Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 138 Bukan Pengantin Baru Lagi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dhita yang baru saja pulang dari rumah sakit, merasa benar-benar bahagia. Baru saja ia menginjakkan kaki di depan mansion, banyak orang-orang yang menyambutnya.


Mereka antara lain adalah Rena, Puri, Reyhan, Eza, Citra, Bastian, Andrian dan juga Bellinda.


Mereka sengaja di undang oleh mommy Rita untuk memeriahkan acara tasyakuran tujuh bulanan kandungannya Dhita. Mommy Rita sengaja mengadakan acara itu hari itu juga dengan harapan semuanya akan baik-baik saja, serta keadaan Dhita selalu sehat hingga waktunya ia melahirkan nanti.


Bukan main bahagianya Dhita saat ia disambut dengan penuh suka cita, dan karena saking bahagianya sampai-sampai ia menitikkan air mata.


" Selamat datang Bestie!" seru Rena dan Puri menyambut kedatangan sahabatnya yang di gandeng oleh mommy Rita.


Kemudian ketiganya saling berpelukan.


Dengan senyum yang selalu mengembang disudut bibirnya, Dhita menjawab sambutan kedua sahabatnya.


" Terimakasih Bestie, kalian berdua memang sahabatku yang terbaik." ucap Dhita, setitik air mata jatuh di pipinya.


Ketiganya masih saling berpelukan.


" Kau juga sahabat kami yang terbaik, tanpa kehadiranmu, kami merasa kehilangan," ucap Puri seraya melerai pelukannya, dan ketiganya pun saling melepas pelukan masing-masing.


" Kau jangan sakit lagi ya, kasihan baby-baby itu pasti tidak betah di rumah sakit terus." timpal Rena sedikit bergurau.


" Maaf ya aku tidak bisa menjenguk mu lagi kerumah sakit, Rere panas," lanjut Rena.


Memang sejak kedua nya pulang dari mengantar Dhita ke rumah sakit, Rena maupun Puri tidak ada yang datang lagi kerumah sakit di sebabkan dengan adanya halangan masing-masing.


Tetapi untuk Rena ia masih tinggal di mansion itu bersama mommy Rita.


" Tidak apa-apa, bagaimana keadaan Almira ku sekarang?" Dhita terlihat sedikit khawatir mendengar Rere yang sering ia panggil dengan sebutan Almira di kabarkan sakit.


" Kau jangan khawatir, Rere sudah lebih baik, panasnya mulai turun." jawab Rena, ia merasa senang karena sahabatnya itu sangat sayang kepada putrinya. Dan itu terbukti dari cara Dhita yang sangat mengkhawatirkan putrinya.


" Ya, Dhi, kau baru saja pulang dari rumah sakit, Jangan berpikir yang aneh-aneh." sahut Puri, kemudian menggandeng Dhita masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


" Ya, mulai sekarang aku akan lebih berhati-hati lagi, kasihan baby-baby ku jika mereka harus selalu mengalami hak yang sama." ucap Dhita seraya melangkahkan kakinya perlahan.


" Bawa langsung ke kamarnya saja!" perintah mommy Rita kepada Rena dan Puri.


" Baik tante!" Puri menyanggupi perintah mommy Rita.


Sedangkan Mommy Rita sendiri langsung duduk diruang tamu bersama Arjuna, Andrian dan juga Bellinda.


Dengan sambil bersenda gurau ketiganya melangkah memasuki kamar Dhita yang telah di hias dengan indah dan rapi.Namun terkesan sangat berlebihan.


Melihat hal itu, Dhita tertawa geli.


" Kenapa? ada yang salah?" Rena menatap heran kepada sahabatnya plus kakak iparnya itu.


Karena di matanya kamar itu sangatlah indah dengan dekorasi elegan dan mewah, menghiasi hampir di setiap sudut ruangan itu.


Siapa lagi yang menghiasnya kalau bukan lah dirinya sendiri.


" Tidak, semua indah tidak ada yang salah," jawab Dhita masih dengan sedikit menahan tawanya.


" Hanya saja, waktunya yang kurang tepat." lanjut Dhita setelah tawanya sedikit mereda.


