Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 132 Cemburu Tanpa Alasan


__ADS_3

Sedangkan Bellinda hanya bisa membulatkan kedua matanya mendengar pernyataan dari ucapan wanita paruh baya yang berdiri di depannya.


" Maksud Tante apa?" Bellinda masih belum mengerti dengan ucapan mommy Rita.


Kemudian mommy Rita menceritakan semua kronologis kejadian yang ia ketahui.


Dari ia yang telah melihat menantunya sedang kesakitan hingga di bawa kerumah sakit.


" Dan ponselnya tertinggal di sini!" mommy Rita menutup ceritanya.


" Kasihan sekali, bagaimana keadaannya sekarang tante?" Bellinda mulai menyadari kalau ia telah salah menduga.


Jauh di dalam hatinya tersirat suatu penyesalan karena telah menuduh Dhita yang bukan-bukan. Sedangkan yang di tuduh justru sedang mengalami musibah.


" Sudah lebih baik, tapi masih sangat lemah." jawab Mommy Rita.


" Boleh aku menjenguknya Tante?" Belinda memutuskan untuk menjenguk adik ipar angkatnya.


" Boleh, nanti akan saya share di WA." jawab Mommy Rita.


" Aku minta maaf Tante, karena telah berani menuduh tanpa mengetahui yang sebenarnya." Bellinda terlihat sangat menyesal, bahkan ia merasa malu sendiri.


Mendengar permintaan maaf dari Bellinda, mommy Rita merasa senang ternyata Bellinda adalah wanita yang baik dan bisa mengakui kesalahannya sendiri.


" Kalau begitu aku pamit dulu tante." ucap Bellinda.


" Ya, lebih baik kau datang bersama suamimu, bukankah Andrian telah menganggap Dhita sebagai adik angkatnya?" mommy Rita menyarankan.


Bellinda mengangguk kemudian pergi setelah berpamitan.


*


*


*


Di kantor Andrian.


Andrian yang sedang duduk di kursi kerjanya, menatap pada layar laptop di depannya. Jarinya tampak sibuk mengotak-atik, mondar-mandir kesana-kemari mengitari tombol keyboard.


" Hai sayang!" seru Bellinda seraya membuka pintu yang langsung membuat Andrian terkejut.


Bukan karena Bellinda yang tiba-tiba di sana ia terkejut, melainkan karena mendengar suara merdu lemah lembut dari istrinya itu. Padahal tadi pagi suaranya masih ngebas seperti sound sistem.


" Ha..i... juga!" jawab Andrian agak ragu, apa benar istrinya bersikap manis kepadanya.


" Ada apa?" tanya Andrian ketika Bellinda telah berdiri di sampingnya.


" Apa?" Bellinda mengerutkan keningnya, karena suasana hatinya sedang bahagia, Bellinda melupakan semua pertengkaran tadi pagi.


" Sikapmu?" Andrian melirik ke arah istrinya.


" Apa aku harus bersikap keras dan kasar? apa kau suka itu?" sahut Bellinda dengan bertanya.


" Bukan itu, maksud ku, mengapa tiba-tiba sikap mu berubah?" Andrian bertanya tentang alasan yang mampu merubah sikapnya semanis ini.

__ADS_1


" Maafkan aku!"


Mendengar permintaan maaf dari istrinya sontak membuat Andrian lebih terkejut dari sebelumnya. Sungguh sebuah sikap yang sangat bertolak belakang.


" Untuk apa?" Andrian sengaja berpura-pura lupa, agar istrinya mengatakan sendiri tentang semua kesalahannya.


" Tadi pagi, maaf aku tidak mendengarkan mu!" ucap Bellinda sambil mencium leher belakang suaminya, membuat Andrian sedikit merasa geli.


" HM, mulai rayuan mautnya!" gumam Andrian seraya tersenyum bahagia, sebuah senyum yang ia sembunyikan dari Bellinda.


" Apa?" tanya Bellinda, rupanya ia masih bisa mendengar gumaman suaminya.


" Ah tidak, kau wangi sekali!" Andrian berbohong, karena ia tidak ingin istrinya itu salah paham kembali.


Mendengar pujian dari suaminya membuat Bellinda tersipu malu, dengan pipi yang merona karena hatinya merasa bahagia, ia duduk di sebelah suaminya.


" Dhita sakit, kontraksi palsu!" Bellinda menyampaikan tentang kondisi Dhita saat ini.


Dan itu membuat Andrian sangat terkejut.


" Sakit? sejak kapan ?" tanya Andrian.


