Senandung Cinta

Senandung Cinta
Bab 111 Oh Citra


__ADS_3

Dhita Yang sedang duduk, termenung memikirkan apakah keputusan yang di ambilnya adalah benar. Sedangkan para pelayan yang menemaninya sambil memijat kakinya hanya bisa saling menatap satu sama lain, tanpa ada yang berani berbicara.


Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil di depan mansion. Dhita langsung beranjak dari tempatnya setelah yakin itu adalah suara deru mobil suaminya.


" Kok, siang pulangnya mas?" tanya Dhita seraya mencium tangan sang suami. Lalu meraih tas yang dibawa olehnya.


" Aku sangat merindukanmu dan buah hati kita," jawab Arjuna seraya berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan perut sang istri.


Perlahan ia mulai mengusap perut istrinya yang telah membuncit.


DEGH.


DEGH.


Terasa dua kali tendangan dari dalam perut Dhita, hingga membuat perut nya menjadi miring sebelah menandakan bayinya telah merespon.


Melihat semua itu, Arjuna semakin bahagia. Sesungging senyum lebar terukir di bibirnya.


" Wah, anak Daddy pandai merespon ya." ucap Arjuna sembari mengusap perut istrinya kembali. Lalu sang jabang bayi kembali merespon dengan dua tendangan lagi.


" Sudah mas, perutku jadi ngilu," Dhita merasa tidak tahan dengan tendangan dari bayi di dalam perutnya.


Wajar saja Dhita merasa begitu ngilu karena yang menendangnya bukan hanya seorang bayi, melainkan dua bayi sekaligus. Menurut pemeriksaan USG, Dhita sedang hamil bayi kembar.


Mendengar permintaan istrinya, Arjuna segera menyudahi rutinitas hariannya bersama para bayinya. Memang Arjuna kerap kali melakukan hal itu disetiap harinya.


" Maaf mom," Arjuna memegang kedua telinganya seraya dengan raut wajah yang memelas, membuat Dhita merasa geli dan tertawa.


Kemudian sambil bergandengan keduanya memasuki mansion.


" Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian!" doa para pelayan yang ikut bahagia melihat kebahagiaan kedua majikannya.


Ditambah lagi dengan sikap Dhita yang bersahabat, membuat para pelayan semakin menyayanginya.


" Mas!" seru Dhita ketika mereka telah memasuki kamarnya.


" Ya, ada apa istriku?" Arjuna yang sedang membuka kemejanya menghampiri Dhita lalu memeluk istri tercintanya.


" Tadi, Tante Devina datang ke sini mas."


Mendengar jawaban istrinya, sontak membuat Arjuna melerai pelukannya. Ia telah menduga pasti wanita itu memiliki maksud tertentu.


" Apa yang dia katakan?"


" Citra sakit mas, kita harus menjenguknya." Jawab Dhita berbohong, ia sengaja mengatakan akan menjenguk Citra Karena keinginannya sendiri, bukan karena permintaan bu Devina. Sebab ia khawatir suaminya akan menolak.

__ADS_1


Arjuna tidak segera menjawab, hanya saja dari raut wajahnya menunjukkan kalau pria itu sedang gusar.


" Bagaimana mas?" Dhita tidak sabar ingin mendengar jawaban dari suaminya.


" Baiklah, nanti sore kita akan pergi ke rumahnya.tapi ingat hanya sekedar menjenguk," ucap Arjuna menatap lekat wajah istrinya yang langsung di sambut dengan senyuman.


*


*


Hari menjelang sore, di ufuk barat tampak bayangan sang jingga mengukir di langit. warna bias merah cahaya sang jagad menambah keindahan nuansa sore hari.


Tampak lah seorang wanita sedang berdiri di depan pintu, dengan mengenakan pakaian longgar menutupi seluruh tubuhnya.


Dhita, dialah si wanita cantik yang selalu menganggap semua orang itu baik.


Sementara itu, di dalam mansion tepatnya di ruang tamu, tampak seorang pria dengan pakaian rapi sedang berjalan ke arah istrinya dengan malas. Bukan merasa malas kepada istrinya, melainkan karena mereka akan pergi berkunjung ke rumah Citra.


" Sudah siap mas, ayo kita pergi!" ajak Dhita.


" Mas, ayo cepat!" ajaknya lagi.


