.
" Jangan banyak tanya, cepat lakukan perintahku!" seru Fanny terus berlalu begitu saja.
Fanny melangkahkan kakinya dengan gaya yang melenggak-lenggok sengaja di buat-buat.
Bi Murni hanya mengusap dada melihat perilaku majikannya.
" Ya Tuhan, aku lupa !" seru ni Murni lalu berlari menuju mobil sesuai perintah majikannya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil, baby boy yang sedari tadi menangis sampai memerah seluruh tubuhnya karena terlalu lama ia menjerit-jerit.
Bi Murni membuka pintu mobil lalu menggendong baby boy dan menimang-nimang nya dengan penuh kasih sayang.
" Nyonya benar-benar keterlaluan, untuk apa dia adopsi bayi kalau tidak ingin merawatnya." keluh bi Murni,
Bi murni mengeluh bukan karena takut di suruh untuk merawat baby boy, melainkan ia hanya menyesalkan perbuatan majikannya yang mengadopsi bayi namun tidak ingin merawatnya.
Ya, wanita seperti Fanny tidak akan pernah bisa memberikan kasih sayang dan ketulusan, karena di sepanjang perjalanan hidupnya yang menjadi prioritas utamanya hanyalah uang dan uang.
" Aden ganteng, anak baik cup ya jangan nangis ya, disini ada bibi yang akan selalu menemani Aden." ucap bi Murni seraya menimang-nimang baby boy.
Merasa mendapatkan kasih sayang yang tulus, membuat baby boy kembali tenang. Perlahan suara tangisnya pun berangsur-angsur mereda.
Kemudian terdengar suara teriakan dari dalam rumah.
" Bi~! bibi~! cepat bawa masuk!" teriak Fanny dari dalam kamarnya. Ia berdiri di dekat jendela yang langsung terhubung dengan halaman yang luas.
" Baik nya!!" sahut Bu Murni, lalu berjalan terburu-buru sambil menggendong baby boy.
" Mau di bawa kemana?" tanya Fanny dengan sengit, ketika ia melihat Bi Murni hendak menaiki tangga.
" Ke kamar nyonya." jawab Bi Murni sopan.
Menurut bi Murni karena majikannya telah mengadopsi bayi itu, maka ia akan tinggal sekamar dengan nya. Tapi ternyata tidak, malah ia menyuruh agar Bi Murni merawat nya dan menempatkannya di kamar belakang. Sungguh sikap Fanny memang benar-benar keterlaluan.
" Siapa bilang dia akan tinggal sekamar denganku?" Fanny menatap sinis kepada bayi itu.
" Maksud nyonya?" Bi Murni masih belum mengerti dengan ucapan majikannya.
" Mulai sekarang kau aku tugaskan untuk merawat dan menjaga bayi itu, aku tidak mau mendengar dia menangis seperti tadi." perintah Fanny dengan judesnya.
" Baik nyonya." jawab Bi Murni dengan patuh.
" Dan sekali lagi, jangan sampai keberadaannya membuat para tamu ku merasa terganggu!" Fanny memberi perintah sekaligus menyarankan.
" Baik nyonya!" kembali bi Murni hanya menyahut dengan sekata dua kata.
__ADS_1
Kemudian bi Murni berjalan ke belakang menuju kamarnya.
Dan si sanalah baby boy tinggal bersama bi Murni yang berniat akan memberikan seluruh kasih sayangnya. Mengingat kisah bayi ini sangatlah tragis. Di adopsi dari panti asuhan kemudian di campakkan begitu saja.
Setidaknya inilah pemikiran yang berada di dalam otak bi Murni saat ini.
Bi murni menidurkan baby boy di atas kasur nya, beruntung hari ini seluruh pekerjaannya telah selesai. Jadi ia bisa fokus untuk mencurahkan seluruh perhatiannya untuk baby boy.
" Ooeekkkk~ooeekkkk~!" suara tangis baby boy kembali terdengar.
Bi Murni meraba perut baby boy.
" Rupanya dia lapar!" gumam bi Murni.
Kemudian ia kembali menggendong baby boy dan membawanya ke ruang tengah di mana majikannya berada bersama seorang pria yang terlihat lebih tua, bahkan bisa dikatakan terlalu tua bila di bandingkan dengan usia majikannya.
" Maaf nyonya, saya mengganggu," ucap bi Murni dengan kepala tertunduk, karena ia sendiri merasa malu bila harus menyaksikan secara langsung majikannya yang selalu bermesraan dengan para pria yang membooking nya tanpa ada rasa malu.
" Ya, ada apa?" tanya Fanny dengan suara terdengar lebih berat. Mungkin karena ia telah terangsang dengan perlakuan pria tua itu yang terus membelainya.
" Aden lapar nya, saya ingin membuatkannya susu, tapi tidak ada susu atau apapun yang bisa di berikan kepada Aden, nya." jawab Bi Murni masih dengan kepala tertunduk.
Sedangkan baby boy, masih terus menangis di dalam gendongannya.
" Ambil saja di gudang! aku menyimpannya di sana!" jawab Fanny tanpa menoleh, karena ia mulai fokus kembali dengan aktifis nya.
Seketika bi Murni segera melangkah dengan terburu-buru ke arah gudang yang tidak jauh dari kamarnya. Dan benar saja, di dalam gudang itu telah tersimpan mulai dari susu formula, makanan pendamping Hingga perlengkapan-perlengkapan bayi yang lainnya.
" Rupanya nyonya telah mempersiapkan segalanya sejak lama." gumam Bi Murni seraya mengambil barang-barang yang di butuhkan.
" Tapi mengapa nyonya mengabaikan bayi ini jika dia memang sangat menginginkannya." Bi Murni masih saja bertanya-tanya.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, tanpa berpikir panjang lagi bi Murni langsung menuju dapur, ia ingin menyiapkan susu formula untuk baby boy.
Walau dengan keberadaan baby boy akan semakin menambah berat pekerjaannya, namun bi Murni menjalaninya dengan penuh ikhlas dan semangat.
" Aden yang sabar ya, nanti minum susu." bisik bi murni seraya mendinginkan susu formula yang telah di buatnya.
__ADS_1