" Kemaren" jawab Bellinda.


" Dari mana kau tahu?" Andrian menatap istrinya dengan tatapan intens.


" Aku ingin menemuinya di rumah, tapi Tante Rita mengatakan kalau dia sakit dan dirawat di rumah sakit." jawab Bellinda apa adanya.


" Apa? kau pergi kerumah nya?" Andrian terperanjat mendengar ucapan istrinya.


Bellinda merasa lebih baik ia simpan sendiri, karena yang terpenting adalah keluarganya kembali utuh dan harmonis.


" Bukankah dia adikmu?" lanjutnya dengan nada bertanya


" Ya, mari kita menjenguknya !"


Andrian lebih memilih untuk langsung menyetujui ajakan istrinya, dari pada ia harus melayani drama panjang dengan istrinya.


*


*


*


Kembali lagi ke rumah sakit.


Dhita yang sedang makan di suapi oleh Arjuna, merasa sangat bahagia.


Diperlakukan seperti seorang ratu membuat Dhita merasa sangat bersyukur, memiliki seorang suami yang sangat perhatian dan menyayanginya.


" Sudah mas!" Dhita menggelengkan kepalanya saat suapan yang terakhir.


" Sekali lagi!" Arjuna tetap membujuk istrinya agar mau menghabiskan makanannya.


Dan dengan sangat terpaksa Dhita membuka mulutnya kembali.

__ADS_1


" Pinter!" ucap Arjuna seraya membelai kepala istrinya dengan lembut.


" Kau ini mas, memangnya aku anak kecil apa!" Dhita mengerucutkan bibirnya.


" Kau tidak, tapi yang disini," Arjuna menyentuh perut istrinya dengan lembut.


" Dia masih kecil bukan?" lanjut Arjuna masih menyentuh perut Dhita.


Dhita tidak menjawab, melainkan ia meraih segelas air putih untuk di minumnya.


Arjuna membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di sudut bibir istrinya. Kemudian ia yang hendak mengecup kening istrinya, cepat-cepat di urungkannya ketika mendengar suara pintu terbuka.


Tampak lah kedua sosok suami istri sedang berjalan ke arah mereka.


" Bang Andrian!" seru Dhita dengan sangat bahagia.


" kak Bellinda!" ucap Dhita seraya melayangkan senyum.


" Bagaimana keadaanmu Dhi?" tanya Bellinda setelah berada di dekat Dhita.


" Apa yang terjadi? mengapa kau sampai sakit seperti ini?" Andrian pun ikut bertanya.


Sedangkan Dhita hanya bisa tersenyum mendapatkan pertanyaan dari kedua orang itu.


" Keadaannya sudah lebih baik, hanya saja ia tidak boleh terlalu banyak pikiran." jawab Arjuna mewakili istrinya.


" Kalau begitu jangan pikirkan apapun, demi kesehatanmu dan bayi-bayi mu!" ucap Andrian.


" Apa sudah minum obat?" Kini Bellinda yang bertanya.


" Belum!" jawab Dhita cepat.


Kemudian Belinda meraih beberapa resep obat yang tersedia di atas meja.


" Minumlah !" Bellinda menyerahkan beberapa obat yang telah tersedia di atas meja dan segelas air putih yang langsung di terima oleh Dhita, dan Kemudian ia pun meminumnya.


" Terima kasih !" ucap Dhita seraya tersenyum. Kemudian menyerahkan kembali gelas itu kepada Bellinda.


" Ya, sama-sama!" sahut Bellinda.


" Kakak baik sekali," puji Dhita kepada Bellinda yang hanya di balas dengan senyuman oleh wanita itu.


" Mungkin aku tidak akan sebaik ini jika aku tidak mengetahui hal yang sebenarnya, Dhi maafkan aku yang telah cemburu buta dan menuduh mu yang bukan-bukan." batin Bellinda dengan sebuah penyesalan.


Melihat Bellinda yang termenung membuat Dhita bertanya.


" Ada apa kak?" Dhita menelisik raut wajah Bellinda.


" Kak Bell?" Dhita melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Bellinda yang sedang termenung.


" Ah.. ya.. ada apa?" tanya Bellinda ketika tersadar dari lamunannya.


" Kakak kenapa?"


" Tidak apa-apa, hanya memikirkan Glen, khawatir dia pulang!" jawab Bellinda berbohong.

__ADS_1


Sedangkan untuk urusan Glen ia telah menghubungi asistennya untuk menjemput putranya.


__ADS_2