Semenjak kehamilannya, Dhita menjadi kurang sabar dan cenderung lebih memaksakan keinginannya terhadap orang lain. Jika hal itu telah menjadi kemauannya.


" Sebentar," Arjuna mempercepat langkahnya. Kemudian keduanya sama-sama masuk ke dalam mobil.


Rumah yang begitu sepi, tidak ada suara detak sepatu ataupun teriakan dari wanita yang bernama Citra.


TING TONG...TING TONG...


Suara bel pintu yang ditekan oleh Arjuna.


Tampak seorang asisten rumah tangga sedang terburu-buru berjalan ke arah pintu.


Karena telah mendapat perintah dari majikannya, Bu Devina. Membuat asisten itu langsung mempersilahkan Arjuna dan Dhita masuk ke dalam rumah itu.


" Tante Devina ada?" tanya Dhita setelah beberapa menit kemudian.


" Nyonya ada di kamar non Citra." jawab Asisten itu.


" Bisa antarkan kami kesana?" Dhita meminta agar diantarkan ke kamar Citra.


" Mari nyonya,"


Asisten itu berjalan di depan, yang diikuti oleh Arjuna dan dhita.

__ADS_1


Tepat di depan sebuah kamar asisten itu berhenti.


PRAANK ...


Terdengar suara hantaman dari dalam kamar, di iringi dengan suara jeritan. Lalu terdengar suara orang menangis.


Mendengar semua itu, Dhita menjadi panik dan khawatir.


" Tidak apa-apa nyonya, itu sudah biasa selama hampir setahun ini." ucap asisten itu berusaha menjelaskan kepada Dhita yang terlihat cemas.


" Hampir Setahun?" Dhita terperanjat mendengar penuturan dari asisten itu.


" Berarti hampir setahun sudah Citra sakit, dan suara itu....." ucapan Dhita terpotong karena asisten itu.


" Suara hantaman sesuatu, non Citra sering kali mengamuk jika hatinya telah merasa cemburu atau mengingat sesuatu yang buruk di masa lalunya." papar asisten itu, lalu mengetuk pintu kamar tersebut.


Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka.


" Selamat sore Tante!" sapa Dhita ramah dan berusaha tersenyum walau di hatinya ia merasa sedikit ketakutan.


Kemudian Bu Devina mengajak Dhita dan Arjuna masuk ke dalam kamar Citra.


Dan apa yang mereka lihat di dalam kamar itu?.


Di seluruh ruangan tampak barang-barang berserakan. Pecahan gelas juga bertebaran di mana-mana.


" Lihatlah!" Bu Devina menunjuk ke arah jendela.


Dimana terlihat seorang wanita cantik namun, tubuhnya sangat kurus. Sedang menatap ke arahnya. Dari matanya memancarkan sebuah guratan ke tidak relaan.


" Mas, Citra mas!" bisik Dhita lalu menyembunyikan diri di belakang Arjuna, karena mendapat tatapan aneh dari Citra.


" Tenang, jangan takut, ada aku di sini!" Arjuna menenangkan istrinya yang terlihat gemetar di seluruh tubuhnya.


" Nak Dhita tidak usah takut, dia tidak apa-apa, hanya saja tadi saya memaksanya untuk minum obat." Tutur Bu Devina.


" Kemarilah!" Bu Devina memanggil Dhita untuk mendekat.


Karena jika Dhita telah berada di dekat Citra, maka Arjuna pasti akan menyusulnya. Dan ia berharap itu akan menjadi pengobat rindu untuk putrinya.


" Citra," ucap Dhita memberanikan diri menyapa wanita yang berdiri di depannya dengan penampilan yang acak-acakan.


Mendengar panggilan dari Dhita, sontak membuat Citra terperangah, seperti sedang terkejut.


Melihat respon itu dari Citra, akhirnya Dhita mulai mengerti kalau wanita itu tidak sedang menatapnya walau tatapan mata itu mengarah padanya. Alam pikirannya seperti sedang berada di jalur lain.

__ADS_1


" Dhi...Dhita!" suaranya terdengar terbata dan lirih. Seperti ada getaran di setiap kata-katanya.


Tiba-tiba saja Citra menghambur ke dalam pelukan Dhita. Arjuna yang melihat semua itu, bergegas hendak mendekati istrinya karena ia takut Citra akan melakukan sesuatu kepadanya.


__ADS_2