Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 108 Kerinduan


__ADS_3

Pak Setyo memilih untuk tidak menjawab pertanyaan putrinya, di karenakan putrinya telah melihat sendiri keadaannya yang sehat-sehat saja. Ia pun mengira meski tidak di jawab, putrinya telah mengetahui keadaannya.


Kemudian mereka saling bersalaman, tak luput juga Puri dan Eza, mereka juga ikut bersalaman.


Bagi Puri kedatangan orang tua Dhita sangat berarti, dimana ia yang telah lama tidak merasakan kasih sayang orang tua. Sebab ayah dan ibunya datang terakhir kali saat ia akan menikah.


" Iya ayah, terimakasih karena telah menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah kami." jawab Arjuna yang kemudian bernapas lega.


Bagaimana jika seandainya mertuanya ini datang di saat dirinya dan Dhita tengah bertengkar seperti kemarin. Beruntung ia segera bertindak, kalau tidak maka tamatlah riwayatnya.


" Tapi ayah, ibu, akan lebih baik jika kalian menyampaikan secara langsung kepada Reyhan dan Rena, karena mereka yang mengurus semua tentang papa." ucap Dhita.


Sebelum kedua mertuanya menjawab, Arjuna terlebih dahulu menjawabnya.


" Ya benar, jika ayah dan ibu tidak keberatan siang ini juga kita akan pergi kesana, kebetulan mommy juga ada di sana!" sahut Arjuna.


" Ya, ayah setuju!" jawab pak Setyo, yang kemudian di angguki oleh istrinya.


Bu Safitri yang melihat Puri seperti sedang bersedih bertanya.


" Nak Puri, kau kenapa?" Bu Safitri menghampiri Puri yang duduk berseberangan dengannya.


" Tidak apa-apa bu Safitri, aku hanya teringat ibuku saja." jawab Puri berusaha untuk tetap tenang, meskipun di hatinya ia ingin sekali menangis.


" Kalau begitu, anggaplah aku sebagai ibumu," ucap Bu Safitri yang telah duduk di samping Puri.


Kemudian tangan Bu Safitri mengelus perut Puri yang telah membuncit. Bu Safitri mengerti ibu hamil sangat membutuhkan dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Mendapat perhatian seperti itu, membuat Puri tidak bisa menahan air matanya.


" Mengapa kau menangis?" tanya Bu Safitri seraya mengusap air mata Puri yang telah mengalir di pipinya.


" Sudah lama aku tidak merasakan belaian tangan seorang ibu, aku sangat merindukannya hiks...hiks..!" Puri memeluk Bu Safitri.


Karena tidak tega Bu Safitri pun membalas pelukan Puri, berusaha menyalurkan kekuatan dan kasih sayang.


" Mulai sekarang, anggaplah aku sebagai ibumu," Bu Safitri mengulang ucapannya.


Puri semakin mempererat pelukannya, dengan kehadiran bu Safitri membuat sedikit terobati rasa rindu kepada orang tuanya yang selama ini ia pendam.

__ADS_1


Eza hanya bisa terdiam, melihat semua itu. Sungguh ia pun merasa bersalah karena terlalu sibuk bekerja hingga tidak memiliki waktu untuk berkunjung ke rumah mertuanya.


Perlahan Dhita berjalan menghampiri Puri dan ibunya. Dengan lembut ia membelai pundak sahabatnya.


" Kau boleh anggap ibuku sebagai ibumu, bukankah kita telah seperti saudara?"


Puri mengangguk. kemudian beralih memeluk sahabatnya.


Karena merasa tidak tega memperhatikan istrinya yang merindukan keluarganya, Eza lebih memilih untuk pindah ke sofa lain, dimana Arjuna dan pak Setyo telah duduk di sana, entah apa yang mereka bicarakan hingga terlihat sangat serius.


" Za, kau harus segera ke kantor, istrimu biar bersama kami saja." ucap Arjuna setelah beberapa lama mereka bercakap-cakap.


Tidak mungkin jika salah satu dari mereka tidak pergi ke kantor, untuk mewakili pertemuan meeting hari ini.


" Baiklah, aku akan pergi sekarang, aku titip istriku!" Eza kemudian berpamitan kepada pak Setyo.