" Apa kau kira aku ini seorang pengantin baru? lihatlah aku ini seorang bumil yang sebentar lagi akan melahirkan." jawab Dhita dan saat itu juga tawa Puri pecah.


" Ha ha ha ha! itu mungkin karena saat kau menikah, kau tidak bisa merasakan indahnya malam pertama setelah pernikahan!" ucap Puri dengan suara tawa yang tidak bisa ia tahan.


Terdengar seperti tengah mengejek Dhita sekaligus menyindir Puri.


Mendengar ejekan sahabatnya, Dhita terlihat sedikit melotot. Dan Rena pun mendengus karena kesal dirinya di sindir. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena itu semua memang benar adanya.


" Lalu ini apa?" Dhita menunjuk ke arah perutnya yang sedang membuncit.


Jika tidak bisa merasakan indahnya malam pertama tidak mungkin saat ini ia akan mengalami hal yang namanya hamil.


" Ya, itu kan terjadi setelah sekian lama Kalian menikah!" Puri masih saja bergurau, dan kedua sahabatnya pun telah mengenal sifat nya sedari dulu, dan itu tidak membuat mereka marah.

__ADS_1


" Maafkan aku Dhi, karena terlalu bahagia mendengar kau akan pulang hingga aku tidak sadar kalau aku melakukan suatu kesalahan


besar." ucap Rena. Ia merasa bersalah karena perbuatannya, Dhita harus mendapatkan ejekan dari Puri.


" Oh, tidak masalah Bestie, justru aku merasa sangat cocok dengan perpaduan warna ini!"


Dhita tidak tega untuk mengatakan kalau semua itu sebenarnya sangatlah berlebihan, apalagi mengingat usaha Rena yang dapat di pastikan telah bersusah payah untuk mendekorasi kamarnya, di tambah lagi dengan putrinya yang sedang sakit panas tentunya ia telah melakukan semuanya dengan penuh perjuangan.


" Ya, tidak ada yang bermasalah sebenarnya, hanya saja aku yang sangat merindukan waktu untuk kita saling bergurau." sahut Puri seraya tersenyum menatap kedua sahabatnya bergantian.


Dhita melangkah mendahului kedua sahabatnya, kemudian ia duduk di atas ranjang yang telah di hias sedemikian rupa.


" Huuh, serasa seperti pengantin baru!" seru Dhita seraya menghembuskan napasnya.


" Ya, si pengantin baru yang seperti badut." celetuk Puri seraya mendekati sahabatnya.


" Memangnya saat kau hamil, kau tidak seperti badut? seperti tuan Putri begitu?" Rena merasa tidak terima, Kalau kakak iparnya di ejek seperti itu.


Sedangkan saat itu Puri tengah tertawa cekikikan, tanpa menghiraukan ucapan Rena.


" Sudahlah, hal itu saja kalian ributkan, yang di katakan Puri itu benar aku memang seperti badut tapi badut ini yang selalu membuat kalian rindu bukan?" Saat itu Dhita telah berbaring dengan posisi kepala lebih tinggi dari tubuhnya.


Dan ucapannya itu berhasil membuat kedua sahabatnya tertawa lepas.


" Maaf nyonya Rena, putri anda sedang menangis!" seru seorang pelayan yang sedang berdiri di ambang pintu. Saat itu ia sedang menggendong Rere yang sedang menangis karena terbangun dari tidurnya.


Mendengar suara pelayan itu seketika membuat tawa Rena terhenti, ia segera menoleh dan tampak lah olehnya Rere yang sedang menangis menatap ke arahnya.


" Uuu... putri mama," ucap Rena ketika telah berdiri bersama pelayan itu, lalu ia meraih Rere membawa ke dalam gendongannya.


" Saya permisi dulu nyonya!" ucap pelayan itu setelah merasa tidak diperlukan lagi.


" Ya, terima kasih !" sahut Rena.


Kemudian ia menimang-nimang putrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


" Hei Almira ku!" seru Dhita, ia merasa sangat senang ketika melihat bayi mungil itu.


" Hai..! Tante!" Rena membalas seruan Dhita namun dengan tingkah seperti anak kecil.


__ADS_2