Sedangkan kepada istrinya ia berpikir akan mengirim pesan singkat saja, karena saat ini istrinya sedang asyik bersenda gurau dengan Dhita dan ibunya. Eza yang tidak ingin mengganggu pergi berlalu begitu saja.


*


*


" Untuk apa mom makanan sebanyak ini?" tanya Rena ketika melihat betapa banyaknya makanan yang terhidang diatas meja makan yang lumayan besar ukurannya.


" Ibu dan ayah Dhita akan segera kemari, sekarang mereka sedang dalam perjalanan bersama Arjuna dan Dhita." jawab Mommy Rita.


Rena terdiam, di hatinya ia bertanya-tanya apakah orang tuanya akan berkunjung juga.


Namun ia sendiri tidak mampu untuk menjawabnya.


" Duduklah, kau jangan terlalu lelah kasihan bayi dalam kandunganmu." Mommy Rita menasehati menantunya.


Sayup-sayup terdengar suara orang berbicara dari arah depan.


" Sebentar mommy akan lihat dulu, siapa yang datang." Mommy Rita melangkah ke ruang depan meninggalkan Rena yang sedang duduk di ruang makan.


" Oh, ternyata Bu Asri, apa kabar?" tanya mommy Rita menyambut kedatangan besannya.

__ADS_1


" Alhamdulillaah jeng, kabar saya baik-baik saja." jawab Bu asri, kemudian mereka berjabat tangan.


Setelah berjabat tangan dengan Bu asri, kemudian mommy Rita berjabat tangan pula dengan pak Bambang.


Tentunya setelah Reyhan mencium tangan ayah mertuanya itu.


Mendengar suara yang tak asing baginya, Rena beranjak dari tempat duduknya melangkah menuju ke ruang tamu.


" Ayah, ibu!" seru Rena dengan kedua mata terbelalak, saking terkejutnya.


Dalam hitungan detik, Rena telah berada di dalam pelukan ibunya lalu beralih ke pelukan ayahnya.


" Ibu, ayah aku merindukan kalian," Kedua mata Rena tampak berkaca-kaca.


Rasa haru dan rasa bahagia bercampur menjadi satu.


" kami juga merindukan mu nak!" jawab ayah dan ibunya hampir bersamaan.


Rena kembali membenamkan kepalanya di dekapan ibunya. Ingin rasanya ia terus berada di sana tanpa mau melepaskan.


" Mari duduk dulu," ajak mommy Rita, karena sejak tadi besannya hanya berdiri bersama putrinya.


Mendengar ajakan Mommy Rita, kedua orang tua Rena pun duduk di sofa.


" Maafkan kami, karena baru bisa datang hari ini," pak Bambang merasa tidak enak hati kepada besan dan menantunya, dikarenakan ia tidak hadir dalam pemakaman pan Teddy.


" Tidak apa-apa, kami mengerti jarak antara desa Kulon Progo dan kota ini cukup jauh, seharusnya kami yang menyuruh sopir untuk menjemput kalian, tapi kami malah melupakan hal itu." Mommy Rita mewakili Reyhan.


" Ada kabar baik untuk ayah dan ibu," Reyhan menimpali seraya menatap ayah dan ibu mertuanya secara bergantian.


" Ayah, ibu sebentar lagi kalian akan menjadi kakek dan nenek." ucap Rena menimpali ucapan suaminya.


Sontak membuat kedua orang tuanya tersenyum seketika. Keinginan mereka untuk menghibur Rena dan suaminya atas meninggalnya pak Teddy, malah berbalik mereka yang merasa terhibur dengan adanya kabar baik tentang kehamilan putrinya.


" Alhamdulillaah.... semoga kau dan bayimu sehat selalu nak!" pak Bambang berdoa untuk putri dan calon cucu mereka.


" Aamiin!" Rena dan Reyhan mengaminkan doa pak Bambang.

__ADS_1


" Oh iya, ayah dan ibu tidak berangkat bersama paman dan bibi?" tanya Rena ketika mengingat kalau orang tua Dhita akan pergi ke rumahnya pada hari itu juga.


" Dari rumah kami memang bersama, tapi kami berpisah di jalan karena mereka ingin menjenguk putrinya terlebih dahulu." jawab Bu Asri.


__ADS_2